Sorry, I Love You...

Sorry, I Love You...
BAB 13



Sheina berjalan di belakang Leon dan Willy saat memasuki sebuah perusahan yang lumayan besar. Tapi masih lebih besar perusahaan tempatnya bekerja di ibu kota.


Para karyawan yang ada di sana terlihat terkejut dengan kedatangan Leon. Itu terlihat saat seorang scurity membukakan pintu lobi, nampak mata karyawan menatap terkejut. Mungkin ini adalah kunjungan dadakan.


''Selamat sore tua. '' ucap karyawan serempak menyambut kedatangan Leon.


Tatapan Leon nyalang melihat pemandangan yang ada di depannya. Sebagian tidak ada yang menyambutnya dan asyik memainkan ponselnya.


''Di mana pimpinan cabang kalian!! '' teriak Willy nyaring, suaranya memenuhi ruangan lobi yang cukup besar. Sheina pun sempat terlonjak kaget.


Seorang laki-laki paruh baya keluar dari lift dengan lari tergopoh-gopoh mendekati Willy dan Leon. Karyawan yang tadi terlihat santai berubah tegang melihat atasannya bermandikan keringat mendekati orang yang tadi mereka acuhkan.


''Se, sekertaris Willy, tuan selamat datang di kantor cabang. '' ucap laki-laki itu mengelap keringat dinginnya.


'' Beginikah cara kalian menyambut kedatangan CEO perusahaan kalian!! '' bentak Willy. Leon hanya memicingkan matanya, rahangnya mengeras menahan marah.


''Maaf tuan, sekertaris Willy, kami tidak tahu kalau kalian akan datang kunjungan hari ini. '' jawab Laki-laki yang menjadi pimpinan perusahaan cabang itu.


''Lalu apakah begini cara kerja kalian kalau tidak ada aku hari ini!! Semua karyawan bisa semaunya sendiri,bekerja di sini harus disiplin dan mematuhi peraturan jika ada yang melanggar bisa langsung pecat! Masih banyak orang yang ingin bekerja di sini!! '' ucap Leon geram melampiaskan kekesalannya yang tak mendapat sambutan baik di perusahaannya sendiri.


Bukan sambutan yang sebenarnya Leon harapkan. Hanya saja ada dari mereka yang tidak tahu pemimpin terbesar perusahaannya. Padahal sebelumnya mereka juga di beritahu bos besar mereka sudah ganti.


''Bawa aku ke ruangan rapat! Aku akan menegaskan peraturan baru di sini! '' ucap Leon menatap tajam laki-laki di hadapannya.


'' Baik tuan, mari?! '' ajak laki-laki itu menunjukkan arah ruangan rapat mereka.


Dengan perasaan takutnya laki-laki itu menekan tombol lift.


Lift berhenti di lantai 7. Leon dan Willy juga Sheina, yang masih setia berjalan di belakang Leon keluar lift dan masuk ke sebuah ruangan yang cukup luas.


"Baik pak Burhan,kumpulkan semua defisi yang ada di kantor ini. Dan berikan laporan harian juga keuangan selama 3 bulan ini. " titah Willy.


"Baik sekertaris Willy saya akan menyuruh mereka kemari. " ucap pak Burhan gemetar, lalu dia pun keluar ruangan.


Leon melangkah menuju kursi yang ada di ruangan itu, Willy mengikutinya dan membisikkan sesuatu kepada Leon. Terlihat senyum sinis Leon mengembang, rahang kembali mengeras, tangannya mengepal geram.


"Jadi selama ini apa saja yang mereka kerjakan! Apa mereka pikir mereka bisa lolos begitu saja, mimpi!! " geram Leon.


Walaupun belum lama menjadi ceo di perusahaan papanya itu, Leon sudah terdidik menjadi pebisnis. Dia juga pernah di ajari ayahnya bagaimana menjalankan perusahaan dan menghadapi musuh dalam dunia bisnis.


Willy menatap Sheina yang menunduk takut, karena marahnya tadi di lobi. Rasanya, Willy ingin tertawa melihat sikap Sheina yang baru sekali ini melihat betapa garangnya dia. Tapi hal itu tak bisa di lakukannya karena tiba-tiba pintu ruangan itu di ketuk dari luar dan masuklah beberapa orang yang terlihat berkeringat dingin seperti pak Burhan tadi.


Setelah mereka semua menempati kursinya masing-masing, Leon mulai menatap mereka satu per satu yang menunduk tampak ketakutan.


Tak lama kemudian, masuk seorang wanita dengan tumpukan file di tangannya,lalu memberikannya kepada sekertaris Willy.


