
'' Aaahh...!! '' suara leguhan yang di iringi teriakan kecil menandai klimaksnya percintaan dua sejoli yang sedang di mabuk cinta.
Justin mencium kening Vallery yang basah oleh keringat. Menyelimuti tubuh polosnya dan membiarkan dia menenangkan otot-otot tubuh yang tadi menegang.
'' Terima kasih sayang? Kamu benar-benar luar biasa. Servis yang perfect sekali. '' ucap Justin yang terkulai di sebelah Vallery.
Vallery hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Justin. Tubuhnya terasa lemas,tulang-tulangnya seperti rontok semua. Hal ini memang bukan yang pertama kali dia rasakan. Tapi setelah dia di tinggalkan oleh semua teman kencannya dulu,baru kali ini dia merasakan kembali kenikmatan yang pernah dia rasakan dulu.
'' Aku capek sayang. Biarkan aku tidur sebentar ya? '' Vallery memejamkan matanya.
'' Tidurlah sayang. Biarkan aku memelukmu dan mari tidur bersama. '' Justin merengkuh tubuh polos Vallery yang di balut selimut dan mendekapnya kedalam pelukannya.
*****
" Nona? Lihatlah ini sepertinya bagus. " Mei mengambil gaun yang terlihat sederhana tapi terlihat anggun.
" Aku coba dulu ya Mei. Nanti panggilkan tuan muda. Tunggu di sini,aku ganti dulu. " jawab Sheina menerima gaun yang di berikan Mei padanya.
" Siap nona. " Mei menunggu di luar fitting room.
Sheina masuk ke fitting room dan memakai gaun yang di sarankan Mei padanya. Tak perlu waktu lama untuk memakainya karena memang ukuran gaun Sheina yang pas di tubuhnya.
'' Mei? Bagaimana? '' tanya Sheina saat keluar dari fitting room.
Mei melongo menatap Sheina yang memakai gaun pilihannya itu. '' Nona benar-benar cantik dan gaun ini sangat pas buat nona. ''
'' Benarkah? Coba kita tanya tuan muda. '' Sheina berjalan ke ruangan depan menemui Leon.
'' Sayang? Kalau ini bagaimana? '' tanya Sheina melangkah anggun dengan gaun yang di pakainya.
Terlihat Leon duduk menunggu dengan memainkan ponselnya. Lalu mendongak mengangkat kepalanya menatap ke arah Sheina.
'' Iya, say......?? '' Leon terperangah melihat Sheina yang begitu cantik dan anggun dengan gaun yang di pakainya,berdiri tak jauh dari hadapannya.
'' Bagaimana tuan muda? Apakah nona cantik dengan gaun ini? '' tanya Mei.
'' Aa,,,eheem,,,iyaa? Cantik. '' jawab Leon canggung.
'' Jadi aku pulih ini saja ya? '' tanya Sheina.
''Em,,iya? Nggak apa-apa. Kalau kamu sudah cocok dan suka dengan gaun ini kamu boleh membelinya.''
Sheina tersenyum senang,lalu mengajak Mei kembali ke fitting room untuk mengganti pakaiannya.
'' Apakah tuan muda benar-benar menyukai gaun yang aku pakai tadi,Mei? '' tanya Sheina.
'' Terlihat jelas nona,tuan muda begitu kagum dan terpesona saat melihat nona tadi. ''
'' Benarkah? Tapi tadi dia seperti terlihat biasa saja.''
'' Ah nona? Tuan muda memang begitu,dia tidak akan mau memperlihatkan ekspresi kagumnya secara langsung. Gengsi mungkin lebih tepatnya. ''
Mei berkata dengan begitu jelasnya. Tanpa ada rasa bersalah sudah mengatai majikannya. Apa jadinya dia kalau ucapannya itu terdengar oleh Leon. Hehehe...aduh Meiππ
'' Hahaha...? Kamu berani bilang begitu. Nanti kalau tuan muda dengar bagaimana. '' Sheina menertawakan ucapan Mei.
'' Ops...? Maaf. '' Mei dengan cepat membekap mulutnya sendiri.
'' Hahaha...? Kamu itu lucu sekali. Ya sudah tunggu sini aku mau ganti bajunya dulu. ''
'' Baik nona. '' jawab Mei.
Mei duduk di kursi yang ada di depan ruangan itu. Memikirkan nasibnya andai omongannya tadi di dengar tuan mudanya.
Mei bergidik ngeri. Mungkin saja tuan mudanya itu akan langsung mengirimnya kembali ke tempat kerja sebelumnya.
Mei memang terlihat muda dari segi umur. Tapi sejak menjadi orang kepercayaan Adinata, Mei sudah pernah menjalani test terlebih dahulu. Dan ternyata Mei pernah menjadi atlit taekwondo di usia yang begitu dini. Bahkan dia pernah di ajari bagaimana menembak.
