
Sheina meminta izin untuk membuat pudding coklat pada pak Kim saat berada di dapur. Pak Kim hanya bisa mengiyakan permintaan Sheina.
''Maaf pak Kim,bolehkah aku membuat beberapa puding coklat untuk tuan Leon? '' tanya Sheina,sopan.
''Tapi tuan Leon tidak menyukai coklat nona. Tapi kalau nona Sheina ingin membuatnya silahkan,biar koki di dapur yang membantu. ''jawab pak Kim.
''Terima kasih pak Kim. ''
Sheina meminta bubuk agar-agar dan coklat untuk toping pada salah satu koki di dapur. Mereka melihat Sheina membuat pudding dengan cekatan,bahkan membuatnya dengan sangat rapi dan bersih saat menuangkannya ke cetakan.
Hanya butuh waktu beberapa menit puding buatan Sheina sudah jadi tinggal menunggu dingin agar bisa di masukan ke lemari pendingin.
''Leon? Apa kamu benar-benar menyukai gadis itu? '' tanya Willy.
Leon kembali memicingkan matanya ke arah Willy. Lalu berpikir sejenak,mengingat rasa yang merambat ke dadanya kala bersama Sheina. Tapi Leon belum tau pasti,apakah rasa yang dia rasakan itu benar perasaan jatuh cinta atau hanya sekedar suka. Entahlah.
''Aku tidak tahu. Aku juga masih belum bisa melupakan Vallery sepenuhnya. ''jawab Leon datar.
Willy terkejut dengan jawaban yang di lontarkan Leon. Bukankah dia merasa cemburu dan marah kala dirinya menggoda Sheina. Lalu sekarang Leon bilang tidak tahu. Dan yang membuat Willy sedikit kesal kala Leon bilang belum bisa melupakan perempuan j***ng itu.
"Sebaiknya kau jangan sampai membentuk perasaan dengannya,jika kamu masih menyukai mantan mu itu. Atau kalau tidak,kamu akan melukai perasaannya. Dan jika itu terjadi kau akan menyesal Leon. " ucap Willy dengan nada mengancam.
"Apa maksudmu?! Nada bicaramu seperti sedang mengancam ku. " jawab Leon ketus.
Willy hanya tersenyum sinis ke arah Leon,lalu meraih remote tv yang berada di nakas sebelah sofa tempatnya duduk dan menyalakan tv.
"Apa sebenarnya kamu sendiri yang menyukainya Will?" Leon bertanya kembali.
"Sejak bertemu dengan dia di kantin waktu itu,aku memang sudah menyukainya. " jawab Willy santai tanpa mengalihkan pandangannya dari tv.
"Lalu kenapa kamu tak bilang padaku?! Cih!! " seru Leon.
"Aku menyukainya,karena dia begitu sangat polos dan lugu,juga manis. " jawab Willy sambil terkekeh senang.
"Aku kira kau menyukainya dengan hati. " gumam Leon pelan tapi masih terdengar oleh Willy.
" Memang kalau aku menyukainya dengan sepenuh hatiku ? Apa kamu akan melepaskannya untuk ku?!"
"Kau...?!! " seru Leon keras.
"Hahaha,,,,? Lihat lah dirimu,aku hanya menggoda mu saja kamu sudah semarah itu,masih berani bilang tidak menyukainya. "
" Apa kamu tidak bisa kalau tidak konyol!? " geram Leon.
"Aku memang menyukainya. Tapi aku cuma menganggap dia seperti adik ku sendiri. Jadi jangan pernah berpikir kamu bisa menyakitinya,atau kamu akan menyesal. "
"Cih! Apa dia mau punya kakak monster sepertimu? Dan bagaimana reaksinya jika melihat kepribadian mu yang lain. '' seru Leon.
''Memang aku punya berapa kepribadian? '' tanya Willy dengan tampang sok polosnya.
''Kepribadian mu yang seperti singa. '' ketus Leon.
Belum sempat Willy menjawab tiba-tiba Sheina dari arah belakang menyela obrolan mereka berdua.
''Hah? Siapa yang seperti singa Leon? '' tanya Sheina dengan polosnya.
Willy dan Leon terkejut lalu mereka saling pandang,mengira Sheina mendengar semua obrolan mereka berdua tadi. Dengan senyum yang di buat-buat Willy menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
''Eh,Sheina? Kamu udah selesai masaknya? '' tanya Willy cengar cengir.
