
Willy sangat kelelahan hari ini. Weekend yang seharusnya bisa di jadikan hari istirahatnya dan bermalas-malasan di kamar apartemennya, tertunda karena beberapa tugas yang harus dilakukannya.
Langkahnya gontai setelah turun dari mobilnya yang ia kendarai untuk mengantar Adinata dan istrinya ke bandara. Willy memang lebih suka menyetir sendiri di banding harus di antar supir,karena dengan begitu dia bisa benar-benar menjaga keselamatan orang yang di bawanya.
''Tuan Willy? Selamat datang kembali. '' sapa pak Kim.
'' Pak Kim? Tolong buatkan aku kopi. Aku akan istirahat sebentar di kamar tamu. '' Willy melemparkan tubuhnya ke sofa.
''Baik tuan Willy,segera di buatkan kopi anda. '' jawab pak Kim ramah.
''Oh ya pak! Bagaimana dengan Leon? Apakah sudah bangun? '' tanya Willy.
''Sudah tuan,dokter Erick juga sudah melepas infusnya. Sekarang tuan muda berada di kamar sedang istirahat dengan nona Sheina. '' jawab pak Kim.
''Apa?! Sheina di kamar Leon. '' Willy terlonjak lalu menaiki tangga menuju kamar Leon.
Tok...tok....tok.....!!
Willy mengetuk pintu dengan tidak sabar. ''Leon,,? ''
Pintu terbuka dari dalam terlihat Sheina menutup mulutnya dengan jari telunjuknya. Mengisyaratkan Willy agar tidak berisik.
''Ssssttt...!! Willy jangan keras-keras. Leon baru saja tidur. '' kata Sheina dengan suara pelan.
'' Sheina? '' Willy melihat ke dalam kamar,terlihat Leon sedang berbaring di ranjang dengan selimut menutup separuh tubuhnya.
Sheina menarik Willy menjauh dari kamar Leon. Keduanya kembali turun ke ruang bawah. Kopi pesanan Willy sudah siap di atas meja ruang tamu.
''Kamu kenapa? Sepertinya sangat khawatir? '' tanya Sheina.
'' Bagaimana Leon? Lalu apa saja yang dia lakukan padamu di dalam? '' selidik Willy.
''Hei,hei,hei...? Apa yang ada dalam pikiranmu,Will? ''
''Hehehe,,,? Ti-tidak ada. '' jawab willy bohong.
''Ish..!! Pasti memikirkan yang tidak-tidak. '' ucap Sheina kesal.
''Em. Bagaimana Leon? Apa dia sudah sadar? '' Willy mengalihkan topik pembicaraannya.
Willy terdiam,meraih kopi yang di buatkan pak Kim dan meminumnya. Sheina dengan sabar menunggui Willy. Pandangannya menatap ke luar rumah.
''Sudah. Ceritakan apa saja yang kamu lakukan tadi di kamar Leon? '' Willy telah selesai menikmati kopinya.
'' Maksud kamu apa,Willy? Emangnya aku melakukan apa? Aku hanya membantu dia berjalan keluar di balkon saat pak Kim dan pelayan eh maksud ku mbak-mbak membereskan kamarnya. ''
''Hahaha..? Mbak-mbak?! Namanya Mina dan Ulfa,kamu belum kenalan sama mereka? ''
'' Ya aku kan nggak tau dan juga belum kenal,kalau manggil pelayan gitu aja kan nggak sopan. '' gerutu Sheina.
''Lalu apa lagi setelah itu? Kamu juga yang bantuin dia mandi? '' goda Willy.
'' Eh! Enggak! Leon di bantu pak Kim tadi. '' jawab Sheina lantang.
''Ya nggak apa-apa kalau kamu yang bantuin dia mandi,nanti kamu juga akan terbiasa dan harus terbiasa. '' Willy melipat lengan bajunya sampai siku.
''Maksud kamu apa,Will? Eh iya,tadi Leon....? Em,,,Em,,,tadi dia mel-lam-mar ku. '' kata Sheina mencoba memberitahu Willy.
'' Apa?! Leon melamar mu? '' seru Willy yang langsung bangkit dari duduknya dan pindah ke samping Sheina. '' Terus...?? ''
''Aku sudah menerimanya. Apa aku terlihat gampangan,Will? ''
'' Hem..? Kok gampangan? Justru itu bagus. Yang artinya kamu akan jadi adik ipar aku. '' dengan senang Willy memeluk Sheina.
'' Iih...Willy! Apa-apaan sih! Jangan gitu dong. '' Sheina mendorong Willy.
''Hahaha,,,? Aku senang sekali,Shei. '' tawa gembira Willy pecah. '' Jadi?kapan kalian menikah? ''
'' Aku nggak tahu? '' suara Sheina pelan.
'' Hem. Ya sudah,biar nanti aku omongin sama Leon. '' Willy mengusap pucuk kepala Sheina.
Entah apa yang ada di dalam pikiran Sheina saat ini. Dia bahagia karena akan menikah dengan pria yang selama ini yang memang sangat dia cintai. Tapi dia sedih,tentang siapa yang akan menjadi walinya nanti,karena sudah tak mempunyai siapa-siapa lagi.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
HAPPY READING......