
Sudah 2 hari ini Sheina berada di rumah,tidak kerja dan hanya berbaring di tempat tidur. Karena setiap kali Leon menelponnya,dia selalu bilang tidak boleh masuk kerja dulu,harus istirahat. Ish...! Si Leon jadi posesif deh😄.
''Aarrgh...!! Sangat membosankan sekali! Capek rebahan,nonton tv. Capek nonton tv,rebahan lagi! '' gerutu Sheina.
'' Lily was a little girl... Afraid of the big,wide world
She grew up within her castle walls....!! ''
Ponsel Sheina kembali berdering. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya. Dan nama si pemanggil tetap sama seperti yang tadi. Leon!
''Hallo? Iya ada apa? '' Sheina mengangkat malas.
''Kamu lagi ngapain? Udah makan dan minum obatnya? ''
''Iya udah. Aku lagi tiduran di kamar. Bosen tau di rumah nggak ngapa-ngapain. '' ucap Sheina kesal.
''Hem...? Aku ke sana ya? Aku ajak kamu keluar. ''
''Benarkah? Iya. Kalau gitu aku siap-siap dulu ya? Aku tunggu kamu di rumah. '' Sheina mengakhiri sambungan telpon dan menaruh ponselnya kembali ke atas nakas.
Setengah jam kemudian Leon sudah sampai di rumah Sheina. Hari ini dia berencana membawa gadis kesayangannya keluar jalan-jalan. Ya tentu saja,semua tugas perusahaan di serahkan ke Willy.
''Sudah siap? '' tanya Leon saat melihat Sheina menghampirinya di ruang tamu.
''Eem. '' Sheina mengangguk senang,sambil menunjukan deretan giginya yang putih.
Leon tersenyum,merangkul Sheina berjalan menuju mobil yang terparkir di depan rumah.
''Kita mau kemana? Bagaimana pekerjaanmu jika kamu menemani ku? '' tanya Sheina.
''Kita ke restauran yang dulu kita kunjungi. '' jawab Leon mulai menjalankan mobilnya.
''Di atas danau itu? '' Alis Sheina menyatu,menebak tempat yang di maksud Leon.
Leon hanya tersenyum,lalu menginjak gas menuju tempat yang di maksud. Sheina tak lagi bertanya,berbalik menatap kaca jendela mobil. Melihat jalanan di luar yang penuh dengan mobil yang berlalu lalang. Betapa leganya dia yang sudah dua hari tak bisa keluar dari rumahnya sendiri.
******* FLASHBACK ON **********
" Sayang? Bagaimana kalau besok mama dan papa bertemu dengan gadis itu? Apa kamu bisa membawanya kesini? '' tanya Monic.
''Iya,Leon. Papa juga penasaran sekali ingin bertemu dengan gadis itu. Willy bilang pada papa dia gadis yang sangat manis. Bahkan Willy juga sempat menyukainya. Tapi dia hanya menganggapnya adik,karena usia mereka sangat jauh. '' ucap Adinata .
'' Apa? Willy sudah cerita semua itu sama papa?! '' Leon mendengus kesal.
''Iya. Sejak kamu mulai mengenal dia sampai kamu punya perasaan sama dia. Willy sudah ceritakan semua sama papa kemarin sore. ''
''Cih! Bajingan ini?! Mulutnya sangat tidak bisa di percaya. '' geram Leon.
''Hahaha...? Kamu jangan menyalahkan dia. Papa yang mendesaknya untuk cerita. Karena kamu sendiri juga tidak pernah cerita kan? ''
'' Leon hanya berpikir bukan saatnya saja,pa? ''
''Sudah-sudah?! Kenapa kalian malah ngobrol sendiri? Bagaimana,sayang? Bisa kami bertemu dengannya? ''
''Baiklah,ma. Leon akan bawa dia bertemu mama sama papa. Tapi tidak di rumah,karena Leon takut dia belum siap. Besok Leon bawa dia ke restauran danau. Papa dan mama tunggu Leon di sana jam makan siang. ''
''Ok,sayang? Mama tunggu kamu bawa dia ke sana.''
******** FLASHBACK OFF *********
'' Apa kamu senang? '' tanya Leon melirik ke arah Sheina yang sedang asyik melihat ke luar jendela.
''Eeem. Apa kau tau aku sangat bosan di rumah terus,Leon? Belum pernah aku begitu bosannya,aku juga kangen dengan rekan-rekan kerja di kantor. '' Sheina memanyunkan bibirnya.
'' Sebaiknya kamu nggak usah kerja. Istirahatlah dengan baik di rumah. '' ucap Leon fokus dengan kemudinya.
