Sorry, I Love You...

Sorry, I Love You...
BAB. 51



'' Bisakah kamu cerita sedikit tentang masa kecil atau sejak umur berapa orangtuamu pergi?? '' tanya Monic,setelah selesai makan mereka berdua berbincang di luar ruangan.


Panorama siang hari sangat indah,memandang lepas ke arah hamparan air danau buatan. Terlihat ikan berwarna warni berenang ke sana kemari,begitu sejuk dan damai.


'' Ayah dan ibu meninggal karena kecelakaan tante. Mereka meninggal saat Sheina masih berusia 5 tahun. '' jawab Sheina nanar.


''Lalu kamu tinggal dengan siapa? Bagaimana kehidupanmu setelah itu? Maaf ya sayang,bukan maksud apa-apa tante bertanya seperti ini. '' ucap Monic membelai rambut panjang Sheina lembut.


Sementara Leon dan papanya memperhatikan mereka berdua dari dalam ruangan sambil tersenyum senang.


''Waktu itu Sheina di asuh sama adiknya ibu,tante. Om Vino. Sheina sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Keluarga om Vino sangat menyayangi ku. Sampai Sheina lulus kuliah dan mencari kerja. Semua kebutuhan Sheina di tanggung sama om Vino. '' terang Sheina.


''Lalu kenapa kamu pindah ke ibu kota? Dan kamu bilang,kamu tidak punya saudara. Om Vino sekarang dimana? ''


'' Om Vino dan istrinya,harus pindah ke luar negri karena sepupuku Alvin yaitu anak dari om Vino,harus belajar dan bersekolah di sana. Mereka sempat mengajak ku ikut serta bersama mereka,tapi aku menolak karena aku tidak mau jauh dari ayah dan ibu,meskipun mereka juga sudah tak lagi bersama ku.Sejak itu mereka sudah sangat jarang menghubungiku. Sampai sekarang pun aku tidak tahu mereka ada dimana.'' mata Sheina mulai berkaca-kaca.


''Sstt...? Sabar ya sayang. '' Monic kembali mengusap punggung Sheina,menguatkannya.


Sheina hanya tersenyum,menahan butiran bening sebisa mungkin agar tidak jatuh ke pipi mulusnya.


''Kalau boleh tahu? Siapa nama ibumu? Karena,tante merasa sangat tidak asing melihat wajahmu,sayang. '' tanya Monic,memegang dagu Sheina.


''Ibu Sheina.....? '' belum sempat meneruskan kata-katanya Adinata yang menghampiri mereka.


''Apa kalian sudah selesai ngobrolnya? Ma,hari sudah mulai sore,biarkan Leon mengantar Sheina pulang. Biarkan dia kembali istirahat. '' ucap Adinata dengan Leon di belakang mendorong kursi rodanya.


''Oh? Kenapa cepat sekali? Mama belum selesai ngobrol dengan gadis cantik ini,pa. '' ucap Monic sedikit kecewa.


'' Nanti kan bisa ketemu lagi,ma. Iya kan Sheina. Bisa kan kapan-kapan main ke rumah. '' pinta Adinata.


''Em,,,i-iya om. '' jawab Sheina tersenyum malu.


'' Ya sudah. Leon antar Sheina pulang dulu ya pa,ma. Abis itu Leon langsung balik ke kantor. Ayo,Shei. '' ajak Leon.


''Om,tante? Sheina pulang dulu yah. '' pamit Sheina.


''Iya,sayang. Hati-hati ya di jalan. Leon jagain Sheina loh. '' Monic memicingkan matanya ke arah Leon.


Leon membalas lirikan mamanya dengan tatapan datar.


Sheina meraih tangan Monic dan mencium punggung tangannya,lalu beralih ke Adinata. Lalu berpamitan,melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Adinata dan istrinya.


''Dia begitu sopan dan terdidik dengan baik ya pa? Benar-benar gadis yang baik. '' puji Monic.


''Bagaimana? Apakah cocok dengan mama? '' tanya Adinata.


''Kalau yang ini mama setuju pa. '' jawab Monic tersenyum pada Adinata.


Adinata membalas senyuman Monic yang sedang bersenang hati bertemu dengan Sheina.


Adinata hanya berharap semoga dia benar-benar gadis baik-baik yang bisa mendampingi Leon,putranya menuju masa depan yang bahagia.


...****************...


''Willy? Aku ingin melihat keadaan Sheina. Pulang kerja bisa kamu antar aku ke rumahnya? '' tanya Hana di sela-sela makan siangnya.


''Hem? Aku tadi juga ingin ajak kamu ke sana loh. Eh,malah kamu duluan yang ngomong. '' jawab Willy sambil mengunyah makanannya.


''Lama nggak masuk kerja pasti bosen banget dia. Sheina itu bukan tipe cewek yang suka malas-malasan. '' Hana menyudahi makannya.


''Kok sudah makannya? '' tanya Willy heran.


