
Jam telah menunjukkan pukul 5 sore. Aktifitas yang begitu sibuknya langsung di hentikan dan bersiap kembali ke rumah masing-masing.
''Jadi kamu ikut kita nggak nih Shei? '' tanya Zein saat melewati meja Sheina.
''Enggak deh Zein. Kamu sama Via aja yah, soalnya hari ini aku capek banget. Lagian ojol langganan aku pasti sudah nunggu di luar. '' jawab Sheina sopan. Masih membereskan map dan lembaran kertas yang masih berantakan, dimeja kerjanya.
''Oke deh. Kalau gitu kita balik duluan ya Shei? ''. pamit Via dan Zein, yang di balas anggukan kepala Sheina.
''Beres. Waktunya pulang!! '' seru Sheina senang. Lalu bergegas turun dan menemui ojol langganannya yang sudah menunggu di halaman kantor.
''Hai Sheina? '' Dio sang ojol melambaikan tangannya ke arah Sheina yang berjalan ke arahnya.
''Hai Dio. '' balas Sheina, mengambil helm yang di berikan Dio padanya. Lalu duduk berboncengan. Dio pun segera melesatkan motornya membelah keramaian jalanan.
*************************************************
'' Apakah kau tidak akan pulang menemaniku, sayang?'' tanya seorang pria yang berdiri di balkon rumah mewahnya. Dia sedang berbicara di telpon.
''Maafkan aku sayang. Kali ini aku benar-benar tidak bisa menemanimu karena besok aku harus ke Paris untuk pemotretan ku. Kamu tahu kan aku sudah menantikan ini dari dulu? " jawab seseorang di seberang.
''Apakah pekerjaanmu lebih penting daripada aku? Aku hanya memintamu menemaniku besok saja,karena aku akan menggantikan papa mengelola perusahaan setelah itu mungkin aku akan sibuk dan tidak punya waktu banyak seperti biasa. '' Pria itu bersikeras.
''Tapi aku benar benar tidak bisa sayang.Udah dulu ya sayang manager aku sudah menyuruhku bersiap siap.Bye,,,sayang. Tuut,,,tuutt,,,,tutt ! " panggilan berakhir.
''Sepenting itukah pekerjaanmu di bandingkan dengan ku. '' batinnya kesal.
''Tuan muda Leon?! Maaf tuan muda? Papa tuan muda memanggil anda untuk berbincang di ruang baca. '' seorang kepala pelayan itu memanggilnya.
Ya, pria yang sedang menelpon tadi adalah Leonard Axell Adinata. Pewaris utama perusahaan ADT Group. Perusahaan tempat dimana Sheina bekerja. Pria tampan berusia 27 tahun dengan tinggi sekitar 175 cm itu terlihat masih sangat muda dan rupawan.
Dan yang sedang di telponnya tadi, tentu saja dia adalah pacarnya, Vallery Luxia. Seorang model internasional yang terkenal. Mereka berpacaran sejak Leon kuliah di Amerika. Dulu Vallery belum sesibuk sekarang, sejak dia banyak tawaran pemotretan di luar negeri,hampir 1 tahun ini dia jarang bertemu dengan Leon kekasihnya.
Leon menuruni tangga menuju lantai bawah. Dari atas sudah terlihat jelas papanya sedang asyik mengobrol dengan seorang pria yang kelihatannya seumuran juga dengannya.
''Pa? Kata pak Kim papa mencari ku,ada apa? '' tanya Leon saat dia sudah berada di dekat papanya.
''Leon, apa kabar? Lama tidak bertemu. '' pria yang mengobrol dengan papanya tadi menyapanya.
Leon hanya menatap pria itu tanpa ekspresi. Lalu menatap papanya, yang tersenyum melihat tatapan ingin tahunya.
''Kamu lupa dengan Willy, Leon? '' tanya papanya mengingatkan.
Leon masih tak bergeming, di tatapnya lagi pria itu tapi tetap saja tidak mengingatnya.
''Kamu ingat dengan om Arga? '' tanya papa Leon lagi.
Leon kembali mengingat dan senyumnya pun mengembang. '' Ya pa Leon ingat. Dia Willy yang dekil anak om Arga itu kan? '' Leon menyeringai.
''Tapi apakah aku masih dekil seperti dulu? '' pria bernama Willy itu tersenyum dan merentangkan kedua tangannya.
'' Cih?! Masih gantengan juga aku. '' Leon tersenyum memeluk Willy.
''Iya,, iya,,, Tuan Leon memang paling rupawan. '' puji Willy.
''Bagaimana kalau kita ngobrolnya di ruang baca saja. Ada yang ingin papa bicarakan dengan kalian berdua. '' ajak papa Leon yaitu Adinata.
Mereka bertiga pun masuk ke ruangan yang sangat besar dan terdapat banyak buku-buku tebal yang tersusun rapi di tiap raknya,bisa di bilang itu perpustakaan pribadi.
''Willy? Sebelumnya om sudah bicara dengan papa kamu, bahwa mulai besok kamu akan menjadi asisten serta tangan kanan Leon di perusahaan om. Karena om merasa kamulah orang yang pantas menjadi asisten pribadi Leon. '' ucap Adinata, serius.
''Kenapa papa sangat yakin kalau dia bisa di percaya menjadi asisten Leon? '' tanya Leon heran.
''Jadi kamu meragukan aku, Leon? Apa kamu tidak percaya dengan papa kamu karena telah menunjukku sebagai asisten kamu? '' balas Willy yang merasa di ragukan kemampuannya.
Leon hanya mengangkat kedua bahunya tak mengerti.
''Papa memilih Willy sebagai asisten kamu, karena papa tahu kemampuannya yang tidak di ragukan lagi karena selama kamu di Amerika, dia lah yang sudah membantu papa di kantor. Selain handal dalam bekerja cara berpikir Willy pun juga sangat luar biasa. '' terang Adinata.
'' Tenang saja aku nggak akan pernah menggeser mu dari perusahaan. Hahaha... ?! '' gurau Willy.
''Oke pa, kalau papa memang sudah percaya sama dia. Dan kamu,semoga kamu benar-benar bisa membantu. '' Leon menepuk pundak Willy. Lalu berpamitan dengan papanya kembali ke kamar.
Willy tersenyum menatap Leon yang berjalan meninggalkannya.
''Willy? Om harap kamu bisa menjaganya saat di perusahaan. Kamu tau sendiri kan Leon memiliki sifat yang gampang sekali emosi. Sebenarnya dia belum sepenuhnya siap menggantikan om di perusahaan tapi bagaimanapun dia juga harus belajar dari sekarang. '' Adinata mengusap punggung willy.
''Baiklah kalau begitu, om bisa tenang sekarang menyerahkan perusahaan kepada kalian berdua. Kamu memang anak yang pantas di banggakan Willy. Beruntung sekali Arga mempunyai anak yang cerdas sepertimu. '' puji Adinata.
''Ah om Adinata terlalu berlebihan. '' Willy tersanjung.
''Baiklah kamu boleh kembali istirahat. Persiapkan diri untuk besok. ''
''Terima kasih om. Willy permisi. '' pamit Willy lalu keluar dari ruang baca.
Willy menghampiri Leon yang ada di kamarnya. Dia berniat berpamitan untuk kembali ke apartemennya.
Sejak ikut dengan keluarga Adinata, Willy mendapatkan fasilitas yang hampir sama dengan Leon. Namun karena Willy sudah terbiasa mandiri sejak dia kuliah di luar negri, Willy memutuskan menolak fasilitas yang di berikan padanya dan hanya memilih tinggal di apartemen pemberian keluarga Adinata, yang kini sudah resmi menjadi apartemennya.
''Tok,,, tok,,, tok?! '' Willy mengetuk pintu kamar Leon.
Leon pun membukakan pintu. Dia tampak terkejut tapi hanya sebentar.
''Masuklah. '' ucapnya dengan nada datar.
Leon masuk ke kamar Leon yang dominan dengan warna hitam putih itu.
''Ada apa Will? '' tanya Leon masih heran dengan kedatangan Willy.
'' Apakah mulai sekarang kita bisa berteman tuan Leon? '' ucap Willy ramah.
''Ya, kenapa tidak. Bagaimanapun juga,aku nanti juga akan tiap hari bertemu denganmu. Iis,,,!! Membosankan sekali. '' ucap Leon terus terang.
Willy tertawa mendengar ucapan Leon. Dia suka dengan orang yang berterus terang seperti sikap Leon ini.
''Kenapa tertawa?! Lucu.. ?! '' pekik Leon.
'' Tidak tuan Leon. Aku hanya menyukai sikap kamu yang terus terang dan tidak menutup-nutupi. '' Willy masih menahan tawa.
''Bukankah kita sudah berteman? Kenapa kamu memanggilku tuan?! '' ucap Leon tidak senang.
''Karena mulai besok kamu adalah tuan aku. Dan aku adalah bawahan kamu. '' jawab Willy.
''Aku tidak suka?! Selain di hadapan karyawan lain kau bisa memanggil namaku saja. '' perintah Leon.
''Baiklah Leon. Aku permisi pulang, sampai ketemu besok, ok?! '' Willy pamit.
''Pulang? Bukankah kamu tinggal di rumah ini juga?!''
Willy menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Leon.
''Aku tinggal di apartemenku sendiri, tidak jauh dari sini. Jadi kalau kamu membutuhkanku kamu bisa menghubungi ku. '' jawab Willy.
''Ok, baiklah. Kau boleh pergi. '' ucap Leon datar.
''Baik, terima kasih. Permisi. '' Willy melangkah keluar dari kamar Leon dan kembali turun menuju mobilnya yang terparkir di teras depan, di ikuti oleh ketua pelayan keluarga Adinata, pak Kim.
Sebelum Willy masuk ke dalam mobilnya, dia terlebih dahulu berbincang dengan pak Kim.
''Pak Kim, saya minta tolong untuk membangunkan Leon besok, lebih awal. Karena saya tidak ingin dia terlambat menghadiri pertemuan perkenalan kepada seluruh karyawan perusahaan ADT Group. ''
''Baik, tuan Willy saya mengerti. '' jawab pak Kim.
''Terima kasih pak. ''
Willy memasuki mobilnya dan segera melesat meninggalkan kediaman Adinata itu,menuju apartemennya. Hari ini sungguh terlalu melelahkan, Willy ingin segera pulang dan istirahat.
💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮
**JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA TEMAN DENGAN CARA:
👉 LIKE
👉KOMEN
👉VOTE
TERIMA KASIH 😘😘😘😘**