
Sesampainya di apartment tempat Caramel tinggal. Axel Zayn hanya diam berdiri di depan pintu nomor 88 yang terletak di lantai 3. Ia bahkan tidak berniat mengetuk pintu itu untuk memanggilnya.
Memutar tubuh. Axel Zayn mendekat ke arah sofa yang terletak tidak jauh dari pintu apartment Caramel. Ia duduk di sana, terdiam memikirkan apa yang baru saja di lakukannya pada adik kesayangannya, Violet.
Namun di sisi lain, sungguh ia sangat marah. Sampai saat ini, perasaan tidak terima itu terkadang menguasai dirinya, membuatnya berkata atau bertindak kasar padanya.
“Apa yang sedang kamu lakukan di dalam kamar mu sekarang sayang? Apa kah kamu menangis?” Batin Axel.
Duduk sendirian, tertunduk semakin dalam. Sepasang kaki indah berbalut high hils berwarna hitam kini terhenti tepat di hadapannya. Axel melihat sepasang kaki itu hingga membuatnya mengangkat pandangan perlahan.
“Aku mengirim pesan, bahkan menelfon anda tuan Presdir. Kenapa anda tidak menjawab dan memilih menunggu seperti ini?” Ucap Caramel.
Axel Zayn hanya diam saja memandangnya, mendengarkan ucapannya, bukan karena ia terkagum atas kecantikan wanita itu. Tapi, karena ia sudah tidak melihat sosok Violet pada dirinya lagi.
Tanpa mengucap sepatah kata pun Axel Zayn mengalihkan pandangan. Ia bangkit dari duduk lalu berlalu pergi begitu saja melewati Caramel.
Caramel hanya diam memandang punggungnya. Perlahan, ia mulai melangkahkan kakinya dan berjalan di belakangnya, memandangi tuan yang terus saja melangkah tanpa menoleh meski hanya sekali saja.
Ya, apa yang Caramel khawatirkan akhirnya terjadi, di mana tuannya tidak berminat memandang ke arahnya. Yang terjadi saat ini, sangatlah berbeda jika saja ia berpenampilan seperti adiknya, Violet.
Jika biasanya Axel Zayn membukakan pintu mobil untuk Caramel, seperti yang biasa ia lakukan pada Violet. Kali ini, pria itu membiarkan Caramel membuka pintunya sendiri dan masuk ke dalam mobil mewahnya.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Hari ini langit semakin gelap dan udara semakin dingin. Axel Zayn membanting stir ke sisi jalan dan ia menghentikan laju kendaraanya di sana.
Caramel menoleh padanya. Ia melihat tuannya meraih ponsel dari dalam saku jas lalu melakukan panggilan telpon pada seseorang. Entah siapa? Sampai pada akhirnya…
“Angkat telponnya sayaaang…” Kata itu terucap dari mulutnya seraya khawatir begitu menguasai dirinya.
Caramel mendengar cara ia mengucap kata “Sayaaang…” sangatlah indah terdengar di telinganya. Membuatnya mengalihkan pandangan ke keluar jendela.
Kini Violet menerima panggilan darinya. Namun wanita itu hanya diam saja dan Axel pun nampak berfikir sebelum ia mengucap. Ia tidak ingin membuat Violet marah apa lagi menangis karena ucapannya lagi.
“Sayang…” Sapa Axel Zayn.
Violet tidak menjawabnya. Ia hanya diam saja meseki Axel tahu jika wanita itu mendengar ucapannya.
“Kamu sedang apa?” Tanya Axel.
“Seperti yang kak Axel inginkan, aku di dalam kamar.” Sahutnya.
Axel tertunduk mendengarnya. Ia sangat menyesalinya setelah saat ini mendengar suara Violet seperti sedang menangis.
“Kamu menangis?” Tanya Axel.
“Tidak.”
“Sekarang bersama siapa?”
“Sendiri.”
“Melakukan apa?”
“Tidak melakukan apa pun. Hanya berbaring di tempat tidur.”
“Ayah masih menemui tamunya?”
“Iya.”
Mendengar wanita itu hanya menjawab secukupnya. Sejenak, Axel pun terdiam.
“Aku akan matika-”
“Sayang.” Panggilnya memotong pembicaraan Violet.
“Ya?”
“Aku minta maaf.”
“Sejak dulu sering aku katakan. Jangn pernah mengucap kata itu jika kakak belum benar-benar menyadari kesalahan dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulanginya lagi.” Sahut Violet.
“Iya, sebisa mungkin kakak tidak akan mengulanginya.”
“Jika begitu aku maaf-kan.”
Mendengarnya, Axel Zayn mulai tersenyum. Kali ini, ia sungguh mengabaikan Caramel yang sejak tadi hanya diam mendengarkan percakapannya dengan Violet.
