
''Hari ini kita ada dua jadwal rapat yang harus di hadiri. Pertama,rapat di perusahaan eksport impor perusahaan Mega Jaya yang baru saja bergabung dengan perusahaan kita sebulan yang lalu. '' ucap Willy memberitahu jadwal Leon hari ini.
'' Lalu yang kedua? '' tanya Leon turun dari mobil yang sudah terparkir di tempatnya.
Willy segera menyusul di belakang berjalan ke arah pintu lobi kantor.
''Yang kedua rapat investasi keuangan di perusahaan nanti pagi ini jam sebelas sampai jam makan siang. '' jawab Willy.
''Leon...?!! '' panggil seseorang saat mereka berdua ingin masuk ke dalam lobi kantor.
Leon menoleh karena hafal dengan suara itu. Ya,siapa lagi kalau bukan kekasihnya,Vallery.
''Willy kau ke ataslah duluan,aku ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengan nya. '' titah Leon.
''Hem. '' jawab Willy datar lalu berjalan masuk menuju lift.
"Sayang aku mau minta maaf,karena kemarin aku tidak bisa menghubungimu. Ponselku mati karena low bat. " ucap Vallery memelas.
Leon memandangi Vallery,dia terkejut saat melihat leher samping wanitanya ada bercak warna merah. Leon mengamatinya saja tanpa bersuara meskipun sebenarnya tahu bekas apa itu.
"Iya. Tidak apa-apa. Sekarang pulanglah,karena aku sibuk hari ini. " ucap Leon datar.
"Benarkah kamu tidak marah? " Vallery tersenyum senang,dia mendekat meraih lengan Leon hendak menciumnya. Tapi Leon dengan halus menolak lalu melepas tangan Vallery dari lengannya.
"Maaf aku harus bekerja. " ucapnya dingin.
"Tapi hari ini aku boleh di sini menemanimu kan,sayang? Please? Aku akan baik-baik menunggumu di ruangan mu dan tidak akan mengganggumu. " rengek Vallery.
"Terserah. " jawab Leon singkat. Lalu memutar badannya berjalan ke dalam kantor di ikuti Vallery dari belakang dengan tersenyum senang.
Mungkin dia merasa senang karena berhasil membohongi Leon.
"Selamat pagi tuan. " sambut karyawan bagian resepsionis dan beberapa karyawan lainnya.
Leon hanya menjawab sapaan mereka dengan deheman saja. Bergegas menuju lift dan menekan tombol angka 20 menuju ruangannya. Vallery sesekali melirik Leon yang berdiri di sampingnya,dengan senyuman di manis-maniskan.
Tepat lantai 20 lift berhenti. Pintu terbuka,Leon berjalan melewati ruangan Willy,berhenti sebentar meyakinkan diri kalau Willy sudah berada di dalam ruangannya melakukan tugas-tugasnya,lalu berjalan menuju ruangannya,masih di ikuti Vallery yang tampak heran dengan sikap Leon.
Pintu kaca di dorong dan Leon pun masuk ruangannya bersama Vallery.
" Selamat pagi tuan,nona?! " sapa Sheina dengan sopan.
Vallery menajamkan tatapannya ke arah Sheina. Dengan kesal dia menyusul Leon yang sudah menduduki kursi kebesarannya.
"Sayang? Kenapa dia masih di sini! Bukannya kamu bilang dia di pindahkan di luar ruangan! " tanya Vallery kesal.
"Aku yang menyuruhnya tetap di sini. Agar aku lebih gampang memanggilnya saat aku membutuhkannya. " jawab Leon menatap fokus ke arah laptop yang sudah di hidupkannya.
"Tapi aku nggak suka dia satu ruangan sama kamu,sayang! " seru Vallery.
Sheina yang mendengar itu semua tak menghiraukannya. Dia tetap fokus dengan pekerjaan dan tugas-tugasnya di banding mendengar rengekan kekasih big bosnya itu. Leon melirik ke arah Sheina yang bersikap biasa saja,seperti tak terganggu dengan ucapan Vallery. Ada sedikit kelegaan di hati Leon.
"Apakah kau suka atau tidak,itu nggak akan merubah keputusanku. " jawab Leon tegas.
Vallery merasa jengkel dengan jawaban Leon. Dia hendak berjalan ke arah sofa,tapi tiba-tiba matanya melihat benda hitam di atas meja Sheina. Ponsel Leon yang niatnya akan Sheina kembalikan pada Leon,tapi belumlah sempat karena kekasihnya sudah ribut saat masuk.
