Sorry, I Love You...

Sorry, I Love You...
BAB 7



Sheina sedang menyusun rencana weekendnya. Dia sudah beberapa kali membujuk Hana untuk menemaninya ke pantai. Namun Hana terus saja menolak dengan alasan ingin tiduran saja di rumah.


"Han? Temenin aku ke pantai yah,,,?? " rengek Sheina.


"No! Harus berapa kali aku bilang sih Sheina? Aku minggu ini cuma ingin tidur di rumah memanjakan diri aku sendiri.Kau tau? Bagaimana capeknya bekerja di bagian keuangan, sangat menyita pikiranku. " ucapnya sambil mencubit pipi cubby Sheina.


"Yah, terus aku pergi sama siapa dong? " Sheina mencebikkan bibirnya.


"Kan bisa sama Zein atau Via? " jawab Hana.


" Mereka berdua sudah ada acara katanya. "


" Ya berarti, terpaksa kamu pergi sendiri hahaha,,, " Hana senang.


" Iya mau gimana lagi dong. Han,,,,?"


" Enggak Sheina, sayang?! " tegas Hana, karena dia benar-benar ingin istirahat di hari liburnya.


"Hiks,,, hiks,,,!! " Sheina pura-pura nangis.


" Udahlah, pergi sendiri aja. Siapa tau nanti kamu ketemu cowok cakep, kan lumayan nggak ada yang gangguin kamu deketin dia. " Hana mengedipkan kedua matanya.


"Oh iya, ya. Baiklah kalau begitu, aku pergi sendiri saja. Bye Hana,,, muach?! " ucap Sheina mengecup pipi Hana lalu pergi meninggalkan Hana yang masih terpaku dengan perlakuan Sheina.


"Anak ini, sikapnya ceria sekali seperti tak punya beban hidup. " batin Hana, tersenyum dengan semua sikap Sheina.


Sheina sudah siap dengan keinginannya untuk pergi ke pantai. Meski pergi sendiri tanpa teman-teman yang biasa bersamanya.


"Nggak papa deh hari ini aku ke pantai sendiri. " gumamnya. Lalu memesan taksi online.


"Selamat pagi tuan muda? " sapa pak Kim ketua pelayan di rumah Leon.


"Ya. " jawab Leon singkat.


"Apakah tuan muda membutuhkan sesuatu? " tanya pak Kim saat melihat Leon seperti bingung melakukan sesuatu.


" Oh ya hari ini aku akan pergi jalan-jalan. Siapkan mobil untukku. " titah Leon.


" Baik,tuan muda. " beranjak meninggalkan Leon yang tengah duduk di sofa ruang tamu.


"Tunggu! Aku tidak mau sopir ataupun pengawal. Aku akan mengendarai mobil ku sendiri. "


Pak Kim sedikit ragu tapi dia tau bagaimana sifat tuan mudanya ini. " Baik, tuan muda?! Akan saya persiapkan. " ucapnya karena tak ingin membuat sang tuan muda marah.


Pak Kim menyuruh seseorang menyiapkan mobil tuan muda dan memberitahukan sesuatu kepada anak buahnya.


" Kalian ikuti saja dari jauh, jangan sampai ketahuan. Ingat tugas kalian hanya melindungi tuan muda dan mengikutinya saja. Selebihnya, kalau dia baik-baik saja tidak usah bertindak. " ucap pak Kim kepada beberapa pengawalnya.


Kemudian kembali ke dalam rumah, memberitahu Leon yang tengah menunggunya.


" Baiklah, tuan muda. Semua sudah selesai di persiapkan. " lapor pak Kim.


Leon bangkit dari duduknya dan mengenakan kacamata hitamnya menuju mobilnya yang terparkir di depan.


Dengan segera dia melesatkan mobilnya, yang kemudian di ikuti mobil pengawal, sesuai perintah pak Kim. Semua itu demi berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Karena Leon baru saja menggantikan ayahnya menjabat sebagai Ceo, di perusahaan yang tentu saja dalam dunia bisnis pastilah banyak saingan yang ingin menjatuhkannya atau dendam karena penolakan sebuah kerjasama. Entahlah.


Sheina telah sampai di pantai, baginya melihat air laut begitu menenangkan. Apalagi sudah lama dia tak pergi ke pantai, karena sibuk dengan rutinitas kerja yang hampir menyita semua waktu santainya.


