
'' Shei? Badanmu panas banget. '' ucap Hana panik sambil terus meraba dahi dan leher Sheina.
''Ma? Pa? Jangan tinggalin Sheina. Sheina nggak mau sendirian. '' Sheina mengigau.
''Shei? Aku di sini bakal terus temani kamu. '' ucap Hana menenangkannya.
Di lihat jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Hana bolak balik ke dapur mengambil air untuk mengganti kompres Sheina,namun panas di badan Sheina tak kunjung reda.
''Duh gimana nih? Jam segini mana ada dokter. Kalau aku minta bantuan Willy,gimana yah? ''
Hana meraih ponselnya tanpa ragu. Karena ini cara satu-satunya yang dia bisa pikirkan saat ini.
Hana menekan nomor Willy dan tersambung. Namun untuk beberapa waktu tak ada jawaban. Hana terus mengulangnya beberapa kali lagi. Dan berhasil.
''Hem. Iya halo. '' jawab Willy masih dengan mata terpejam.
''Will,,! Ini aku. Hana. Apa kamu mendengar ku?! " seru Hana,karena mendengar dengkuran halus Willy.
Willy mengucek matanya dan melihat jam yang bertengger di atas nakas.
''Iya Han? Ini masih malam? Kenapa kamu menghubungi ku? Apa kamu nggak bisa tidur karena terlalu memikirkan ku. Hem? Hoam..?! ''
" Will? Badan Sheina panas banget. Tolong aku bawa dia ke dokter. '' ucap Hana panik.
''Apa..?! Baiklah. Baiklah aku ke sana sekarang. '' Willy kaget dan langsung bangun mendengar Sheina sakit.
Dengan mata masih terasa berat Willy berusaha bangun dan mengganti piyama yang di kenakan dengan kaos putih polos dan celana jeans yang ada di lemari. Dan tanpa pikir panjang dia langsung menyambar jaket dan kunci mobil yang dia taruh di atas nakas.
''Aku bangunin Leon nggak ya? Kalau nggak aq kasih tahu dia,bisa di gantung hidup-hidup aku. '' Willy galau.
Akhirnya dia mutusin naik ke lantai dua dan membangunkan Leon. Dengan panik dia menggedor pintu kamar Leon.
Si empunya kamar pun keluar dengan malasnya.
''Apa sih kamu Will! Kamu tahu nggak ini jam berapa ? Ish..!! '' gerutu Leon.
''Leon ikut aku..?! '' seru Willy tanpa ba bi bu menyeret tangan Leon. '' Udah ngomelnya nanti aja nggak ada waktu nih. ''
Leon yang terkejut hanya bisa mengikuti langkah Willy. '' Kamu mau bawa aku kemana? Ini masih malam Willy! ''
Willy tak menjawab,tetap dengan langkahnya yang terburu-buru menyeret tangan Leon yang masih setia dengan omelannya.
Dengan cepat membuka pintu mobilnya dan berteriak kepada scurity jaga untuk membukakan pintu gerbang.
''Buka pintu gerbangnya aku mau keluar ! '' teriak Willy yang langsung di lakukan sang penjaga pintu.
Leon hanya geleng-geleng kepala mengikuti keinginan Willy. Karena masih merasa mengantuk,dia mencoba kembali memejamkan mata di dalam mobil. Tapi usahanya sia-sia karena Willy begitu cepat mengendarai mobil di jalanan yang masih sepi.
''Sebenarnya ingin kemana kita Will?! Kenapa kau begitu terburu-buru. ''
''Kita harus bawa Sheina ke rumah sakit. Badannya panas. Hana menelpon ku tadi. '' jawab Willy tetap fokus mengemudi.
''Hah! Apa?! Kenapa tidak bilang dari tadi! Kalau begitu cepat. '' seru Leon.
Willy langsung tancap gas membelah jalanan sepi yang hanya ada beberapa kendaraan saja yang masih lalu lalang.
Setengah jam kemudian mobil Willy pun sampai di sebuah minimalis berpagar putih. Leon turun dari mobil langsung bergegas menuju pintu rumah Sheina. Memencet bel dengan tidak sabaran.
Tak lama pintu pun terbuka. Hana terkejut dengan kedatangan Leon yang masuk begitu saja setelah pintu terbuka dan menuju kamar Sheina. Willy dan Hana hanya saling pandang berpikir Leon begitu mengenal dalam rumah Sheina.
Leon mendorong pintu kamar Sheina dan mendapati Sheina yang tengah berbaring dengan handuk kompres masih menempel di dahinya. Leon meraba dahi Sheina dan semakin panik mendapati suhu tubuh Sheina yang panas. Dengan sigap Leon menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan mengangkatnya. Menggendong ala bridal style,keluar kamar.
''Siapkan mobil cepat ! '' teriaknya.
Hana dan Willy sudah bersiap di mobil setelah menutup pintu rumah Sheina. Leon mendudukkan Sheina di jok belakang bersama dengannya. Dan mobil pun segera meluncur ke rumah sakit keluarga Adinata.
''Kenapa kamu baru menghubungi sekarang,Han?! '' Leon bertanya sambil sesekali memeriksa suhu badan Sheina.
''Apa? Dia hanya minum obat yang dia beli dari apotik?! Apa dia tahu ukuran dosis obat yang harus dia minum untuk sakitnya?! '' seru Leon.
Hana terdiam. Bahkan dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan kepada Leon betapa keras kepalanya Sheina jika berhubungan dengan kesehatannya sendiri. Mungkin karena terbiasa hidup seorang diri jadi dia akan pergi ke rumah sakit jika hanya dia benar-benar tidak bisa menahan rasa sakitnya.
'' Sudahlah tuan muda. Kita semua juga merasa khawatir pada Sheina. Bukan hanya kamu saja. '' sahut Willy yang tak suka Leon berbicara keras pada Hana.
'' Fokuslah mengendarai mobil,agar kita cepat sampai ke rumah sakit. '' bantah Leon.
Willy tak lagi menjawab karena tak ingin terus berdebat dengan orang yang sudah di kuasai dengan rasa kekhawatirannya.
Mobil memasuki pelataran rumah sakit. Leon dengan cepat menggendong Sheina mencari dokter.
''Dokter...!! Bantu dia segera!! '' teriak Leon sesaat setelah masuk ke dalam lobi rumah sakit.
Beberapa suster yang tahu siapa yang berteriak segera mengambil brankar dan mendorongnya ke arah Leon.
''Tuan muda baringkan dia di sini kami akan segera menanganinya. '' ucap suster itu dan mendorong brankar itu sesaat setelah Leon membaringkan Sheina. Dia juga berlari di samping brankar mengikuti arah kemana Sheina di bawa. Saat tiba di depan pintu ICU,suster meminta Leon untuk menunggu di luar tak memberinya ikut masuk.
''Leon?! '' panggil Hana,berjalan mendekat ke arah Leon yang berdiri di depan kamar ICU.
''Terima kasih sudah membantu. ''
''Hem. '' jawab Leon singkat,membawa dirinya ke kursi tunggu.
''Apa kamu menyukai Sheina? '' tanya Hana tiba-tiba.
Leon menatap Hana dan Willy bergantian. Lalu menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.
''Aku melihat dari sikapmu yang begitu mengkhawatirkannya. Benarkah kamu menyukai Sheina? '' ulang Hana.
''Iya. Aku menyukainya. '' jawab Leon tanpa ekspresi.
Hana tersenyum. Hatinya merasa lega dengan jawaban Leon. '' Tolong jaga dia baik-baik. ''
''Apa maksudmu? '' tanya Leon heran.
''Dia hanya punya aku saat ini. Bisa di bilang aku hanya keluarga satu-satunya bagi dia. Aku akan merasa senang jika kamu bisa menjaganya,Leon. ''
''Tenanglah aku pasti menjaganya. Sebagai keluarganya tetaplah berada di dekatnya. Jangan pernah pergi meninggalkan dia. '' Leon tersenyum.
''Terima kasih. Aku percaya padamu. Kamu pasti bisa menjadi orang yang bisa membahagiakannya kelak. ''
''Selamat pagi tuan muda. '' sapa seorang dokter yang jalan dengan begitu terburu-buru menghampiri Leon.
''Pagi. Tolong dokter cepat periksa gadis yang aku bawa barusan. ''
'' Baik tuan muda. Permisi. '' dokter itupun masuk ke ruang ICU.
Willy yang sedari tadi diam melepas jaket yang di pakainya dan berjalan ke arah Leon. Lalu memberikan jaketnya pada Leon.
''Maaf tuan muda,karena tadi terburu-buru,tuan muda lupa mengganti baju. '' ucap Willy setengah berbisik.
Leon melihat ke tubuhnya dan baru menyadarinya ternyata dia masih menggunakan piyama tidur berwarna gelap itu. Dengan cepat dia memakai jaket yang di berikan Willy.
''Untung piyama mu itu celananya panjang. Coba kalau pendek. Pffff...!! " batin Willy mengulum senyum.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
**HAPPY READING.....
JANGAN LUPA UNTUK VOTE , LIKE DAN KOMEN
JADIKAN FAVORIT JUGA YA**,,,,