Sorry, I Love You...

Sorry, I Love You...
BAB. 47



Tepat jam makan siang Leon menepati janjinya untuk kembali ke rumah sakit menemui Sheina. Hari ini Leon sengaja meliburkan semua karyawannya,hanya demi Sheina agar dapat beristirahat dengan baik. Karena Hana pernah memberitahunya jika Sheina adalah orang paling tidak bisa tenang jika ada beban pikiran dengan pekerjaannya,dia akan tetap melaksanakan tugas-tugasnya meskipun sedang tidak enak badan.


Leon mengetuk pelan kamar rawat Sheina. Tak ada jawaban,Leon pun masuk saja.


Tak ada orang di dalam kecuali Sheina yang tengah tertidur,karena terdengar dengkuran halusnya.


''Dimana mereka berdua? Di suruh jagain malah pergi. '' gerutu Leon.


Lalu mendekat ke arah brankar tempat Sheina berbaring dengan mimpi indahnya. Tangannya meraba dahi Sheina pelan,takut membangunkannya.


''Gadis bodoh. Cepat sembuh. Aku nggak mau lihat kamu berbaring terlalu lama di sini. Itu akan menghabiskan uang ku. '' gumamnya lirih lalu tersenyum.


Samar-samar Sheina mendengar gumaman Leon. Tapi dia tetap pura-pura tidur. '' Apa? Dia bilang,jika aku terlalu lama di sini,aku akan menghabiskan uangnya? Iish! Ternyata dia juga tipe orang yang perhitungan. Memang berapa sih biaya rawat di sini?! Terus siapa juga yang suruh bawa aku ke rumah sakit ini. " batin Sheina.


Leon kembali memperhatikan Sheina. '' Hei bodoh? Kau mendengar ku tidak? Cepat sembuh. Lihat badanmu ini. Ish...?! Kurus sekali,apa kau sedang diet,apa kurang makan. Nanti kalau kau sudah sembuh,aku akan membawamu makan ke tempat mewah dengan makanan yang penuh gizi dan lezat,agar badan mu ini lebih berisi. ''


Mendengar ocehan Leon Sheina lantas membuka matanya,kesal. Leon yang sebenarnya tahu jika Sheina hanya berpura-pura tidur mencoba menggodanya.


''Tuan? Ada apa tuan kesini? Tuan mau menjenguk ku atau mau mengolok ku? '' Sheina bangun dan duduk bersandar bantal.


''Heh...? Siapa suruh kamu pura-pura tidur? Hem. Tidak menjawab orang mengetuk pintu. Kalau yang datang orang jahat bagaimana?! ''


'' Kalau orang jahat kenapa harus ketuk pintu? Lagian aku tadi memang beneran tidur. Tapi saat dengar suara langkah kaki aku terbangun. '' jawab Sheina.


''Lalu mereka berdua kemana? Kenapa tidak ada di sini jagain kamu? '' tanya Leon melayangkan pandangan ke seluruh ruangan.


''Aku menyuruh mereka keluar makan siang. '' jawab Sheina.


''Mereka kan bisa makan di sini atau pesan antar. ''


''Mereka juga butuh bernapas,menghirup udara segar di luar. Lagian di sini kan masih ada suster yang beberapa menit sekali ke sini ngecek aku. ''


''Tapi aku udah percayakan semua sama mereka. Nggak tanggung jawab sama sekali. '' gerutu Leon.


''Sudahlah. Sebentar lagi mereka juga balik kok. ''


''Ceklek!! ''


Pintu terbuka,Hana dan Willy masuk dengan bungkusan di tangannya. Keduanya kaget saat melihat Leon berdiri di samping brankar Sheina dengan tatapan dinginnya.


''Hana?'' rengek Sheina yang memelas minta di peluk.


Sebenarnya Sheina hanya melindungi Hana kalau-kalau bom waktu di dekatnya itu meledak.


Hana menghampiri Sheina dengan sedikit bingung.


''Maaf ya kalau agak lama. Soalnya tadi banyak banget yang beli. '' jawab Hana memeluk Sheina,seperti seorang ibu memeluk anaknya.


''Tuan muda sudah lama? '' basa basi Willy meletakkan bungkusan yang di bawanya ke atas meja.


''Bukankah kalian aku suruh menjaganya. Kenapa kalian keluar? '' tanya Leon tanpa ekspresi.


''Kami hanya membeli makanan di depan rumah sakit ini karena lapar. Tadi waktu kami tinggal My Sweety masih tidur. '' Willy menoleh ke arah Sheina yang masih bergelayut manja pada Hana.


'' Tadi aku ingin makan makanan di luar,karena makanan di rumah sakit sangat tidak enak. Sudahlah tuan,maafkanlah mereka. Toh aku juga baik-baik saja. '' ucap Sheina memelas.


''Hem.'' jawab Leon lalu dengan perasaan dongkol melangkah menuju sofa.


''Kenapa kamu meliburkan kantor hari ini? '' tanya Willy yang sudah duduk di samping Leon.


