Stay With Me Violet Season 3

Stay With Me Violet Season 3
"Kau milik ku tapi tidak ku miliki"




Membuka mata. Violet di sambut oleh suami yang sejak semalam terjaga untuk terus berada di sisinya.


“Sayang…” Sapa Zayn.


Zayn Keenan segera mencondongkan tubuhnya ke arah Violet yang masih terbaring lemas untuk ia mengelus pipinya seraya bertanya. “Merasa lebih baik?”


“Iya.” Sahut Violet lalu ia pegangi kepalanya dengan tengan kiri hingga membuatnya terkejut saat jarum infus melekat di punggung telapak tangannya. “Apa ini?” Tanya Violet dengan letihnya. Ia hendak mencabut jarum infus dari punggung telapak tangannya.


“Jangan di cabut sayang. Biarkan saja.” Pinta Zayn. Ia segera menyambar sepasang pergelangan tangan Violet untuk menghentikan niatnya. “Dokter bilang kamu terlalu stress dan perut mu kosong, jadi biarkan cairan infusnya masuk ke dalam tubuh mu sebagai gantinya.”


“Sterss dan perut ku kosong? Ia, belakangan aku selalu memuntahkan kembali apa pun yang aku makan.”


“Sekarang jam berapa tuan Zayn?” Tanya Violet.


“Jam 06:45. Kepala pelayan sedang menyiapkan sarapan pagi untuk mu, kamu makan di sini saja.”


“Iya.”


Tok… tok…


Mengetuk pintu lalu membukanya. Violet dan Zayn pun menoleh dan mendapati Axel Zayn tengah berdiri di depan pintu dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air berwarna jernih di dalamnya. Perlahan, dalam diam ia menatap Violet dari kejauhan, Axel lantas mendekat dan terhenti tepat di sisi ranjang ayah dan istrinya atau bisa di sebut juga adiknya.


“Aku membawakan sarapan untuk adik ku. Ayah, bisakah aku yang menyuapinya?” Tanya Axel pada Zayn Keenan.


Mendengarnya Zayn pun menoleh pada Violet namun wanita itu malah melemparkan pandangannya ke sisi lain seolah ia tidak ingin di suapi oleh kakak laki-lakinya sendiri.


Melihat bagaimana reaksi Violet. Zayn Keenan justru bangkit dari tempat tidurnya lalu ia mendekat ke arah Axel untuk menepuk pundaknya. “Ayah percaya kamu bisa membuat Violet menghabiskan sarapannya.” Ucap Zayn.


“Terimakasih ayah.” Sahut Axel lalu Zayn pun tersenyum dan meninggalkannya bersama Violet.


Bagaimana pun Axel Zayn adalah kakak kandung Violet sekaligus putranya dan Violet sendiri adalah ibu tiri Axel. Maka Zayn Keenan tidak akan membiarkan hubungan Axel dan Violet menjadi renggang karena suatu alasan.


Mendekat lalu duduk di atas tempat tidur di sisi Violet. Axel lantas menyendok buburnya lalu ia arahkan ke mulut wanita yang tidak mau menatapnya.


“Makanlah sayang. Dokter bilang perut mu kosong.” Pintanya.


“Aku tidak lapar.” Sahutnya masih sama, tidak ingin menoleh pada kakaknya.


“Aku tidak akan bertanya apa yang sudah Racel katakan pada mu dan apa yang membuat mu marah. Tapi, kakak harap kamu jangan egois. Tolong pikirkan bayi yang ada di dalam perut mu.”


“Bayi ku? Ia, aku sedang hamil dan aku harus makan untuk kesehatan anak ku.”


Perlahan menoleh untuk menatap sepasang bola mata milik kakak laki-lakinya. Violet lantas mau membuka mulut dan Axel pun mulai menyuapinya dengan senyum yang terlukis di wajah.


“Makan yang banyak.” Pintanya.


Melihat istrinya mau makan. Zayn yang sejak tadi berdiri di ketat pintu pun mulai tersenyum lalu ia pergi menuju lantai dasar kediamannya.


Racel yang masih berada di kediaman ayahnya pun lantas menoleh ketika ia mendengar suara langkah kaki dan mendapati Zayn Keenan ayahnya sedang menuruni anak tangga menuju ruang keluarga tempatnya duduk saat ini.


“Ayah.” Sapa Racel.


Zayn tersenyum padanya lalu ia duduk di sisinya. Semalam, jika saja Zayn Keenan mengetahui Racel telah memprofokasi Violet. Tentu saja Racel pasti segera di kirim pulang ke Seoul olehnya. Tapi sayangnya Zayn Keenan tidak mengetahui itu semua.


