Sorry, I Love You...

Sorry, I Love You...
BAB 11



Leon terkejut saat Willy masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Willy tersenyum begitu dingin padanya.


''Ada apa? Kenapa kau melupakan sopan santunmu saat masuk ruangan orang. ''


''Apakah pria yang suka ngomong kasar dengan wanita juga bisa disebut pria sopan? Tidak Leon. '' jawab Willy.


''Apa maksud mu?! '' Leon bertanya heran.


''Apakah tuan muda ku ini gampang sekali melupakan hal yang baru saja di lakukannya! '' ucap Willy sinis.


'' Apa kau sedang membela gadis itu! Ada hubungan apa kamu dengannya! Apa kau menyukainya! Heh !'' balas Leon tak kalah sinis.


''Kalau iya, aku menyukainya kenapa! Anggap saja aku sedang membela gadis yang aku suka karena aku tidak terima kau membentaknya. '' bentak Willy.


''Cih! Jadi sejak kapan kau menyukai seorang gadis! Bukankah kamu sendiri pernah bilang tidak akan membuka hati untuk siapapun juga. ''


''Apa aku perlu melaporkannya padamu masalah perasaanku. Apakah om Adinata akan tetap mempertahankanmu sebagai penerusnya kalau tau sifatmu seperti ini! Aku rasa tidak! '' ucap Willy dingin.


''Apakah kau sedang mengancamku! ''


''Mengancam mu atau tidak, suatu saat om Adinata juga akan tau sendiri. '' ucap Willy berbalik ingin pergi dari ruangan Leon, tapi langkahnya terhenti.


''Asal kamu tahu gadis ini jauh lebih baik dari apa yang kamu pertahankan selama ini.Heh! Apakah dia benar-benar mencintaimu! Tentu kau sendiri yang lebih mengetahuinya tuan muda. '' Willy menekan kata kata tuan muda, lalu keluar dari ruangan Leon.


''Aarrgh,, !! Brengsek!! Ada apa dengan ku hari ini! ''


Leon mengambil foto itu lagi. Memandangnya dan tersenyum, lalu teringat dengan Sheina yang tadi di bentaknya dengan kasar, melihatnya menangis, membuat Leon sedikit merasa bersalah. Tapi dia terlalu gengsi untuk minta maaf. Lalu dia mengambil ponsel dan menekan tombol calling.


Ya, dia menelpon kekasihnya. Siapa lagi kalau bukan Vallery. Satu kali panggilan tidak diangkat, dua kali panggilan juga tidak di angkat dan ketiga kali,,,,


''Halo sayang,,,,? Ada apa? " jawab Vallery.


''Apa kau sibuk? Bisakah kau menelpon ku nanti. Aku ingin bicara sama kamu. ''


''Maaf ya sayang, aku lagi sama teman-teman aku nih. Nanti aku telpon balik ya. "


"Baik aku tung,,,,,, ''


''Tuutt,,,, tuut,,,, tuuutt,,,!?"


Belum sempat Leon menyelesaikan kata-kata nya, sambungan telpon sudah di matikan. Wajahnya kembali garang. Merasa seperti tidak di hargai sama sekali.


''Aku tunggu sampai hari ini, jika kamu tidak menghubungiku, aku akan berhenti untuk peduli padamu lagi, Val! '' ucap Leon geram.


Leon mengambil jas yang dia sampirkan di kursi kebesarannya dan melangkah keluar meninggalkan ruangannya, mencari sekretarisnya.


Tepat di depan ruangan Willy, Leon mendengar suara tawa dari dalam, tawa seorang perempuan, begitu riang. Leon tau suara siapa itu, karena dia juga pernah mendengar tawa itu saat di pantai kemarin.


''Tok,,, tok,, tok,, " Leon mengetuk pintu ruangan Willy.


Pintu terbuka dan yang membukakan pintu adalah Sheina. Masih dengan ketakutannya, Sheina tak berani mengangkat kepalanya yang seketika itu menunduk melihat Leon.


''Tuan, silahkan masuk. '' ucapnya pelan.


''Sekertaris Willy aku permisi ke kantin duluan. Permisi tuan. '' masih dengan perasaan takutnya Sheina melangkah pergi tapi berhasil di cegah Willy.


''Tunggu Shei, kita bisa makan siang bersama. '' cegah Willy.


