
Terlihat kilatan amarah di mata Leon yang menatapnya. Pria di samping Vallery heran tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
''Leon aku bisa jelaskan semuanya. '' ucap Vallery bibirnya bergetar menahan rasa takut.
''Berapa lama kau melakukan hal seperti ini? '' tanya Leon.
''Aku,,,,aku? '' Vallery tak bisa meneruskan kata-katanya.
''Siapa kalian sebenarnya? Sayang? Apa kau mengenal mereka?! '' tanya Rey bingung yang masih tidak mengerti.
''Tuan Reyan Antonio? Apakah kamu tidak tahu siapa wanita yang kau ajak kemari ini? Dia adalah kekasih pemilik Adt Group. Tuan Leon Axell Adinata. Dan mereka hampir saja bertunangan tapi untung,,,,,?! '' Willy menghentikan ucapannya saat Leon menyahut dengan cepat kata-katanya.
''Untung saja Tuhan memberitahu ku lebih awal. Siapa sebenarnya wanita ini dan seperti apa dia!! Begitu sangat menjijikkan!! '' ucap Leon menekan kata menjijikkan yang membuat Vallery hampir jatuh terkulai lemas,tapi dengan sigap Rey menahannya.
''Leon? Maafkan aku,,,aku?! Aku benar-benar tidak bermaksud untuk mendua kan mu. Leon,aku,,,,?!''
''Cukup! Lalu ini apa?!! Hah,, !! Aku tidak suka di bohongi dan kamu jelas-jelas membohongi ku. Dasar kau wanita murahan,,,!! '' geram Leon meninggalkan Vallery dan Rey.
''Silahkan lanjutkan kesenangan kalian. Aku permisi dulu. '' pamit Willy dengan senyum sinis ke arah Vallery.
''Tunggu sekretaris Willy! Apakah ini semua karena kamu. Kamu menyuruh orang memata-mataiku selama ini!! '' teriak Vallery kesal.
''Aku cuma ingin menjaga nama baik keluarga Adinata. Jadi siapa pun yang berhubungan dengan keluarga Adinata,itu tak akan lepas dari pengawasan ku termasuk siapa saja yang pura-pura baik atau hanya sekedar memanfaatkan keluarga Adinata. Permisi! '' Willy pergi meninggalkan Vallery dan Rey.
...****************...
Leon mengendarai mobilnya dengan kencang. Jalanan lenggang membuatnya sangat leluasa untuk menambah kecepatannya. Pikirannya begitu kacau,hatinya sakit,dadanya sesak. Tak tau harus pergi kemana. Lalu dia membelokkan mobilnya ke sebuah jalanan perumahan pinggiran kota.
Saat berhenti Leon menatap rumah minimalis berukuran mini yang terlihat sederhana itu. Dia mengambil ponselnya,melihat jam tangan yang sudah menunjukan pukul satu malam.Tapi masih terlihat cahaya lampu di dalam rumah itu.
Leon menekan panggilan keluar. ''tuut,,,,,!! '' bunyi nada dering.
''Halo tuan,ada apa? " jawab orang dalam panggilan itu.
''Sheina? Apa kamu sudah tidur? '' tanya Leon,yang ternyata memanggil Sheina.
''Belum tuan,aku baru saja selesai melihat televisi. '' jawab Sheina.
''Oh? Iya aku lihat lampu rumahmu masih menyala. ''
''Hah? "
Sheina lari menuju pintu depan dan membukanya. Terlihat mobil yang pernah mengantarnya pulang berada di depan rumah luar pintu pagarnya.
Leon yang melihat Sheina keluar dari rumahnya,hanya tersenyum dari dalam mobil.
Sheina mendekat ke arah mobil itu. ''Tuan ada apa kemari? Ini sudah malam. Apakah ada sesuatu yang bisa aku bantu? '' tanya Sheina.
Entah kenapa tiba-tiba dia mengingat kejadian yang baru saja terjadi padanya. Leon reflek memeluk Sheina,menangis.
''Tuan? '' panggilnya lirih. Punggung kekar itu bergetar hebat.
''Dia sudah mengkhianati ku Shei. Hati ku benar-benar sakit. '' ucap Leon dalam tangisnya.
Sheina melepas pelukan Leon dan membawanya masuk ke dalam rumah. Mendudukkannya di sofa dan mengambilkan segelas air putih untuknya.
Penampilan Leon sangatlah kacau,tidak seperti biasa yang terlihat gagah dan berwibawa.
''Maaf tuan? Apa yang sebenarnya terjadi? '' tanya Sheina.
''Aku baru saja memergokinya berselingkuh dengan pria lain di hotel. Dia sudah benar-benar membuatku sangat marah. Aku menyesal baru menyadarinya sekarang. '' ucap Leon geram.
''Dia? Maksud tuan nona Vallery? '' Sheina terkejut.
''Hem?! " Leon menenggak habis minumannya. Lalu menatap Sheina yang duduk di sebelahnya.
"Maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu. "
"Ah,,,tidak tuan,aku juga baru selesai menonton film tadi,juga belum begitu mengantuk. "
"Baiklah kalau begitu aku permisi dulu. Terima kasih minumnya. " Leon bangkit dari duduknya.
" Iya tuan. " jawab Sheina sopan.
"Bukankah sudah aku bilang jangan memanggilku tuan jika bukan di kantor. Aku bukan tuan mu."
"Hehehe,,,,? Iya maaf tu,,,Leon. " Sheina cengar cengir membenarkan panggilannya.
Leon tersenyum ada perasaan bahagia saat mendengar Sheina menyebut namanya meskipun masih terasa canggung. Leon mengusap puncak kepala Sheina dan melangkah keluar menuju mobilnya.
"Hati-hati Leon,jangan ngebut ini sudah malam. " ucap Sheina melambaikan tangannya.
"Iya. " jawab Leon tersenyum geli. Lalu kembali menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan Sheina.
" Kamu lebih terlihat tampan jika tersenyum Leon. Dan aku menyukai senyuman itu. " gumam Sheina,tersenyum untuk dirinya sendiri.
Sheina memang sudah menyukai Leon sejak dia berada di dekatnya menjadi sekretarisnya. Awalnya Sheina hanya menyukai wajah tampan nan cuek big bosnya itu. Tapi lama kelamaan perasaan itu muncul lebih dari sekedar mengagumi wajah tampan itu. Terkadang sikap Leon yang melindunginya dan sikap tegasnya dengan semua orang,mampu membuat Sheina mendambakannya.
Tapi perasaan itu pernah menyakitkan Sheina kala tau ternyata Leon sudah mempunyai kekasih yaitu Vallery. Sheina hanya mampu memendam perasaannya dalam-dalam. Hingga hari ini perasaan itu tiba-tiba muncul dengan sendirinya.
Tapi Sheina tetap sadar diri,sesuka apapun dia pada Leon dia tak akan pernah mampu bersanding dengan orang besar seperti Leon. Baginya dia tetaplah bosnya. Dan tentang perasaan itu biarlah yang tahu hanya dirinya sendiri.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️