“Harus melihat ku?”
“Sebagai tanda jika kamu sungguh memaafkan ku.”
“Jika begitu bawakan aku coklat. Baby junior ku bilang mau coklat dari kak Axel.”
“Sungguh? Baby junior mau coklat dari ku? Hahaha…”
“Iya, yang banyak ya.”
“Sepertinya bukan baby Junior yang mau coklat. Tapi mommy Violet yang rakus itu bukan?”
“Hahahaha… Baiklah, Aku akan keluar menemui tuan Zayn.”
“Iya, tunggu kakak akan bawakan coklatnya untuk mu.”
Melihat Axel Zayn kini tersenyum bahagia. Caramel lantas mengalihkan pandangan ke depan saat pria itu mengakhiri panggilan lalu melanjutkan perjalanan.
“Presdir?” Sapa Caramel lalu menoleh untuk menatapnya lagi.
“Ya?” Sahutnya tanpa menoleh.
“Apa barusan itu kak Violet?” Tanya Caramel.
“Iya, kenapa?”
“Kak Violet. Dia orang yang seperti apa?”
“Sulit di ungkapkan jika hanya dengan kata-kata.” Sahut Axel tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena-” Ucapnya terhenti.
“Karena aku selalu menilainya dari dalam hati ku. Apa pun yang dia lakukan, kesalahan sekali pun, di mata ku, semuanya terlihat baik.” Batin Axel.
“Presdir?” Panggil Caramel, ia masih menanti jawabannya.
“Karena dia sangat sempurna. Tidak ada cacat sedikit pun.”
“Di mata Presdir?” Tanya Caramel.
“Bisa di bilang seperti itu.” Sahutnya tidak menyangkal. “Terlepas dari bagaimana semua orang menilainya? Aku tidak pernah perduli karena di mata ku dia sangat sempurna sebagai wanita.”
“Anda menilainya dari sudut pandang sebagai seorang wanita? Bukan sebagai…?” Tanya Caramel terhenti.
“Adik kandung anda?” Batin Caramel.
“Tidak perduli orang berfikir apa tentang aku dan dia. Di mata ku. Jujur, aku melihatnya dari sudut pandang sebagai seorang wanita. Bukan adik.”
Caramel terdiam mendengarnya. Setidaknya, kini ia mengerti sedalam apa posisi wanita itu di dalam hati Presdirnya. Lalu?
“Apa yang sedang aku lakukan sekarang? Hanya sebuah lelucon… yang tidak memiliki arti di matanya.” Batin Caramel.
Axel kembali menepikan mobilnya. Ia masuk ke area parkir sebuah toko boneka. “Tunggu di sini.” Ucapnya pada Caramel.
Belum juga Caramel menjawabnya. Tuan itu sudah pergi seolah sangat bersemangat.
“Sepertinya aku harus segera mengakhiri ini semua. Sebelum aku semakin dalam menyukainya dan terlambat pergi darinya.” Batin Caramel.
Belum juga memulai. Caramel seperti sudah bisa menerawang hubungannya dengan Axel Zayn kedepan. Maka itu ia akan mengurungkan niat untuk terus menyukainya seperti saat ini.
Kini Axel Zayn kembali dengan sebuah boneka pinguin berukuran besar dan kotak indah yang ia yakini jika isinya adalah coklat. Gadis itu lantas kembali menatap kedepan saat mobil Axel Zayn kembali melaju.
“Boneka pinguin yang sangat lucu.” Ucap Caramel lalu menatapnya lagi.
Sambil mengemudi Axel pun tersenyum saat sekilas ia mengingat masa lalu. “Violet sangat menyukai pinguin. Dulu, sewaktu dia masih bekerja di tempat ku. Aku sempat melihat isi komputernya. Cih! Lucu sekali. Di sana dia lebih banyak menyimpan foto pinguin di bandingkan foto dirinya sendiri. Wanita memang sulit di tebak jika aku sebagi pria tidak berinisiatif. Apa lagi Violet. Dia sangat tertutup menegenai apa pun sampai-sampai para pria di buatnya gila. Memikirkan apa isi hatinya? Apa yang dia inginkan? Apa yang dia sukai? Apa yang dia benci? Segalanya tentang dia. Aku sangat penasaran dan ingin mengetahuinya. Tapi dia hanya bungkam, dan cemberut saat merasa tidak suka. Hehe… jika di pikirkan kembali. Dia memang sangat manis.” Ucap Axel.
“Jika anda di hadapkan dengan dua pilihan, apa yang akan anda pilih Presdir? Wanita anda? atau… adik anda?” Tanya Caramel.
🍁Stay With Me Violet 3🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......