Sorry, I Love You...

Sorry, I Love You...
BAB. 28



Sheina melemparkan tubuhnya ke sofa,setelah sampai di rumah. Tubuhnya terasa sangat lelah,hari ini begitu melelahkan meski raganya bersenang senang dengan teman-temannya,tapi pikirannya berkelana entah kemana.


''Aku kenapa sih hari ini? Otak ku susah banget di kontrol!! " gerutunya kesal pada dirinya sendiri.


Matanya melirik jam tangan warna putih yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


" Masih jam 4 sore. Aku males banget mau mandi. Ya,,,Tuhan ada apa dengan ku hari ini?!!! " teriak Sheina keras. Suaranya mampu memenuhi seluruh ruangan.


Ponselnya berdering sesaat dia memejamkan matanya.


''Halo...? Leon...?!! " matanya kembali terbuka saat tau siapa yang menghubunginya. Bergegas dia merapikan pakaiannya yang nampak begitu lusuh.


"Sheina kamu bawa laporan rapat kemarin ke sini. "


"Hah?! Ke situ? Kamu sekarang di kantor? Ini kan hari libur! " seru Sheina.


"Ke rumah ku,sebentar lagi akan ada mobil yang menjemputmu kemari. "


"Tap,,,tapi,,??!! " sambungan sudah terputus.


"Dasar big bos gila!! Ops,,?! " teriak Sheina lalu buru-buru menutup mulutnya. Bibirnya tersenyum senang,tiba-tiba moodnya kembali seperti semula.


''Kenapa kau menyuruhnya kemari? '' tanya Willy sesaat setelah Leon menutup panggilannya.


''Aku hanya menyuruhnya mengantarkan berkas-berkas hasil rapat kemarin yang belum aku sempat lihat. '' jawab Leon dengan nada datar.


''Apakah kamu ingin mengajaknya kencan malam ini? '' goda Willy.


''Tutup mulutmu?! Apa yang sedang kamu pikirkan?!'' dengus Leon.


''Tidak usah berpura-pura dengan ku. Aku tahu kamu menyukai gadis manis itu,Leon. '' goda Willy.


''Omong kosong. '' Leon menghindari tatapan Willy yang membuat Willy semakin terkekeh dengan sikap Leon.


Setengah jam kemudian mobil yang di kirim Leon untuk menjemput Sheina pun tiba.


Tin,,,,tin,,,,tin,,,,,,!!


Sheina sudah bersiap dengan berkas-berkas yang akan ia bawa. Sheina keluar dan tak lupa mengunci pintu rumahnya. Kemudian berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Terlihat seorang pria paruh baya keluar dari dalam mobil menyapa Sheina dengan hormat dan sopan.


'' Nona Sheina? Selamat sore?'' sapanya membungkukkan badan.


''Eh? Iya pak selamat sore. '' jawab Sheina canggung.


Pria itu membukakan pintu mobil untuk Sheina. '' Silahkan nona? Tuan muda sudah menunggu nona di rumah. ''


''Ba,baik pak. Terima kasih. '' Sheina masuk dan pria itu menutup pintu lalu berlari kecil mengitari mobil menuju kemudi.


Perlahan mobil berjalan menjauh dari rumah Sheina dan berbaur dengan mobil lain di jalan raya ibu kota.


...****************...


Sudah satu bulan ini Vallery tak bisa menghubungi Leon. Dalam hatinya dia pun menyesal telah menghianati cinta Leon padanya. Vallery berusaha menemui Leon ke kantornya,namun selalu saja di usir scurity yang di perintahkan Leon. Bahkan Vallery tak pernah tau kapan Leon keluar dari kantor meskipun dia pernah menunggunya seharian di luar.


Bahkan Rey yang dulu bilang menyukainya kini tak bisa lagi dia hubungi. Dan hari ini dia nekat memberanikan dirinya datang ke rumah Leon,meskipun pada akhirnya nanti dia akan di usir tak mengapa yang penting dia bisa bertemu dengan Leon dan meminta maaf atas semua kesalahannya.


Di sini lah hal yang tidak pernah di ketahui Vallery. Dulu Leon sangat mencintainya bahkan pernah memberinya kesempatan kala Vallery ingin mengejar cita-citanya. Tapi Vallery tidak pernah tau sifat Leon yang sesungguhnya. Bahwa jika dia sudah kecewa atau sakit hati pada seseorang,dia tidak akan pernah bisa memaafkannya.


'' Silahkan nona. '' ucap sang sopir membukakan pintu mobil untuk Sheina.


Sheina keluar dan matanya membelalak melihat rumah besar dan mewah yang ada di depan matanya. Bahkan Sheina tidak sadar saat sang sopir memanggil namanya untuk masuk ke dalam rumah.


'' Nona? Nona Sheina? '' panggil sang sopir.


''I,,iya pak? Maaf. Apakah ini benar rumah tuan Leon pak? '' tanya Sheina ragu.


''Benar non,mari silahkan masuk. '' sang sopir menunjukan arah menuju pintu ruang tamu,karena jarak dari pintu gerbang ke rumah cukup jauh.