'' Hai Mei? Ayo. '' Sheina membuyarkan lamunan Mei.
'' Iya nona. '' jawab Mei.
Keduanya kembali ke depan tempat Leon menunggu. Mei membawa gaun yang tadi di pakai Sheina dan berjalan mengikuti Sheina dari belakang.
'' Aku udah selesai sayang. Jadi aku milih gaun yang tadi aja,simple nggak terlalu mewah. Itu tadi Mei loh yang bantu aku pilihin. Iya kan,Mei. ''
'' Kamu kenapa Mei? Kok gugup. '' tanya Leon menelisik.
'' Ah? Ti-tidak apa-apa tuan muda. '' jawab Mei masih gugup.
'' Ya sudah suruh Venny bungkus gaun itu. '' ucap Leon menyebut pegawai butik yang memang di sini adalah langganan mamanya dulu. Jadi dia tau.
'' Venny? Tolong bungkus ini. Aku mau ini. '' ucap Leon menunjuk gaun yang di bawa Mei.
'' Baik tuan muda. '' jawab Venny.
Mei menyerahkan gaun itu pada Venny. Dengan cekatan Venny melipat gaun itu dan memasukannya ke paper bag berwarna pink. Lalu menyerahkannya kembali pada Mei.
'' Sudah tuan muda. '' Mei menunjukkan paper bag yang di bawanya.
''Hem. Kamu dan nona tunggu aku di mobil,biar aku menyelesaikan pembayarannya. Sayang,tunggu aku di mobil ya. ''
'' Baik. Ayo Mei. '' Sheina mengulurkan tangan menggandeng tangan Mei,keluar dari butik itu.
Mei mengangguk dan mengikuti langkah Sheina keluar dari butik menuju mobil Leon yang terparkir di tempatnya.
'' Apakah nona itu adalah calon istri tuan muda? '' tanya Venny.
'' Hem. '' jawab Leon mengulurkan kartu hitam miliknya dan memberikannya pada Venny.
'' Sangat cantik tuan muda. Selamat untuk anda. '' Venny menyerahkan kembali kartu hitam Leon dan memberikan lagi padanya beserta resi pembayaran.
'' Terima kasih. '' jawab Leon lalu pergi menuju mobilnya.
Saat sedang berjalan menuju mobilnya,Leon melihat mobil yang melintas di jalan seberangnya. Samar dia melihat seorang perempuan sedang tertawa lepas dengan seorang pria yang mengendarai mobil tersebut yang terlihat jelas karena jendela mobil yang terbuka.
''Vallery...?? " batin Leon.
" Siapa pria itu? "
Rasa kecewa itu kembali menyusup ke dalam hatinya. Baru beberapa minggu yang lalu dia bilang tak mau kehilangan dirinya,tapi kini dia sudah bersama dengan pria lain dan terlihat bahagia. Bukan karena dia cemburu dia bersama pria lain. Melainkan Leon belum bisa sepenuhnya melupakan penghianatan Vallery padanya.
'' Hey? Ada apa? '' tanya Sheina yang melihat Leon tak fokus.
'' Hem? Tidak apa-apa. Tadi aku hanya melihat sesuatu yang seharusnya tak aku lihat. '' jawab Leon.
'' Apa? '' Sheina mengerutkan keningnya,heran.
'' Nothing. Hal nggak penting. '' Leon mulai menghidupkan mesin mobilnya.
'' Owh. '' Sheina tak menanggapi serius.
'' Sekarang kamu mau kemana? Biar aku antar. '' tanya Leon.
'' Sepertinya aku ingin membeli kado buat Via. karena minggu depan adalah ulang tahunnya. Aku ingin memberinya hadiah kejutan. Antarin aku ke toko sovenir ya? '' pinta Sheina.
'' Baiklah. Cuma itu aja? Ada yang lain? '' tanya Leon lagi.
'' Hem? Apa ya? Sepertinya itu saja. Aku tidak ada rencana ke tempat lain hari ini. '' jawab Sheina lesu.
'' Baiklah. Setelah membeli kado kamu pulanglah istirahat di rumah. Mei? Tolong nanti bantu nona siapkan aromatherapy untuk berendam. Dan pastikan dia rileks jangan berendam terlalu lama. '' titah Leon.
'' Baik tuan muda. '' jawab Mei.
Sheina menatap Mei yang tersenyum jail ke arahnya dari kursi penumpang. Sheina seakan tau arti senyum Mei itu yang jika di artikan Mei bilang ke Sheina '' So Sweet " begitulah kira-kira maksudnya.
π΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈ
**HAPPY READING.....
JANGAN LUPA DUKUNG DENGAN
VOTE
LIKE
KOMEN
TERIMA KASIH....πππ**