“Iya, lucu kan?” Tanya Racel lalu mendongak untuk melihat senyuman ayah.


“Kamu sudah dewa masih saja suka nonton film kartun.”


Mendengarnya Racel pun kembali menyandarkan kepala di pundak ayahnya untuk mereka menonton film kartun bersama di sana.


“Ayah yang sekarang sangat berbeda dengan ayah yang dulu. Rasanya, aku ingin terus bersamanya untuk mendapatkan limpahan kasih sayang darinya seperti saat ini.”


🍁


Sedangkan di rumah sakit ternama kota Seoul Korea Selatan. Joe Nathan hanya diam duduk bersandar di atas ranjang dengan seragam kahas pasien rumah sakit mewah itu.


Hanya diam Selly duduk di kursi memperhatikan suami yang menganggap kehadirannya tidak lah ada, suami yang sibuk dengan laptopnya meski dokter sudah memperingatinya untuk beristirahat.


“Tinggalkan pekerjaan mu dan istirahatlah Joe Nathan.” Pinta Selly.


Sekali lagi, Joe tidak mau merespon ucapannya sama sekali semenjak ia di rawat di rumah sakit. Pria itu terus focus dan melanjutkan apa yang saat ini ia kerjakan hingga pada akhirnya ia tersenyum menatap grafik pada layar laptopnya.


Tok… tok…


Seorang suster mengetuk pintu lalu masuk dengan membawa nampan berisi makanan dan air mineral. Melihatnya Selly lantas bangkit dari duduk lalu ia ambil alih nampan itu seraya mengucap. “Terimakasih, biar aku yang meletakkannya di atas nakas.”


“Iya, baik nona silahkan.” Sahut suster lalu ia pergi meninggalkan ruang inap Joe.


Bukan untuk meletakkan makanan itu di atas nakas. Selly justru mendekat dan duduk di kursinya lagi. “Joe, waktunya makan.” Ucap Selly seraya ia mulai menyendok makanan untuk hendak menyuapi suaminya.


Melihat sebuah sendok berisi makanan kini berjarak sangat dekat dengan mulutnya. Joe Nathan pun melirik dan melihat senyum manis terlukis di wajah istrinya. Sungguh! Entah kenapa? Joe Nathan justru sangat benci melihat Selly tersenyum meski senyuman gadis itu sangatlah indah di pandang mata siapa pun yang melihatnya.


“Buka mulut mu Joe.” Pintanya.


Mendengar permintaan itu Joe Nathan lantas menutup laptopnya lalu ia letakkan laptop itu di atas nakas yang ada di dekat ranjangnya. Ia tidak juga melahap makanan itu meski kini tangan Selly mulai merasa kebas.


“Makanlah sedikit saja Joe Nathan.” Pinta Selly.


“Seharusnya kau tidak menyentuhnya agar aku bisa memakannya.” Sahut Joe lalu ia tarik selimut seraya membaringkan tubuh di atas ranjang dan mulai memejamkan mata.


Hanya diam Selly pun mulai menarik kembali tangannya lalu ia letakkan sendoknya di dalam mangkuk. Wanita itu hanya bisa duduk dalam kebisuan dan keheningan sebuah ruang inap di mana di dalamnya terdapat seorang pasien yang tidak membutuhkan kehadirannya.


Pada akhirnya, Selly pun menyimpan nampan makanan itu di atas nakas yang ada di dekatnya seperti yang ia ucapkan pada suster barusan lalu ia pandang sosok Joe Nathan yang memejamkan mata di hadapannya.


Idah rambut rapih berwarna hitam pria itu, indah setiap lekuk dari bentuk wajahnya yang tampan dengan alis hitam dan hidung mancung, ia semakin sempurna dengan tubuh tinggi yang memiliki otot kekar di kedua lengannya, ia kokoh, sempurna. Tapi, Selly tidak bisa memiliki itu semua. Segala yang ada di dalam diri suaminya hanyalah bisa ia pandang tanpa bisa ia menyentuhnya meski hanya seujung kuku saja.


Kini, focus mata gadis itu hanya terpaku pada sebuah telapak tangan kekar yang di lengkapi jarum infus di atasnya. Rasanya, Selly sangat ingin meraih telapak tangan itu untuk ia menggenggamnya. Seperti yang di lakukan istri-istri lainnya saat suaminya tengah terbaring tidak berdaya.


Tapi, nyatanya ia hanya bisa menundukkan kepala karena hayalnya yang terlalu tinggi itu membuat dadanya merasa sesak. Ia merasa sakit. tapi hanya sendirian.


"Kau milik ku, tapi tidak ku miliki. Joe Nathan..."


🍁Stay With Me Violet 3🍁


Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys......