Sorry, I Love You...

Sorry, I Love You...
BAB. 74



Seorang pria tersenyum senang mendengar kabar dari seseorang yang meneleponnya dari seberang.


'' Oke. Terima kasih sudah memberi kabar bagus hari ini. '' ucapnya lalu menutup teleponnya.


'' Kau kenapa? Sepertinya bahagia sekali? '' tanya wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi.


'' Coba tebak aku dapat kabar baik apa? ''


Sang wanita mengerutkan keningnya tak mengerti.


'' Mana aku tahu sayang. '' jawab wanita itu manja. Mendekat dan memeluk lengan pria itu.


'' Mantan kekasihmu akan menikah beberapa hari ini. Tapi hanya akan mengundang orang-orang terdekat dan rekan bisnis. Bagaimana? Apakah ini adalah kabar baik. Hahaha....? ''


Wanita itu nampak begitu terkejut mendengar ucapan pria itu. '' Leon akan menikah? Dengan gadis itu?! '' ucapnya lantang.


'' Ya,Vallery sayang. Leon mu akan menikah dengan gadis yang menjadi saingan cintamu. ''


Kedua orang itu adalah Vallery dan Justin.


'' Dia bukan lagi Leon kekasih ku. '' jawab Vallery mengelak.


'' Benarkah? Bukankah kamu masih menyukainya? Ingat sayang. Aku adalah orang yang paling benci di manfaatkan! '' gertak Justin. Tangannya mencengkeram dagu Vallery keras.


'' Sa,sakit sayang. Le,lepaskan. ''


''Kau pikir aku bodoh! Kamu mendekatiku hanya untuk memanfaatkan ku menghancurkan Adt.Group! '' bentak Justin.


'' Aku tidak pernah memanfaatkan mu. Sungguh. ''


Justin melepas cengkraman tangannya dan mendorong Vallery ke atas ranjang. Dengan sekali sentakan gaun yang di kenakan Vallery raip dari tubuhnya.


''Aarrhh...!! Apa yang ingin kamu lakukan Justin! Lepaskan aku! ''


'' Selain memanfaatkan ku untuk menghancurkan Adt.Group kau juga menganggap ku pemuas napsu mu,bukan. Hahaha...!? '' tawa Justin ngeri.


'' Aku mohon jangan Justin. Aku tidak pernah memanfaatkan mu. Aku sungguh-sungguh menyayangi mu. ''


'' Sayang? Hahaha,,,,!! Benarkah? Kalau begitu mari tunjukkan rasa sayang yang kau bilang padaku. ''


''Aahh,,,! Justin...!! Sakit! Hentikan! Aku mohon!!''


Vallery hanya bisa berteriak memohon,saat Justin memperlakukannya dengan kasar tanpa belas kasihan. Kemarahannya yang telah mengetahui niat licik wanita itu membuatnya kalap.


Justin sering menyuruh salah satu pengawalnya membuntuti Vallery dan melaporkan setiap aktivitasnya. Hingga suatu hari,pengawal itu mendengar ucapan Vallery yang akan meninggalkan Justin setelah niatnya terlaksanakan. Dan saat itu juga melaporkannya pada Justin.


Setelah melampiaskan kekesalannya pada Vallery,Justin meninggalkannya begitu saja di kamar hotel saat Vallery tertidur karena kelelahan.


Sekujur tubuhnya lebam dan banyak tanda merah.


Matanya mulai terbuka setelah beberapa jam setelah kepergian Justin. Rasanya terlalu sakit,tulang tulangnya seperti remuk saat badan di gerakkan. Bahkan Vallery sendiri tidak tau,apakah tadi dia tertidur atau pingsan.


Dia meraih selimut dan menutupi tubuhnya yang menggigil kedinginan oleh sapuan udara pendingin kamar itu. Rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh membuatnya nyaris tak mampu bangun dari tempat tidur.


'' Hiks,,,?! Apakah ini karma buat ku? Aku yang selalu menyakiti perasaan orang orang yang menyayangiku. ''


Vallery membenamkan mukanya ke bantal dan menangis sejadinya,mengingat perlakuan Justin yang memperlakukannya dengan keji.


Lama dia merutuki dirinya sendiri dan perilakunya selama ini,hingga tanpa terasa dia kembali tertidur karena merasa kelelahan.


...****************...


Jam dinding kantor menunjukkan pukul 5 sore,Sheina merapikan berkas yang berantakan di meja kerjanya. Tugasnya untuk mengecek berkas kantor yang Leon berikan,membuatnya harus lembur karena belum terselesaikan.


'' Huuff,,,?? ''


Sheina merenggangkan otot ototnya. Menoleh ke arah meja kerja big bos,sekaligus pujaan hatinya. Bibirnya tersenyum tipis,meski tak mendapati sosok yang seharusnya berada di sana.


