Sorry, I Love You...

Sorry, I Love You...
BAB. 60



Hari Senin memang hari yang sangat sibuk. Itu terlihat dari para karyawan Adt.Group yang sedari tadi mondar mandir mengerjakan tugasnya masing-masing. Hana nampak begitu serius dengan file juga komputer di ruang kerjanya. Willy pun juga begitu.


Sheina sibuk menemani Leon yang sudah sembuh dan kembali bekerja seperti biasa,meeting dengan klien baru perusahaan.


''Jika kamu capek kembalilah ke ruangan dan istirahatlah. '' kata Leon yang melihat Sheina memijat betisnya.


''Em. Tidak aku tidak capek. Hanya saja heels ku mungkin terlalu tinggi. '' jawab Sheina dengan senyuman manisnya.


Leon menatap ke arah kaki Sheina yang sedikit memerah. Lalu dia mengambil ponsel yang ada di saku jasnya. Dan menelpon entah siapa itu.


Tak lama kemudian seorang karyawan perempuan masuk membawa paper bag dan memberikannya pada Leon,kemudian pamit kembali bekerja.


'' Ini? Ganti saja dengan ini,biar tidak pegal kakinya. ''


Sheina menerima paper bag yang di berikan Leon padanya. Dengan penasaran dia mengeluarkan isi paper bag itu.


Sepasang flat shoes cantik dengan heels rendah. Sheina langsung menggantinya dan flat shoes cantik itu pas di kakinya yang mungil. Sheina tersenyum senang.


'' Ini cantik sekali,pas sekali di kaki ku. Nyaman sekali. Bagaimana kamu tahu ukuran sepatu ku? '' tanya Sheina yang heran Leon tau ukuran sepatunya.


'' Aku harus tahu semua tentang wanita ku. Calon istriku. '' jawab Leon menyunggingkan senyum.


'' Terima kasih. '' Sheina bersemu merah mendengar ucapan Leon.


Keduanya kembali bekerja dan menyelesaikan semua urusan yang sedari tadi membuatnya lelah.


Tepat jam makan siang semua urusan dan pekerjaan mereka selesaikan dengan lancar.


Sheina berjalan mengikuti Leon dari belakang menuju ruangan. Saat memasuki ruangannya Leon terkejut melihat Willy yang sudah duduk di sofa menunggu mereka.


''Sedang apa kau di sini?! Sepertinya kamu begitu santai hari ini?! '' ucap Leon melewati Willy yang membalas ucapannya dengan senyuman.


'' Aku ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu. '' kata Willy melirik ke arah Sheina yang sedang tersenyum menatap ponselnya.


''Leon? Aku mau makan siang Hana,boleh tidak? '' ijin Sheina.


Leon menatap Willy yang memberi kode untuk mengijinkan Sheina pergi makan siang. Sebenarnya hari ini Leon ingin mengajak Sheina makan bersama namun sepertinya Willy juga ada hal yang sangat penting.


'' Baiklah. Pergilah makan dengan Hana. '' tersenyum paksa.


" Ahh? Benarkah? Terima kasih. " Sheina memasukkan ponselnya dan bergegas meninggalkan ruangan Leon.


Leon menghembuskan napasnya kesal. " Katakan. Ada hal apa yang ingin kau bicarakan. "


" Tunggu?! Aku ada sesuatu yang ingin ku perlihatkan padamu. " Willy mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.


Leon tampak heran dengan sikap Willy. Sebenarnya apa yang hendak Willy perlihatkan.


Willy membuka sebuah video rekaman dan memperlihatkannya pada Leon.


Terlihat di sana ada dua orang pria berpakaian serba hitam dan bertopi sedang mondar mandir di sekitaran kantor. Rekaman video itu Willy dapatkan dari petugas keamanan perusahaan.


" Sudah hampir 3 hari ini,pria ini terlihat di rekaman cctv perusahaan kita. Aku tidak tau persis apa yang sedang dia lakukan di sana. " Willy menjelaskan.


" Tunggu! Coba kamu zoom wajah orang itu. "


Willy melakukan apa yang di perintahkan Leon. Dan ikut mengamati gambar yang ada di ponselnya.


" Apa kamu mengenalinya? " tanya Willy.


" Tidak! Tapi aku pernah melihatnya di cafe seberang. Dia bersama dengan Vallery. " jawab Leon mengingat.


" Ada hubungan apa dia dengan pria ini? " Willy bertanya heran.


" Entahlah. "


" Atau jangan-jangan dia mengirim pria ini untuk memata-matai mu. " tebak Willy.


" Bisa jadi. Tapi untuk apa? Bukankah aku sudah tidak ada urusan dengannya lagi. "


" Kau tau wanita seperti apa dia? Apapun akan dia lakukan demi keinginannya. Jika itu semua benar,itu artinya Sheina juga bisa dalam bahaya. Ingat Leon! Jika terjadi sesuatu dengan Sheina aku tidak akan pernah mengampuninya,sekalipun dia bersujud di kaki ku. " ucap Willy geram.


