
Scurity, mengantar pak Burhan,keluar dari perusahaan atas perintah Leon. Matanya menatap penuh amarah ke arah gedung yang pernah menjadi tempatnya berkerja.
''Sial!! Bapak sama anak benar-benar bisa membuatku gila!! Satu minggu? Uang darimana lagi aku harus mendapatkan sebanyak itu! '' geramnya lalu pergi meninggalkan perusahaan itu.
''Willy aku ingin kamu mencari seseorang untuk menggantikan pak Burhan memimpin perusahaan ini. '' ucap Leon setelah membubarkan rapatnya.
''Sudah aku siapkan. '' jawab Willy.
Leon menatap Willy penuh tanda tanya, menuntut penjelasan yang jelas.
''Baiklah tuan muda, aku akan memanggilnya ke sini. '' Willy tersenyum dan bangkit dari duduknya.
Willy meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Tak lama kemudian Willy selesai melakukan panggilan.
''Baik tuan muda, 15 menit lagi dia sampai di sini. ''ucap Willy.
''Hem. '' jawab Leon singkat. Matanya sedang celingukan mencari sesuatu.
Seperti biasa, seperti mengerti bahasa tubuh tuannya,Willy lantas memberitahu tuannya.
''Dia sedang pergi ke toilet, tuan muda.'' Willy tersenyum malu-malu.
"Heh!" dengus Leon yang ketahuan Willy, kalau sedang mencari Sheina.
"Apakah kita tadi mengejutkannya tuan? " tanya Willy.
Leon mengerutkan kening memutar otak mencari tau arah pembicaraan yang Willy maksud.
"Biarkan saja, suatu saat dia juga akan terbiasa dengan sifat mu yang memang suka berubah 180° itu. " jawab Leon.
"Apakah nanti dia akan takut denganku, terus bagaimana tuan? " Willy bertanya menjebak, ingin tau bagaimana reaksi Leon.
"Ya bagus, kalau dia takut sama kamu. Agar dia kelak tidak dekat-dekat denganmu. '' jawab Leon datar.
''Tapi dia bisa lebih dekat denganmu tuan? '' Willy mengerlingkan matanya, menggoda Leon.
Sontak Leon memelototinya, karena memang tebakan Willy benar.
''Apa kau mau mati?! '' ucap Leon keras.
''Hahaha,,, ? Tidak tuan, maafkan aku yang hanya asal bicara. Aku masih ingat tuan sangat mencintai nona Vallery, mana berani tuan menghianati pujaan hati tuan itu. '' sindir Willy.
''Cih! Diam kamu. Sebaiknya kamu, cepat suruh orang itu ke sini dan menyerahkan tugas kepemimpinan itu padanya. Agar kita bisa segera kembali pulang. ''
''Oke, tuan. Aku mengerti. '' Willy tersenyum sinis, tapi hanya sebentar. Karena dia tau tidak lama lagi dialah yang akan lega menyaksikan kebahagian Leon jika rahasia yang selama ini ia pendam akan terbongkar. Meskipun dia tau bahwa tuannya akan mendapat pelajaran yang tentu saja akan menyakitkan hati dan perasaannya.
Sheina berjalan menuju ruang rapat, karena merasa terlalu lama di toilet, dia pun buru-buru kembali karena takut dua monster yang di iikutinya marah seperti tadi. Sungguh ngeri!
''Nona? Maaf ruang rapat dimana? '' tanya seorang laki-laki yang tidak sengaja berpapasan dengan Sheina.
''Oh, kebetulan saya juga mau ke sana, mari saya antar. '' jawab Sheina ramah. Sejenak matanya mengamati sosok pria itu, seumuran dengan tuan bosnya, badannya tinggi, tegap, dadanya bidang di balut dengan setelan jas berwarna hitam, nampak tampan dan berwibawa. Tapi tetap big bosnya lah yang jauh lebih tampan.
''Tok,,, tok,,,, tok,,,!!"
"Masuk! " jawab Willy.
Sheina masuk di ikuti laki-laki yang tadi di temuinya.
"Tuan? Apakah tuan punya tamu? " tanya Sheina.
"Ya aku sedang menunggu dia. " jawab Willy senang.
"Hai bro? Gimana kabar mu?" sapa Willy menyambut kedatangan laki-laki itu lalu menjabat tangannya dengan jabat persahabatan.
" Brian?" Leon terkejut.
"Halo bro, lama tak jumpa. Bagaimana kabarmu tuan muda? " Brian memeluk Leon dan menepuk pundaknya kasar.
"Iya tuan muda, Brian akan menjadi pemimpin pengganti pak Burhan di sini. Aku sudah membicarakan ini dengan om Adinata sebelumnya. Tenang saja dia dapat di percaya dan memiliki kinerja yang membanggakan. " jelas Willy.
"Kapan kamu menghubungi papaku? Kenapa aku tidak tau? " Leon masih heran, karena cuma Willy yang tau rencana papanya.
"Itu sudah lama tua muda, sebelum tuan muda, kembali ke Indonesia. " jawab Willy tegas.
"Hei? Siapa wanita cantik di sini? " tanya Brian tiba-tiba, saat menatap Sheina yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka. Brian mencoba mendekat tapi tangan Leon tiba-tiba direntangkan menghalangi Brian mendekati Sheina.
"Dia sekertarisku! Jangan ganggu orang ku! " geram Leon.
"Hahaha,,, ? Baiklah, baiklah? Aku mengerti. Hai nona cantik, kenalkan aku adalah sahabat tuanmu. " ucap Brian dengan gaya menggodanya.
Sheina hanya tersenyum menanggapi Brian. Willy pun senang melihat tanggapan Sheina yang sangat ramah itu, jika gadis lain mungkin akan langsung tergoda dengan wajah rupawan sahabatnya itu.
Brian adalah anak dari sahabat Adinata dan Arga,yaitu Robert.Tak heran jika mereka tampak akrab. Leon, Brian dan juga Willy kenal saat orang tua mereka mengadakan pertemuan di sebuah pesta tahunan perusahaan Adt Group.
Leon dan juga Willy yang baru di kenalkan oleh ayahnya, Arga, itu ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan keluarga Adinata. Saat pertama kali di kenalkan dengan Willy, Leon pun sempat tidak menyukainya, karena Leon merasa Willy sangatlah dekil dan kampungan. Maklum sebelumnya Willy memang tinggal di desa dengan neneknya.
Berbeda dengan Brian, yang memang adalah anak dari tuan Robert yang terkenal dengan usaha kulinernya yang mendunia itu. Pertama bertemu Brian, Leon juga tidak menyukainya karena Leon merasa Brian sangatlah jail dan menjengkelkan. Karena sifat dasar Leon sendiri yang pendiam dan dingin. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka bisa berteman bahkan menjadi sahabat baik dengan sifatnya masing-masing.
Apalagi setelah Leon tau bahwa Brian adalah teman sekelasnya di SMA yang terkenal sangat playboy. Dari pertemuan itulah mereka selalu sering berkumpul dan nongkrong bareng. Hingga akhirnya mereka berpisah kala Leon meneruskan sekolah ke Amerika dan Brian mengikuti ayahnya ke Jepang, sedangkan Willy di masukan ke sekolah jurusan bisnis oleh ayahnya.
Waktu hampir malam saat mereka menyerahkan hak kepemimpinan itu kepada Brian. Dengan di setujui oleh semua pihak defisi perusahaan.
Sheina nampak kelelahan mengikuti kegiatan big bosnya itu. Ketiganya keluar dari perusahaan itu jam sudah menunjukkan pukul 7 malam dan hari itu juga, mereka segera kembali ke ibu kota.
"Bagaimana apakah kamu lelah? " tanya Willy pada Sheina yang baru saja memejamkan matanya di di dalam mobil perjalanan menuju bandara.
"Hehehe,,? Sedikit. " jawab Sheina malas.
"Eheem! " Leon berdehem mendengar obrolan mereka berdua. Sheina memilih duduk di samping kursi kemudi karena tadi matanya sangat mengantuk. Jika duduk dengan Leon, dia takut tak bisa curi-curi tidur meski sebentar.
"Kamu besok boleh masuk siangan kalau kamu lelah. " Leon masuk dalam obrolan.
"Tidak tuan, saya masih bisa bangun pagi. Karena saya juga biasa lembur. " jawab Sheina dengan senyum semangatnya.
"Hem! Terserah kamu saja. " ucap Leon datar.
"Apakah besok saya mulai bekerja di ruangan dengan tuan? " tanya Sheina takut-takut.
"Kenapa? Kamu keberatan?!" kening Leon berkerut.
"Tidak tuan. " jawab Sheina cepat.
Sheina tak lagi bersuara, pandangannya teralih ke pemandangan luar jendela mobil yang penuh dengan lampu jalanan yang indah dengan berbagai bentuk dekoratif.
Willy yang melihat sikap Sheina itu hanya bisa mengulum senyumnya.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
Happy reading teman......
Terus kasih dukungan ke Author untuk tetap bisa update yah..☺️☺️
Dan jangan lupa
👉 VOTE
👉 LIKE
👉KOMEN
Terima kasih😘😘😘