
Menyeka air mata di pipi Seon. Selly lantas mencondongkan wajah cantiknya ke wajah tampan pria itu lalu tersenyum ketika hidung mancung mereka saling beradu.
“Hanya sebuah perusahaan.” Ucap Selly.
Cup~
Satu kecupan manis kini mendarat di bibir Seon lalu Selly kembali menarik diri dan pergi setelah menerjang pundak mantan calon suaminya.
“Sellya…” Panggil Seon.
Terhenti langkah kaki Sellya Nara ketika kini Seon menggengam pergelangan tangannya. Tapi, sungguh! Selly tidak ingin memandang wajah pria itu lagi.
“Jangan temui aku lagi Seon.” Pintanya.
“7 tahun, apa tidak cukup untuk menyatukan kita?” Tanya Seon padanya, pada dia yang tidak juga menoleh untuk menatap matanya.
Mendekap tubuh Selly dari belakang. Seon pun memohon padanya. “Kembalikan semua yang telah Joe Nathan berikan pada mu dan keluarga mu. Sellya Nara, kembalilah pada ku dan jadilah wanita ku. Hanya milik ku.”
Tanpa kata Selly lantas melepaskan dekapannya lalu pergi begitu saja.
“Haaahh!!”
Berteriak seraya mengibas rambut sangat kasar. Seon yang frustasi lantas menyusulnya dengan tatapan mata tajam menusuk dia, wanita yang telah meninggalkannya.
Braakk!
“Engh!”
“Kau mau pergi? Meninggalkan aku lalu menemuinya? Hehehe~ Sellya Nara. Penghianat!” Ucap Seon seraya ia semakin kuat melingkarkan sepasang telapak tangannya di leher Selly.
“Seon~”
Selly berusaha melepaskan diri. Tapi, Seon tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Wanita itu terus memukul dada pria yang masih mencekik lehernya dengan seluruh amarah yang menguasai dirinya.
“7 tahun. Selama itu, apa kau hanya mempermainkan aku dan memanfaatkan harta ku?” Tanyanya seraya ia menggertakkan gigi. “Kenapa aku begitu bodoh karena sangat mencintai wanita picik seperti mu Sellya Nara!” Ucap Seon semakin berteriak di wajahnya. Di wajah dia yang kini telah lemas hingga sepasang tanggannya terkulai.
Melihat ketidak berdayaan wanita itu, Seon lantas memeluknya, semakin kuat ia mendekap tubuhnya dan kembali memohon. “Jangan tinggalkan aku! Tolong kembalilah pada ku! Sellya!”
🍁
Langit Seoul semakin petang, malam pun menjelang. Joe Nathan kembali ke kediamannya dan di sambut kepala pelayan yang terlihat sangat cemas mengucap padanya. “Nona Selly, dia pergi dari rumah sore tadi dan belum juga kembali.”
Joe Nathan hanya diam melanjutkan langkah kakinya dan kepala pelayan terus membuntutinya. “Tuan…”
Terhenti. Joe Nathan lantas memutar tubuhnya. “Dia bukan anak kecil yang tidak tahu jalan pulang.” Sahutnya lalu pergi meninggalkan kepala pelayan yang terdiam menatapnya.
Masuk ke dalam kamar. Joe Nathan lantas melemparkan tubuh di atas sofa, ia bersandar di sana seraya melepaskan kancing jas dan kemejanya. Lelah, ingin sekali ia tidur saat itu juga. Tapi, “Aku merindukan mu. Sayang…”
Kata itu terucap dari mulutnya, lalu Joe Nathan meraih sebatang rokok untuk ia menikamatinya di sana. Mengepulkan asap dengan gelisah karena isi kepalanya hanya ada satu sosok seorang wanita yang tidak pernah luput dari ingatannya.
“Violet Grizelle.” Panggil Joe.
Tertunduk di kegelapan. Joe Nathan lantas memejamkan mata dan merasakan sepasang tangan lembut seorang wanita kini melingkar di tubuhnya, ia berbisik di telinganya. “Jangan terlalu banyak merokok sayang, aku tidak mau kamu sakit.”
Segera terbuka kembali sepasang kelopak mata pria itu seraya di waktu yang sama ia menoleh padanya. Pada dia yang tersenyum manis untuknya dan merampas sebatang rokoknya untuk ia meletakkannya di dalam asbak.
“Sayang~” Sapa Joe Nathan lalu ia raih pergelangan tangan wanita itu untuk memintanya duduk di pangkuan. “Aku sangat merindukan mu.” Ucapnya lalu ia cium punggung telapak tangan wanita itu seraya air matanya menetes di sana. “Aku mencintai mu, Violet Grizelle.”
Cup~ Satu kecupan manis mendarat di kening pria itu, cup~ satu kecupan lagi kini mendarat di kelopak matanya secara bergantian.
Cup~ satu lagi kecupan manis terakhir kini mendarat di bibir Joe Nathan. Sangat lama, Joe Nathan lantas merengkuh tubuh wanita itu untuk ia mencium bibirnya, menyesapnya penuh cinta dan tidak akan melepaskannya sebelum nafas ke duanya benar-benar habis.
“Haahh! Hehee~”
Pada akhirnya, ciuman manis itu menemui puncaknya dan mereka harus segera menyudahinya. Tersenyum bersama dengan kening dan hidung mancung ke duanya yang masih menyatu, bertukar nafas bersamanya.
“I Love You, sayang.” Ucap Joe Nathan terengah dengan sepasang mata sayup ia menatap mata wanita yang sangat dekat dengannya malam ini.
“I Love You Too, sayang.” Sahutnya sama, terengah dengan sepasang mata sayup menatap matanya.
“Aku tidak akan membiarkan mu pergi lagi.” Ucap Joe.
Terdengar memaksa, Joe Nathan mendominasi dirinya dengan cara ia terus mendekap tubuh wanita yang berada di pangkuannya. “Tetaplah bersama ku.” Pintanya.
Menarik diri, Violet lantas tersenyum padanya seraya ia menutup mata Joe Nathan dengan menggunakan telapak tangan kanannya.
“Aku bersama mu.” Sahutnya, Lalu…
Cup~
Satu lagi kecupan manis mendarat di bibir pria itu. Pria yang saat ini memejamkan mata merasakan cinta terdalam darinya, wanita yang bukan miliknya.
Tapi, dalam gelap dengan sepasang kelopak mata yang masih tertutup rapat, Joe mulai mengerutkan dahinya. Rasanya, ia tidak lagi merasakan kehadiran Violet di sisinya.
“Sayang!” Panggil Joe Nathan seraya ia bangkit dari tidur singkatnya di atas sofa itu. Perlahan, ia menarik kembali tangannya saat ia menyadari, jika semua itu hanyalah mimpi indah yang sangat nyata dan menyesakkan dada.
Tok… tok…
Seseorang mengetuk pintu kamar di tengah nafas ia terpenggal-penggal karena mimpinya. Joe Nathan menoleh ke arah pintu kamar dengan keringat yang bermunculan menghiasi keningnya di kegelapan.
“Tuan, nona Selly sudah kembali dan ingin bertemu anda. Dia terluka.” Ucap kepala pelayan.
“Katakan padanya aku lelah.” Sahut Joe Nathan.
“Tapi, nona Selly terlu-”
Craanngg!!
Suara benda jatuh di dalam kamar tuannya itu mampu membungkam mulut kepala pelayan, hingga membuatnya tidak memiliki keberanian untuk melanjutkan ucapannya.
“Selamat malam tuan, aku akan menyampaikannya kepada nona.” Ucapnya lalu pergi.
Di kegelapan itu Joe Nathan hanya diam dengan darah yang bercucuran dari luka terbuka di telapak tangannya. Baru saja, ia meremukkan sebuah gelas di dalam cengkraman tangannya.
“Sellya…” Ucap Joe lalu ia bangkit sambil melepaskan jas dan kemejanya. “Aku sangat membencinya.” Ucapnya lalu ia lemparkan pakaian itu ke atas sofa dan menghilang di balik pintu kamar mandi tepat pada pukul 23:51.
Mengambang kepalan tangan Sellya Nara ketika ia ingin mengetuk pintu kamar suaminya. Rasanya, ia ingin memastikan sendiri bagaimana reaksi pria itu saat melihatnya terluka? Akankah dia khawatir? Lalu membalas perbuatan seseorang yang telah melukainya. Atau kah mungkin sebaliknya? Sungguh, Selly ingin bertemu.
Tapi, ia cukup memahami pria itu dan sudah dapat menduga bagaimana reaksinya jika ia mengganggu istirahatnya. Maka, Selly mengurungkan niatnya lalu pergi, kembali ke dalam kamar yang tidak pernah di kunjungi oleh suaminya sendiri.
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......