
''Halo Shei. '' sapa Hana saat pintu rumah Sheina terbuka.
''Hai Han? Hai Willy. Leon? '' Sheina melayangkan senyum.
''Udah baikan? Kapan bisa masuk kerja? '' tanya Hana.
'' Mungkin besok. '' jawab Sheina melirik ke arah Leon yang dengan cueknya masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa.
''Shei,lebih baik istirahat dulu sampai benar-benar sembuh. '' bisik Willy saat melewati Sheina.
''Tapi ini sudah hampir seminggu dan aku sudah benar-benar sehat sekarang?! '' seru Sheina.
Hana menahan tawanya,karena dia tau Sheina sedang menyuarakan kekesalannya terhadap Leon.
Tapi Leon justru acuh tak acuh menanggapinya. Seperti tak mendengar ucapan Sheina.
'' Tenanglah baby,kamu besok boleh masuk kerja kok,biar aku yang antar jemput. '' jawab Willy.
Seketika Leon menatap geram ke arah Willy yang di balas sikap acuh pada Leon. Leon menarik napasnya menenangkan rasa kesal yang menderanya.
''Baiklah,besok kamu masuk kerja. Aku akan menyuruh seseorang menjemputmu besok pagi. ''
Hana dan Willy saling pandang,tersenyum puas. Memang hanya Willy yang bisa membuat Leon patuh dengan mengandalkan Sheina.
'' Makasih. '' ucap Sheina tersenyum manja kepada Leon yang membuatnya jadi salah tingkah.
''Hem. Akhem? Iya. Tapi kamu harus ingat tidak boleh sakit lagi. '' ucapnya kembali duduk.
Willy mendekat. '' Tidak perlu malu tuan muda,begitulah cinta,begitu manis bukan? Hingga membuatmu merona. ''
Leon memelototi Willy sambil kembali bersikap biasa saja. '' Diam kau...!! '' geram Leon.
...****************...
'' Bagaimana apa kalian sudah mendapatkan informasi yang aku inginkan? '' tanya seorang wanita yang sedang memoles kukunya.
'' Sudah nona. Kami sudah mendapatkan informasi yang nona inginkan. " jawab dua orang laki-laki yang menjadi orang suruhannya.
" Bagus. Jadi? Bagaimana hubungan mereka? '' tanya wanita itu.
''Mereka sudah pacaran tapi masih dalam tahap pengenalan satu sama lain. '' jawab laki-laki bertubuh kekar itu.
''Apa? Jadi mereka bersama sekarang?! '' seru si wanita.
"Iya,nona? "
"Baiklah. Kalian boleh pergi,uangnya akan aku transfer untuk kalian nanti. ''
''Baik,nona. Terima kasih,kami pergi. '' pamit dua orang laki-laki itu.
''Sial!! Jadi ini yang ingin kamu lakukan padaku,Leon! Kamu menyuruh ku kembali ke Paris. Karena kamu ingin bersama gadis itu?!! '' teriak wanita itu.
Vallery. Ya,dialah yang menyuruh orang untuk memata-matai Leon beberapa hari ini. Amarah yang selama ini ia tahan,kini dia luapkan dengan membanting barang apa saja yang ada di dekatnya.
''Kalau aku tidak bisa mendapatkan mu,jangan harap gadis itu bisa bersamamu Leon...!!'' teriaknya.
Sebenarnya waktu itu Vallery memang sudah ingin berangkat ke Paris. Namun rasa ingin memilikinya terhadap Leon semakin besar. Lalu dia memutuskan untuk tetap berada di ibu kota dan membeli rumah di pinggiran kota agar tak mudah di temukan orang-orangnya Leon.
Bahkan dia rela memutus kontrak kerjanya,agar bisa tak kembali ke Paris. Sejak putus dari Leon dia sudah tidak lagi tertarik dengan tujuan awalnya. Bahkan orang-orang yang pernah menjadi kekasihnya pun tak pernah lagi menghubunginya. Itulah kenapa Vallery kembali menginginkan Leon.
Karena begitu percaya diri jika Leon masih menyukainya dan ada perasaan padanya. Vallery berpikir bahwa Leon memutuskan hubungan dengannya hanya karena rasa kecewa saja dengan kebohongannya. Dan dia pasti akan kembali padanya.
Tapi nyatanya kini Leon malah berpaling darinya dan memilih gadis yang pernah menjadi sekretarisnya di kantor. Vallery merasa sangat membenci Sheina,karena dia merasa gadis itu sudah merebut cintanya.
