
'' Ma? Besok kita harus kembali ke Amerika. '' ucap Adinata menutup laptop yang tadi di lihatnya.
''Hlo? Kita kan masih ada waktu 3 hari lagi,pa. Kenapa harus kembali besok? '' tanya Monic.
''Ada sedikit masalah di perusahaan. Dan ini harus segera di tangani. ''
''Apa? Baiklah kalau begitu. Mama akan mempersiapkan semua keperluan kita. ''
''Aku menyuruh Willy kemari,membantu mengurus keberangkatan kita besok. '' ucap Adinata.
"Hemm? Iya. "
Pak Kim berlari keluar saat melihat mobil Willy masuk ke pelataran mansion.
"Selamat datang tuan Willy. " sambutnya ramah.
"Hai pak Kim? Apakah om Adinata ada? '' tanya Willy.
''Tuan besar ada di dalam,tuan Willy. Mari silahkan masuk. ''
Willy mengikuti pak Kim dari belakang. Lalu duduk di sofa ruang tamu,menunggu pak Kim memanggil Adinata di kamar.
" Permisi tuan besar ? Tuan Willy sudah datang. " ucap pak Kim setelah mengetuk pintu kamar Adinata yang terbuka.
"Baik pak Kim,tolong dorong aku ke sana. " jawab Adinata.
Dengan segera pak Kim mendorong kursi roda Adinata menuju ruang tamu yang memang jaraknya sedikit jauh dari ruang tamu .
" Siang om? " sapa Willy,berdiri dari duduknya.
"Siang Will. Duduklah. " jawab Adinata.
" Ini om,Willy sudah menyelesaikan semua dokumen yang om minta. Dan ini tiket pesawat untuk besok pagi. " Willy menyerahkan amplop coklat kepada Adinata.
"Terima kasih Will. Maaf kalau om merepotkan mu. "
"Ah,om ini ngomong apa?! Tidak om. Om tidak pernah merepotkan Willy kok. Kenapa om mendadak balik ke Amerika? Bukannya, om akan kembali tiga hari lagi? " tanya Willy.
"Iya. Hari ini om mendapat telpon dari orang kantor. Katanya di sana sedang ada masalah yang membutuhkan om. "
"Masalah? Apakah begitu darurat? " Willy mengeryitkan keningnya.
"Tidak begitu darurat. Tapi om memang di minta untuk hadir di sana. " Adinata tersenyum.
" Oh? Lalu kenapa om tidak menggunakan jet pribadi dan malah memesan tiket pesawat biasa. "
Adinata hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Willy. " Om ingin menikmati perjalanan layaknya orang yang baru berkunjung ke negeri orang. Hahaha....? "
" Hahaha...? Om bisa saja. "
"Hai Will? " sapa Monic saat keluar dari kamar.
"Siang tante Monic. " balas Willy.
"Baiklah kalian ngobrol saja dulu. Aku mau ke kamar menyimpan ini. " ucap Adinata mengangkat amplop coklat yang di pegangnya.
Dengan cekatan pak Kim yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari mereka segera mendorong kursi roda Adinata menuju kamar kembali.
" Will? Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih sudah mau menjaga Leon dan membimbingnya di perusahaan. " ucap Monic.
"Iya tante. Ini belum seberapa dengan apa yang tante dan om berikan kepada keluarga kami dulu. "
"Will? Tolong bantu tante lagi untuk terus menjaga Leon. Aku tahu sekarang ini dia lagi bahagia dengan perasaannya terhadap Sheina. Dan tante tidak ingin melihat dia kehilangan kebahagiaannya. Tante tahu semua tentang gadis yang pernah mengisi hatinya dulu. Meski kalian pernah merahasiakannya dariku karena ternyata dia bukan gadis baik-baik. ''
'' Tentu,tante. Willy sudah mengambil tanggung jawab ini saat om Adinata menyerahkan tugas ini pada Willy. Dan Willy akan selalu melaksanakan tugas-tugas Willy dengan baik. '' jawab Willy.
'' Bagaimana hubunganmu dengan wanita cantik teman Leon itu? Kapan kamu akan mengenalkan dia padaku? '' tanya Monic dengan mimik menggoda.
''Tan-tante tahu darimana kalau aku....? ''
''Namanya Hana kan? Kelihatannya dia punya kharisma yang luar biasa. Sampai bisa meluluhkan hati anak Arga yang luar biasa keras ini. '' Monic menyindir lagi.
