
Hana terburu-buru saat memasuki ruangannya karena hampir saja telat masuk kantor. Untung saja masih keburu. Dengan tergesa-gesa dia berjalan menuju meja kerja sambil mengecek isi tasnya,takut dia lupa membawa ponselnya.
''Bruuukk,,,!!!! ''
''Aauuww!! '' teriak Hana jatuh ke lantai. Pundaknya terbentur pinggiran meja karyawan lain.
" Maaf! " ucap seseorang yang tak sengaja di tabrak Hana.
" Sekretaris Willy?? " pekik Hana saat melihat siapa yang di tabraknya.
"Sini aku bantu. " Willy mengulurkan tangannya membantu Hana berdiri. Dengan ragu Hana menyambut uluran tangan Willy.
''Terima kasih. '' ucap Hana,meringis menahan sakit di pundaknya.
''Apa aku tadi mengagetkan mu? '' tanya Willy memperhatikan Hana.
''Aku yang tidak melihat ke depan. Jalan ku terlalu terburu-buru,karena tadi aku kesiangan. '' jawab Hana.
''Oh ya aku kesini mencari mu,meminta semua dokumen keuangan 3 bulan ini. Nanti jam 11 antarkan ke ruangan tuan muda. '' ucap Willy ramah. Matanya terus menatap wajah wanita di depannya yang tampak begitu ayu dengan polesan make up naturalnya.
''Baiklah. Nanti aku antar ke ruangan bos,karena aku juga harus mengecek dan menelitinya lagi. '' jawab Hana canggung karena Willy memperhatikannya.
''Oke,baiklah. Permisi. '' senyum Willy lalu melangkah keluar dari ruangan Hana yang di huni beberapa karyawan.
''Iiss..?? " desis Hana mengusap pundaknya.
"Benar-benar wanita cantik yang natural. " gumam Willy lirih.
" Tuan? Hari ini tidak ada rapat. Hanya kunjungan kecil ke beberapa anak perusahaan. " kata Sheina mengingatkan jadwal Leon.
"Hem. Biar Willy saja yang melakukan kunjungan itu. Hari ini aku ada urusan. " jawab Leon tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer.
"Baik,tuan. " sahut Sheina,kembali meneruskan pekerjaannya.
Leon mencuri pandang pada Sheina yang sedang serius mengerjakan pekerjaanya. Entah kenapa akhir-akhir ini dia merasa selalu ingin dekat dengannya dan bisa melihat keberadaannya. Sedikit demi sedikit perasaan itu selalu membuatnya menjadi seperti bukan dirinya.
"Tok...Tok....Tok...!! " pintu ruangan di ketuk dari luar.
"Masuk!" seru Leon.
Hana masuk dengan ragu,entah kenapa setiap bertemu dengan Leon dia selalu merasa bersalah. Hana menoleh ke arah Sheina yang melambaikan tangannya sambil tersenyum manja. Melihat Sheina perasaan ragu itu menghilang,Hana membalas senyuman hangat Sheina lalu berjalan ke arah meja kerja Leon.
" Ini laporan keuangan selama 3 bulan ini,tuan. " Hana menyerahkan tumpukan berkas yang di bawanya.
" Baiklah kamu taruh saja di meja. Nanti biar aku lihat. " jawab Leon datar.
"Baik tuan,permisi. " pamit Hana.
"Hana aku ingin bicara denganmu. Kamu duduklah dulu di sofa. " Leon mematikan komputernya.
Hana yang terkejut dengan ucapan Leon hanya mengikuti perintahnya saja tanpa banyak bertanya.
Leon melangkah ke arah Sheina dan berbicara dengannya.
"Sheina? Kamu keluarlah dulu aku ingin berbicara pada Hana masalah penting. " titah Leon.
"Baik,tuan. Aku akan keluar,jika tuan membutuhkan aku,tuan bisa hubungi aku di ponsel. " Sheina berdiri dari duduknya dan keluar dari ruangan Leon.
Setelah Sheina keluar,Leon menatap Hana yang duduk gelisah di sofa,meremas jemarinya sendiri mengurangi rasa gugup yang melandanya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan Leon? " tanya Hana mengurangi rasa gugupnya.
"Aku ingin bertanya soal Vallery. Kenapa kamu tidak bicara terus terang padaku waktu itu?! "
"Apa maksud kamu,Leon? "
" Hana ? Saat kamu memutuskan untuk tidak meneruskan kuliahmu di Amerika,itu sebenarnya karena Vallery kan? Dan kamu tiba-tiba menghilang begitu saja tidak pernah menghubungi kami lagi. Jelaskan Hana! Kenapa kamu tidak jujur saja waktu itu?! " seru Leon.
"Maafkan aku Leon? Aku melihat kamu begitu mencintainya dan dia selalu memohon padaku untuk tidak bilang padamu karena aku juga tidak ingin kalian berpisah waktu itu. " jelas Hana.
"Tapi pada akhirnya kita berpisah juga. " ucap Leon lirih.
Hana terperanjat mendengar pengakuan Leon. Bukankah dulu dia ingin sekali hidup bersama dengan Vallery sahabatnya itu? Bukankah mereka juga berencana tunangan setelah menyelesaikan kuliah mereka?
"Berpisah? Kenapa Leon? " tanya Hana heran.
"Ternyata dia menghianati ku! Persis di saat kamu tahu bahwa sebenarnya dia tak benar-benar mencintaiku. " jawab Leon geram.
"Apakah dia...??" Hana tak meneruskan kata-katanya.
"Ya? Dia bermain di belakang ku! Padahal aku sangat berharap dia bisa mendampingi ku kelak! Tapi kenyataannya? Cinta saja tak cukup membuatnya bertahan dengan ku. Andai saja aku tahu dari awal dia seperti itu,aku tak akan pernah mengharapkannya lagi. " Leon mengeratkan rahangnya menahan sesak di dadanya.
" Maaf kan aku Leon. " ucap Hana lirih matanya berkaca-kaca.
"Sudahlah. Semua sudah terjadi. Jika dulu kamu memberitahu ku pun,mungkin aku juga tidak akan percaya padamu. Karena aku begitu mempercayai dia. Tapi setelah aku melihat dengan mata kepala ku sendiri,baru aku tahu seperti apa dia selama ini. "
"Aku harap kamu bisa memaklumi dia Leon. Kamu tahu kan waktu itu dia begitu ambisius untuk bisa jadi model profesional dengan cara melakukan segala cara. Tapi aku masih yakin kalau Vallery juga masih mempunyai perasaan sayang sama kamu. "
"Aku tidak tahu Han? Aku begitu marah pada dia,aku tidak mau melihatnya lagi. Aku benar-benar kecewa padanya. "
Hana terdiam memahami perasaan teman lamanya yang kini menjadi bos di tempatnya bekerja itu. Sebenarnya hatinya masih merasa bersalah pada Leon,tapi dia juga tak bisa membantu apa-apa.
" Baiklah kamu boleh kembali ke tempatmu. "
"Iya. Sekali lagi aku minta maaf padamu Leon. " ucap Hana.
"Sudahlah,ini semua bukan salahmu. " jawab Leon.
Hana melangkah keluar meninggalkan ruangan Leon. Entah bagaimana dia bisa membantunya untuk menebus kesalahannya di masa lalu.
๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ
...Happy reading ya teman-teman๐...
Jangan lupa dukung terus ya dengan tinggalkan
VOTE, LIKE ,COMEN kalian๐๐๐๐ Terima Kasih.