Sorry, I Love You...

Sorry, I Love You...
BAB. 55



'' Sheina...!! ''


''Via,Zein...?! '' sahut Sheina saat bertemu kedua teman baiknya di loby kantor.


Via berlari kecil ke arah Sheina dan memeluknya.


''Sheina aku sangat merindukanmu. Maaf waktu sakit tidak bisa menjenguk mu karena aku ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan bersama Zein di luar kota. ''


''Iya Shei. Bagaimana kabar kamu?! Apakah sudah baikan? '' tanya Zein.


''Iya sudah. Tidak apa-apa kalian tidak bosa menjenguk ku. Aku tahu di perusahaan kita sedang ada banyak pekerjaan. '' jawab Sheina.


''Syukurlah kalau begitu. Lain kali jaga kesehatan ya Shei. Kamu jangan suka telat makan,kamu kan suka lupa waktu kalau lagi banyak kerja. '' tutur Zein.


''Hu'um Shei. Jangan sakit lagi yah. '' Via mengusap lengan Sheina.


''Eheem..?! '' suara deheman itu mengagetkan mereka.


''Se-selamat pagi tuan Leon,tuan Willy. '' salam Via dan Zein bersamaan,saat Leon dan Willy bersama berjalan menuju lift di dekat mereka sedang mengobrol.


Sebenarnya belum jam masuk kerja karena jam kantor yang tergantung di dinding loby masih menunjukkan pukul 7 pagi. Hanya saja peraturan perusahaan mengharuskan semua karyawan datang lebih pagi sebelum jam kantor di mulai yaitu pukul 8.30 pagi.


''Hem. '' jawab Leon singkat lalu menatap ke arah Sheina yang berdiri berdampingan dengan Zein.


Wajahnya mulai menunjukkan ketidak senangannya.


''Nona Sheina,bisa ikut tuan Leon ke ruangan. '' ucap Willy yang tau perubahan mimik muka Leon.


''Iya,sekretaris Willy. '' jawab Sheina segera menyusul Leon yang berjalan ke arah lift khusus.


''Baiklah kalian bisa langsung ke ruangan kerja masing-masing. '' titah Willy.


''Baik! Sekretaris Willy. '' jawab Via dan Zein.


''Oh iya. Siapa namamu? '' tanya Willy menatap ke arah Zein.


''Sa-saya?! Nama saya Zein. '' jawab Zein dengan kepala menunduk.


''Aish! Zein? Apakah aku ini tampak begitu menakutkan? '' tanya Willy saat melihat Zein yang di tanya berkeringat.


''Apa? '' tanya Zein bingung.


''Apakah aku yang begitu tampan ini terlihat menakutkan? Kenapa kamu menunduk saat bicara padaku. Berdiri tegak dan tatap aku. '' Willy menepuk punggung Zein yang seketika langsung mendongakkan kepalanya.


''Iya sekretaris Willy. '' jawab Zein masih dengan nada bergetar.


Via menatap sekretaris Willy yang sedang berbicara dengan Zein lalu menatap ke arah pintu loby. Perasaan lega merasuki perasaannya. Hana temannya sudah tiba. Via sudah tau jika sekarang Hana sedang dekat dengan Willy.


''Aya?! Bersikaplah biasa saja,Zein. Oke? Aku akan memberitahumu satu hal padamu dengarkan baik-baik ya. '' Willy melipat kedua tangannya di depan dadanya.


'' Pagi Hana?! '' sapa Via saat Hana berjalan ke arah mereka.


''Pagi. Ada apa ini,Will? '' tanya Hana heran.


''Ah,sayang. Selamat pagi? '' ucap Willy berubah menjadi pria lemah lembut.


Via tersenyum puas,melihat perubahan sikap Willy di depan Hana. Lalu menatap Zein yang juga menatapnya heran.


'' Willy panggil nama ku kalau kita sedang berada di kantor. '' ucap Hana.


''Oke. Hana. '' ulang Willy.


''Sedang apa kalian? '' tanya Hana heran,melihat ke arah Zein dan Via.


''Aku sedang ingin memberitahu teman Sheina ini. Tapi entah mengapa mereka seperti takut denganku. Apakah aku begitu menakutkan? '' jelas Willy.


''Kamu tahu? Mereka dan semua karyawan di sini hanya ingin menghormatimu saja,sebagai sekretaris big bos perusahaan ini. Mereka bukan takut. ''


''Benarkah? Tapi kenapa mereka selalu tak berani menatap ku jika menyapa? ''


''Sudahlah,Will?! Sebentar lagi jam kantor. Biarkan mereka pergi ke ruangannya. ''


'' Ya sudah. Kalian boleh kembali ke ruangan kalian. Tapi tunggu aku hanya ingin memberitahu kamu,sebelum terjadi salah paham lebih jauh. '' Willy kembali menatap Zein.


''Ada apa sekretaris Willy? '' tanya Zein penasaran.


Hana dan Via pun juga penasaran dengan apa yang sebenarnya ingin di katakan Willy. ''


''Aku tahu kamu berteman dengan Sheina sudah lama. Jauh sebelum dia bertemu dengan tuan muda. Jadi sedikitlah menjaga jarak saat bertemu dengannya. Karena tuan muda tidak akan senang jika kamu terlalu dekat. '' ucap Willy,menepuk pundak Zein dan pergi menuju ruangannya.


Zein tidak mengerti kenapa Willy berkata seperti itu padanya. Bukankah dari dulu dia memang sudah akrab dengan Sheina? Zein menatap Hana,barangkali dia tau maksud ucapan Willy.