''Siapa yang seperti singa? '' ulang Sheina.
Leon mengangkat kedua bahunya,masa bodoh dengan jawabannya. Sheina hanya tersenyum,mengira hanya gurauan mereka berdua saja. Sepertinya Sheina juga sedikit memahami kalau mereka berdua sudah bertemu selalu saling mengolok satu sama lain.
''Makan malamnya sudah siap tuan muda,tuan Willy.'' sela pak Kim.
''Eh iya aku lupa,tadi mau bilang kalau makan malam sudah siap. '' ucap Sheina dengan santainya.
''Baik?! Ayo kita makan,kebetulan aku juga sudah lapar. '' seru Willy buru-buru menuju meja makan.
Leon hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sekretarisnya itu. '' Ayo kita makan? ''
Sheina mengikuti Leon dari belakang menuju meja makan menyusul Willy.
''Duduk sini? '' Willy menarik kursi di sampingnya untuk Sheina.
''Terima kasih Will. ''
Kali ini Leon tidak marah saat Willy menyuruhnya duduk di sampingnya. Leon percaya jika Willy benar-benar menganggap Sheina seperti adiknya sendiri. Karena Leon sudah sepenuhnya percaya pada Willy sekarang,meskipun dia sering membuatnya marah dan jengkel karena sifatnya yang jahil. Tapi Willy sebenarnya adalah orang yang sekarang bisa ia andalkan dalam situasi apapun.
''Oh ya tadi aku buat pudding coklat buat kalian. Willy cobain yah? '' tawar Sheina.
''Oke? '' jawab Willy menyuapkan suapan terakhir ke mulutnya.
Sheina berdiri dan menuju lemari pendingin,mengambil pudding coklat yang tadi di buatnya. Pak Kim membantu mengambilkan piring kecil dan menaruhnya di meja.
Sheina mengeluarkan puding itu dari cetakannya yang berbentuk bunga,mengiris dan menaruhnya di piring kecil. Lalu memberikannya pada Willy. Leon hanya memperhatikan dengan sedikit kesal.
''Wah? Enak banget Shei. Ini kamu yang buat? '' ucap Willy yang dengan asyiknya melahap puding itu.
''Kenapa cuma Willy yang kamu kasih?! '' seru Leon.
''Maaf Leon,tadi aku bikinnya puding coklat. Kata pak Kim kamu tidak suka coklat?! '' jawab Sheina.
''Iya kamu kan tidak suka coklat. '' ujar Willy memprovokasi.
'' Berikan pudding itu padaku. '' pinta Leon.
Sheina memotong puding itu dan menaruhnya di piring kecil sama seperti dia mengambilkan Willy. Dan memberikannya pada Leon.
Leon menyendok dan memakan pudding itu dengan santainya.
''Hem,,,?? Lumayan. '' ucapnya menilai. Dan tanpa babibu dia pun sudah menghabiskan potongan puding itu.
Willy yang tau persis kalau Leon memang tidak pernah makan sesuatu yang terbuat dari ataupun rasa coklat jadi heran. Pak Kim pun juga,selama dia bekerja ikut keluarga Adinata memang tuan mudanya itu sangat tidak menyukai coklat,tapi hari ini dia menyaksikan sendiri tuan mudanya itu melahap habis puding coklat bikinan seorang gadis yang dia tau adalah sekretarisnya.
Pak Kim menatap Willy yang juga merasa heran dengan perubahan sikap Leon. Tersenyum dan kembali dengan kegiatan makannya.
''Apakah kamu mau lagi,Leon? '' tanya Sheina yang merasa senang karena Leon menyukai pudding buatannya.
''Iya,ambilkan lagi. '' jawab Leon menyodorkan piring kecil ke arah Sheina.
'' Kamu serius mau tambah lagi? Yakin? '' tanya Willy.
''Memangnya kenapa?! Pudding itu bukan di buat hanya untuk mu kan?! '' jawab Leon ketus,lalu melanjutkan makan pudingnya setelah Sheina memotong kan untuknya.
''Astaga! Salah terus berurusan sama orang bucin. " batin Willy lalu terkekeh sendiri.
Leon yang melihat hanya bisa mendengus kesal.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️