Vallery mengambil ponsel itu dari meja Sheina dengan cepat. Membuat Sheina terkejut dengan gerakan cepat Vallery.
"Sayang,kenapa ponselmu ada pada dia! " ucap Vallery marah menunjuk ke arah Sheina.
Leon berdiri berjalan ke arah meja Sheina dan mengambil ponsel itu dari tangan Vallery. Leon menatap Sheina meminta penjelasan.
Sebenarnya Willy datang ingin mengantar berkas untuk rapat yang harus di tanda tangani Leon,namun saat berada di depan pintu yang yang sedikit terbuka,Willy mendengar semuanya.
" Ada apa Willy? " tanya Leon.
"Ini ada berkas yang harus kamu tanda tangani. " Willy berjalan ke arah meja kerja Leon dan menaruh beberapa berkas itu.
Vallery dengan kesal berjalan ke sofa dan duduk dengan melipat tangannya di dada. Leon hanya meliriknya sebentar lalu kembali mendengarkan ucapan Willy.
" Jika sudah di tanda tangani,maka segera kita memulai rapatnya. " ucap Willy tanpa ekspresi.
"Baik. Aku akan tanda tangani. Kau kembalilah ke ruangan mu dulu. " jawab Leon.
" Ok. " Willy melihat ke arah Vallery dan tersenyum sinis yang di balas tatapan marah olehnya.
Willy berbalik dan tersenyum ke arah Sheina dengan mengedipkan mata kanannya.(Ting)
Dan keluar dari ruangan Leon. Sheina yang tahu maksud pembelaannya itu,hanya bisa tersenyum terima kasih.
Leon yang melihat senyuman Sheina pada Willy merasa kesal sambil menghela napas kasar.
"Kau pulanglah dulu. Karena aku akan menghadiri rapat. " ucap Leon pada Vallery.
Vallery tak menjawab,mukanya masih terlihat kesal. Lalu dia meraih tas kecilnya dan berjalan menuju pintu. Dilihatnya Leon yang tak peduli dan tetap fokus ke berkas-berkasnya. Kemudian menatap Sheina yang tersenyum ramah padanya membuat Vallery semakin kesal dan pergi begitu saja membuka dan menutup pintu dengan keras.
Membuat Leon dan Sheina kaget karenanya. Sheina mengelus dadanya dan bergumam.Lalu kembali dengan pekerjaannya,tapi dia teringat tentang ponsel big bosnya.
"Maaf tuan? Sebenarnya ponsel tuan tertinggal di rumah saya tadi malam. Saya tidak tahu harus menghubungi siapa untuk mengembalikan,makanya ponselnya saya nonaktifkan dan berniat mengembalikan pagi ini pada tuan,tapi,,,,,? " Sheina tak meneruskan kata-katanya melihat Leon tersenyum padanya.
" Sudahlah. Aku juga yang ceroboh. Terima kasih sudah mengembalikannya padaku. Tapi apakah Willy tau kalau ponsel ini tertinggal di rumahmu? " tanya Leon.
"Saya tidak memberitahunya tuan,saya juga heran,kenapa sekretaris Willy bilang begitu tadi." jawab Sheina.
"Cih! Apa anak ini memata-matai ku selama ini? " gumam Leon.
"Baiklah sebentar lagi kamu ikut aku rapat. Bawakan berkas ini ke ruang rapat. " titah Leon.
"Baik tuan. " jawab Sheina.
Dia berjalan menuju meja Leon untuk mengambil berkas-berkas itu. Leon meraih tangan Sheina yang membuat Sheina terkejut.
"Apa kau menyukai sekretaris Willy? " tanya Leon tiba-tiba.
"Hah? Maksud tuan? " tanya Sheina heran,segera menarik tangannya dari Leon.
" Apakah kamu suka pada sekretaris Willy,atau sekretaris Willy menyukaimu. '' tanya Leon lagi.
''Maaf tuan. Saya tidak mengerti dengan pertanyaan tuan. '' jawab Sheina tegas. Lalu kembali ke mejanya.
Leon mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu menata perasaan kacaunya lagi. Dia bangkit dari duduknya dan memakai kembali jasnya.
''Ikut aku keruang rapat dan bawa berkas itu. '' ucap Leon lalu keluar dari ruangannya.
Sheina mengikutinya dengan berlari kecil karena memang langkah Leon yang terlalu cepat.
''Ada apa dengannya hari ini? " gumam Sheina dalam hati.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️