
Teruntuk readers :
Part ini mengandung kekerasan dan mungkin akan membuat kecewa. Tapi, Part ini juga bagian dari ending yang akan author ceritakan nantinya. Jadi, daripada emosi bacanya, mending di skip saja tanpa lupa meninggalkan like nya ya. Semoga kalian selalu setia membaca cerita ini.
Kalau marah sama author tolong maki di dalam hati ajah ya, jangan di ucap. đ
Next...
Melihat Zayn Keenan semakin mendekat. Joe Nathan lantas meninggalkan Violet lalu meraih vas bunga yang ada di dekatnya.
Craaang!
"Tidak!" Teriak Violet.
Vas bunga itu hancur berserakan di lantai saat Joe Nathan dan Zayn Keenan saling menghantam kepala satu sama lain. Violet berteriak sangat nyaring! Ia sungguh merasa sangat takut ketika melihat darah segar begitu deras mengalir dari kepala ke dua pria yang berseteru di hadapannya.
"Tolong hentikan!" Pinta Violet pada kedua pria yang saling menatap tajam satu sama lain. Langak kaki ke duanya memutar di satu tempat seolah mereka waspada atas segala kemungkinan. Zayn Keenan dan Joe Nathan semakin kuat mengepalkan telapak tangan.
Braaakk!
Tanpa kata ke dua pria itu saling menyerang hingga tendangan kuat mendarat di dada ke duanya, membuat mereka terlempar lalu menghantam segala benda di belakangnya.
"Hentikan!" Pinta Violet.
Craangg!!
"Aaaahh!"
Violet berteriak sambil menutup ke dua telinga dengan telapak tangannya. Ia gemetar saat melihat suaminya memukul kepala Joe Nathan dengan vas bunga lagi lalu menjerat leher pria itu dengan menggunakan dasinya.
"Tuan Zayn! Lepaskan Joe Nathan!" Perintah Violet. Tapi sayang, Zayn Keenan telah di buat tuli oleh rasa cemburu yang membakar dirinya.
Braakk!
Kini Zayn Keenan terlempar ketika baru saja Joe menghantam wajah pria itu dengan kepalanya. Membuat Joe segera bangkit lalu menyambar pria itu untuk memukul wajahnya.
"Rasakan ini!" Ucap Joe Nathan sambil melayangkan tinjunya.
Braakk!!
"Joe Nathan! Hentikan!" Teriak Violet.
Craaang! Kini tinju Joe Nathan mampu menghancurkan guji besar yang ada di belakan Zayn Keenan ketika pria itu menghindarinya lalu menggunakan kaki jenjangnya untuk menendang perut Joe Nathan hingga membuat pria itu telempar dan terguling di lantai.
Zayn Keenan mendekat dengan langkah gagahnya lalu menekuk lutuh untuk meraih kerah kemeja Joe Nathan yang kesakitan.
"Rasakan ini!" Ucap Zayn Keenan. Ia tinju wajah pria muda itu hingga membuatnya tidak berdaya.
Joe Nathan berusaha bangkit namun Zayn Keenan segera berdiri lalu menjejak punggungnya, Beralih ke kepalanya lalu menggertakkan gigi sambil menggilasnya sangat kasar.
Tidak menyerah begitu saja. Joe gunakan tangannya untuk mengunci kaki jenjang Zayn Keenan hingga membuatnya terjatuh lalu ia tinju kembali wajah pria itu meski Violet terus berteriak. "Hentikan!"
Violet lemas melihat darah bercucuran di mana-mana, mewarnai lantai di hadapannya. Wanita itu lantas menyambar Jeon untuk memohon. "Tolong pisakah mereka!" Perintah Violet, tapi Jeon hanya diam saja seperti patung hidup meski nonannya terus menarik-narik kerah kemejanya. "Tuan Jeon! Tolong lakukan sesuatu!" Pinta Violet.
Sadar betul jika permintaan itu akan sia-sia. Nyatanya Jeon dan para bodyguard tidak ada yang berani memisakan tuannya karena meraka tahu, siapa yang akan memenangkan pertarungan itu.
Braaakk!
Joe Nathan ambruk dan tidak mampu bangkit lagi. Sekuat apa pun ia memiliki kemampuan bela diri. Nyatanya Zayn Keenan lebih tangguh dan terlatih.
Zayn Keenan memberi aba-aba dan para patung manusia itu mendekat ke arahnya. Mereka raih ke dua tangan Joe Nathan yang terkulai lemah lalu membawanya ke halaman belakang.
"Tuan Zayn! Apa yang akan anda lakukan?! Tanya Violet, ia mengikuti ke mana langkah Zayn Keenan yang bahkan tidak berhenti.