''Ayah, ibu? Apakah kalian melihat Sheina di sini?Tempat yang sering kita kunjungi ini,akan mengurangi rasa rinduku pada kalian. '' ucap Sheina, pandangannya buram karena air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


Dengan cepat Sheina menghapus air mata yang lolos membasahi pipinya itu dan segera menggantikan senyuman yang ia yakini bisa menguatkan hatinya.


Sejak kepergian kedua orangtuanya Sheina telah berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak menangis karena itu akan membuatnya terlihat lemah. Bagaimana pun hidupnya nanti tanpa orang-orang terkasih, dia akan tetap berusaha tersenyum dan berusaha menguatkan hatinya dari keadaan yang bisa saja membuatnya terluka.


Mobil yang di kendarai Leon berhenti di sebuah mini market tepi jalan. Leon memakai kacamata hitamnya dan masker, lalu turun memasuki mini market itu. Dia berjalan ke arah lemari pendingin yang berisi minuman. Dia mengambil beberapa botol dan membayarnya di kasir, setelah itu ia kembali ke mobilnya.


''Apa yang sedang tuan muda lakukan? Kenapa dia tidak menjalankan mobilnya? '' tanya sang pengawal yang mengintainya dari jarak jauh.


''Apakah yang di belinya tadi minuman keras?Atau,,, ??'' sang pengawal tidak meneruskan kata-katanya karena mobil tuan mudanya kembali melaju.


Di dalam mobil, Leon berusaha menelpon kekasihnya,Vallery. Tapi dari kesekian kali panggilannya tak ada satu pun yang di angkat.


''Aarrghh,,,!! Apakah kamu sesibuk itu sampai kamu sekalipun tidak bisa menghubungiku!'' Leon melemparkan ponselnya ke kursi belakang. Lalu menambah kecepatannya dengan perasaan kesal.


Sheina kembali bermain-main dengan ombak ombak kecil pantai. Sesekali dia merentangkan kedua tangannya, menghirup udara segar sebanyak banyaknya.


Dari jauh,di dalam mobilnya Leon memperhatikan seorang gadis yang sedang bahagia dengan ombak ombak kecil pantai,terlihat senang sampai dia lupa rasanya bersedih.


''Siapa dia? Seperti pernah melihat wajah itu." batin Leon.


Dia lalu keluar dari mobilnya. Kembali dia mengamati si gadis yang tak lain adalah Sheina itu.


Terlihat lengkungan di sudut bibirnya, kala memperhatikan gadis itu dengan tingkah konyolnya.


''Heh?! Kenapa dia begitu lucu dengan tingkah konyolnya itu. Dan apa itu, bisa-bisanya dia bersikap seperti itu. Tapi kenapa dia terlihat begitu menggemaskan. '' celoteh Leon.


Sheina kembali berjalan mendekati ombak dan saat ombak kembali bergulung, Sheina berlari-lari sambil tertawa tawa. Begitu menyenangkan, meskipun dia hanya sendiri, tapi dia tidak peduli yang dia tau bahwa hari ini dia begitu bahagia.


Karena merasa lelah, Sheina berniat istirahat dan membeli makanan juga minuman. Tapi langkahnya berhenti saat dia menabrak seseorang yang ada di depannya, karena Sheina berjalan menunduk mencari ponsel yang dia taruh dalam tasnya.


Dug...


''Aduh,maaf maaf aku tidak senga,,, ja. '' ucap Sheina terkejut melihat orang yang di tabraknya.


''Tuan?'' sapanya canggung.


Leon hanya diam menatap Sheina datar.


''Maaf tuan,saya benar-benar tidak sengaja. '' ucapnya lagi.


''Aku tau. '' jawab Leon acuh lalu kembali berjalan.


''Sikap macam apa itu? '' gumam Sheina pelan yang masih terdengar oleh Leon.


''Kamu ngatain aku?! '' tanya Leon.


''Tidak tuan. Permisi. '' Sheina cepat-cepat meninggalkan Leon.


Leon mengulum senyum melihat tingkah Sheina. Matanya tak lepas dari gadis itu hingga tubuhnya menghilang di balik pintu toko kecil.


💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮


Happy Reading teman,,,,,,