Sorry, I Love You...

Sorry, I Love You...
BAB 16



Tepat di lantai 20 lift berhenti dan pintu pun terbuka. Leon keluar dari lift dengan menggandeng Vallery menuju ruangannya. Willy mengikuti mereka dari belakang dengan tampang kusutnya.


Pintu ruangan terbuka, Leon melangkah masuk.


''Selamat siang tuan. ''sapa Sheina yang sudah terlebih dahulu kembali dari makan siangnya.


''Ya. '' jawab Leon singkat.


Pandangan Sheina beralih ke arah seorang wanita yang ada di samping Leon,bergelayut manja di lengannya.


''Selamat siang nona,sekretaris Willy. '' lalu kembali duduk.


Willy berdiri di depan meja kerja Sheina sedangkan Leon kembali ke kursi kebesarannya,tatapan tidak suka Vallery pada Sheina dapat di tangkap Willy dengan jelas.


''Sayang? Siapa dia? Kenapa ada di ruangan yang sama dengan kamu?'' tanya Vallery.


''Dia sekretaris aku juga,sama seperti Willy. '' jawab Leon,kembali menghidupkan laptopnya. Matanya melirik Sheina dan Willy bersamaan.


''Sejak kapan kamu bisa satu ruangan dengan wanita lain?! Apakah dia harus satu ruangan denganmu,sayang? Tidak bisakah dia berada di luar ruangan mu seperti Willy?! '' cerca Vallery.


''Dia beda dengan ku nona Vallery. Sheina khusus membantu pekerjaan tuan muda yang lain.'' jawab Willy menahan emosinya yang sedari tadi di pendamnya.


'' Pekerjaan lain apa? Menggoda bosnya?! '' seru Vallery,kesal.


''Cukup! Kalau kamu tidak suka aku bisa memindahkannya keluar! '' bentak Leon keras. Matanya memerah,karena menahan amarah.


''Kamu berani membentakku hanya karena seorang sekretaris bawahan mu ini,sayang?'' suara Vallery melemah,terlihat butiran bening jatuh dari matanya.Berpura-pura.


''Bukan begitu Val,aku tidak bermaksud membentakmu. '' Leon melemah melihat air mata kekasihnya. Di peluknya Vallery yang tadi berdiri di sampingnya.


Sheina tak berani menatap adegan di depannya itu.Dia tidak tahu apa-apa di sini,tapi dia menjadi orang yang membuat tuannya bertengkar dengan kekasihnya.


''Cih! '' Willy berdecih muak melihat akting Vallery. Dan dengan bodohnya Leon begitu saja percaya.


''Sekretaris Willy?! '' Sheina memandang Willy,terlihat jelas kekesalan di wajahnya.


''Sheina. Kita keluar dari sini. '' ajak Willy melangkah keluar dari ruangan Leon yang kemudian di ikuti Sheina. Wajahnya tertunduk,perasaan aneh mulai menjalar di dadanya.


Masih di pelukan Leon,Vallery melirik Sheina yang menghilang di balik pintu tersenyum penuh kemenangan.


''Aku tak boleh membiarkanmu dekat dengan siapa pun Leon.Kamu hanya boleh mencintaiku,karena kamu lah satu satunya yang akan menjadi pelabuhan terakhirku,jika mereka membuangku kelak. '' batin Vallery tersenyum sinis pada dirinya sendiri.


''Brengsek! '' seru Willy menendang meja kerjanya keras. Mukanya memerah marah.


Sheina hanya diam.Mengingat adegan tadi,menata perasaan aneh yang bergemuruh di dalam dadanya yang dia sendiri tidak tahu.


Willy beralih menatap Sheina yang masih terdiam,tangannya memegangi dadanya,menepuk nepuknya pelan,wajahnya menunduk menatap lantai.


''Maaf,sudah melibatkanmu dengan hal konyol seperti ini. '' ucap Willy setelah berhasil menenangkan dirinya.


Perlahan Sheina mengangkat wajahnya,mengambil napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Mengedipkan matanya yang panas dan menata kembali perasaan anehnya. Menatap wajah Willy yang memperhatikannya.


''Tidak apa apa,sekretaris Willy. Saya hanya kaget saja tadi. '' ucap Sheina pelan.


'' Bolehkah kita jangan terlalu formal,jika tidak ada orang lain?Anggap saja aku temanmu juga seperti Hana. ''


Sheina terkejut dengan ucapan Willy yang tahu dia dan Hana berteman baik.