''Udah kenyang. '' Hana menunjukan deretan giginya.


''Kan baru sedikit makannya. Masak sudah kenyang sih. ''


''Iya,tadi di ruangan banyak minum air,soalnya. ''


''Hem. Ya sudah,aku juga sudah selesai. Kamu tunggu sini dulu ya? Aku mau ke toilet sebentar. '' ucap Willy bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Hana.


''Hai Han? Apa kabar? '' tanya wanita itu seraya membuka kacamata dan duduk di hadapan Hana.


Hana kaget melihat wanita yang ada di depannya.


''Vallery..?! " pekik Hana,kaget.


Wanita itu adalah Vallery,teman lama Hana yang sekarang sudah menjadi mantan kekasih Leon.


''Iya,Han. Ini aku. Kamu apa kabar? ''


''Baik,Val? Kamu sendiri bagaimana? Bukankah harusnya ada di Paris? '' tanya Hana canggung.


''Heh? Mana mungkin aku bisa tinggal jauh dari kalian yang sedang bahagia. '' ucap Vallery dengan senyuman sinisnya.


'' Maksud kamu apa,Val? ''


''Kamu tidak pernah mendukungku dengan Leon tapi kamu sangat membantu teman kecilmu itu agar dekat dengan Leon. Kenapa Han? Bukankah kamu dulu juga begitu menyayangi ku? '' ucap Vallery keras.


Beberapa orang menatap ke arah Vallery dan Hana yang sedang berdebat. Dengan santai Vallery tak menghiraukan tatapan orang-orang sekitar. Sedangkan Hana hanya bisa,menahan rasa kesalnya.


''Setidaknya kamu tahu diri,Val. Kamu sendiri yang membuat orang-orang di sekitar kamu menjauhi mu. Jika saja dulu kamu tidak terlalu egois dengan semua ambisi mu itu. Mungkin kamu juga tidak akan seperti sekarang ini. '' jawab Hana masih dengan sikap sabarnya.


''Han?! Kamu tahu kan? Itu semua cita-cita ku,impian ku! Apa salahnya aku mendapatkan itu semua. ''


''Kamu memang tidak salah Val?! Tapi cara kamu yang salah?! Andai saja kamu melakukan cara yang biasa saja,mungkin ceritanya akan beda. '' sahut Hana mulai kesal.


'' Han? Apakah dengan kamu membenciku seperti ini,kamu juga akan menjauhi ku. Seperti Leon? Apakah aku sudah bisa di maafkan? '' ucap Vallery menghiba.


''Aku tidak pernah membencimu,Val. Tapi aku hanya tidak suka kamu selalu merendahkan dirimu sendiri hanya demi ketenaran. Maaf? Aku harus kembali ke kantor,karena pekerjaanku masih banyak. '' ucap Hana buru-buru pergi.


Vallery semakin kesal dengan sikap Hana yang dia rasa selalu menghindarinya.


'' Shiitt!! Kenapa sih semua pada munafik!! '' geram Vallery lalu kembali memasang kacamata hitamnya dan pergi.


Hana berpapasan dengan Willy saat dia sudah selesai dari toilet.


''Udah selesai? Kita balik ke kantor ya? '' ucap Hana menata perasaan kesalnya.


''Kamu kenapa,Han? '' ucap Willy mengedarkan pandangan ke arah mereka duduk tadi,tapi tak mendapati apa-apa.


''Hah? Enggak ada apa-apa,Will. '' jawab Hana berbohong.


'' Ya udah aku bayar makanan kita dulu. Kamu tunggu di sini ya. '' Willy menuju ke stand pembayaran.


'' Yuk. '' ajak Willy menggandeng tangan Hana keluar dari restauran.


Hana masih saja terlihat tidak tenang,saat berada di dalam mobil membuat Willy semakin curiga.


''Kamu beneran nggak apa-apa kan,Han? Aku lihat dari tadi kamu kayak bingung gitu. '' tanya Willy.


''Ah? Enggak kok. Aku hanya mengingat apa yang terlupa saja. '' jawab Hana masih dengan berbohong.


Bukan Willy namanya kalau percaya begitu saja. Apalagi berhubungan dengan orang terdekatnya. Willy tahu Hana berbohong padanya,tapi dia berusaha tetap tenang. Saat sampai di kantor,Willy memanggil orangnya yang biasa membantunya menyelesaikan masalah-masalahnya.


''Ya tuan Willy ada apa? '' tanya seorang ajudan Willy saat berada di ruangannya.


'' Coba kalian cari tau? Siapa yang menemui nona Hana di restauran Xx tempat kita makan siang tadi. Cari tahu di cctv restauran itu. '' titah Willy.


''Baik tuan,Willy. '' jawab ajudan itu lalu pergi melaksanakan tugas dari tuannya.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


HAPPY READING....


JANGAN LUPA VOTE , LIKE dan KOMENnya.


TERIMA KASIH☺️☺️