Sorry, I Love You...

Sorry, I Love You...
BAB. 41



Leon masih setia berada di dekat brankar papanya. Sudah hampir seminggu ini Adinata belum sadarkan diri. Leon dan Monic,mamanya bergantian menjaganya.


Tangan Adinata mulai bergerak,membuat Leon terperanjat dan langsung meneriaki dokter.


''Dokter...?!! " teriak Leon sambil terus menekan tombol untuk memanggil suster.


Dokter dan dua orang suster pun masuk dengan cepat. Dan segera memeriksa Adinata.


''Tangannya bergerak dokter? Papa sudah sadar. " ucap Leon.


"Kami akan segera memeriksanya,silahkan tunggu di luar, tuan. " suruh suster yang tadi mengikuti dokter.


Leon dengan berat hati keluar ruangan,membiarkan dokter memeriksa dan mengecek papanya. Leon berdiri di koridor dengan gusar.


"Ada apa Leon? " tanya Monic yang baru saja datang.


"Ma? Papa sudah sadar dan sekarang dokter sedang memeriksanya. '' jawab Leon.


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. " ucap Monic memeluk putranya.


Setelah beberapa menit kemudian dokter telah selesai memeriksa Adinata. Dua orang suster keluar dengan membawa beberapa alat bantu yang kemarin di pakai Adinata.


"Dokter? Bagaimana keadaan suami saya? " tanya Monic,sesaat setelah dokter keluar dari kamar rawat Adinata.


"Suami nyonya sudah sadar,kami sudah mencabut alat bantu yang beberapa hari ini di pakai oleh suami nyonya. Kalian bisa melihatnya sekarang. Tapi tolong jangan terlalu banyak di ajak bicara biarkan pasien beristirahat,untuk mempercepat penyembuhannya. " ucap Dokter Daniel.


"Terima kasih dokter. " Leon menjabat tangan dokter dan masuk melihat papanya.


"Pa...? " seru Monic sesaat setelah masuk ke ruangan suaminya.


Adinata hanya tersenyum melihat istrinya datang dengan putra kesayangannya.


"Papa bagaimana keadaan papa? " tanya Monic dengan khawatirnya.


"Sudah agak baikan ma. " jawab Adinata lalu menatap Leon yang berdiri di samping mamanya.


"Leon? "


"Ya pa? Leon di sini. Papa jangan banyak bicara dulu,dokter bilang papa harus banyak istirahat agar cepat kembali pulih. "


Adinata kembali tersenyum,lalu membelai wajah istrinya yang sudah duduk di samping brankarnya. Menatap ke langit-langit kamar dan menghirup napas dalam-dalam.


"Papa benci aroma ini. Bisakah kita pulang ke rumah? " tanya Adinata menatap kedua orang tersayangnya.


Monic dan Leon saling pandang,bingung dengan apa yang di katakan Adinata. Leon mendekati papanya. ''Maksud papa apa? ''


'' Papa ingin di rawat di rumah saja,Leon. Papa tidak suka berada di rumah sakit. Bukankah kita bisa memanggil dokter dan suster ke rumah untuk merawat papa?! "


" Tapi pa,peralatan di rumah sakit ini lebih lengkap dan akan lebih mudah membantu penyembuhan papa lebih cepat. "


"Benar apa yang di katakan Leon pa? Tunggu beberapa hari lagi ya? Mungkin dokter akan memberi izin papa untuk pulang. " bujuk Monic.


" Tapi papa tidak suka berada di rumah sakit. Papa benci aroma obat yang begitu menyengat ini. "


"Tapi pa,,,? "


"Panggil dokter Daniel ke sini biar papa bicara sendiri dengannya. " ucap Adinata bersikeras.


"Baiklah pa?! Biar Leon saja yang bicara dengan dokter Daniel. Kalau begitu Leon pergi mencari dokter Daniel dulu. "


Leon melangkah pergi meninggalkan kedua orangtuanya. Dia mencari ruangan dokter yang di maksud. Saat bertanya pada salah satu staff rumah sakit,Leon baru mendapati ruangan dokter Daniel.


"Selamat siang dok? " sapa Leon saat mendapat izin masuk ke ruangan dokter Daniel.


"Oh , Leon masuklah. Ada yang bisa aku bantu? " tanya dokter Daniel.


Leon mengerutkan dahinya,heran. Karena baru sekali ini dia bertemu dengan dokter Daniel,tapi dia sepertinya sudah sangat mengenal dirinya.


"Apakah kamu lupa denganku? Ya,aku rasa memang begitu,dulu kita pernah bertemu saat usiamu masih 6 tahun. " jawab Dokter Daniel.


"Maaf aku tidak mengingatnya. " ucap Leon lirih.