"Apa kalian tahu kenapa kalian aku kumpulkan di sini. Mungkin kalian juga bertanya-tanya kenapa aku mendadak mengadakan kunjungan ke sini tanpa harus memberitahukan terlebih dahulu kepada kalian! " ucap Leon geram,membuat semua orang yang ada di sana saling tatap.


Pak Burhan selaku pimpinan kantor cabang itupun memberanikan diri untuk mencoba berbicara.


"Maaf tuan Leon, kami salah karena tak bisa menyambut tuan dengan baik. "


"Bukan itu alasannya!! " teriak Leon.


Sheina menatap Leon yang sedang fokus dengan berkasnya. Tersenyum sekilas lalu menunduk lagi karpena tak mau terlihat oleh orang-orang.


"Meskipun sikapnya susah di tebak, tapi dia begitu tegas dalam segala hal. Terlihat tampan jika sedang serius seperti itu. Hehehe,,,? " batin Sheina.


Entah dengan jurus apa dia memeriksa berkas itu, atau dengan bantuan jin atau dengan mata dewa, entahlah? Yang jelas dia bisa tau detail letak kesalahan yang ada di berkas itu.


''Braakk... !! '' Leon menggebrak meja yang sukses membuat semua orang berjingkat kaget. Untung nggak ada yang punya sakit jantung, hehehe.


''Ada banyak kesalahan di laporan keuangan ini! Siapa yang bertanggung jawab di sini! '' ucap Leon keras.


''Itu saya tuan. '' jawab seorang pria yang duduk di deretan terdekat dengan Leon.


''Bisa kamu jelaskan, kenapa banyak pengeluaran yang tak jelas di sini?! ''


''Maaf tuan, saya baru bekerja beberapa bulan di sini dan untuk laporan 3 bulan sebelumnya bukan saya yang mengerjakannya. '' jawab pria itu.


''Siapa namamu?! '' tanya Willy datar.


''Nama saya Dimas. Sebelumnya saya pernah meminta laporan sebelumnya, tapi tidak di kasih. Dan saya hanya meneruskan laporan yang saya kerjakan sekarang. '' jawabnya tegas.


''Lalu siapa yang membuat laporan 3 bulan sebelumnya?! '' tanya Willy lagi.


''Itu,, itu menurut karyawan lain, katanya dia sudah di pecat sebulan sebelum saya bekerja di sini. ''


Leon menatap pak Burhan Yang masih menunduk dan sesekali mengelap keringat dingin yang terus berkucuran.


''Pak Burhan bisa tolong jelaskan semua ini?! '' tanya Leon.


''Iya tuan, memang saya sudah memecat dia karena kinerjanya yang kurang bagus. Sudah beberapa kali dia ketahuan mengambil uang perusahaan dan memanipulasi laporan keuangan di sini. '' jawab pak Burhan.


''Benarkah?! Bukankah dia karyawan teladan dan jujur?! Bagaimana bisa dia melakukan hal semacam itu! '' tanya Willy dengan sinis.


''Karena terakhir yang saya tau dia memang lagi butuh uang untuk keluarganya. '' jawab pak Burhan gugup.


''Oh,,, benarkah?! Bukankah gajinya sudah lebih cukup kalau hanya untuk kebutuhan keluarganya. Karena bapak Adinata sendirilah yang memberikan gaji lebih untuk orang-orang jujur di perusahaan ini. ''


Pak Burhan kembali melap keringat dinginnya. Sebenarnya Willy sudah tau kalau pak Burhan lah yang sering mengambil uang perusahaan, tapi dia melimpahkan kesalahan itu pada penanggung jawab keuangan. Karena di perusahaan ini Willy telah menaruh beberapa karyawan pilihannya,untuk melaporkan semua kinerja perusahaan.


''Jadi! Apakah aku harus memanggil polisi, atau kamu mengembalikan uang yang sudah kamu ambil dari perusahaan! Itu adalah pilihan yang harus kamu pilih! '' seru Leon.


''Ba,, baik tuan. Saya mohon jangan laporkan saya pada polisi,saya akan secepatnya mengembalikan uang itu, tapi beri saya waktu. '' mohon pak Burhan, lututnya terasa lemas, setelah dialah yang ketahuan menggunakan uang perusahaan.


''Aku harap ini akan menjadi pelajaran buat kalian semua! Jika masih ingin bekerja di sini,bekerjalah dengan baik dan jika kalian tetap melanggar! Jangan harap kalian dan keluarga kalian bisa hidup nyaman! '' ucap Leon tegas.


''Dan kamu! Aku beri waktu satu minggu untuk mengembalikan apa yang sudah kamu ambil dari perusahaan. Dan mulai hari ini juga kamu bisa angkat kaki dari perusahaan ini, sekarang juga! Paham!! '' geram Leon.


Pak Burhan terkulai lemas. Dia tidak menyangka kalau semua keserakahannya akan menghancurkannya sendiri.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️