Sorry, I Love You...

Sorry, I Love You...
BAB. 46



''Bagaimana keadaan gadis itu dok? '' tanya Leon sesaat setelah dokter keluar dari ruang ICU.


''Keadaannya baik-baik saja. Dia hanya kecapean dan terlalu lama berada di ruangan dingin. Tak ada penyakit yang serius. '' jawab dokter itu.


''Baik,terima kasih dok. Apakah kami bisa menjenguknya? '' tanya Hana.


'' Setelah kami pindahkan ke ruang rawat,kalian bisa melihatnya. Tapi tolong beri dia waktu untuk istirahat agar segera pulih. '' jawab sang dokter.


''Beri dia kamar vip yang untuk satu orang per kamar. '' sahut Willy.


''Baik tuan Willy,saya akan memindahkannya ke lantai 4 kamar vip. '' jawab dokter lalu pergi meninggalkan mereka bertiga.


''Leon? Kembalilah pulang terlebih dahulu. Biar Sheina aku yang jaga. Willy aku mohon absen untuk hari ini.


'' Baik lah. '' jawab Willy.


''Aku akan ke sini lagi jam makan siang nanti. '' Leon menepuk pundak Hana. Lalu melangkah pergi meninggalkan Hana dan Willy di koridor rumah sakit.


''Kamu juga bersiaplah untuk bekerja. Pulanglah. ''


''Aku di sini dulu temani kamu sampai Sheina di pindahkan ke ruang rawat. Dan aku juga akan mengurus semua biayanya. '' ucap Willy.


''Terima kasih,Will. '' Hana meraih lengan Willy.


''Hem. Aku akan ke adminitrasi dulu. Nanti aku menyusul mu ke ruang rawat. '' Willy berlalu meninggalkan Hana.


Hana memperhatikan punggung Willy dari belakang. Tersenyum sendiri,berpikir apakah dia harus menerima cintanya atau hanya menganggapnya teman saja,karena kebimbangan masih setia menguasai hatinya.


Suasana pagi yang tenang,kicauan burung bernyanyi riang di pucuk-pucuk pohon yang terlihat begitu damai dari balik jendela ruang rawat rumah sakit yang sekarang di tempati Sheina.


Matanya mulai terbuka,perlahan dan sampai terbuka sepenuhnya. Di pandanginya langit-langit kamar. Di layangkannya pandangan ke segala arah. Sampai berhenti di sebuah sofa mewah yang di duduki seorang wanita dan dia sedang tertidur.


Tangannya di gerakkan namun terasa nyeri. Ada jarum yang menembus kulit punggung tangannya. Kepalanya masih terasa pusing. Ternyata dia sedang berbaring di sebuah ranjang dengan infus menggantung di sampingnya.


'' Shei? Kau sudah sadar? '' tanya wanita itu berjalan mendekat dan memeluknya.


''Apa masih ada yang sakit? Biar aku panggilkan dokter ya? ''


''Hana? '' panggil Sheina dengan suara tertahan.


''Dimana ini? ''


''Semalam badan kamu panas banget Shei. Leon dan Willy membawa mu ke rumah sakit. Kamu tahu? Betapa panik dan khawatirnya mereka berdua saat tahu kamu sakit. ''


Sheina terdiam dan melayangkan pandangan ke seluruh ruangan. Hana tahu yang Sheina cari.


''Mereka akan kembali setelah jam makan siang. Apa kamu ingin sesuatu? '' tanya Hana.


Sheina hanya menggelengkan kepalanya. ''Tidak. Terima kasih Han. Kamu sudah mau mengurusku. ''


''Kamu ini bicara apa Sheina. Bukankah aku pernah bilang padamu. Aku akan selalu ada kapanpun kamu membutuhkan bantuan ku. '' Hana membelai puncak kepala Sheina.


''Kreeekk,,,,!! "


Pintu terbuka,Willy masuk dengan bungkusan di tangannya.


"Selamat pagi? Sudah bangun rupanya,syukurlah kalau kamu sudah baik-baik saja. " ucap Willy berjalan mendekati Sheina dan Hana.


"Terima kasih Willy. " ucap Sheina berkaca-kaca.


"Hei? Sudah jangan di pikirkan lagi. Istirahatlah biar cepat sembuh dan kembali kuat seperti biasa. "


Hana melihat kasih sayang Willy begitu besar buat Sheina. Tapi Hana tidak tahu bahwa kasih sayang Willy pada Sheina hanya Willy anggap sebagai sang kakak yang menyayangi adiknya.


