Sorry, I Love You...

Sorry, I Love You...
BAB 8



Setelah memesan minuman dan makanannya Sheina mencari tempat kosong untuknya duduk. Dia melihat bangku kosong di luar, pas dengannya karena bangku itu menghadap ke arah laut.


'' Hari ini sangat menyenangkan, aku akan benar-benar memanfaatkannya, sebelum besok kembali ke pekerjaan ku yang sangat melelahkan.'' ucapnya.


''Boleh aku duduk di sini? Sepertinya bangku di depanmu kosong. '' ucap seseorang dari belakang.


''Tentu. Silah,,,,,, kan. '' Lagi lagi Sheina di kejutkan oleh orang itu yang tak lain adalah big bosnya sendiri, Leon.


''Ya, tuan. Silahkan. '' ucap Sheina pelan.


''Apa kau keberatan aku duduk di sini? Hem? '' tanya Leon, dengan tatapan dinginnya.


''Ish! Tentu saja tidak, tuan. '' ucap Sheina memaksa tersenyum.


Tanpa basa basi lagi Leon pun duduk di depan Sheina dengan membawa minuman yang di belinya tadi pagi. Sheina yang melihat itu, merasa canggung namun dia berusaha berbicara dengan big bosnya.


''Maaf tuan? Kalau boleh saya kasih tahu. Minum minuman beralkohol itu tidak baik loh, tuan. '' ucap Sheina. Entah mengapa setelah mengucapkan kata-kata itu Sheina menyesalinya.


''Ya Tuhan. Ada apa dengan mulutku ini? Semoga dia tidak marah dengan kelancanganku ini. " batin Sheina.


''Lalu apa kau tahu, minuman apa yang baik untukku? '' Leon menatap Sheina, yang terlihat resah.


''Hah?Em? Oh, itu anu, tuan. Eh iya, tuan bisa menggantinya dengan jus atau minuman lain yang bukan alkohol. '' ucap Sheina gugup, tapi masih bisa tersenyum meski memaksa.


''Oh ya, siapa namamu? '' tanya Leon.


''Saya, saya Sheina, tuan. '' jawab Sheina, menunduk.


''Hem. ''


''Cuma gitu aja? Irit banget, gak bayar jugakan ngomongnya. Hihihi,,,? " batin Sheina.


''Kamu ngomongin aku? ngatain apalagi sekarang?Hah! '' tanya Leon yang sukses membuat tersedak minumannya.


''Uhuk,,, uhuk?! ''


''Gila! Dia bisa baca pikiran aku kah? "


''Tidak tuan. Aku tidak ngomongin apalagi ngomongin tuan kok?! '' jawabnya.


''Baguslah kalau begitu. Belikan aku minum?! '' titah Leon.


''Hah? Ow. Anda mau minum apa tuan? ''tanya Sheina.


''Bukankah kau tadi menyuruhku minum jus?! '' Leon menatap Sheina dengan tatapan datarnya.


''Oke, baiklah. '' jawab Sheina kesal.


''Kenapa jadi dia yang marah? Menyebalkan. ''gumamnya meninggalkan Leon memesan minuman.


Leon tersenyum mendengar gumaman Sheina yang terdengar jelas di telinganya.


''Dia itu lucu sekali kalau lagi ngambek. Hehehe,,, ? Eh! Tunggu? Apakah aku menyukai gadis ini? Tidak mungkin kan? Dia itu kan konyol, tidak,, tidak. Itu tidak mungkin dan tidak akan,,,,,, ?! '' ucapan Leon terhenti saat Sheina telah datang dengan segelas jus jeruk di tangannya.


''Ini minuman mu tuan. '' Sheina menaruh segelas jus itu di depan Leon.


Leon mengamati jus itu memutar gelasnya membuat Sheina memutar mata malas dengan kelakuan sang big bos ini.


'' Apakah ini bisa di minum?! '' tanya Leon.


Sheina heran dengan pertanyaan Leon. '' Memang kenapa tuan? Itu jus jeruk, bukan air kran kenapa tidak bisa di minum? Tuan tidak suka? '' balik tanya Sheina.


''Apakah ini higienis untuk di minum? Apa kamu yakin minuman ini tidak akan membuatku sakit, setelah meminumnya?! ''. celoteh Leon.


'' Hah? Kalau tuan tidak mau ya sudah tidak usah diminum. Kalau tuan takut sakit, kenapa tuan menyuruhku memesankan minuman disini?! '' ucap Sheina mulai kesal dengan tingkah big bosnya.


Leon memang sengaja membuat Sheina kesal. Karena dia suka melihat sikapnya yang di rasa sangat menggemaskan kalau sedang marah. Tanpa di sadari Leon mulai menyukai Sheina,karena tingkahnya yang konyol tapi lucu itu.


'' Terserah tuan sajalah. '' ucap Sheina mengulurkan tangannya.


Leon mengernyitkan dahinya, tidak mengerti dengan apa yang di lakukan Sheina.


''Apa?'' tanya Leon bingung.


''Tuan? Ini tidak gratis. '' jawab Sheina tanpa basa basi, menunjuk gelas jus tadi.


''Cih! Katakan berapa harganya! '' ucap Leon.


''Beri saya 50 ribu saja tuan. '' ucap Sheina sekenanya.


Leon mengeluarkan dompetnya dan memberikan lembaran 100 ribuan kepada Sheina.


''Nih. ''


''Wah, aku nggak ada kembalian tuan. ''


''Tidak usah! '' jawab Leon singkat.


''Tapi tuan? Saya jadi tidak enak. Biar saya tukarkan ke kasir dulu ya? ''


''Hehehe? Baiklah. Terima kasih tuan. '' ucap Sheina senang.


''Temani aku. '' Leon menarik tangan Sheina keluar menuju pantai.


''Eh, mau kemana tuan? Jangan tarik tangan saya seperti ini. '' Sheina mengibaskan tangannya. Tapi cengkraman tangan Leon jauh lebih kuat.


''Diam! Temani aku sebentar saja. '' Leon tak menghiraukan Sheina yang sudah ketakutan.


''Temani tuan apa? Saya tidak mau tuan, lepaskan saya tuan! '' Sheina meronta.


Leon menghentikan langkahnya saat tiba di pantai dan melepaskan genggaman tangan Sheina.


''Ck! Apa yang sedang kau pikirkan sebenarnya, hah!Aku bilang temani, temani aku main di pantai. Kau pikir aku menyuruhmu menemani apa, hah? '' ucap Leon kesal.


''Jadi maksud tuan? Tuan menyuruhku menemani main di pantai? '' tanya Sheina.


''Iya.Kau pikir aku menyuruhmu menemaniku apa? Jangan bilang,,,,,,, ?!'' Leon menghentikan ucapannya saat tangannya di tarik Sheina.


''Ayo tuan. '' Sheina menarik tangan Leon menuju pantai. Dia tidak ingin Leon tahu apa yang di pikirannya barusan. Sungguh memalukan, hehe.


Sheina melepaskan tangannya dari tangan Leon.


'' Maaf tuan. '' ucapnya malu.


''Ah, sudahlah aku tunggu di sini saja, kamu teruskan main mu. '' Leon kembali mengenakan kacamata hitamnya dan duduk di atas pasir putih.


Sedang Sheina kembali bermain dengan deburan ombak. Rasanya sangat menyenangkan.


Hari sudah mulai sore,saat Sheina sedang asyik membantu seorang anak kecil membuat istana pasir dengan asyiknya. Dia lupa ada seseorang yang dengan tenangnya memperhatikan semua tingkahnya. Dari bagaimana dia berkejaran dengan ombak, selfie dan sekarang membuat istana pasir dengan seorang anak yang baru saja dia jumpai yang langsung akrab dan dekat seperti sudah saling bertemu sebelumnya. Dia adalah Leon.


Sheina berjalan ke arah Leon yang masih setia duduk di sana berjam-jam menunggui dirinya.


Sheina juga baru sadar kalau ternyata Leon masih ada di sana saat dia selesai membantu anak kecil membuat istana pasir.


"Hari sudah sore tuan, apakah tuan tidak ingin pulang?" tanya Sheina yang berdiri di depan big bosnya itu.


"Di mana rumahmu biar aku antar sekalian. " tawar Leon bangkit dari duduknya dan menepuk-nepuk celananya dari pasir.


"Tidak usah tuan, saya bisa naik taksi online. " Sheina berbalik dan mengambil tas serta sepatu yang di lepasnya saat main air.


"Kamu sudah menemaniku hari ini jadi aku wajib mengantarmu. Katakan dimana rumahmu. "


"Tapi tuan,,,,, ?" Sheina tak meneruskan kata-katanya karena Leon memandangnya dengan pandangan intimidasinya.


"Baiklah, tuan. Aku tingal di jalan Bukit Indah no.12."


Terlihat lengkungan di bibir Leon namun hanya sekilas saja.


"Ayo. " Leon berjalan menuju mobilnya yang di ikuti Sheina dari belakang.Sheina nampak ragu dan sedikit terpaksa karena sikap big bosnya itu. Tapi jika terus menolaknya, Sheina takut bosnya akan tersinggung.


Dengan ragu dia membuka pintu mobil belakang dan masuk duduk di kursi belakang.


"Kenapa kau duduk disitu? Kau pikir aku sopirmu!" dengus Leon.


"Maaf tuan. " Sheina kembali keluar dan masuk duduk di kursi depan sebelah Leon.


"Pakai seatbelt mu. Kalau kamu ingin selamat sampai rumah. " titah Leon.


"Oh, iya tuan. " Sheina menarik seatbelt yang ada di sampingnya dan sialnya seatbeltnya sulit di tarik.


"Cih! Begitu saja tidak bisa. " Leon membantu Sheina menarik seatbelt itu dan memakaikannya.


Deg,,,,,


Deg,,,


Deg,,,


Jantung Sheina berdetak kencang saat wajah tampan big bosnya itu berada sangat dekat dengan wajahnya. Hingga wangi napas big bosnya itu tercium olehnya. Leon menatap mata Sheina sejenak lalu kembali duduk dan menyalakan mesin mobilnya.


"Te,terima kasih tuan. " ucap Sheina gugup.


"Hem." jawab Leon singkat dan segera melesatkan mobilnya mengantar Sheina kembali ke rumahnya.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


Happy reading teman,,,,,


Jangan lupa :


👉LIKE


👉KOMEN


👉VOTE


Terima kasih☺️☺️☺️☺️