
Dengan membawa perasaan resah dan gelisah, Mikka bersiap untuk menemui Zayn Keenan di ruangannya.
Kini ia telah sampai di depan ruangan VVIP yang sejujurnya tidak pernah di kunjunginya selama bekerja di sana. Ia ulurkan tangan untuk mengetuk pintu ruangan itu. Tapi, ia terhenti, ragu namun harus memberanikan diri.
Tok… tok…
Pada akhirnya ia mengetuknya lalu masuk. Mikka berdiri di dekat pintu menatap tuan yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
“Selamat siang tuan besar Zayn Keenan.” Sapa Mikka.
“Selamat siang Mikka, silahkan masuk.” Sahut Zayn lalu ia bangkit dari kursinya.
Mikka mendekat dan mengikuti ke mana arah tuan itu melangkah. Ia melihat Zayn Keenan duduk di sofa lalu mempersilahkannya untuk duduk.
“Silahkan duduk Mikka, jangan sungkan.” Ucapnya.
“I-Iya tuan.” Sahut Mikka lalu patuh. Ia duduk di sofa tepat di hadapannya, hanya terpisahkan sebuah meja di antara mereka.
“Apa kabar ayah dan ibu mu?” Tanya Zayn.
“Baik tuan, mereka selalu menjaga kesehatan.” Sahutnya.
Mikka hanya menundukkan kepala di sana, ia tidak memiliki keberanian untuk menatap mata tuannya. Entah kenapa? Ia merasa tidak baik-baik saja meski Zayn sangat ramah padanya.
“Mereka masih menetap di Australia?” Tanya Zayn.
“Masih tuan.” Sahutnya.
Melihat Mikka hanya menundukkan kepala sambil meremas rok dengan ke dua tangannya yang gemetar. Zayn Keenan lantas tersenyum menatapnya.
“Jangan terlalu tegang, aku hanya ingin mengobrol dengan mu.” Ucap Zayn Keenan.
“Mengobrol?”
“Kamu pun tahu, aku dan ayah mu berteman dekat. Terakhir kali kita bertemu sekitaaarr… 2? Atau, mungkin sekitar 3 tahun yang lalu.” Ucap Zayn lalu tersenyum. “Mikka.” Panggilnya.
“Iya tuan?”
“Lihat kemari.”
“Aku tidak berani.”
Perlahan, Mikka mulai mengangkat pandangan dan Zayn Keenan tersenyum padanya. Pemandangan itu sangat langka dan sebagai tanda, ia akan mendapat kesialan.
“Kesalahan apa yang telah aku lakukan? Kenapa aku terperangkap di dalam situasi secam ini?”
“Kamu sangat cantik, apa sudah memiliki pasangan?” Tanya Zayn Keenan.
“Pasangan? Apa maksud dari pertanyaan ini? Bukankah dia menginginkan aku bersama putranya?”
“Mikka?” Panggil Zayn.
“Ak- Aku, bukankah, … Anda menjodohkan aku dengan putra anda tuan? Bagaimana mungkin, aku memiliki pasangan selain Axel.” Sahut Mikka terbatah.
“Ayah mu yang mengatakan itu?”
“Iya,”
“Ada aku di depan mu sekarang, apa kamu mau menanyakan sesuatu pada ku?”
“Menanyakan sesuatu?”
“Iya. contohnya, “Tuan Zayn, apa benar yang ayah ku katakan, jika anda menjodohkan aku dengan Axel Zayn?” Tidak apa, kamu boleh bertanya apa pun.”
Mendengar ucapan itu. Mikka lantas tertunduk kembali seraya ia memejamkan mata. Sungguh! Dia ingin segera keluar dari ruangan mewah itu.
“Aku mengerti, anda bisa katakan maksud anda sebagai peringatan bagi ku tuan.” Sahut Mikka.
“Kamu memang cerdas, tidak salah aku memilih mu sebagai pemimpin di tempat ku. Mikka Fredella.”
“Tuan, jika di izinkan, tolong, beri aku kesempatan.” Pinta Mikka.
“Sejak awal aku memberi mu kesempatan. Tapi, semua tergantung pada putra ku. Sampai sekarang Axel Zayn tidak pernah menginginkan mu. Bagaimana aku memberi mu kesempatan yang telah terbuang sia-sia? Lagi?”
“Jika. Jika anda memutuskan, bukankah Axel Zayn akan patuh?” Sahut Mikka lalu ia meremas rok nya semakin kuat.
“Kamu menyuruh ku memaksanya?”
“Tidak. Aku tidak berani tuan, Maksudku…”
“Aku tidak akan memaksa putra ku untuk menikah dengan siapa pun. Karena kamu sangat menganggu dengan dalih di jodohkan oleh ku, maka aku yang harus meluruskannya. Kamu mengerti?”
“Aku sangat mencintai Axel Zayn.” Ucap Mikka, ia menyambar kaki Zayn Keenan untuk memohon padanya.
“Tuan…” Mikka terkejut mendengarnya. Ia lantas mengangkat pandangan dan Zayn Keenan melukis senyum di wajahnya.
“Senyuman itu, kenapa sangat menusuk jantung ku?”
“Aku pikir kau sudah sangat paham maksud ku.”
“Anda memanggil ku untuk ini tuan?”
“Menurut mu? Cih! Aku sampai turun tangan untuk mengatasi lelucon seperti ini.”
“Aku sangat sakit. Tapi di matanya, ini semua tidak lebih dari lelucon?”
“Bangunlah.” Perintah Zayn.
“Tuan~ Aku mohon.”
“Apa kau sedang mengemis?”
“Mengemis?”
Kata “Mengemis.” Yang keluar dari mulut pria itu mampu meremukkan hati Mikka. Tanpa terasa, air mata yang sejak tadi ia tahan pun pada akhirnya mengalir juga.
Tok… tok…
Seseorang mengetuk pintu lalu masuk. Dia adalah pria yang sedang Mikka minta pada ayahnya. Axel Zayn, dia pria tidak berhati, masuk ke dalam ruangan lalu menyerahkan sebuah dokumen pada Zayn Keenan.
“Tolong aku Axel.”
Berharap Axel memintanya untuk bangkit. Nyatanya pria itu tidak perduli sama sekali dan hanya berdiri di dekat Zayn Keenan yang sedang membaca dokumen darinya.
“Posisi General Manager di bagian keuangan One Zayn Group Inggris Plan sedang kosong. Seperti yang telah aku katakan pada mu, kau memiliki kemampuan itu.” Ucap Zayn Keenan lalu ia letakkan dokumen itu di atas meja tepat di dekat Mikka. Mikka pun menoleh dan sekilas membaca judulnya Surat Mutasi. “Jika keberatan, kau bisa menolaknya.”
“Apa bisa? Aku bisa menolaknya? Aku masih ingin tinggal di Seoul tuan.” Harap Mikka.
“Tentu saja bisa, kau bisa tinggal di sini jika itu keputusan mu.” Sahut Zayn Keenan seraya ia terima dokumen ke dua dari putranya, lalu meletakkannya di atas dokumen yang pertama.
Surat Pengunduran Diri
Deg!
“Tidak! Tidak tuan! Aku mohon jangan perlakukan aku seperti ini.” Ucap Mikka, ia kembali memohon di kaki tuannya.
“Bagaimana aku memperlakukan mu? Aku sedang memberi mu kesempatan untuk lebih maju.” Sahut Zayn Keenan. “Putuskan sekarang, aku tidak memiliki banyak waktu untuk mu.”
“Presdir Axel…” Panggil Mikka, ia berharap Axel bisa membantunya.
“Pemimpin tertinggi sudah memutuskan. Aku tidak bisa membantu mu.” Sahut Axel.
Mikka menangis, tidak bisa melakukan apa pun. Sangat lama ia menanti, berharap Zayn Keenan atau pun Axel Zayn merasa kasihan dan pada akhirnya keputusan itu di batalkan. Tapi, itu semua hanyalah harapnya seorang diri.
Mikka kembali menatap dokumen di atas meja itu. Seperti yang Zayn Keenan ucapkan padanya jika ia tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu keputusannya. Maka, ia mulai mengulurkan tangan gemetarnya untuk memilih.
Berat rasanya. Sungguh! Mikka tidak ingin meninggalkan One Zayn Group. Tapi di sisi lain, ia juga tidak mau ter-asingkan di negera orang dalam jangaka waktu yang tidak di tentukan. Ia merasa, di balik ini semua. Zayn Keenan berusaha untuk menyingkirkannya.
Surat Pengunduran diri ia raih. Dengan tetes air mata ia mengukir tanda hitam dengan pena-nya di atas kertas.
“Aku memilih mundur.” Ucap Mikka lalu menyeka air matanya.
“Itu pilihan yang baik. Dimana pun kamu bekerja nantinya, aku harap kamu selalu sukses.” Sahut Zayn Keenan lalu mengulurkan tangan untuk berjabat dengannya.
“Terimakasih tuan. Sampai kapan pun, aku akan mengingat hari ini.” Ucap Mikka lalu mereka pun berjabat tangan.
“Iya, satu kenangan mengisi memori mu. Senang bisa mengenal mu.” Sahut Zayn lalu tersenyum. “Baiklah, aku harus menemui istri ku.”
Zayn bangkit dari sofa lalu bergegas, membiarkan Mikka yang masih duduk di lantai memohon padanya sejak tadi.
Axel raih surat pengunduran diri Mikka tanpa mengucap sepatah kata pun. Mikka melihatnya seperti itu, membuatnya sangat sakit dan sadar jika selama ini dirinya tidak lah berarti apa-apa di matanya.
Bangkit perlahan, Mikka pun terhuyung merasa kebas di kakinya. Ia lantas merunduk sopan pada ke dua tuannya. “Aku permisi, terimakasih untuk kesempatan yang pernah di berikan pada ku.”
Zayn Keenan mengangkat telapak tangan sambil mengangguk tanpa mengucap apa pun. Ia lantas memakai tuxedo-nya dan kini Mikka telah pergi.
“Panggil Jeon. Suruh dia tunggu di lobby utama.” Perintah Zayn pada Axel.
“Jeon baru sampai. Biar aku saja yang mengantar ayah pulang.” Ucap Axel.
“Baiklah.” Sahut Zayn lalu keluar dari ruangan di ikuti Axel di sisinya.
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......