'' Karena aku tidak bisa kerja jika mataku mengantuk. '' jawab Leon santai.


''Hei?! Sikap macam apa itu? Kau itu bos. Your is the big bos! Dan kamu bebas untuk tidak masuk kapanpun kamu mau walau cuma seharian. ''


''Saat aku tidak masuk dan kamu juga tidak masuk,siapa yang akan memimpin perusahaan. ''


''Hem...? Iya yah?! Tapi aku masih bisa mengerjakan pekerjaan ku meskipun tidak di kantor. '' Willy membuka laptop yang dia ambil dari mobilnya tadi pagi.


Sheina termenung. Menatap ke arah dua orang pria yang sedang berdebat di sebelahnya. Hana hanya tersenyum sesekali.


''Apa ini semua gara-gara aku? '' pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Sheina.


''TIDAK?! '' jawab Leon dan Willy bersamaan.


''Aku mau pulang. '' ucap Sheina lirih.


''Shei? Kamu tenang ya? Kamu harus pulih dulu,paling tidak sampai dokter mengizinkan melepaskan selang infus. '' bujuk Hana.


Sheina menatap ke arah Leon,berharap dia mau menuruti keinginannya. Tapi Leon hanya diam saja,menunduk menatap ke lantai.


''Kamu harus sembuh,baru boleh pulang. '' ucap Leon setelah mengangkat kepalanya.


''Tapi aku takut dengan rumah sakit. Aku tak bisa berlama-lama berada di rumah sakit. '' bantah Sheina.


Leon sedikit tercengang dengan ucapan Sheina,dia teringat dengan papanya yang pernah mengatakan ketidaksukaannya dengan rumah sakit.


Ada apa dengan rumah sakit? Begitulah batin Leon.


''Baiklah. Jika dokter sudah melepas selang infus mu. Aku akan membawamu pulang. '' jawab Leon.


''Terima kasih tuan. '' sahut Sheina senang.


''Leon,aku ada hal yang ingin ku bicarakan dengan Willy. Bolehkah aku berbicara sebentar dengannya di luar? '' tanya Hana.


Sebenarnya Hana hanya ingin memberi waktu Leon dan Sheina berbicara. '' Ayo Will?! ''


Willy yang masih heran dan bingung hanya bisa pasrah mengikuti langkah Hana tanpa bisa bertanya terlebih dahulu padanya.


''Memangnya kamu ingin bicara apa padaku? '' tanya Willy setelah sampai di luar kamar.


''Tidak ada. '' jawab Hana.


''Lalu tadi kamu bilang ada yang ingin kamu bicarakan denganku. ''


''Ssstt..! Aku hanya ingin memberi mereka berdua waktu untuk berdua. '' jelas Hana.


''Ow? Ok,kita tunggu saja di sini. '' ajak Willy di jawab anggukan oleh Hana.


''Maaf ya? '' ucap Sheina memecah keheningan.


''Untuk apa. ''


''Sudah merepotkan kalian semua. '' Sheina menunduk meremas selimut yang menutupi kakinya.


Leon berjalan mendekat ke arah Sheina dan duduk di kursi kecil di samping brankar Sheina.


'' Apa kamu tidak bisa menjaga dirimu sendiri? Hem? Kenapa kamu membiarkan dirimu sakit,jika tidak ingin merepotkan semua orang. '' Leon menatap Sheina.


''Aku juga tidak tahu,terakhir aku cuma merasa pusing terus minum obat yang aku beli dari apotik. Aku sudah terbiasa begitu jika sakit. Tapi nggak tahu kenapa aku sampai demam tinggi. ''


''Benar-benar gadis bodoh. Kamu itu terlalu kecapekan bekerja. Seharusnya aku yang minta maaf sama kamu,karena aku membebankan banyak pekerjaan pada Willy dan berimbas padamu juga. ''


''Itu sudah tugas ku,bukan? ''


Leon meraih tangan Sheina yang membuat Sheina terkejut dan heran. '' Berjanjilah ini adalah yang pertama dan terakhir kamu sakit seperti ini. Aku tidak ingin wanita ku,sakit seperti ini lagi. ''


''Apa? Wa - wanitamu? Maksudnya apa Leon? '' tanya Sheina yang tak lagi memanggil sebutan tuan seperti tadi saat Hana dan Willy masih di sini.


'' Iya. Aku mulai menyukaimu,aku mulai terbiasa berada satu ruangan dengan mu dan aku sangat ketakutan saat mendengar kamu sakit malam itu. ''


''Maksud kamu? Kamu suka sama aku? '' tebak Sheina.


Leon tersenyum menatap mata indah Sheina yang terlihat masih bingung dengan ungkapan perasaan Leon padanya. Sheina sebenarnya sangat bahagia mendengarnya,tapi dia masih ragu dengan apa yang ada di dalam pikirannya dan masih bimbang.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


HAPPY READING.....


JANGAN LUPA NINGGALIN JEJAK YA...


VOTE, LIKE dan KOMEN.....😊😊


TERIMA KASIH....