"Oh ya Han,aku membelikan mu sarapan tadi. Makanlah dulu. Jangan biarkan kesehatanmu terganggu juga. Kamu juga harus tetap sehat. " Willy mengambil bungkusan yang di bawanya tadi dan membukanya.


Sekotak sandwich dan susu segar. Willy memberikannya pada Hana yang sedari tadi bingung dengan sikap Willy. Dia baik dengan Sheina,tapi juga perhatian padanya.Ah,benar-benar membuatnya bingung.


"Ah...?! Aku lupa. Kau tahu? Hari ini kantor di liburkan. Sebentar lagi tuan muda akan ke sini. " Willy membuka kotak Sandwich dan memberikannya pada Hana.


"Apakah ini semua karena aku? " tanya Sheina.


Keduanya terdiam saling pandang. Sheina menatap keduanya yang tak mengeluarkan kata-kata.


"Jadi benar semua karena aku? " Sheina kembali terbata.


" Bukan,sweety ku. Kamu tahu bagaimana sikap tuan muda Leon kan.Sudah jangan kamu hiraukan masalah ini. Nanti jika dia kemari,dia sendiri yang akan menjelaskannya padamu. " Willy menenangkan Sheina.


"Sweety ku. Panggilan yang manis sekali. " batin Hana. Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Hatinya sakit. Tapi dia mencoba untuk tetap tenang dan membiarkan kata-kata itu bermain di gendang telinganya.


'' Aku sudah selesai sarapan. Aku ke toilet sebentar ya. '' pamit Hana bergegas menuju toilet.


''Will? Apa kamu sudah bilang ke Hana kalau kau menyukainya. Bagaimana tanggapannya? '' tanya Sheina.


''Dia bilang akan memberiku jawaban secepatnya. Istirahatlah,agar kamu kembali sehat. '' Willy kembali ke sofa.


Sementara Hana di dalam toilet hanya bisa terpaku diam menenangkan dirinya yang bergejolak menahan rasa yang bercampur aduk jadi satu dan bergemuruh di dadanya. Sebisa mungkin menahan air mata yang nyaris lolos jatuh.


'' Aku tidak boleh egois. Toh aku juga belum tahu kebenarannya. Nggak! Nggak Hana! Kamu harus tetap tenang sebelum tahu yang sebenarnya. '' gumam Hana. Lalu membasuh mukanya dengan air dan kembali melihat Sheina.


''Shei? Willy mana? '' tanya Hana celingukan.


''Di luar lagi terima telpon. Kenapa? Kangen ya? '' goda Sheina yang sudah terlihat baikan.


''Mulai lagi. Kamu kenapa tidak istirahat. ''


''Han? Kapan kamu akan memberi Willy jawaban? ''


''Hah? Darimana kamu tahu kalau Willy,,, ?''


''Dia sudah bilang semuanya padaku,kalau dia ingin menyatakan perasaan padamu beberapa bulan kemarin. ''


''Tapi? Bukankah dia juga menyukaimu? '' ucap Hana lirih.


''Hah?! Han,kamu pasti sudah salah paham ya? Willy itu suka sama kamu bukan aku. '' jawab Sheina.


''Dia begitu perhatian denganmu Shei? Begitu pun juga dengan Leon. ''


''Willy memang begitu menyayangi ku Han? Apa kau merasa cemburu? ''


''Aku? Cemburu? Bagaimana bisa? ''


''Kau juga sangat menyukainya. Itu terlihat jelas,Hana. Dan kamu tidak akan pernah bisa membohongi ku. '' Sheina meraih tangan Hana.


''Willy memang sangat menyayangi ku. Tapi dia hanya menganggap ku adik perempuannya. Sama seperti kamu menganggap ku keluargamu. Dan kasih sayang itu hanya kasih sayang sebagai kakak ke adiknya. '' terang Sheina.


Hana terkejut dengan ucapan Sheina. Hatinya begitu bergemuruh. Betapa dia beberapa menit yang lalu berprasangka buruk dengan gadis yang selama ini mempercayainya itu.


'' Sudahlah Shei? Jangan bahas ini lagi. '' elak Hana.


''Jadi?? Apakah kamu akan menerimanya,Han? ''


'' Entahlah. Biar aku pikirkan lagi. Istirahatlah. Aku akan menunggumu di sofa. '' Hana membenahi selimut Sheina.


'' Iya. '' Sheina pun memejamkan matanya.


Hana kembali duduk di sofa. Berpikir, apakah dia harus secepat ini memutuskan menerima Willy dalam hatinya. Entahlah.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


**HAPPY READING......


JANGAN LUPA VOTE , LIKE , KOMEN YA**