"Aku adalah sahabat baik papamu dulu dan sampai sekarang pun begitu. Karena jika papamu sakit dia tidak akan pernah mau di periksa dokter lain selain aku. " dokter Daniel tersenyum ramah.


Leon hanya tersenyum canggung. Entah sejak kapan papanya mempunyai sahabat seorang dokter. Karena setahunya dia,teman dekat papanya adalah seorang pebisnis semua.


"Oh ya ada apa kamu mencari ku? " tanya dokter Daniel mempersilahkan Leon duduk.


" Papa ingin pulang ke rumah. Dia ingin di rawat di rumah,karena dia benci dengan bau obat-obatan di rumah sakit ini. Bisakah dokter memberi izin? '' tanya Leon.


Dokter Daniel terdiam lalu tersenyum. Matanya menerawang seperti mengingat suatu kejadian. Tapi entah apa itu.


''Baiklah,aku sendiri yang akan mempersiapkan segalanya. Aku paham betapa bencinya dia dengan rumah sakit. '' ucap dokter Daniel.


'' Apakah dokter tau? Kenapa papa sangat tidak menyukai berada di rumah sakit? '' Leon bertanya heran.


''Kenapa kau tak menanyakan langsung pada papa mu? ''


Leon memicingkan matanya pada dokter Daniel. Tatapan dinginnya terasa seperti menuntut jawaban yang pasti dari yang di tanya.


''Hahaha,,,?! Kamu benar-benar mirip sekali dengan papa mu waktu muda dulu,Leon. Sama persis. '' ucap dokter Daniel.


'' Papa mu pernah kehilangan orang yang sangat berjasa dalam hidupnya dan juga karirnya dulu, saat ingin membuktikan kepada kakek mu bahwa papamu bisa menjadi orang sukses dan bisa membahagiakan mama mu . Karena rumah sakit yang menangani orang itu gagal menyelamatkan nyawanya dalam sebuah kecelakaan. ''


'' Siapa dia ? ''


''Dia adalah rekan kerja yang membantu papamu menjadi orang yang seperti sekarang ini. Kejadian itu sangat membekas dalam ingatannya sampai sekarang. Waktu itu kamu masih berumur 7 tahun,sejak kejadian itu papamu sangat membenci semua yang berhubungan dengan rumah sakit,karena papamu merasa rumah sakit tak mampu menolongnya. '' ucap dokter Daniel mengakhiri ceritanya.


'' Terima kasih sudah menceritakannya padaku. ''


''Tak masalah,aku hanya memberimu sedikit cerita. Jika kamu masih penasaran kamu bisa menanyakannya langsung pada papamu. Baiklah,aku akan mempersiapkan segala keperluan untuk papamu. ''


''Iya. Kalau begitu aku kembali, memberitahu mama untuk bersiap-siap. ''


Leon pun meninggalkan ruangan dokter Daniel dan kembali ke kamar rawat papanya.


''Ma? Leon sudah bilang ke dokter,katanya boleh. Hari ini juga kita bisa mulai perawatan di rumah. ''


Adinata tersenyum menatap anak dan istrinya. Lalu dia menatap langit-langit kamar,air bening mengalir di ujung matanya. Terdengar isakan halus dari bibirnya.


''Pa? Papa kenapa? '' tanya Monic mengusap tangan suaminya.


''Mungkin semua teguran dari Tuhan untuk papa,ma? Karena hampir dua tahun ini papa sudah tidak lagi pergi menjenguknya. ''


''Maksud papa apa? '' tanya Monic heran.


Leon hanya tertunduk diam,sesekali menatap papanya dengan tatapan nanar. Membatin,betapa rasa kehilangan itu menghantui papanya selama bertahun-tahun lamanya.


''Ma? Setelah papa sembuh nanti,mama ikut papa pulang ke Indonesia ya? Kita pergi mengunjungi Prasetya dan istrinya. '' ucap Adinata.


Monic kaget dengan ucapan suaminya. Sesaat dia terisak dengan membekap mulutnya. Ya,dia mengingat dua pasang pasutri yang sangat berjasa untuk mereka hingga mengorbankan nyawanya.


''Iya,pa? Mama juga sangat bersalah dengan mereka pa,mama baru sadar ternyata kita sudah lama tidak mengunjungi mereka lagi beberapa tahun ini. '' jawab Monic.


Leon melangkahkan kakinya keluar kamar. Ingin rasanya dia tahu cerita apa yang sebenarnya terjadi yang membuat kedua orang tuanya begitu merasa terpukul. Di kursi lorong rumah sakit itu,Leon berusaha menenangkan pikirannya. Lelah mulai terasa menjalar di seluruh tubuhnya. Dan mulai tertidur.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


Happy reading,,,,


Jangan lupa Vote,Like dan Komen yaaah,,,,,,😊😊😊😊😊