
Jam telah menunjuk ke angka 6 sore. Yang berarti saatnya pulang kerja. Leon telah berada di dalam mobil menunggu Sheina,yang tadi bilang ingin ke toilet saat turun ke loby.
Matanya menatap ke arah sebuah cafe yang tak jauh dari mobilnya terparkir. Dia melihat seseorang sedang berbincang dengan seorang pria yang memakai topi hitam. Leon tau siapa yang di lihatnya dan dia yakin dia adalah mantan kekasihnya dulu. Vallery.
'' Jadi benar dia tidak kembali ke Prancis?! '' gumamnya.
Tanpa di sadarinya,Sheina sudah duduk di sebelahnya. '' Kamu kenapa? ''
Leon terkejut melihat Sheina sudah ada di dalam mobilnya. Dia dengan cepat merubah mimik mukanya.
''Tidak apa-apa. '' jawab Leon tersenyum canggung.
Sheina ikut melihat ke arah luar jendela mobil,namun dia tidak melihat siapa pun di sana. Sheina tersenyum lalu memakai seat belt,tanpa berpikir lagi.
''Ayo pulang. '' ajak Sheina.
'' Hem. '' balas Leon.
Mobil melaju secara perlahan membelah jalanan ibu kota yang mulai macet.
''Apakah kamu mau aku antar pulang? '' tanya Willy saat menunggui Hana membereskan meja kerjanya.
''Memang kamu tidak ada kerjaan? Bukankah tadi Leon menyuruhmu membawakan berkasnya ke rumah? '' Hana melirik Willy yang membawa tumpukan map di tangannya.
'' Ah,ini nanti juga bisa. Biar aku antar kamu pulang dulu ya? '' Willy setengah memohon.
''Ok. '' jawab Hana senang.
Mereka pun keluar kantor bersama menuju mobil Willy yang terparkir di parkiran khusus. Seperti Leon yang mengantar Sheina pulang terlebih dahulu,Willy juga mengantar Hana pulang,lalu dia pulang ke mansion Adinata mengantarkan berkas-berkas yang di minta Leon.
'' Selamat malam pa? '' salam Leon saat sampai di mansion. Melihat papanya yang sedang duduk santai di ruang tamu.
''Ah,Leon. Kemarilah sebentar papa ada sesuatu yang ingin di bicarakan sama kamu. '' Adinata menepuk sofa di sampingnya,menyuruh Leon duduk.
Leon menurut saja dan duduk di samping papanya. Dengan sedikit malas karena capek setelah seharian beraktifitas di kantor,Leon dengan tenang mendengarkan apa yang ingin papanya sampaikan.
'' Papa dan mama ingin kamu segera melamar gadis itu. '' ucap Adinata to the poin.
''Apa,pa? Tapi Leon kan sudah pernah bilang ke papa,kalau Leon masih ingin mengenal Sheina lebih dalam lagi pa. ''
'' Papa tau. Tapi setelah menikah kan juga bisa. ''
''Kenapa papa,tiba-tiba menyuruh Leon cepat-cepat melamar Sheina? '' tanya Leon serius.
'' Setelah papa pikir-pikir. Akan lebih aman jika dia bisa tinggal di sini daripada tinggal seorang diri jauh dari orang-orang terdekatnya. Apa kamu tidak khawatir dengannya? Hem? '' Adinata meyakinkan.
Leon tampak berpikir. Apa yang di katakan papanya ada benarnya juga. Apalagi Sheina adalah seorang gadis,meski dia sudah terlatih hidup mandiri dan tinggal seorang diri di sebuah rumah yang terbilang jauh dari orang terdekatnya. Tidak menutup kemungkinan dia juga bisa dalam bahaya sewaktu-waktu.
''Leon akan pikirkan lagi pa. Leon juga tidak ingin memaksanya,jika dia belum siap. ''
''Baiklah kalau begitu. Papa hanya memberimu saran saja. Lagian papa dan mama sudah tua,sudah seharusnya bisa menimang cucu,iyakan?''
Leon hanya tersenyum tak menjawab ucapan papanya. '' Leon pergi ke kamar dulu ya pa,capek ingin mandi. ''
Adinata mengangguk,menatap punggung putranya yang berjalan meninggalkannya menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
''Kamu harus bisa menjadi penerus keluarga Adinata,Leon. " batinnya.
Leon melemparkan jas yang tadi di pakainya ke keranjang pakaian kotor yang tersedia di ujung kamarnya. Mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Menyalakan kran air hangat dan mulai berendam di bak mandi. Pikirannya mulai tertuju pada Sheina.
Bagaimana dia harus memulai acara lamarannya. Apakah gadis itu akan senang dan menerima lamarannya atau malah sebaliknya? Memikirkan hal macam itu saja,sudah membuat nyalinya menciut.