''Sepertinya kalian cepat sekali akrab. Apakah aku mengganggu kalian? '' tanya Leon dengan santainya.


''Tidak tuan. '' jawab Sheina cepat. Tak ingin jadi semakin salah paham.


''Ada apa! Apakah kamu kesini hanya ingin mengatakan hal yang tak penting ini. Maaf tuan muda,aku tidak ada waktu untuk hal konyolmu itu. '' Willy masih bersikap sinis.


Sheina tersentak mendengar permintaan maaf dari big bosnya, begitupun Willy.


Raut wajah Willy pun kembali senang dengan apa yang baru saja di ucapkan Leon. Terlihat senyum mengembang di bibirnya.


''Iya tuan, tidak apa-apa. Itu tadi saya yang salah karena lancang melihat foto itu. ''


''Sudahlah. Sebentar lagi kita akan berangkat ke Surabaya. Willy, apakah kau sudah menyiapkan semuanya? '' tanya Leon.


''Sudah siap tuan muda,tinggal menunggu perintah selanjutnya. '' jawab Willy senang.


''Tuan, sekertaris Willy, saya permisi ke kantin dulu. '' Sheina berjalan ke arah pintu.


''Tunggu, kita makan di restoran bandara lalu kita pergi ke Surabaya. '' ucap Leon datar.


''Baiklah. '' Sheina tak ingin membantah.


Ketiganya bersiap menuju bandara dengan Willy mengemudikan mobil Leon.


Suasana hening, tak ada sepatah katapun yang keluar dari ketiganya. Willy sedang fokus mengemudi, Sheina memandang ke luar jendela melihat mobil yang lalu lalang. Sedangkan Leon sedang berkutat dengan ponselnya.


Setengah jam kemudian mereka pun sampai di bandara, sebelum check in, terlebih dahulu mereka makan. Perut Sheina sudah keroncongan,lapar sekali, tapi dia mencoba menahannya sedari tadi.


''Kita makan siang dulu tuan muda. Anda ingin makan apa? ''. tanya Willy turun dan membukakan pintu penumpang untuk tuannya, di ikuti Sheina.


''Kita makan di sini saja. '' tunjuk Leon pada sebuah cafe sederhana.


Willy hanya mengiyakan apa yang di inginkan tuannya.


Seorang pelayan datang membawa buku menu dan memberikannya pada Willy.


''Silahkan tuan. ''


''Tuan muda mau makan apa? '' tanya Willy melirik ke arah Leon yang masih saja fokus dengan ponselnya. Terlihat geram dari raut mukanya. Entah siapa yang membuatnya marah kali ini.


''Sheina, kamu pilih menu saja. '' Willy mengulurkan buku menu ke arah Sheina.


''Saya tidak tahu tuan muda suka makan apa, sekertaris Willy. '' bisik Sheina.


''Sudahlah pesan apa saja yang kamu ingin makan. Aku tidak pilih-pilih makanan. '' jawab Willy jengah melihat Leon.


''Baiklah. '' ucap Sheina ragu.


Sheina memesan nasi bakar, yang seperti di kantin, lalu mie goreng udang dan tiga gelas lemon tea.


Pelayan mencatat pesanan itu, dan kembali ke belakang.


''Apakah ada masalah tuan muda? ''. tanya Willy memberanikan diri.


Leon mematikan ponselnya dan menaruhnya di atas meja.


''Tidak. '' jawab Leon singkat. Lalu menatap Sheina yang duduk berhadapan dengannya. Sheina terlihat sedang memperhatikan sekitar, sesekali dia menatap Leon dan tersenyum sopan.


''Sepertinya dia jauh lebih menarik, dengan penampilan yang apa adanya ini. '' batin Leon, lengkungan di bibirnya kembali terlihat meski sekilas, lalu membuang mukanya ke sembarang arah.


Willy yang sedari tadi mengamati Leon, merasa ada yang aneh, tapi dia senang Leon sepertinya mulai menyukai sekertaris barunya itu.


Sepertinya dia akan lebih suka jika Leon dengan Sheina daripada dengan Vallery. Bukan karena apa dia tidak menyukai Vallery,meskipun Willy tidak mengenal Vallery, tapi menurut papa Leon yaitu om Adinata, Vallery bukanlah gadis yang baik buat Leon. Dan Willy pernah mendapat tugas dari Adinata untuk menyelidiki kekasih sang tuan muda itu.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


Happy reading teman,,,,