''Pak Kim? Nona Sheina sudah ada di sini. '' ucap sang sopir saat berada di depan pintu.


''Nona Sheina? Selamat sore,tuan muda sudah menunggu nona di dalam. '' ucap pak Kim sopan.


''Terima kasih pak,,,? '' Sheina berhenti berucap karena tidak tau harus bagaimana harus memanggil.


''Panggil saja saya pak Kim. Saya adalah ketua pelayan di rumah ini. '' jawab pak Kim.


''Oh iya,terima kasih pak Kim. '' jawab Sheina ramah.


Pak Kim mempersilahkan Sheina mengikutinya menuju ruang tamu,dimana Leon dan Willy menunggu kedatangannya.


'' Tuan muda? Nona Sheina sudah di sini. '' ucap pak Kim saat sampai di ruang tamu.


''Selamat sore tuan,sekretaris Willy. '' sapa Sheina.


''Sheina? Akhirnya kamu datang juga. Apa kamu tau tuan Leon sudah menunggumu dari tadi. '' ucap Willy dengan senyum menggodanya.


''Hah? Eh,iya tuan ini berkas yang tuan minta. '' Sheina menyerahkan beberapa berkas yang tadi di bawanya.


''Kamu ingat ini bukan sedang berada di kantor. '' ucap Leon dingin.


''Oh iya,maaf. ''


Willy menebak maksud dari ucapan Leon pada Sheina. Willy merasa ada sesuatu di antara mereka berdua. Tapi Willy belum tau apa yang sebenarnya.


'' Silahkan duduk Shei? '' ucap Willy mempersilahkan.


''Terima kasih Will? '' sahut Sheina.


Mendengar panggilan akrab Sheina ke Willy,Leon langsung menghentikan kegiatannya memeriksa berkas. Leon memicingkan matanya ke arah Willy,kesal.


'' Aku sudah memeriksanya semua. '' ucap Leon datar.


'' Kenapa cepat sekali tuan? '' tanya Sheina tanpa menyadari ucapannya.


''Sudah berapa kali ku bilang ini bukan di kantor! " seru Leon.


Sheina terkejut dengan ucapan Leon. Lalu berpikir apa ada ucapannya yang salah. Dia baru menyadari kalau dia sudah setuju memanggil nama saat dirinya berada di luar jam kerja.


''Maaf Leon. '' ucap Sheina pelan sedikit canggung.


''Hem. '' jawab Leon datar tapi dalam hati dia juga merasa senang.


Willy yang seolah-olah menemukan sesuatu yang membuatnya aneh langsung tertawa tanpa sungkan.


''Hahaha,,,,?!! Kalian berdua ini kekanak-kanakan sekali. '' ucapnya sambil tertawa memegangi perutnya.


''Apa kau ingin mati! '' ucap Leon dengan nada keras,menahan malu.


''Sudah,sudah? Aku akan pulang meneruskan mimpiku saja. Eh,,tapi apakah aku boleh ikut makan malam di sini? '' tanya Willy.


''Terserah kau saja! '' jawab Leon ketus.


''Maaf tu,,? Leon? Apakah aku sudah boleh pulang?''tanya Sheina memberanikan diri.


''Maaf nona kami sudah masak makan malam untuk nona,jadi bisakah nona pulang setelah makan malam? '' ucap pak Kim tiba-tiba.


Terlihat lengkungan bibir Leon membentuk senyuman kemenangan. Sheina melirik Leon yang dengan cepat mengubah ekspresinya. Mulutnya komat kamit merutuki big bosnya.


''Baiklah pak Kim. Terima kasih. '' jawab Sheina kembali duduk.


''Shei? Apakah kamu ingin melihat-lihat bunga di taman belakang? Kalau suasana sore begini biasanya anginnya spoi menenangkan. '' tawar Willy.


''Benarkah? Tapi tidak sopan berjalan-jalan di rumah orang tanpa izinnya kan? '' jawab Sheina.


Leon kembali tersenyum mendengar jawaban Sheina. Seakan menyindir Willy yang memang bukan tuan rumah.


''Kalau begitu biar aku antar kamu melihat taman belakang. '' sahut Leon.


''Baiklah kalau Leon mengizinkan. '' jawab Sheina senang. Matanya berbinar gembira.


'' Ikut aku. '' Leon berdiri dan mengajak Sheina menuju taman belakang.


''Eh,,Willy? Kamu tidak ikut? '' Sheina menoleh ke arah Willy.


''Oh, ten,,,,,? '' belum sempat meneruskan kata-katanya Leon kemudian menjawab.


'' Tentu tidak,Willy ada urusan dengan pak Kim. '' sahut Leon memicingkan matangnya ke arah Willy.


Willy yang mengerti maksud Leon pun menjawab dengan menahan tawanya.


''Oh iya aku mau mencari pak Kim. Kamu pergilah dengan tuan muda. ''


''Oh,oke?! ''


Leon mengajak Sheina ke taman belakang rumahnya. Tempat dimana dia selalu menikmati hari liburnya jika tidak ingin keluar jalan-jalan. Taman ini sangat luas yang sebagian di tanami berbagai jenis bunga.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️