''Oke? Aku akan jelaskan maksud Willy. Zein? Via? Kalian mungkin bingung dengan apa yang di sampaikan Willy tadi. Sheina yang kalian kenal dulu, sekarang adalah kekasih big bos dari perusahaan kita bekerja saat ini yaitu tuan muda Leon. ''


''Apa? Benarkah? '' seru Via dan Zein terkejut.


''Itu memang benar. Tapi Sheina tetaplah Sheina yang kita kenal dulu. Hanya saja,tidak sebebas waktu dia masih sendiri. ''


'' Semoga dia bahagia dengan tuan muda Leon. '' ucap Via,lalu mengajak Zein ke ruangan kerjanya.


Sheina bingung melihat sikap Leon yang sedari pagi terlihat diam dan cuek padanya. Tapi Sheina berpikir mungkin karena Leon sedang fokus dengan pekerjaannya. Jadi,Sheina pun memilih diam dan tak mau tau.


''Tok,,,tok,,,tok,,,,?!! "


"Masuk! " sahut Leon tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer.


Willy masuk dengan tumpukan map di tangannya. Senyum ke arah Sheina dan melewatinya menuju meja kerja Leon.


"Tuan muda? Aku ke sini hanya ingin kamu menanda tangani ini. " Willy menyerahkan map yang di bawanya.


Tanpa menjawab,Leon mengambil map itu dan langsung menanda tangani semuanya. Willy merasa heran dengan sikapnya. Tak seperti biasa dia menanda tangani tanpa ditelitinya terlebih dahulu.


"Sudah. Bawa pergi sana?! " ucap Leon datar.


" Apa kamu tahu berkas apa yang kamu tanda tangani ini? " tanya Willy.


"Ya! Itu berkas perekrutan karyawan baru. " jawab Leon.


"Waow?! Kamu begitu luar biasa tuan muda. Tanpa melihat pun bisa tau. " puji Willy.


Leon hanya melirik dan berdecih. Lalu kembali fokus dengan pekerjaannya. Willy berjalan ke arah Sheina yang sedang asyik dengan keyboard komputer di depannya.


"Halo baby? Ada apa dengan tuan muda? Sepertinya sedang tidak senang? " tanya Willy setengah berbisik ke arah Sheina.


" Aku juga tidak tahu?! Sudah biarkan saja. " jawab Sheina.


"Ya sudah. Aku kembali ke ruangan ku dulu. ". Willy pun melangkah pergi.


Sheina menatap Leon yang masih berkutik dengan komputernya. Melihat jam tangannya yang hampir menunjukkan pukul dua siang. Yang artinya jam makan siang sudah usai. Tadi Sheina sudah memperingatkan Leon untuk makan siang,tapi hanya mendapat jawaban sebentar lagi.


"Krucuukk...!!"


Sheina dengan cepat membekap perutnya yang sedari tadi sudah keroncongan. Yang tanpa sengaja terdengar oleh Leon.


Leon bergegas mendekati Sheina. " Kalau kamu lapar kenapa tidak makan dulu? Ayo,kita cari beli makan di luar. "


"Kalau kamu juga belum makan bagaimana aku bisa makan?! Apa kamu tidak lapar? "


Leon tersenyum mengusap pipi Sheina lembut lalu menggandeng tangannya keluar. Sheina bisa lega akhirnya Leon mau bicara lagi dengannya.


Tak lama kemudian mereka telah sampai di sebuah restauran mini yang tak jauh dari kantor. Setelah memesan beberapa menu makanan,Sheina mencoba menanyakan perihal Leon mendiamkannya dari tadi.


" Kamu lagi marah sama aku? " tanya Sheina lirih.


Leon mengerutkan alisnya. " Sedikit. "


"Hah? Kenapa? Memangnya aku ada salah apa? "


" Aku nggak suka terlalu dekat dengan cowok lain. " Leon menatap Sheina.


" Aku nggak ada dekat sama cowok lain? "


"Tadi pagi di depan lift apa kalau bukan dekat? " Leon mengedarkan pandangannya.


Sheina berpikir tentang kejadian tadi pagi. Bukankah dia hanya menyapa Via dan......


"Tapi Leon? Zein itu cuma temanku. Aku sudah berteman dengannya sejak masuk perusahaan. "


" Jangan terlalu dekat. Aku nggak suka. " Leon kembali mengerutkan alisnya.


Sheina menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya kasar. Dia bertopang dagu dan ngedumel.


"Mulai deh posesif. Ya masak sama teman juga nggak boleh deket? Berasa kayak orang sombong deh. " Sheina memanyunkan bibirnya kesal.


Leon yang melihat tingkah Sheina menjadi gemas dengannya. Lalu......


"Muach?! " Leon mencium pipi Sheina gemas.


"Ah! Leon...?! " teriak Sheina mengusap bekas ciuman Leon.


"Hahaha...! Kamu nggemesin banget sih kalau lagi manyun gitu sambil ngedumel. " ucap Leon merasa puas sudah melampiaskan rasa gemasnya.


"Ih,malu tau..?!! " Sheina menutup kedua matanya. Keduanya kini bisa kembali bercanda,seperti sebelumnya.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


**HAPPY READING.....


JANGAN LUPA VOTE , LIKE dan KOMENnya


JADIKAN FAVORIT JUGA YA....😊😊😊


TERIMA KASIH😉😉😉**