
Sheina turun dari mobil saat mobil yang membawanya memasuki parkiran sebuah pemakaman umum yang luas. Willy yang mengendarai mobil juga ikut turun di ikuti Leon dan Hana.
'' Tuan muda? Sepertinya aku pernah kesini? '' ucap Willy mengingat.
'' Benarkah. Kau kan bukan berasal dari sini? Kenapa kamu tahu tempat ini? '' tanya Leon heran.
'' Itu benar tuan muda. Aku pernah ke sini. Ya,,,? Aku mengantarkan tuan besar kemari. '' jawab Willy ingat.
'' Papa? Untuk apa papa kemari? Bukankah dia juga bukan berasal dari sini? ''
'' Aku juga tidak tahu. Tuan besar bilang dia juga ingin mengunjungi sahabatnya di sini. Tapi aku tidak tahu siapa. Karena tuan besar menyuruh ku menunggu di mobil saja waktu itu. ''
'' Kalian sedang ngobrol tentang apa? '' tanya Hana.
'' Tidak? Hanya saja sepertinya aku pernah kesini. '' jawab Willy santai.
Leon mengikuti Sheina yang sudah berjalan sampai tengah. Di antara banyaknya gundukan tanah dan batu nisan yang di hiasi hijaunya rerumputan.
Sheina seperti sudah hafal betul dengan tempat ini. Itu terlihat dari cara dia berjalan lurus tanpa ada mengingat atau menoleh mencari sesuatu.
'' Apakah kamu sudah menemukannya? '' tanya Leon.
'' Iya. Ayo? '' Sheina menggandeng tangan Leon.
'' Di sini. Ini Ayahku dan yang sebelah itu ibu ku. '' Sheina menunjuk pusara keramik berwarna hitam.
Leon menatap kedua pusara itu,lalu dia duduk jongkok di samping pusara itu mengikuti Sheina yang bersiap mengirim doa untuk kedua orang tuannya.
Setelah mengucap amin,Sheina membuka matanya dan tersenyum.
'' Hai ayah,ibu. Sheina datang kesini lagi. Kali ini Shei tidak sendiri,Shei membawa seseorang ke sini untuk bertemu kalian. Kami berdua ingin meminta restu ayah dan ibu. Kami akan menikah. Dia calon pendamping Shei. '' ucap Sheina,matanya mulai terbata.
Leon langsung memeluk dan menggenggam tangan tangan Sheina. Air mata yang sempat di tahannya kini telah jatuh membasahi pipi mulus itu.
'' Apa kita tidak seharusnya ke sana? '' tanya Willy yang memperhatikan kedua orang itu dari parkiran mobil.
'' Sebaiknya jangan mengganggu mereka,kita tunggu saja di sini. '' jawab Hana.
'' Kamu benar,sayang. Aku juga tidak kuat melihat wanita menangis. Heh? ''
Hana melirik ke arah Willy yang menundukkan kepala persis orang yang sedang mengheningkan cipta.
'' Sudah berapa banyak wanita yang menangis karena mu? '' tanya Hana datar.
Mendengar pertanyaan Hana,Willy dengan sigap mengangkat kepalanya. Lalu mendekat ke arah Hana.
'' Tidak pernah sayang. Tidak pernah ada wanita yang menangis karena ku. Kamu only one. "
" Jangan bohong! " seru Hana.
" Sumpah. Aku belum pernah menyukai wanita selain kamu. " gombal Willy.
" Benarkah? "
Willy dengan cepat menganggukkan kepalanya. "Iya. "
" Awas kamu berani macam-macam. Apalagi bohong sama aku. Sekejam kejamnya kamu,aku jauh lebih kejam dari pada kamu. "
" Iya,aku nggak berani macam - macam. Cuma kamu seorang. Serius. " Willy mengacungkan dua jari membentuk huruf "V".
Hana tersenyum puas melihat keseriusan Willy.
" Aku sangat merindukan ayah dan ibu. Hiks ! "
"Tenang,Shei. Tuhan sudah menjaga mereka di sisinya. Kamu harus tabah,selalu kirimkan doa untuk mereka. Mereka pasti akan bangga melihatmu kini jadi anak yang berbakti. " ucap Leon menenangkan.