''Hahaha...? Tante bisa saja. Heh? Willy juga tidak tau tan,kenapa Willy begitu mudahnya menaruh hati padanya. Apakah tante dulu juga begitu? '' balas goda Willy.
''Kalau begitu Willy pamit kembali ke kantor dulu ya,tante. Tadi Willy hanya ijin keluar sebentar sama Leon. '' ucap Willy seraya berdiri dari duduknya.
''Oh? Ok. Nanti biar tante bilang ke om. Hati-hati di jalan,Will. ''
''Iya. Permisi tante. '' Willy melangkah keluar menuju mobilnya. Dan melesat pergi meninggalkan mansion Adinata untuk kembali ke kantor.
Setelah dengan susah payah membujuk Leon untuk tidak makan siang dengannya karena ingin makan siang dengan teman-temannya,akhirnya Sheina berhasil meski sempat membuat Leon marah.
''Hai Via,Zein ? '' sapa Sheina saat menyusul kedua temannya ke kantin kantor.
''Hai Sheina? Kenapa kamu ada di sini? '' tanya Via dan Zein saling tatap.
''Memangnya kenapa? Nggak boleh ya aku makan siang sama kalian kayak dulu? ''
''Bukan begitu? Memangnya kami tidak menemani tuan muda makan siang? '' tanya Via celingukan takut ada yang mengirim pengawal.
''Enggak. Aku sudah ijin makan dengan kalian tadi. Lagian dia juga bisa makan sendiri kan? '' jawab Sheina.
'' Tapi Shei? Ya sudahlah sini duduk. Kita makan bareng kayak dulu. '' ucap Via menepuk kursi di sebelahnya sambil tersenyum senang.
Willy berjalan ke arah ruangan Leon setelah kembali dari mansion.
Saat mengetuk pintu kaca dan tak mendapat jawaban,seperti biasa Willy masuk begitu saja.
''Tuan muda masih di sini? Kenapa tidak menjawab ku. Ku kira tuan muda sedang makan siang. ''
''Kenapa kamu ke sini. Apakah sudah selesai dengan tugasmu. '' tanya Leon datar.
''Beres. '' Willy menyapukan pandangan ke ruangan. Seperti ada yang kurang tapi apa?
''My sweety kemana? ''
Leon mendongakkan kepala menatap Willy tajam.
''Tak bisakah kau merubah panggilan mu itu?! " seru Leon.
" Tidak. " jawab Willy tegas.
"Heh..!! Terserah. " Leon mendengus kesal.
" Ada apa tuan muda? Apakah dia meninggalkan mu sendiri untuk makan siang? " tanya Willy menebak.
" Dia minta ijin ingin makan siang dengan teman-temannya di kantin kantor. " jawab Leon dengan nada kesal.
"Bagus itu. " jawab Willy sekenanya.
"Apa maksudmu!! " seru Leon makin kesal.
" Leon? Jangan terlalu mengekangnya. Kau tau dia sudah terbiasa melakukan apa pun sendiri? Dia itu sudah terbiasa mandiri. Jika dia berani meminta ijin padamu untuk dirinya sendiri. Apa kamu tidak bisa menghargai perjuangannya? "
" Perjuangan? " Leon mengerutkan alisnya tidak mengerti.
" Iya. Karena dia juga pasti menyiapkan kata-kata yang pas agar tidak membuatmu marah dan betapa susahnya dia harus meminta ijinmu, ya meskipun pada akhirnya kamu marah juga. " Willy melemparkan tubuhnya ke sofa.
Leon berpikir sejenak. Dan menatap ke arah Willy.
"Lalu aku harus bagaimana? "
"Berikan apapun yang bisa membuatnya senang. Toh dia juga tidak setiap hari bisa bersama dengan temannya. Jangan membuatnya tertekan bersama mu. Kamu tahu tidak mudah mencintai gadis yang terbiasa hidup mandiri. Dan dia pun juga berusaha beradaptasi dengan hubungannya yang sekarang karena tidak sendiri lagi. Jadi hargai keinginannya. "
Willy menatap ke arah Leon. Berharap Leon bisa mengerti dengan apa yang dia jelaskan padanya. Dan Willy nampak lega saat melihat lengkungan di bibir Leon.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
HAPPY READING....
JANGAN LUPA VOTE, LIKE dan KOMEN ya.....
FAVORIT IN JUGA...😊😊
TERIMA KASIH...😉😉😉