Bagaimana kalau gadis itu menolaknya? Pikiran-pikiran negatifnya mulai bermunculan. Tapi sesaat kemudian Leon tersenyum sendiri kala membayangkan jika gadis tersayangnya itu bisa menerima lamarannya. Betapa bahagianya.😊
Willy telah sampai di mansion Adinata dan menunggu Leon di ruang kerjanya. Namun hampir satu jam menunggu Leon tak kunjung muncul. Bukankah tadi pak Kim bilang,Leon sedang mandi? Lalu kenapa begitu lama?
''Tuan Willy? Sebaiknya tuan makan malam terlebih dahulu bersama tuan besar dan nyonya. Silahkan,ke ruang makan. '' ucap pak Kim sopan.
'' Baiklah pak Kim. Bagaimana dengan Leon? Apa dia belum turun? ''
''Mandi begitu lama. Apa saja yang dia bersihkan? Macam perempuan saja. Hahaha...?! '' seru Willy yang di ikuti tawa anehnya.
Pak kim hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah pria muda satu ini. Mungkin dia juga sudah hafal dengan tingkah juga pikiran aneh-anehnya.
''Om,tante. '' sapa Willy menarik kursi dan duduk di hadapan Adinata dan Monic.
'' Makanlah dulu,Will. Biar pak Kim memanggil Leon turun. Tidak tahu kenapa dari tadi belum selesai mandinya dia. '' ucap Monic.
Pak Kim naik ke lantai atas dan mengetuk pintu kamar Leon. Namun lama mengetuk tidak ada jawaban dari dalam. Dengan hati-hati pak Kim masuk dan mendapati Leon sedang tertidur di ranjangnya masih lengkap dengan piyama handuknya.
Perlahan pak Kim mendekat ke arah Leon yang sedang berbaring. Pak Kim mengulurkan tangannya dan menggoyangkan pundak Leon pelan,memanggilnya agar segera bangun. Namun sia-sia, Leon bergerak pun tidak.
''Tuan muda? Tuan muda? Bangunlah,makan malam sudah siap. '' panggil pak Kim.
Tetap saja Leon tak bergeming,matanya masih terpejam. Pak Kim merasa aneh,lalu meraba kening Leon dengan hati-hati.
''Astaga?! Tuan muda demam. '' ucapnya sambil memeriksa suhu badan Leon.
Pak Kim menyelimuti tubuh Leon dan turun untuk memberitahu tuannya. Dengan langkah cepat pak Kim menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
Willy melihat pak Kim yang turun dengan terburu-buru,menghentikan suapannya.
''Ada apa pak Kim? Leon mana? Apa dia tidak turun untuk makan malam? '' tanya Willy.
''Maaf tuan Willy,tuan besar dan nyonya. Tuan muda sedang tidur dan badannya demam. '' ucap pak Kim.
''Apa? Leon demam?! '' seru Monic.
''Iya nyonya,badan tuan muda panas. Saya akan menelpon dokter Erick kemari memeriksanya. '' pak Kim menuju telpon rumah.
Sementara Willy dan Monic sudah naik ke lantai atas menuju kamar Leon sedangkan Adinata hanya bisa menunggu di bawah dengan cemas,karena tidak mungkin dia ikut menyusul ke atas.
''Sayang? Kamu kenapa bisa demam? '' Monic meraba kening Leon yang memang panas.
''Tenang tante,sebentar lagi dokter Erick akan segera datang memeriksanya. '' ucap Willy menenangkan Monic.
''Mudah-mudahan dia tidak apa-apa,Will. ''
Tak lama kemudian pak Kim datang dengan dokter pribadi keluarga Adinata,yaitu dokter Erick. Dengan cepat dokter Erick memeriksa Leon.
''Apakah tuan muda berendam terlalu lama? '' tanya dokter Erick.
''Tuan muda masuk angin. Mungkin tadi terlalu lama berendam saat mandi. ''
''Apa putra ku akan baik-baik saja dokter? '' tanya Monic cemas.
''Tidak apa-apa,nyonya. Apakah tuan muda sudah makan? '' tanya dokter Erick.
''Em,belum dok? Tadi saya ingin membangunkannya untuk makan malam. Tapi ternyata tuan muda demam. '' jawab pak Kim.
''Baiklah kalau begitu. Saya akan memberinya infus dan dia akan membaik setelah dia sadar nanti. ''
Tak perlu waktu lama sekantung infus pun sudah tergantung disisi ranjang Leon. Willy mendapat tugas menjaga Leon. Sepanjang malam Willy tidur di sofa kamar Leon demi memastikan dia akan baik-baik saja.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
**HAPPY READING.....
JANGAN LUPA DUKUNGANNYA DENGAN CARA
VOTE, LIKE dan KOMEN ya....
JADIKAN FAVORIT JUGA
TERIMA KASIH☺️☺️☺️**