
Leon membuka matanya. Mengedarkan pandangan ke segala arah. Dia tak mendapati gadis manisnya berada di sana. Leon menajamkan matanya lalu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Jam menunjukan hampir jam tujuh malam. Sudah 2 jam dia tertidur di sofa dengan selimut bulu hangat menutup tubuhnya. Leon tersenyum,betapa perhatiannya gadis itu padanya,begitu batinnya.
''Kamu sudah bangun? '' suara lembut itu mengagetkannya yang tengah melipat selimut.
Sejenak Leon menatap ke arah Sheina yang telah tampak rapi dengan pakaian casualnya. Sederhana tapi terlihat mempesona.
''Leon? '' panggil Sheina karena heran melihat Leon yang menatapnya.
''Ah? Iya. Terima kasih selimutnya. '' jawab Leon pelan.
''Iya. Jadi kita makan malam di rumahmu? '' tanya Sheina mengambil selimut yang ada di sofa.
''Iya. Boleh aku ke kamar mandi sebentar? '' tanya Leon.
''Tentu. Silahkan,aku akan mengantarmu,sekalian aku ingin menaruh selimut di kamar. '' sahut Sheina.
Leon mengikuti Sheina dan berjalan di belakangnya. Matanya terus tertuju ke arah potret keluarga Sheina yang tergantung di dinding.
''Itu kamar mandinya. '' ucap Sheina menunjuk pintu yang berada di ujung kamarnya.
''Oh? Ok. '' Leon berjalan menuju kamar mandi sedangkan Sheina masuk kembali ke kamar menaruh selimutnya.
Saat membuka pintu kamar mandi,Leon mencium aroma yang begitu segar. Sama seperti aroma tubuh Sheina. Leon menghirup aroma itu dalam-dalam dan mengingatnya,mungkin suatu saat wangi ini yang akan membuatnya candu. Wangi segar gadis kesayangannya.
Setelah selesai mencuci mukanya,Leon keluar dari kamar mandi dan di kejutkan Sheina yang berdiri tepat di depan pintu membawa handuk di tangannya.
''Maaf jika aku mengagetkan mu. '' ucapnya iba.
''Tidak. '' Leon tersenyum.
''Ini baru dan sudah di cuci. Pakailah untuk mengelap mukamu yang basah. '' Sheina menyodorkan handuk kecil itu.
Leon menerimanya dan mengusap mukanya dengan handuk itu. Lagi-lagi dia mencium aroma wangi segar seperti di dalam kamar mandi tadi. Sungguh wangi yang begitu memabukkan.
''Kau kenapa Leon? '' tanya Sheina heran melihat Leon yang sedang menciumi handuk yang di berikan padanya.
''Ah?Tidak. Aku hanya mencium wangi segar handuk ini. '' jawab Leon.
''Heem? Oh iya,itu aku cuci dengan sabun kesukaanku. Apakah benar wangi? ''
''Em!? ''
''Oh iya,Leon? Kita makan malam jam berapa? '' tanya Sheina.
''Oh ****! Aku lupa. '' Leon menepuk jidatnya. Melihat jam tangan yang menunjukkan jam setengah 8 malam.
''Kita berangkat sekarang. '' Leon menarik tangan Sheina tanpa pikir panjang lagi.
''Tunggu Leon! '' seru Sheina.
''Ada apa lagi? '' tanya Leon tanpa melepas genggaman tangannya.
''Aku ambil tas dan ganti alas kaki. '' ucap Sheina menunjuk sandal rumah yang masih di pakainya.
''Oh. Maaf. Baiklah,aku tunggu di sini dulu. '' Leon kembali duduk di sofa.
Sheina segera berlari menuju kamarnya mengambil tas yang akan di bawanya dan kembali setelah memakai sepatu. Benar-benar berpenampilan sederhana,tapi tetap terlihat cantik.
Sementara itu di Mansion....
''Pa? Kok Leon belum pulang? Kan mama sudah bilang kita makan malam jam 8. '' ucap Monic mulai gelisah.
''Mungkin dia sedang terjebak macet,maklum kan karena jam pulang kantor begitu rame. '' jawab Adinata dengan santainya.
''Pak Kim?! '' panggil Monic.
''Iya nyonya besar,ada yang bisa saya bantu? '' pak Kim berjalan ke arah Monic.
''Apa tuan muda juga sering terlambat begini? ''
''Tapi kenapa sampai sekarang belum pulang? Apakah ada masalah di jalan? Harusnya jam pulang kantor kan sudah dua jam yang lalu. '' ucapnya panik.
''Tenanglah ma? Mungkin Leon sedang menjemput gadis itu. '' sahut Adinata.
Sejenak Monic berpikir lalu tersenyum lega,melihat ke arah pintu masuk. Dua sejoli berjalan bergandengan tangan menuju ke arahnya.
''Selamat malam tante,om. Maaf kami terlambat,karena tadi Leon ketiduran saat menjemput ku. '' sapa Sheina.
''Apa? '' Monic berlari kecil mengitari meja makan yang berbentuk bulat lonjong itu.
''Dia tidak berbuat macam-macam sama kamu kan? Apakah dia sudah.....? ''
''Ma..?! Leon masih punya batasan?! '' seru Leon memotong ucapan mamanya yang mungkin saja sedang berpikiran yang tidak-tidak.
''Hahaha...! Memang mereka kenapa ma? '' tanya Adinata yang ikut menggoda putranya.
''Ah,,sudah-sudah! Ayo sayang,kita makan. Tante sudah masak makanan yang spesial buat kamu. ''
''Terima kasih tante. '' Sheina duduk di depan Leon.
Monic melayani Sheina sendiri,mengambilkan makanan apa saja yang dia masak agar bisa Sheina cicipi dan memberinya penilaian tentang rasa masakan.
Suasana makan malam berjalan begitu lancar. Semua makanan habis tak bersisa. Mereka semua nampak begitu bahagia.
''Terima kasih tante. Masakan tante benar-benar lezat. Sheina benar-benar suka. '' ucap Sheina ramah.
''Benarkah? Tante seneng kalau kamu suka masakan tante. Lain kali tante bisa masakin kamu sebanyak yang kamu mau,bagaimana? ''
''Hehehe..! Makasih tante. Tante tau? Makanan tadi rasanya sangat mirip dengan masakan ibu. '' ucap Sheina.
'' Apa kamu merindukan ibumu? '' tanya Monic pelan.
''Iya tante. Sangat merindukannya. Apalagi saat pertama kali Sheina bertemu dengan tante,Sheina melihat ada sesuatu yang sama dengan ibu ada pada tante Monic. Sheina tidak tahu itu apakah benar atau hanya kebetulan saja. '' ucap Sheina terbata.
''Boleh tante tahu? Seperti apa sosok ibumu,sayang?'' Monic membelai pipi Sheina.
''Ibu sama seperti tante. Suka sekali memasak makanan untuk aku dan ayah. Jika aku dan ayah makan makanan di luar ibu pasti akan memarahi kami. '' ucap Sheina menerawang.
''Pasti ibumu sangat menyayangi kalian. Oh iya. Kata pak Kim kamu pernah bikin puding? Apakah itu juga ibumu yang mengajari? ''
''Hehem? Iya tante. ''
Entah apa saja yang di bicarakan Monic dan Sheina.Mereka sudah tampak seperti ibu dan anak.
''Kapan kamu akan melamarnya. '' tanya Adinata,memperhatikan dua orang wanita tengah berbincang di depan televisi.
''Leon belum tau pa? Leon ingin mengenal lebih jauh tentang dia. ''
''Leon? Jika kamu sudah merasa dia adalah orang yang tepat buat kamu,ikat hatinya. Karena kita tidak akan tahu kedepannya bagaimana. Yah,,,siapa tahu akan ada banyak saingan yang akan mendapatkan perhatiannya. ''
''Maksud papa? '' Leon mengerutkan alisnya.
''Status pacar itu belum bisa memiliki sepenuhnya. Hanya hati dan perasaannya saja. Sedangkan hati dan perasaan itu bisa berubah kapan saja. ''
''Lalu bagaimana dengan mereka yang sudah menikah dan bercerai? '' tanya Leon.
'' Yah itu tergantung pribadi masing-masing Leon. Tapi kalau papa lihat. Dia adalah gadis yang sangat gigih dan mandiri,pasti sudah sering mengalami hal sulit yang dia hadapi sendirian. Dan gadis yang seperti ini akan mempunyai mental yang kuat. '' tegas Adinata.
Leon hanya manggut-manggut mendengar ucapan Adinata. Dia harus belajar banyak tentang kehidupan dari papanya. Mungkin secepatnya dia akan melamar Sheina,mendekapnya menjadi wanitanya seutuhnya.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
HAPPY READING......
JANGAN LUPA VOTE, LIKE dan KOMEN ya.....
JADIIN FAVORIT JUGA😊😊
TERIMA KASIH🙂🙂🙂