" Kau tenanglah. Tidak akan terjadi apapun pada Sheina. Aku sendiri yang akan memastikan keselamatannya. " jawab Leon tegas.


Sementara itu di kantin kantor.....


''Tiga hari yang lalu. Di rumahnya. '' jawab Sheina pelan.


Hana menghembuskan napasnya pelan. '' Aku tahu bagaimana Leon. Jika dia sudah serius dengan perempuan,dia tidak akan pernah melepaskannya. Sebisa mungkin dia akan mengikatnya di sisinya. Jika kamu sudah merasa nyaman dan kamu benar-benar menyukainya,maka kamu juga harus bisa menerima semua kekurangan dan kelebihannya. Kamu mengertikan Shei? ''


Sheina menatap Hana dan menganggukkan kepala tanda paham dengan apa yang di bicarakan Hana padanya. Keduanya hanya bisa saling tersenyum. Hana hanya berharap,semoga Sheina benar-benar mendapatkan kebahagiaannya dari Leon.


'' Panggil orang mu. Suruh dia mencari tahu apa tujuan pria ini sebenarnya. '' titah Leon.


'' Baik. Aku akan menghubungi mereka dan menyuruhnya mencari tahu apa tujuan mereka. Apakah sudah memberitahu karyawan perusahaan kalau akan menikah dengan Sheina? '' Willy kembali bertanya.


'' Belum saatnya mereka tahu. Aku akan mengumumkan saat dia sudah menjadi nyonya Leon. '' Leon menyunggingkan senyum bangganya.


'' Hem. Itu ide bagus. '' Willy mengedipkan matanya dan pergi meninggalkan ruangan Leon.


Ponsel Leon berdering. Tersenyum saat melihatnya,bisa di pastikan siapa pemanggilnya. Ya telpon dari Sheina.


'' Hallo? Ada apa? Apakah sudah selesai makannya. Cepatlah kembali. ''


'' Apa kau tidak makan? Bisa kah kamu kemari? Atau aku bawakan makan siang untukmu? " tanya Sheina dari sebrang.


'' Baiklah. Belikan saja aku makanan yang sama dengan yang kamu makan siang ini. Iya. Bye. '' Leon mengakhiri panggilannya.


Sudah hampir 3 bulan sejak mereka jadian dan Leon memberanikan diri melamar Sheina,hubungan diantara keduanya semakin erat. Meski kadang-kadang sifat posesif Leon membuat Sheina jengah tapi Sheina mencoba mengerti bahwa sikap Leon seperti itu padanya hanya karena dia tak ingin kecewa untuk yang kedua kalinya.


Sheina memasuki ruangan Leon,saat dia beberapa kali mengetuk pintu tidak ada jawaban dari dalam.


Pantas saja tak ada jawaban,ternyata Leon tertidur di kursinya.


Sheina menaruh makanan yang di belinya,di atas meja kerjanya,mendekat ke arah Leon berniat membangunkannya.


'' Hei? Bangun? '' ucap Sheina pelan,mengusap pundak Leon.


'' Eemm. Sudah kembali? Hem? '' Leon merenggangkan otot-ototnya.


'' Iya. Aku membelikan mu makan siang,makanlah dulu. ''


'' Hem. Tapi aku ingin sekali memakanmu. '' Leon menarik pinggang Sheina hingga jatuh di atas pangkuannya.


'' Aahh! '' pekik Sheina kaget.


'' Kenapa lama sekali perginya? Aku merindukanmu.''


'' Iya maaf. Tadi aku bertemu Hana,keasyikan ngobrol. Jadi aku agak lama. '' ucap Sheina.


'' Hem. Boleh aku mencium mu? Izin kan aku mencium mu. '' Leon mengangkat dagu Sheina.


''Tapi ini masih di kantor,Leon. Nanti kalau ada yang lihat bagaimana. ''


Leon mengambil remote dan menekan tombol berwarna hijau. Dan... semua tirai menutup dan pintu ruangan terkunci.


'' Sudah. Tidak akan ada yang melihat kita. '' Len mencium tengkuk Sheina yang membuatnya merinding.


'' Tapi,,,?? Apakah ini baik? '' Sheina mencoba menghindar.


'' Jangan menolak ku atau aku akan marah. '' ucap Leon dengan nada pelan tapi mengancam.


'' Leon? Ok tapi hanya sekali saja ya? ''


'' Terima kasih. ''


Leon langsung mengecup bibir Sheina lembut.Meski masih canggung Sheina membalas kecupan hangat Leon. Dan...mereka pun saling me***at. Bagaikan dua sejoli yang sedang di mabuk cinta. Mereka mencoba mendalami peran masing-masing.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


**HAPPY READING.....


JANGAN LUPA VOTE , LIKE DAN KOMEN....


JADIKAN FAVORITE JUGA YA....


TERIMA KASIH...😊😊😊😊**