Sorry, I Love You...

Sorry, I Love You...
BAB 17



Mobil Leon berhenti tepat di halaman rumah mewah miliknya. Willy keluar dari mobil dan membuka pintu belakang untuk tuan mudanya itu.


''Kalau begitu aku permisi pulang dulu Leon. '' ucap Willy dengan nada datarnya itu. Muka kusutnya terlihat sangat kelelahan.


''Aku masih ada hal yang perlu ku bicarakan. Masuklah temui aku di ruang kerja. '' jawab Leon berlalu meninggalkan Willy yang belum sempat mengiyakan ajakan Leon.


Pak Kim menyambut kedatangan Leon di depan pintu bersama beberapa pelayannya.


'' Selamat sore tuan muda. '' sapa pak Kim menunduk hormat di ikuti pelayan.


''Hem. '' jawab Leon trs berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua.


''Selamat sore sekretaris Willy . '' sapa pak Kim pada Willy yang berjalan malas memasuki rumah mewah itu.


'' Sore pak Kim. Tolong buatkan aku kopi antar ke ruang kerja tuan muda. '' titah Willy ngeloyor masuk ruang kerja Leon.


''Baik. '' jawab pak Kim yang sudah tau kebiasaan keponakan tuan besarnya itu.


Leon melempar tas kerjanya ke ranjang lalu melepas sepatunya dan meninggalkan ponselnya di nakas samping tempat tidurnya.


Mengganti baju kerjanya dengan baju santai ala kadarnya,lalu kembali turun menuju ke ruang kerjanya.


Saat berada di akhir tangga dia berpapasan dengan pak Kim yang membawa nampan dengan secangkir kopi panas di tangannya.Leon mengerutkan keningnya,heran.


''Kopi siapa? '' tanya Leon.


'' Untuk tuan Willy,tuan muda. Apakah tuan muda mau? Biar saya buatkan juga? '' pak Kim menawarkan.


''Tidak. '' lalu mendahului pak Kim berjalan menuju ruang kerjanya.


Ceklek,,,,


Leon membuka pintu ruang kerjanya. Terlihat Willy duduk di sofa sambil memejamkan matanya.


Matanya perlahan terbuka,saat hidungnya mencium aroma kopi yang di bawa pak Kim.


''Ini kopi anda. '' pak Kim meletakkan secangkir kopi itu di meja kecil.


'' Terima kasih pak Kim. '' Willy mengambil cangkir kopi itu dan menyeruputnya pelan.


Leon memperhatikan Willy secara seksama,sedangkan Willy tetap fokus pada caranya menikmati kopinya.


''Pak Kim kau kembalilah ke belakang,tinggalkan aku dan Willy di sini. '' ucap Leon tanpa mengalihkan pandangannya dari Willy yang tengah asyik menikmati kopinya.


Leon duduk di kursi kerjanya.Membuka komputer yang ada di hadapannya. Sesekali melirik Willy yang masih sama,menikmati kopinya. Merasa di perhatikan,Willy pun menyudahi sruputan kopi panasnya.


''Ada hal apa yang ingin kamu bicarakan denganku?'' tanya Willy membalas tatapan Leon.


''Ada apa denganmu hari ini? Kenapa sikapmu terlihat sangat tidak menyukai Vallery! '' tanya Leon dengan sinis.


''Aku memang tidak menyukainya. '' jawab Willy tenang.


''Memang kenapa? Apa salah dia padamu! '' ucap Leon keras.


''Hei,Leon! Tidak semua yang kau suka aku juga harus menyukainya,bukan! Aku suka atau tidak suka dengan seseorang itu juga hak ku! Apa perlu aku harus menjelaskan mendetail padamu?! '' seru Willy tak kalah keras.


''Apa kau menyembunyikan sesuatu padaku? '' Leon melirik tajam ke arah Willy.


'' Memang aku menyembunyikan apa darimu? Jika kau menyuruhku kemari hanya menanyakan hal bodoh ini,lebih baik aku pulang. Ini sudah waktu ku istirahat.Sampai jumpai besok lagi. '' Willy melangkah keluar meninggalkan ruangan kerja Leon.


Berjalan menuju mobilnya yang terparkir di antara mobil-mobil mewah milik keluarga Adinata. Karena merasa kesal dia segera melajukan mobilnya dengan kencang,pulang menuju apartemennya.


...****************...


Sheina sudah selesai mandi dan bersiap untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur karena rasa lelah yang sedari tadi menjalar di seluruh badannya.


Baru beberapa menit menutup matanya,ponsel yang dia taruh di atas nakas berbunyi nyaring.


'' Oh Tuhan?? Bisakah aku istirahat sebentar saja? '' gerutunya meraih ponsel yang sedari tadi bergetar.


Sheina menatap panggilan masuk tanpa nama,nomor baru,tidak kenal. Sheina enggan menjawab panggilan itu karena merasa tidak mengenalnya. Di taruhnya kembali ponsel itu di atas nakas. Lalu kembali meneruskan ritualnya yang tadi sempat terganggu. Namun lagi-lagi ponselnya kembali berbunyi.