Sheina dengan cepat menoleh ke arah Leon. ''Apakah kamu memecat ku? ''
''Tidak?! Aku hanya kamu cukup istirahat dan kembali sehat. Untuk pekerjaan,biar Willy saja yang mengerjakannya dulu. Itu kan memang tugas-tugasnya.
Sementara itu......
''Hatciiuu....!! Sedari tadi aku bersin terus. Pasti ada yang gibahin aku nih. Sungguh terlalu. '' gerutu Willy.
'' Heemm. '' jawab Leon singkat.
Mobil mewah itu terparkir di sebuah restauran yang terbilang biasa dari luar. Namun saat masuk ada tempat khusus yang berlantai kaca tembus pandang ke bawah sebuah danau buatan. Airnya begitu jernih.
''Ma,bagaimana? Apa kamu siap bertemu calon mantumu? '' tanya Adinata.
''Sudah dong pa. '' jawab Monic senang.
''Maaf tuan besar? Tuan muda sudah sampai mereka sedang menuju kemari. '' ucap salah satu pelayan di restauran itu.
''Baiklah. Terima kasih,bantu aku menyiapkan hidangannya. ''
''Baik tuan besar. '' pelayan itu pun pergi meninggalkan Adinata dan istrinya.
'' Leon? Kita mau makan besar ya? '' tanya Sheina tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.
''Iya. Makan bersama. '' jawab Leon sedikit ambigu.
''Bersama?" batin Sheina. Tapi tak ia tanyakan.
Di depan pintu sebuah ruangan yang sudah tidak asing lagi bagi Sheina,Leon membuka pintu dan masuk menggandeng tangan Sheina.
''Selamat siang ma,pa? '' sapa Leon yang di barengi rasa terkejut Sheina.
''Siang,sayang. Kalian sudah datang. '' jawab Monic ramah.
Sheina mematung,dari raut mukanya dia heran bercampur bingung. Dia menatap bingung ke arah Leon meminta penjelasan. Kenapa ada papa dan mamanya di sana. Bukankah mereka hanya makan berdua saja.
Leon menggenggam tangan Sheina dan mengajaknya mendekat ke arah orang tuanya. Sheina menghirup napas dalam-dalam menata perasaan gugupnya,bertemu dengan pemilik Adt.Group yang pernah menjadi bos di tempatnya bekerja.
Ya,awal masuk perusahaan dulu perusahaan Adt.Group masih di pimpin oleh Adinata hingga Sheina bekerja setahun baru di ganti Leon,anaknya.
Sheina pernah bertemu sekali itupun di acara tahunan perusahaan.
''Se-selamat siang tuan besar,nyonya. '' sapa Sheina sopan membungkukkan setengah badannya.
Adinata dan Monic tersenyum kagum pada Sheina karena sikapnya yang begitu ramah. Sheina duduk di depan Adinata dan Monic berdampingan dengan Leon.
'' Kamu Sheina kan? Apa kabar? '' tanya Monic sambil terus memperhatikan Sheina.
'' Ba-baik nyonya. '' jawab Sheina mencoba tersenyum meski terasa canggung.
''Kok panggil nyonya? Memangnya dia nyonyamu? '' ucap Adinata ikut menggoda.
Sheina melihat ke arah Leon,tangannya meremas tangan Leon. Dan hanya di balas senyum.
''Sudah ma,pa jangan membuatnya gugup. '' ucap Leon.
''Hahaha....? Sheina? panggil kami om dan tante saja. Jangan panggil tuan dan nyonya. Biar kita terlihat akrab. ''
Untuk kesekian kalinya Sheina kembali menatap Leon berharap dia bisa memberi penjelasan yang mampu membuatnya tak merasa bingung.
''Iya,Shei? Panggil om dan tante saja. Atau langsung panggil mama dan papa juga boleh. '' sahut Monic.
''Iya om,tante. '' jawab Sheina malu-malu.
''Kamu cantik sekali Shei,manis. Oh ya kamu tinggal di mana,sama siapa. '' tanya Monic.
''Sheina tinggal di perumahan Bukit Indah,tante. Sheina tinggal sendiri. '' jawab Sheina.
'' Sudah berapa lama kamu tinggal sendiri di ibu kota. '' tanya Adinata.
''Sudah hampir 2 tahun om. '' jawab Sheina ramah.
Mereka berbincang sampai tidak ada lagi rasa canggung di antara mereka. Hingga makanan yang di pesan datang dan menikmatinya bersama.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
HAPPY READING......