'' Apakah kamu merindukanku? '' batinnya.


'' Drrrtt,,,,drrttt,,,,!!''


Ponsel Sheina bergetar membuyarkan lamunannya. Sheina tersenyum saat tahu siapa yang meneleponnya.


'' Halo sayang? Apa kamu sedang memikirkan ku? " suara Leon terdengar menggoda Sheina.


'' Tidak. Aku sedang mengerjakan tugas tugasku. '' elak Sheina.


'' Oh? Benarkah? Tapi kenapa dari tadi hati ku selalu deg deg an seperti ada seseorang yang merindukanku. "


'' Kau itu narsis sekali. '' Sheina memanyunkan bibirnya.


" Hahaha,,,,? Apakah kamu akan lembur hari ini? Sayang,jangan terlalu capek. Aku memberimu tugas itu hanya karena tak ingin kamu kesepian. Maka jika kamu sudah merasa lelah,pulanglah. "


'' Tidak. Aku suka seperti ini. Karena dengan bekerja seperti ini,hari akan cepat berlalu. ''


" Tapi jangan sampai kamu sakit. Pulanglah,ini sudah saatnya kamu pulang dan istirahat. "


'' Iya. Sebentar lagi aku akan menyelesaikan semuanya. Apakah kamu sudah selesai dengan urusanmu di sana? Kapan kamu akan segera pulang? ''


" Jadi benar,kamu sudah merindukan ku? "


Wajah Sheina bersemu merah. Memang dia tidak pandai membohongi Leon,begitu pun Leon selalu bisa menebak pikiran Sheina.


'' Iya...iya! Makanya kamu cepat pulang. '' serah Sheina.


" Heem,setelah ini selesai aku akan segera pulang. Cepatlah istirahat,sayang. Aku mau tidur lagi dan besok melanjutkan pekerjaan ku. Muaachh! "


'' Iya,setelah ini aku pulang. Muaacchh! ''


Memang saat ini di Amerika sudah jam 5 pagi. Itulah Leon,dia bekerja hingga pagi dan hanya mempunyai waktu tidur beberapa jam saja. Tapi dia tidak lupa sedikitpun memberi kabar pada Sheina,meskipun waktunya yang begitu terbatas.


Dia memang seorang bos,tapi jika menyangkut pekerjaan dia selalu ingin menjadi panutan untuk karyawannya agar lebih disiplin dan tepat waktu dalam pekerjaannya. Leon juga tak ingin menunda nunda pekerjaan. Apa yang seharusnya di selesaikan hari ini,maka dia akan menyelesaikannya hari itu juga. Agar lain hari tidak menumpuk pekerjaan yang lainnya.


'' Akhirnya selesai juga! '' ucap Sheina lega.


'' Aku harus cepat pulang,biar bisa tidur lebih awal. Oh bantal dan guling ku,serta selimut hangat ku,tunggu aku menghampirimu,,,,!! '' nyerocos Sheina.


Setelah merapikan berkas berkasnya dia langsung bergegas keluar,menuruni lift dan berjalan cepat menuju lobi kantor.


'' Sheina...!! '' panggil seseorang.


Sheina melayangkan padang mencari sumber suara. Matanya bertemu dengan sosok wanita yang tengah duduk di sofa lobi khusus untuk tamu.


Sosok seorang wanita yang tidak asing lagi baginya. Bahkan dia sering bertemu dengannya.


Sheina berjalan perlahan mendekati perempuan itu. Matanya tak berkedip sedikitpun memandangi tubuh wanita itu. Penampilannya jelas berbeda dengan yang sering ia lihat dulu.


'' Vallery..?? '' Sheina berusaha meyakinkan dirinya,jika wanita di depannya itu benar mantan kekasihnya Leon.


'' Sheina? Apa kabar? '' basa basi Vallery.


'' Boleh aku bicara sebentar denganmu? '' nada bicara Vallery yang halus.


Sheina masih belum sepenuhnya percaya jika sosok wanita di depannya adalah Vallery. Mantan kekasih Leon yang dulu selalu terlihat elegan dan cantik,kini berada di depannya dengan sosok yang ala kadarnya dengan muka pucat nyaris seperti mayat hidup.


'' Vallery? Ada apa dengan mu? Bagaimana kamu bisa seperti ini? '' tanya Sheina dengan raut wajah khawatirnya.


Melihat Vallery yang memang berpenampilan tidak karuan. Dia menggunakan tudung kepala dan memakai kacamata hitam dan saat Vallery membuka kacamatanya terlihat jelas lebam di area mata juga bibir yang penuh dengan luka. Lebih tepatnya luka gigitan.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


Next bab selanjutnya.....


Jangan lupa like,vote dan komen yaaachh,,,,😉😉😉