Sheina meraih ponselnya tanpa membuka matanya. Dan menjawab panggilan itu dengan nada kesalnya.


''Halo...!! Siapa!! "


"Keluar!Aku ada di depan rumahmu! " jawab si penelpon.


''Tu,,tuan!! '' seru Sheina terkejut mengenal suara itu. Ya,dia adalah sang big bos,Leon.


Sheina beranjak dari ranjang dan berlari menuju pintu depan untuk membukakan pintu untuk Leon.


Ceklek,,,,,


'' Tuan? Ada apa tuan datang kemari? '' tanya Sheina saat sudah membuka pintu rumahnya.


Mata Leon menatap lekat ke arah Sheina yang hanya memakai gaun tidur berbahan satin selutut,meski tidak menerawang tapi gaun itu terlihat melekat sempurna di tubuh Sheina.


Sheina yang menyadari tatapan Leon ke arahnya langsung sadar dengan pakaiannya.


''Aaahh,,,,!! '' teriaknya reflek langsung menutup kembali pintu rumahnya dan berlari menuju kamar.


''Pffffhh,,,,?? Dasar gadis bodoh,bagaimana dia bisa seceroboh itu? '' ucap Leon menahan tawa melihat tingkah Sheina yang begitu lucu baginya.


Pov Leon


Setelah Willy pulang,Leon merasa kesal karena tak mendapat jawaban yang jelas atas sikap tidak suka Willy terhadap Vallery. Dia melihat jam dinding yang tergantung di tembok ruang kerjanya sudah menunjukan pukul 7.30 malam. Lalu dia meraih ponsel dan mencoba menghubungi Vallery,namun sudah berkali-kali di hubungi hanya terdengar suara operator yang mengatakan sedang tidak aktif.


Kekesalan Leon makin memuncak. Dia keluar dari ruang kerja menuju ruang tamu,menyalakan tv tapi tidak ada acara yang bisa dia tonton,lalu mematikannya,melempar remote ke sofa.


Pak kim yang melihat kegelisahan anak majikannya itu pun merasa heran dan mendekatinya untuk menanyakan makan malam.


''Maaf tuan muda,makan malam sudah siap. '' ucap pak Kim.


''Ow,,,!! '' jawab Leon singkat. Lalu berjalan menuju meja makan. Makanan sudah tertata di atas meja makan lengkap tapi tiba-tiba Leon tak punya napsu makan sama sekali.


Di tatapnya pak Kim yang berdiri di depannya,lalu beralih ke beberapa pelayan yang sedang melakukan pekerjaannya.


''Apa kalian sudah makan. '' tanya Leon pada pak Kim.


'' Kami akan makan setelah tuan muda selesai makan. Itu sudah menjadi peraturan kami,tuan muda. '' jawab pak Kim ramah.


''Aku sedang tidak napsu makan hari ini,kalian makan saja semua ini. Tidak usah menungguku.''


''Tapi kenapa tuan muda?? Apakah tuan muda sakit? Atau tuan muda tidak menyukai masakan ini? '' tanya pak Kim khawatir.


''Biar saya bilang ke koki untuk memasak apapun yang tuan muda ingin makan. ''


''Tidak. Aku akan makan malam di luar. '' jawab Leon pergi meninggalkan meja makan dengan pak Kim yang masih bingung dengan sikap tuan mudanya itu.


Leon menuju kamarnya hendak mengganti pakaiannya. Saat melewati nakas yang ada di samping ranjang dia tidak sengaja menyenggol tumpukkan beberapa berkas yang tadi sempat di bawanya dari kantor untuk di periksa.


'' Cih! '' decih Leon lalu berjongkok mengambil berkas yang jatuh berantakan di lantai.


Matanya tertuju pada selembar kertas dengan selembar foto ukuran 3×4 tertempel di pojok kanan kertas itu.


Leon merapikan kertas yang lain kecuali kertas yang dia lihat tadi. Lengkungan di bibirnya terlihat saat menatap kertas yang di bacanya.


'' Sheina Aleyzhia. '' gumamnya. Dia meraih ponsel di saku celananya dan memasukan nomor telpon yang tertulis di kertas itu. Lalu memasukan kertas itu ke dalam laci nakasnya.


Segera dia mengganti bajunya dan mengambil kunci mobilnya. Perasaannya kembali tenang,lalu dia menuruni anak tangga,bersiap pergi.


''Tuan muda mau kemana? '' tanya pak Kim saat melihat menuruni anak tangga terakhir.


''Aku ingin keluar sebentar menemui seseorang. Aku tidak akan lama,jika pak Kim lelah,pak Kim silahkan istirahat terlebih dahulu. '' sambil tersenyum ringan Leon berjalan menuju mobil sport kesayangannya.


**Pov Leon End


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️**