
''Pa? Apakah Leon benar-benar akan membawa gadis itu kepada kita? '' tanya Monic saat mereka sudah berada di dalam jet pribadi yang mereka tumpangi menuju Indonesia.
'' Memangnya kenapa? Apakah kamu tidak menyukainya? '' Adinata memandang istrinya yang menatap padanya.
''Bukan itu. Aku tidak keberatan putra kita menyukai gadis itu. Tapi apa papa pernah memperhatikan foto yang Leon kasih lihat ke kita dua hari yang lalu? Gadis itu sepertinya sangat mirip dengan Widia,pa. ''
''Maksud mama? Widia istri Prasetya? ''
'' Iya pa? Dari mata dan caranya tersenyum begitu sangat mirip dengannya. '' ucap Monic,mengenang wajah istri rekan kerja suaminya itu.
''Mungkin hanya kebetulan saja ma? Mama tahu kan di dunia ini kita mempunyai banyak wajah yang mirip dengan kita meski bukan saudara bahkan tak ada hubungan kekerabatan. ''
''Eemm. Iya pa. '' Monic tersenyum dan memeluk lengan suaminya.
''Leon? Apa kau benar-benar sudah jatuh hati dengan Sheina. '' tanya Willy tetap fokus mengemudi.
''Iya. Aku sudah membicarakan ini dengan papa dan mama saat di Amerika. ''
''Benarkah? Lalu apa tanggapan mereka berdua? ''
''Mereka tidak mempermasalahkan aku dekat dengan siapa? Asal itu gadis baik-baik. ''
"Sudah ku duga. Om Adinata pasti bisa melihat mana yang terbaik untukmu. "
"Apa maksudmu? Apa kau sudah memberitahunya lebih dulu,sebelum aku?! "
"Tidak? Sama sekali tidak,karena aku juga mendukung cara tuan muda ku ini memperkenalkan calon menantu keluarga Adinata. "
''Ciih?! "
"Kapan kamu akan membawa Sheina pada om Adinata? "Willy melirik Leon yang membuang pandangan ke luar jendela mobil.
"Malam ini papa dan mama pulang ke rumah. Mereka akan mengunjungi seseorang. "
" Benarkah? Kalau begitu aku tidak akan pulang ke apartemen ku malam ini. Aq merindukan tante Monic. " ucap Willy dengan senyum lebarnya. Lalu kembali fokus menyetir.
Sheina membuka ponselnya dan mengirim pesan kepada Hana. Malam ini tubuhnya terasa sangat tidak bertenaga.
...Pesan Terkirim...
..." Han? Bisa temani aku malam ini nggak? Tidur di rumahku ya? Aku sangat tidak enak badan. "...
"Ting! "
...Pesan Masuk...
''Siap! Aku ke rumahmu sekarang. Apa perlu aku panggilkan dokter? Atau belikan obat di apotik. Kamu udah makan belum? Biar aku beliin makan sekalian. "
Sheina tersenyum,betapa bahagianya dia bisa mengenal Hana yang selalu ada untuknya dalam keadaan apapun juga. Lalu Sheina membalas pesan Hana.
...Pesan Terkirim...
" Tidak usah,Han. Aku sudah minum obat yang aku beli tadi saat pulang kerja. Aku juga udah makan. "
" Ting! ''
...Pesan Masuk...
" Baiklah kalau begitu. Aku on the way ke sana. Bentar lagi sampai. Tunggu yah😘 "
Sheina berbaring di sofa karena kepalanya terasa pusing. Beberapa kali dia menarik napas karena hidungnya tersumbat.
Tak lama kemudian Hana pun tiba. Sheina berjalan perlahan menuju pintu saat mendengar bunyi ketukan dari luar.
''Hai Han? '' sapa Sheina sesaat setelah pintu terbuka.
''Sheina?! Kamu nggak apa-apa kan? '' Hana meraba kening Sheina. Karena Hana merasa wajah Sheina terlihat pucat.
'' Aku panggil dokter ya,Shei? Badan kamu panas. ''
''Nggak usah Han,ini cuma demam biasa. Tadi aku udah minum obat,sebentar lagi juga reda panasnya. Aku udah sering gini kok. ''
''Ya sudah aku bantu kamu ke kamar istirahat ya? Kalau sakit nggak usah kerja dulu,Shei. Biar nanti aku yang bilang ke Willy. '' Hana membantu Sheina berbaring di ranjang.