Sesampainya di pintu halaman belakang, Jeon menahan Violet lagi. Dia tidak melepaskan nona muda itu meski Violet berteriak di wajahnya. Sungguh! Terbuat dari apa hati mereka semua!
"Tuan Zayn!" Panggil Violet saat ia melihat dua orang bodyguard memegangi ke dua tangan Joe Nathan dan Zayn Keenan kembali meninjunya lalu mereka melempar tubuh Joe Nathan ke dalam kolam renang yang cukup dalam.
Melihat kondisi Joe Nathan yang seperti saat ini. Violet tahu jika pria itu tidak akan mampu bertahan hidup berada di dalam air!
Violet melangkah kian lebar berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Jeon. Ia mendekat ke arah kolam lalu berteriak. "Joe Nathan!" Saat ia melihat pria itu tidak berdaya di bawah sana.
"Jika pun kali ini aku mati. Setidaknya aku tahu, kamu masih mencintai ku." Batin Joe Nathan.
Joe Nathan tatap wanita yang meronta di atas sana. Ia sungguh tidak mampu menggerakkan tubuhnya, gelombang air bahkan menyamarkan pandangan matanya. Hingga perlahan, semua menjadi sangat gelap.
"Aku tidak akan mengampuni anda jika Joe Nathan mati! Camkan itu tuan Zayn!" Teriak Violet di wajah Zayn Keenan lalu ambruk di pelukannya.
đ
Pusing, terasa sangat berat kepalanya namun Violet berusaha membuka mata perlahan. Samar pandangannya berputar hebat.
"Syukurlah hanya mimpi." Batin Violet.
Hangat genggaman tangan ia rasakan. Violet lantas menoleh dan terdiam ketika ia melihat Zayn Keenan duduk di sisinya. Pria itu memandangnya sangat dalam dengan banyak luka di wajah dan tubuhnya. Sebagai tanda, Jika apa yang ia takutkan adalah nyata.
Menyadari akan hal itu. Violet segera menarik tangannya lalu meremas selimut yang membungkus tubuhnya. Ia alihkan pandangannya ke sisi lain seolah tidak ingin memandang wajah suaminya sendiri.
Saling diam di tengah keheningan sebuah kamar mewah. Violet tidak bertanya tentang Joe Nathan padanya. Ia menggelengkan kepala karena takut. Takut jika kabar buruk lah ia dengar.
Air mata mengalir begitu saja. Violet berusaha menahan isak tangis meski sesungguhnya sangat sulit ia tahan.
Zayn Keenan meraih kembali telapak tangannya dan Violet segara menariknya, ia peluk ke dua telapak tangannya di dada, gemetar karena tidak ingin di sentuh oleh suaminya.
"Sayang..." Panggil Zayn Keenan.
Mendengar panggilan. "Sayang..." Sama seperti bagaimana cara Joe Nathan memanggilnya penuh kelembutan. Isak tangis pun tidak mampu lagi ia bendung hingga membuat Zayn Keenan tidak mampu melakukan apa pun.
"Sayang!"
Kemabali panggilan itu terdengar di telinganya. Tapi, kali ini Violet terperanjak menatap ke arah pintu.
"Kakak!" Sahut Violet lalu masuk ke dalam dekapan Axel Zayn yang segera menyambarnya, duduk di sisinya sambil mengelus hingga membelai rambut panjangnya. "Aku takut..." Ucap Violet. Gemetar di sekujur tubuh wanita itu dapat Axel Zayn rasakan.
"Ada kakak, jangan takut." Sahut Axel Zayn lalu memejamkan mata sambil mencium puncak kepala Violet.
"Aku takut... Aku mau pulang... Aku benci rumah ini... aku benci kota ini... Aku benci tuan Zayn... Aku benci semua orang yang ada di sini... Tolong bawa aku pergi bersama mu kakak. Aku sangat takut... huhu..." Pinta Violet. Ia tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri.
"Iya, tenanglah, kali ini kakak akan mengabulkan semua permintaan mu." Sahut Axel Zayn seraya semakin erat menyembunyikan Violet di dalam dekapan tubuhnya. Mendengarkan isak tangis adiknya yang terdengar sangat memilukan. "Jangan menangis sayang... Tenanglah..." Pinta Axel.
"Aku tidak mau tidur di kamar ini... Aku tidak mau berada di sini..." Ucap Violet, ia terus menggelengkan kepala di dalam dekapan tubuh kakaknya. Sungguh ia sangat terpukul dan hancur lebur.
Axel Zayn lantas bangkit lalu membawa Violet bersamanya meninggalakan Zayn Keenan yang tidak mampu berbuat apa-apa. Membuatnya merasa frustasi dan hanya mampu menundukkan kepala memejamkan mata.
"Aku mohon jangan membenci ku sayang." Batin Zayn Keenan.
đStay With Me Violet 3đ
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys...