Sorry, I Love You...

Sorry, I Love You...
BAB. 40



Leon tiba di Amerika setelah penerbangan kurang lebih 20 jam. Dia langsung pergi menuju rumah sakit tempat papanya di rawat.


''Ma...?! '' panggil Leon saat melihat mamanya yang menunggu di depan ruang rawat papanya.


''Leon..?! '' pekik Monic,mamanya Leon, berlari memeluk anaknya dengan isak tangisnya.


''Tenang ya ma? Mama jangan nangis. Leon sudah di sini. '' Leon membalas pelukan mamanya.


''Bagaimana keadaan papa? ''


''Dokter Daniel bilang kaki papamu terjepit dan mengalami patah tulang kaki,papamu mungkin tidak akan bisa berjalan lagi. Polisi bilang ini murni kecelakaan karena pengendara yang menabrak mobil papamu,menyetir dalam keadaan mabuk. '' ucap Monic dalam tangisnya.


'' Sudah ma,jangan nangis lagi. Kita doakan moga papa baik-baik saja. Apakah aku boleh masuk melihatnya,ma? '' tanya Leon melepaskan pelukannya.


''Iya. Dokter bilang hanya boleh masuk satu orang saja. Masuklah,temui papamu. '' jawab Monic.


Leon dengan ragu melangkah menuju kamar rawat papanya. Pelan dia mendekati brankar tempat papanya terbaring dengan berbagai alat bantu di tubuhnya. Dadanya sesak melihat papanya yang terbaring lemah tak berdaya.


''Pa,,,? Ini Leon,papa harus kuat. Papa harus sembuh ya. Karena Leon ingin mengenalkan seseorang sama papa. Leon ingin papa yang menilai dia apakah baik atau tidak untuk Leon, pa. '' ucap Leon lirih.


''Maafin Leon yang selama ini bersikap egois dan tidak pernah mendengar apa kata papa. '' Leon memegang tangan papanya.


Hampir satu jam Leon berada di dalam kamar rawat papanya. Meskipun papanya mungkin tidak mendengar cerita Leon,tapi Leon terus berusaha mengajak papanya bicara. Hingga dia harus menyudahi ceritanya karena ponsel di dalam saku celananya bergetar. Leon menjauh dari brankar papanya dan mengangkat panggilan masuk di ponselnya.


'' Halo..?! '' jawab Leon.


''Bagaimana keadaan om Adinata? Apakah dia baik-baik saja? Kenapa kamu tidak menghubungiku. Tidak tahukah kalau aku disini juga sangat khawatir dengan keadaan beliau??"


Suara Willy terdengar seperti sedang memarahi Leon. Benar saja yang sedari tadi menelpon Leon adalah Willy. Sesaat setelah Leon menjawab panggilannya,Willy tak henti-hentinya berbicara,tak memberi kesempatan untuk Leon menjawab pertanyaanya.


''Apakah kamu sudah selesai dengan celotehan mu itu?! '' seru Leon.


''Kau tak sedikit pun memberi ku kesempatan untuk bicara.


''Maaf Leon. Tapi aku benar-benar mengkhawatirkannya. "


Leon menarik napas dan menghembuskannya pelan.


''Papa belum sadarkan diri sejak setelah operasi. Mama bilang tulang kakinya patah,besar kemungkinan papa tidak akan bisa jalan lagi. ''


Leon kembali menarik napas,dadanya kembali sesak mengingat keadaan papanya saat ini.


''Dan kecelakaan ini adalah murni kecelakaan karena mobil yang menabrak mobil papa pengemudinya dalam keadaan mabuk. ''


''Apa kamu yakin ini kecelakaan biasa? "


''Apa maksud kamu,Will? '' Leon heran dengan pertanyaan Willy. ''Itulah yang di katakan mama dari keterangan polisi yang menangani kecelakaan ini. ''


'' Baiklah,semoga saja begitu. Apakah kamu sedang di kamar rawat om Adinata? Kalau begitu aku akan tutup telponnya. "


''Tunggu,Will? Apakah dia tahu aku sekarang di Amerika? '' tanya Leon menanyakan Sheina.


'' Tidak. Aku tidak memberitahunya. Aku hanya bilang kalau kamu sedang ada urusan yang tak bisa di tinggalkan. "


'' Baiklah. Terima kasih. '' Leon mengakhiri panggilannya.


Setelah itu Leon keluar dari kamar rawat papanya. Di luar kamar,mamanya menunggu. Matanya terlihat sembab.


'' Ma? Pulanglah,biar Leon yang menunggu papa di sini. ''


''Kamu baru saja sampai Leon,lebih baik kamu yang pulang ke mansion istirahat. ''


'' Leon tidak capek. Mama pulanglah biar Leon yang berjaga di sini. ''


''Baiklah. Kalau begitu mama pulang dulu. Besok pagi mama akan kembali ke sini. '' jawab Monic menepuk pundak Leon.


...****************...


''Will? Ada jadwal meeting nanti jam 3 dengan staff karyawan. Perubahan jam kerja. '' Sheina menyerahkan berkas yang di bawanya ke ruangan Willy.


Willy mengambil berkas itu dan memeriksanya. Di tatapnya gadis yang berdiri di depannya. Terlihat murung,tak ada senyum seperti biasanya. Willy mengerutkan alisnya.


'' Tenang. Sebentar lagi dia juga pulang. '' ucap Willy tersenyum smirk .


''Hah? Maksud kamu apa,Willy?'' Sheina tampak bingung dengan ucapan Willy.


''Kamu kangen kan sama Leon? Makanya hari ini kamu terlihat tidak terlalu bersemangat bekerja. '' Willy menyerahkan kembali berkas yang sudah di tanda tangani pada Sheina.


Sheina mengerutkan dahinya. Memicingkan matanya menatap Willy.


'' Kamu tuh sok tau banget deh. Orang aku lagi datang bulan,makanya males. '' Sheina menerima berkas itu lalu pergi kembali ke ruangannya.


''What?? Jadi karena itu dia sedari tadi nggak begitu semangat? Ya Tuhan...?? Mulutku ini sotoy banget sih. '' Willy memukul-mukul mulutnya pelan.


Ponselnya berdering. Hana menelponnya. Sheina tersenyum lalu mengangkat panggilan masuknya.


'' Halo Han? Ada apa? '' tanya Sheina.


''Kamu sakit? Suaramu terdengar kalau kamu lagi nggak baik-baik saja. Kenapa? "


'' Oh? Iya nih lagi hari pertama datang bulan. Perut aku sakit banget. '' ucap Sheina.


'' Kamu masih di ruangan bos? "


''Iya. Tapi bos udah 2 hari ini nggak ada. Kata sekretaris Willy dia lagi ada urusan. '' jawab Sheina.


''Ok. Tunggu sebentar. "


Hana mematikan sambungan telponnya. Sheina kembali merasa heran dengan orang-orang hari ini. Lalu dia menidurkan setengah badannya di meja kerjanya,mengeluh sakit yang dirasakannya.


''Shei,,,?! '' tiba-tiba saja Willy masuk ke ruangan Leon mengagetkan Sheina.


''Willy..!! Ngagetin aja!! '' teriak Sheina.


''Sorry,,,sorry?! Hahaha?! '' Willy selengekan.


''Kenapa lagi! '' tanya Sheina ketus.


''Wey,,,? Galak amat. Kan aku udah bilang sorry,aku juga nggak bermaksud ngagetin kamu tadi. ''


''Ada apa? ''


''Kalau kamu nggak enak badan kamu,,,,,,?! ''


''Sheina?! '' panggil Hana tiba-tiba,memotong ucapan Willy.


''Hana. '' ucap Willy heran.


''Hai Will. '' jawab Hana canggung.


''Kamu bawa apa? '' tanya Willy melihat Hana membawa gelas minuman.


''Eh ini? Tadi aku ke kantin minta teh manis hangat buat Sheina. '' jawab Hana menyodorkan teh itu pada Sheina. ''Cepetan di minum biar berkurang sakitnya.


'' Makasih Hana. '' Sheina menenggak teh yang di berikan Hana.


''Apa nggak sebaiknya kamu istirahat di rumah aja Shei? Hari ini cuma jadwal meeting aja kan? Jadi kamu nggak perlu menemaniku. '' saran Willy.


''Tapi aku harus profesional kerja,Will. Leon kan tidak ada di sini,bukan berarti aku bisa seenaknya saja melanggar peraturan kan?! ''


''Tapi Shei? Kalau pun Leon ada di sini dia pasti juga akan suruh kamu istirahat. '' sahut Hana.


''Aku nggak apa-apa kok,Han. ''


''Kalau gitu aku hubungi Leon aja,gimana? Bilang sekretarisnya ini susah di atur. '' ancam Willy.


'' Jangan gitu dong,Will. Ck,,,?! ''


''Jadi? '' pancing Willy.


''Iya deh iya. Aku pulang. Han,tolong hubungi Dio buat jemput aku ya?? ''


''Oke. '' Hana mengambil ponsel Sheina.


''Tunggu! Siapa Dio? '' Willy memicingkan mata ke arah Hana.


''Dio itu ojek online langganan dia. '' jawab Hana menunjuk Sheina.


''Ojek?? Nggak,, nggak,,,nggak?! Sheina biar di antar sopir aja. '' cegah Willy.


''Bisa di kirim ke Afrika aku,kalau ketahuan kesayangan Leon naik ojek online. " batin Willy.


''Emang sopir siapa yang mau nganterin dia? Udah aku panggi Dio aja. '' ucap Hana.


''Pakai mobil kantor aja kan ada sopir juga. Udah,yuk Shei. Aku anterin kamu ke mobil. '' Willy menarik tangan Sheina.


Sheina hanya pasrah saja karena dia sudah tidak sanggup menahan sakit di perutnya.


Akhirnya Hana dan Willy mengantarnya ke parkiran mobil perusahaan dan menyuruh sopir mengantar Sheina untuk istirahat.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


Happy reading all,,,,,,


Jangan lupa Vote,Like dan Komennya yah,,,😊😊😊😊