Dalam amarahnya yang meluap,Vallery bertekad menyusun rencana untuk membuat Leon kembali padanya lagi.
'' Kamu hanya milik ku Leon. Tak akan ada wanita lain yang boleh memiliki mu selain aku. '' ucap Vallery dalam geramnya.
''Shei? Aku dan Willy pulang dulu yah? '' pamit Hana.
''Makasih ya Han,udah datang ke sini jengukin aku. Aku seneng banget. ''
''Nggak nanya. '' jawab Sheina cuek.
''Pff...!! " tawa Leon tertahan.
"Yah kok gitu sih Shei? "
"Hehehe. Makanya kalau ada orang ngomong itu jangan nyamber aja. " balas Hana ketus.
"Yah nasib. " jawab Willy lemas.
"Ya sudah,Shei. Aku pulang dulu ya? Ayo Will?! " ajak Hana.
Keduanya pun berpamitan pulang,tinggal Sheina dan Leon di sana. Leon masih saja bersikap biasa saja dan menikmati acara tv yang di lihatnya.
" Hari ini kita makan di rumahku ya. Mama masih ingin bertemu denganmu. " ucap Leon menatap Sheina yang duduk di sampingnya.
"Oh,ya sudah kalau gitu aku siap-siap dulu yah. ''
Sheina hendak pergi namun dengan cepat Leon menarik tangan Sheina sehingga dia terjatuh di atas pangkuannya. Memeluk dan mendekapnya erat.
"Kamu kenapa? " tanya Sheina yang bingung dengan sikap Leon yang tiba-tiba memeluknya.
"Aku kangen sama kamu. " ucapnya lirih.
"Kan tiap hari kita ketemu. " ucap Sheina yang sedikit risih karena hidung Leon menempel pada leher jenjangnya.
Terasa hangat hembusan napas itu. Leon terdiam,tangannya masih tetap memeluk tubuh Sheina yang ada di pangkuannya dengan erat,seakan tak mengizinkan Sheina jauh-jauh darinya.
Perlahan hembusan napas itu berubah jadi dengkuran halus,Leon tertidur. Sheina mengusap lembut kepala Leon dan mencoba melepaskan pelukan tangan Leon yang mulai mengendur.
Pelan-pelan Sheina berdiri dari pangkuan Leon. Lalu membaringkan tubuhnya di sofa. Menatap dan mengelus wajah tampan yang ada di depannya.
Perasaan Sheina saat ini sungguh begitu bahagia. Big bos yang dulu diam-diam dia sukai kini malah menjadi kekasihnya.
Sheina melangkah pergi menuju kamarnya lalu kembali membawa selimut dan menyelimuti pria yang tengah tertidur itu.
Setelah puas memandang wajah tampan kekasihnya,dia pun bergegas membersihkan diri untuk pergi makan malam dengan Leon.
...****************...
Sementara itu di mansion Monic bolak balik dapur mempersiapkan makan malam dengan calon menantunya.
"Nyonya? Istirahatlah biarkan ini di kerjakan oleh koki. " ucap pak Kim.
"Oh tidak bisa pak Kim. Ini adalah makan malam spesial dengan calon menantuku,jadi sebagai calon mertua yang baik aku harus menyiapkannya sendiri. Biar kelak dia bisa betah menjadi menantuku. " jawab Monic yang masih saja berkutik dengan sayur dan bumbu-bumbu.
Adinata yang sedari tadi memperhatikan tingkah istrinya hanya bisa tersenyum.
"Tugasmu hanya membantuku mencicipi makanan ini,jadi biarkan aku yang memasaknya. " ucap Monic.
"Baiklah nyonya. Tapi tolong hati-hati. Biarkan pelayan juga ikut membantumu,nyonya. "
" Pak Kim?! Bisa tolong bantu aku,menyiapkan baju untuk ku pakai nanti. Sepertinya istriku tidak akan sempat mengurusi ku lagi,karena menyambut calon mantunya. " sindir Adinata,tapi tak di hiraukan Monic yang terlalu sibuk dengan masakannya.
Pak Kim tersenyum. " Baik tuan besar,saya akan membantu anda berganti pakaian.
Pak Kim mendorong kursi roda Adinata memasuki kamarnya. Membantu memilihkan baju yang akan di pakainya saat makan malam nanti.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
HAPPY READING.....
JANGAN LUPA VOTE , LIKE dan KOMEN ya....
JADIIN FAVORIT JUGA.....😁😁
TERIMA KASIH....😊😊😊