'' Jangan terlalu memaksakan diri. Kamu tinggal di rumah sendiri nggak ada yang ngurus,kalau kamu kenapa-kenapa gimana? ''
Sheina hanya tersenyum mendengar celotehan Hana,hingga dia merasa mengantuk dan tertidur.
Hana menyelimuti tubuh Sheina dan mengelus pipinya lembut.
''Kasihan kamu Shei? Andai kamu dulu mau tinggal bersama ku,mungkin kamu nggak akan seperti ini keadaanya. ''
Hana pergi ke dapur mengambil wadah dan mengisinya dengan air lalu mengambil handuk kecil di laci nakas kamar mandi untuk mengompres Sheina.
...****************...
'' Halo om,tante selamat datang. '' sapa Willy saat Adinata dan Monic tiba di rumah besar.
''Willy? '' Monic memeluk keponakan tersayangnya.
''Hai pa? Hai ma? Selamat datang di rumah besar. ''
Leon memeluk papa dan mamanya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Willy mendorong kursi roda yang Adinata duduki. Sedangkan Leon mengikutinya dari belakang.
''Selamat datang tuan besar dan nyonya. '' sambut pak Kim dan para pelayan.
''Halo pak Kim. Bagaimana keadaan rumah selama aku tidak di sini? ''
''Semua sama seperti dulu nyonya,semua dalam keadaan baik-baik saja. '' jawab pak Kim ramah.
''Bagus. Terima kasih sudah bekerja keras selama ini. ''
''Sudah menjadi tugas saya nyonya. Silahkan duduk nyonya,saya akan mengambilkan anda minum. ''
''Ok,terima kasih pak Kim. ''
''Maaf om,aku tidak bisa ikut ke Amerika saat om terkena musibah di sana. '' ucap Willy.
''Sudahlah,tidak apa-apa Will. Om tau kamu harus menggantikan posisi Leon saat dia terbang ke Amerika waktu itu. '' jawab Adinata.
'' Pa,ma sebaiknya kalian istirahat di kamar. Bukankah begitu capek di perjalanan? '' tawar Leon.
'' Iya. Oh ya Willy,bagaimana perusahaan? Apakah menemui banyak kendala? ''
''Tidak om,semua berjalan lancar. Itu semua karena sikap tegas Leon yang memimpin perusahaan. Sama seperti saat perusahaan di pimpin sama om dulu. ''
''Bagus kalau begitu. Kalian memang benar-benar bisa di andalkan. '' puji Adinata.
Semua tersenyum senang. Hanya Leon yang bersikap biasa saja. Entah apa yang sedang dipikirkannya,karena sejak pulang dari kantor dia terlihat sangat aneh.
''Baiklah kalau begitu om dan tante istirahat dulu ke kamar ya. '' ucap Monic sesaat setelah meneguk minuman yang di buatkan pak Kim.
''Ya om,tante. Silahkan. '' jawab Willy yang di barengi senyum paksa Leon.
Willy duduk di sebelah Leon. Matanya menatap Leon tajam. Sedangkan Leon hanya terdiam tak bergeming dengan sikap Willy padanya.
''Ada apa denganmu? '' tanya Willy.
''Memangnya aku kenapa? '' balik tanya Leon.
''Hei? Tuan muda ku? Sikapmu itu aneh dari tadi aku perhatikan. Apa ada yang kau pikirkan? Kau terlihat tidak tenang malam ini. ''
''Aku juga tidak tahu. Ada rasa khawatir yang sedari tadi aku rasakan. Tapi aku sendiri tidak tahu,aku sedang mengkhawatirkan apa. '' jawab Leon.
''Sebaiknya tuan muda istirahat saja. Karena hari ini sungguh sangat melelahkan. Aku akan tidur di kamar tamu bawah. Jika tuan muda ada perlu,aku siap membantu. Hehehe..? '' Willy menepuk pundak Leon dan berlalu menuju kamar tamu untuk tidur.
''Hem...!! " jawab Leon.
Leon pun pergi menuju kamarnya yang berada di lantai 2. Pikirannya masih kacau tidak tahu apa yang di pikirkannya. Leon melepas dasi yang masih setia menggantung di lehernya dan melepas kemeja kerja yang di kenakannya tadi lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
Happy Reading guyz,,,,,,
Jangan lupa Vote, Like, dan Komentarnya yaaah,,,,😊😊😊😊