Sheina segera mengusap air matanya. Mengusap batu nisan ayahnya. " Baiklah kita pulang sekarang."
" Baik lah. "
Leon dan Sheina pun berjalan meninggalkan makam itu dan kembali menemui Hana dan Willy yang sudah lama menunggunya.
" Shei? Kamu nggak apa-apa kan? " tanya Hana khawatir saat melihat mata Sheina sembab.
" Aku baik-baik saja kok Han. " Sheina tersenyum.
" Apa kamu mau ke warung pak Wawan? Sepertinya kita sudah lama tidak ke sana? Aku kangen banget dengan nasi bakar buatannya. " ajak Hana.
" Waah! Bener banget Han. Aku juga pengen banget ke sana,sekalian mengenang masa-masa awal kita berteman. Tapi apa mereka mau ikut makan dengan makanan kampung? " tunjuk Sheina ke arah Willy dan Leon yang sedang asyik berbincang di depan mobil.
" Tunggu. Biar aku saja yang bicara pada Leon. Mungkin dia akan mengerti. Sebentar ya. " Hana berjalan ke arah dua orang pria.
" Bagaimana sayang? Apakah kita sudah bisa pulang? " tanya Willy melihat Hana mendekat padanya.
" Eem? Leon? Bisa kita antar Sheina ke satu tempat lagi? Aku rasa ini akan membuatnya senang kembali. "
" Satu tempat? Kemana? " Leon mengernyitkan dahinya.
" Tempatnya tidak jauh dari sini. Hanya saja agak masuk ke perkampungan,dekat dengan tempat tinggal dia dulu. " jawab Hana takut-takut Leon tak memberi izin.
Leon menatap Sheina yang masih memandang nanar jauh ke arah makam kedua orang tuanya. Lalu menatap Willy meminta pendapatnya dan di jawab dengan anggukkan kepala.
" Baiklah? Antar dia ke sana. " jawab Leon.
Mereka pun pergi ke tempat yang di maksud Hana. Leon melihat pemandangan sekitar yang memang masuk ke perkampungan. Jauh dari keramaian dan juga jauh dari kata mewah.
" Apa kamu tidak keberatan aku memintamu ikut ke sini? " tanya Sheina.
" Kenapa harus keberatan? Hem? Bukankah di sini juga kamu dulu tumbuh? "
" Em. Bisa di bilang,di sini adalah tempat kelahiran ku. " Sheina tersenyum riang.
"Will? Kita berhenti di sini saja. Parkir kan mobilnya di sini. Karena untuk masuk ke tempat itu kita harus jalan kaki. Tidak mungkin membawa mobil,karena jalanan sempit. " ucap Hana.
" Oh? Ok. "
Willy menghentikan mobilnya di sebuah lahan luas yang hampir mirip lapangan. Setelah meminta izin parkir pada salah satu warga sekitar,mereka berempat pun turun dari mobil.
" Uuhh...?!! Udara sore di sini segar sekali. " ucap Willy merenggangkan otot-ototnya.
" Tentu saja. Di sini memang kampung yang masih asri. Selain masih asri dan segar kebersihan di sini juga selalu di jaga biar tetap terlihat indah dan tidak kalah dengan kota. " jawab Hana sambil melewati gang-gang kecil kampung yang memang tampak rapi dan bersih.
" Sepertinya kamu juga tahu banyak di sini. " ucap Leon.
" Ya pasti dong. Kan dulu saat pertama kali berteman dengan Sheina,aku juga sering ke sini. Iya kan Shei? "
" Iya. Hana yang selalu bantu aku,saat aku pindahan ke ibu kota dulu. Aku cuma punya teman dia. " Sheina memeluk lengan Hana.
Leon hanya tersenyum melihat betapa sayangnya Sheina pada Hana. Orang yang dulu juga pernah menjadi teman baiknya saat kuliah.
" Nah kita sudah sampai. " ucap Sheina senang. Berhenti di sebuah warung makan sederhana.
Leon dan Willy saling pandang. Heran. Willy menatap ke arah Hana dan dia pun hanya memberi senyuman sebagai jawabannya.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
**HAPPY READING.....
JANGAN LUPA SELALU DUKUNG KARYA KU DENGAN
VOTE
LIKE
KOMEN
TERIMA KASIH....☺️☺️☺️**