Sorry, I Love You...

Sorry, I Love You...
BAB. 66



'' Selamat sore pak Wawan? '' sapa Sheina ramah.


Seorang pria paruh baya yang sedang melayani salah satu pengunjungnya itu pun menoleh mendengar sapaan gadis di depannya.


'' Neng Sheina? '' jawab pria paruh baya yang di panggil pak Wawan itu.


Sheina menganggukkan kepalanya senang. Pak Wawan masih mengingatnya meski hampir setengah tahun Sheina tak pernah lagi berkunjung ke warungnya.


'' Mari,,,mari silahkan duduk,neng? Lama sekali tidak lagi kemari. '' pak Wawan membersihkan meja yang masih kosong untuk Sheina.


Meski warung pak Wawan terlihat sederhana tapi warung itu terlihat rapi dan bersih.


Sheina tak juga duduk sedangkan Leon,Hana dan Willy sudah menempati kursi masing-masing.


'' Ibu kemana pak? '' tanya Sheina melayangkan pandangan ke sekitar.


'' Oh? Tadi ada bahan yang sudah habis,jadi dia pergi ke pasar untuk membelinya. '' jawab pak Wawan.


'' Shei kangen sama nasi bakar buatan bapak. Shei bawa teman Shei ke sini pak. ''


'' Hai pak? Masih ingat saya? Dulu pernah ke sini bareng Sheina juga. '' sapa Hana.


'' Neng Hana kan? Iya bapak masih ingat. Lama juga tidak kemari. ''


'' Iya pak? Saya juga sama seperti Sheina,kangen sama nasi bakarnya pak Wawan yang paling enak itu. ''


'' Ah iya. Terima kasih masih mau mampir ke warung sederhana bapak. '' ucap pak Wawan merendah.


'' Apakah mereka sering kemari pak? '' sahut Willy.


Pak Wawan menoleh ke arah dua pria yang sedang duduk di sebelahnya. '' Sering tuan. ''


''Ah iya pak Wawan. Ini Leon dan itu Willy. '' tunjuk Sheina ke arah dua pria itu yang di balas senyum dan anggukan kepala.


'' Baiklah kalian duduklah biar bapak siapkan pesanan kalian. Mungkin juga sebentar lagi ibu Leila juga pulang dari pasar. ''


'' Iya pak. Terima kasih. Apa perlu Shei bantu pak? ''


'' Tidak perlu neng? Duduklah,kamu pasti capek. '' ucap pak Wawan sembari berlalu menuju belakang.


Leon terus menatap Sheina. Terlihat senyum tulus dari wajah polosnya. Begitu ramah dan sopan terhadap siapa saja. Dan dalam hati,Leon bergumam memuji gadis cantik kesayangannya.


''Dia layak menjadi pendamping hidup ku untuk selamanya. Tak kan ku biarkan orang lain merebutnya dari ku. " batin Leon.


'' Ada apa? Kenapa kamu tersenyum sendiri? '' tanya Sheina membuyarkan lamunan Leon.


Leon hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


'' Pa? Apa papa sudah bisa menemukan riwayat kehidupan Sheina? '' tanya Monic yang sedang mengupas jeruk untuk Adinata.


'' Belum ma? Orang kepercayaan papa yang sering bantu papa menemukan orang-orang yang ingin papa ketahui juga belum bisa memberikan informasi tentang riwayat kehidupan gadis itu kepada papa. ''


'' Entah mengapa,setiap kali dekat dengan gadis itu,mama merasa seperti dekat dengan Widia,pa. ''


'' Dari informasi yang orang papa tugaskan,sepertinya bio tentang keluarga gadis itu juga di rahasiakan.Yang mereka tahu hanya tempat tinggal gadis itu dulu berada di Bandung. Tapi bandung itu luas,sedang Bandung di sebelah mana mereka juga tidak tahu. ''


'' Apa mungkin Sheina anak dari orang yang bukan sembarangan? '' Monic menerka-nerka.


'' Bisa jadi. Tapi bagaimanapun,dia tetaplah gadis baik-baik yang pernah papa kenal. Dulu rekan papa pernah mengenalkan putri-putri mereka dan berharap bisa masuk ke dalam keluarga kita. Tapi papa tak pernah melihat dari mereka yang setulus dan seapa adanya Sheina. ''


'' Iya pa. Benar - benar luar biasa orang tuanya yang mendidik anak perempuannya menjadi sehebat itu. ''


'' Hem. Papa juga berpikir begitu. Putraku akan sangat beruntung mendapatkannya. '' ucap Adinata dengan bangganya.


'' Iya pa. Mama sudah pengen banget punya cucu. '' ucap Monic senang.


...*******...


" Mari silahkan di nikmati. " pak Wawan menyuguhkan nasi bakar yang terbungkus daun pisang yang di bakar.


Dari aromanya saja sudah tercium begitu harum. Sudah pasti akan membuat perut yang sedang kosong akan semakin keroncongan hanya dengan mencium baunya saja.