''Baik,sekretaris Willy. '' jawab Sheina.


''Panggil aku Willy saja,jika di luar kantor. ''


Sheina hanya tersenyum menanggapi perkataan Willy. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada wanita di ruangan bosnya. Dia seperti pernah melihat wajah wanita itu,tapi dia lupa dimana.


''Dia adalah kekasih tuan muda,yang baru kembali dari Prancis. Dia yang pernah kamu lihat di foto ruangan tuan muda. '' terang Willy,seakan menjawab semua apa yang Sheina pikirkan.


''Ah.Iya,ternyata aslinya jauh lebih cantik daripada yang ada di foto. '' Sheina mencoba tersenyum.


''Cih! Kalau bukan karena janjiku sama om Adinata,aku tak akan pernah membiarkan dia berada di kota ini. '' gumam Willy.


"Jadi sejak kapan kamu kembali ke sini? Hem? " tanya Leon pada Vallery yang sekarang berada di pangkuannya.


"Aku sudah dua minggu pulang dari Prancis,sayang. Maaf ya karena aku tidak memberitahumu. Aku ingin memberimu kejutan,makanya selama beberapa hari ini aku sering datang ke restauran tempat kita dulu sering makan di sana. " ucap Vallery manja.


Matanya menatap mata Leon,perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah Leon dan mengecup bibirnya lembut. Leon pun membalas ciuman itu. Saling berpagut bertukar saliva,melepas rindu yang hampir satu tahun ini tidak pernah bertemu.


Ciuman mereka berhenti saat tiba-tiba pintu di ketuk dari luar dengan keras.


"Masuk! " seru Leon membersihkan bibirnya yang basah. Sedangkan Vallery kembali ke sofa dan meraih majalah yang ada di atas meja kaca.


Willy masuk dengan wajah menahan kekesalannya.


"Waktunya rapat tuan muda. " ucapnya dingin,matanya menatap wanita yang dengan cueknya tak menghiraukan kedatangannya.


"Baiklah. Aku akan segera ke ruang rapat. " jawab Leon,matanya melirik ke arah kekasihnya.


Berjalan mendekati Vallery yang duduk di sofa.


"Maaf Val,aku harus rapat.Kalau kamu mau,kamu bisa menunggu ku di sini. " ucap Leon meraih tangan Vallery dan mengecupnya.Membuat muak Willy yang melihatnya.


"Tidak Leon,aku akan pergi menemui teman-temanku,karena aku udah janji sama mereka,kau pergilah rapat. " jawab Vallery.


"Baiklah aku pergi dulu. Cup?! " Leon kembali mencium kening Vallery dan melangkah keluar.


Vallery tersenyum sinis saat Willy menatapnya lagi sebelum akhirnya mengikuti langkah Leon.


Sesaat setelah itu Sheina masuk,ke ruangan Leon untuk mengambil berkas yang tertinggal di meja kerjanya. Vallery menatapnya kesal.


" Mulai besok pindah mejamu ke luar dari ruangan ini! Apa kamu mengerti! " seru Vallery.


"Maaf nona,kalau bukan tuan Leon sendiri yang menyuruhku pindah,aku tak akan pindah. " jawab Sheina tegas,karena dia merasa tak perlu berbasa basi dengan Vallery,lalu segera mengambil berkas itu dan pergi keluar menuju ruang rapat menyusul Leon dan Willy.


"Cih! Ternyata dia bermuka dua,tadi seperti terlihat lemah sekarang berani membantahku. "gerutu Vallery tidak senang.


Dia mengambil tas selempang kecilnya yang tadi dia taruh di meja kerja Leon,lalu melangkah pergi.


"Ya kalian ikuti dia. Pantau terus semua kegiatannya sehari-hari.Laporkan padaku jika kalian menemukan sesuatu yang mencurigakan. " ucap Willy mengakhiri panggilan telponnya.


Ya Willy menelpon orang yang di suruhnya mengawasi Vallery,karena dia ingin mengetahui ada rencana apa yang Vallery susun untuk mendekati Leon. Karena tiba-tiba kembali ke Indonesia.


Yang Willy tau,Vallery sangat menggilai profesinya itu dan hampir setahun ini tak lagi menghubungi Leon karena terlalu sibuk dengan banyaknya tawaran model untuknya.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️