Sorry, I Love You...

Sorry, I Love You...
BAB. 42



Sebulan setelah di pindah rawat di rumah,Adinata sudah membaik. Sudah boleh melepas semua peralatan medis yang masih di pakai. Meski sekarang dia tak lagi bisa berjalan dengan kedua kakinya dan hanya mengandalkan kursi roda. Namun Adinata tetaplah Adinata yang dulu yang selalu melakukan hal apapun tanpa melihat kondisi.


Hari ini Leon akan kembali ke Indonesia,karena dia sudah terlalu lama meninggalkan tanggung jawabnya dan membebankannya pada Willy. Tapi jauh dari lubuk hatinya dia lebih rindu pada gadis manis sekretarisnya,Sheina.


''Apa kamu yakin tidak mau bareng sama mama dan papa? '' tanya Adinata.


Mereka sedang duduk-duduk santai di taman,menikmati suasana sore dengan angin yang semilir.


''Tidak pa?! Leon sudah terlalu lama meninggalkan tanggung jawab perusahaan pada Willy. Leon akan kembali besok dengan penerbangan pagi. ''


''Aku yakin kalaupun kamu tidak kembali untuk lebih lama lagi,Willy akan tetap mampu memegang tanggung jawab di perusahaan. Kenapa? Apakah ada seseorang yang kamu rindukan? Heem?! "


Leon terkejut dengan ucapan papanya. Apakah papanya tau dengan apa yang di pikirkannya? Sedikit senyuman mengembang di bibirnya. Leon membuang tatapannya ke arah rumah mungil di ujung taman. Rumah yang dulu di jadikannya tempat bermain kala mengunjungi kakek dan neneknya.


Ya,mansion yang di tempati kedua orangtuanya kini adalah rumah besar keluarga mamanya,Monica. Sejak kakek neneknya tiada Adinata lah yang menggantikan mengurus perusahaan yang ada di Amerika. Oleh karena itu perusahaannya sendiri di bebankan pada Willy sampai akhirnya Leon lulus kuliah dan menggantikannya menjadi ceo di perusahaan yang ia bangun.


'' Sayang? Apakah kamu sudah punya calon pendamping? '' goda Monic.


''Maksud mama? '' tanya Leon mengelak.


''Apakah kamu sudah mau memberi mama seorang menantu? ''


Leon yang di tanya hanya mengerutkan alis tak menjawab. Lalu kembali melayangkan pandangan ke sembarang arah. Adinata melihat sedikit keraguan di mata anaknya.


''Bukankah kamu ingin mengenalkan seseorang pada papa? Apakah dia calon menantu mama mu,benar begitu? '' Adinata bertanya begitu saja sambil menyuapkan apel ke mulutnya.


''Papa mendengar ucapan ku? Bukan kah waktu itu papa belum sadarkan diri. ''


''Ya memang papa tidak sadarkan diri. Tapi bukan berarti papa mu ini tuli. ''


''Benarkah?Apa yang dia katakan waktu itu,pa ? '' tanya Monic bersemangat.


'' Aku hanya mendengar dia ingin mengenalkan seseorang untuk kita nilai,apakah baik untuknya atau tidak. '' jawab Adinata menatap teduh anaknya.


''Apakah itu benar Leon,sayang? '' ucap Monic antusias.


Leon terdiam,memperhatikan kedua orang tuanya yang berada di depannya. Betapa tampak bahagia sikap mamanya mendengar ucapan papanya.


'' Dia hanya seorang gadis sederhana dan bukan dari kalangan atas. Dia yatim piatu sejak umur 5 tahun. Kedua orang tuanya sudah lama tiada karena sebuah kecelakaan. '' ucap Leon datar.


''Tapi Leon belum mengatakan perasaan Leon pa,ma. Leon masih ragu dengan perasaan Leon sendiri. '' ucapnya lalu berdiri hendak pergi.


''Jika kamu yakin itu perasaan cinta maka pertahankan. Papa tahu kamu masih sedikit kecewa dengan perempuan yang bernama Vallery itu. '' ucap Adinata dingin.


''Apakah dia cantik? Mama tidak keberatan jika kamu mau mengenalkannya pada kami. '' ucap Monic lembut.


Leon merogoh ponsel di celananya. Membuka galery foto dan mencari foto Sheina yang dia ambil saat di restauran danau buatan dulu dan memperlihatkan pada mamanya.



Monic memperhatikan foto itu. Matanya berbinar saat menatap dalam wajah seorang gadis yang ada di layar ponsel putranya.


''Namanya Sheina Arneyzhia. '' terang Leon.


'' Pa? '' Monic menyodorkan ponsel itu ke arah Adinata. Dia mengamati foto itu dan tersenyum.


''Sepertinya dia gadis baik. Dilihat dari raut mukanya dia terlihat lebih sopan dan ramah. Benar begitu kan? '' Adinata menggoda putranya.


Leon hanya tersenyum simpul dan berdiri dari duduknya. Mengambil kembali ponselnya dari Adinata.


''Apakah papa dan mama tidak keberatan,jika aku menyukai gadis yatim piatu dari keluarga sederhana. '' tanya Leon memastikan.


'' Bukankah papa dulu juga orang biasa saja dan bukan dari keluarga kaya. Jadi papa tidak keberatan asal dia gadis baik-baik. '' jawab Adinata.


''Kalau mama,asal anak mama bahagia dan benar-benar bisa tanggung jawab dengan apa yang sudah di pilihnya. It's okey. ''


''Terima kasih ma,pa. Leon akan berusaha semampu Leon. ''


Leon melangkah pergi meninggalkan kedua orang tuanya kembali masuk ke dalam rumah besar.


Pikirannya sudah kembali tenang dan dia berjanji pada dirinya sendiri untuk mengejar gadis manisnya yang sekarang menjadi tujuan masa depannya.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


Happy reading,,,,,,,


Jangan lupa Vote, Like, dan Komennya ya,,,,