" Ini seperti menu baru di kantin waktu itu. " ucap Willy mengingat waktu pertama kali bertemu Hana dan Sheina.


" Benarkah? " Willy mulai membuka bungkusan di depannya dengan semangat.


" Apa ini bisa di makan? " tanya Leon bingung.


" Tentu saja. Kalau tidak,kenapa bapak itu menjualnya dan menyuruh kita menikmatinya. " jawab Willy.


"Memangnya kamu belum pernah makan nasi bakar? " tanya Sheina.


" Pernah! " sahut Willy cepat.


" Hem? Sepertinya aku dulu pernah mengantarkannya padamu ke ruangan sama Willy. Iya kan Will? " tanya Sheina.


Willy yang di tanya sudah dengan lahapnya menyantap nasi bakar bagiannya. " Em! "


" Kapan? Aku saja tidak ingat. " jawab Leon dengan cueknya. " Lalu ini bagaimana memakannya? "


Sheina dan Hana bersamaan menatap ke arah Leon lalu mereka berdua saling tatap. Hana hampir saja tertawa,tapi tidak dia lakukan karena dia tau Leon pasti marah.


Dengan telaten,Sheina membantu membuka bungkusan nasi bakar itu dan terlihatlah nasi yang bercampur irisan daging dan lauk lain yang menguapkan aroma yang sangat sedap.


Leon menyendok ragu makanan di hadapannya. Antara ingin memakannya atau tidak. Sheina yang gemas melihat tingkah Leon langsung menyendok dan menyuapkannya ke mulut Leon.


" Coba dulu. Bagaimana bisa tau enak atau tidak kalau tidak di makan. " ucap Sheina. Sementara Hana dan Willy hanya saling pandang dan tersenyum melanjutkan aktifitas makannya menikmati nasi bakar pak Wawan yang sangat lezat itu.


Leon mengecap rasa makanan itu,mukanya berbinar dan dengan santainya dia pun mulai menikmatinya. Dan tanpa terasa makanan yang ada di piring mereka pun tandas.


" Wah...? Kenyang sekali. Enak banget nasi bakarnya. Iya kan tuan muda. " ucap Willy menggoda Leon yang juga terlihat kekenyangan.


Dari luar terlihat seseorang turun dari motor maticnya sambil membawa bungkusan besar. Sheina yang melihat itu seketika tersenyum lebar. Dan saat seseorang yang di lihatnya itu masuk ke dalam,Sheina berdiri dan mendekat menghampiri.


" Ibu Leila? " sapa Sheina.


" Neng Sheina?! " jawab wanita yang di panggil bu Leila itu.


Dengan cepat menaruh bungkusannya dan memeluk Sheina hangat. Pemandangan itu seperti pertemuan ibu dengan anaknya.


" Bu? Sheina kangen banget sama bu Leila. " ucap Sheina dalam pelukan bu Leila.


" Neng Sheina apa kabar atuh? Dah lama tak kemari,ibu juga kangen. "


" Maaf bu? Sejak Shei pindah ke ibu kota,Shei jarang kemari karena sibuk dengan pekerjaan. Hari ini Shei ke Bandung menjenguk ayah dan ibu Shei. "


" Aih? Sekarang makin cantik pisan euh? Ibu kira teh neng Shei nggak akan mampir kemari lagi. "


" Ya nggak mungkin lah bu,kalau Shei ke Bandung pasti akan Shei sempetin mampir kemari. Oh ya bu,Shei juga bawa teman-teman Shei kemari. " Sheina menunjuk ke arah Leon,Hana dan Willy.


" Baru pulang buk? Ini tadi teh nak Sheina mampir kemari nyariin ibu atuh? Tapi bapak bilang ibu sedang ke pasar. " pak Wawan menghampiri dua orang wanita yang sedang kangen-kangenan.


'' Iya pak? Tolong atuh,bapak bawa keun belanjaan ibu ke dapur yah pak. Ibu mau nemuin teman-temannya neng geulis. ''


'' Iya bu,kasian mereka sudah menunggu lama dari tadi. '' jawab pak Wawan.


Bu Leila berjalan menghampiri mereka bertiga. Bu Leila yang memang sudah mengenal Hana pun langsung memeluknya setelah Hana mencium punggung tangan bu Leila.


'' Apa kabar ibu? '' ucap Hana sopan.


'' Baik atuh neng Hana. Silahkan duduk. Maafin ibu yah tadi teh ibu ke pasar beli bahan- bahan yang sudah habis buat jualan besok. ''


'' Iya bu. Nggak apa-apa kok. ''


'' Oh ya bu,kenalin ini Leon dan ini Willy. Teman dari ibu kota kami. '' ucap Sheina mengenalkan.


Willy dan Leon bersalaman dengan bu Leila. Bu leila mempersilahkan mereka duduk kembali. Mereka pun terlihat asyik berbincang,nampak sesekali terdengar gelak tawa diantara mereka.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


**HAPPY READING.....


JANGAN LUPA BANTU DUKUNG DENGAN


VOTE , LIKE & KOMEN


TERIMA KASIH.....😊😊😊😊**