
Sudah 2 hari ini Sheina tidak menghiraukan Leon. Mereka hanya bertegur sapa soal pekerjaan saja. Bahkan Sheina menghindar dari Leon di luar jam kerja,bahkan chat atau telponnya saja tak pernah Sheina balas kecuali tentang pekerjaan.
Di kantor pun sikap Sheina berubah menjadi profesional kerja antara bos dan karyawan. Setiap hari bertemu dan satu ruangan,tapi seperti orang asing.
'' Shei? Apakah kamu belum bisa memaafkan kesalahan ku. Please maafin aku Shei? '' ucap Leon tulus.
Lagi-lagi Sheina menghindar dengan alasan jam makan siang dan janji dengan teman-temannya.
'' Maaf tuan muda,saya harus ke kantin untuk makan siang karena teman-teman saya sudah menunggu saya. '' jawab Sheina dengan nada sopan dan ramah.
Sheina lalu mengambil tas selempang kecilnya dan meninggalkan Leon dengan sikap hormat seorang karyawan yang menghormati bosnya.
Leon berusaha mencegahnya tapi sia-sia. Dia menyesali sikapnya yang terlalu posesif pada kekasihnya.
'' Aku harus meminta bantuan Hana. '' gumamnya lalu menuju meja kerjanya mengambil gagang telpon dan menghubungi kantor keuangan.
'' Hallo,tuan? " panggilan tersambung.
'' Suruh nona Hana ke ruangan ku segera. ''
'' Baik,tuan. "
Leon memutus sambungan telponnya. Kini dia dengan tidak tenang menunggu kedatangan Hana. Memijat kepalanya yang terasa pusing.
''Tok,,,tok,,,tok,,,,?!! ''
'' Masuk! '' seru Leon dari dalam ruangan.
Pintu terbuka,dan masuklah seorang wanita yang sangat akrab di kenalnya,Hana.
'' Selamat siang tuan muda Leon? '' salam Hana.
'' Selamat siang,Hana. Ah ini di ruangan ku,panggil nama ku saja seperti biasa. '' jawab Leon datar.
'' Ada apa kamu memanggil ku? '' Hana melayangkan pandangan mencari sosok yang tak di lihatnya,Sheina.
'' Dimana gadis mu? Apakah kamu tidak menemaninya makan siang? ''
Leon terdiam,bingung harus menjawab apa dan bagaimana menjelaskannya pada Hana. Karena Leon tahu Hana adalah teman sekaligus keluarga terdekat Sheina.
'' Han? Maaf? Dua hari ini Sheina marah padaku. '' ucap Leon pelan.
Hana tersenyum sekilas. ''Sebenarnya aku sudah tahu masalah mu dengan Sheina dari Willy. Tapi aku tidak tahu kalau akan menjadi seperti ini. ''
'' Han? Tolong bantu aku meminta maaf padanya. Aku benar-benar menyesal dengan sikap ku. ''
'' Masalah ini...? '' Hana terdiam,tak meneruskan kata-katanya.
'' Ada apa? ''
'' Leon? Seharusnya kamu harus berusaha lebih kuat lagi jika ingin Sheina memaafkan mu. '' jawab Hana.
'' Apa kamu tidak bisa membantu mu. Maaf,Leon. Apa kamu tahu Leon? Meski Sheina terlihat begitu manja dan cengeng,tapi sebenarnya dia adalah gadis yang berpikiran dewasa. Sekali dia sudah mengambil suatu keputusan dia tidak akan ragu. ''
'' Apakah dia benar seperti itu? ''
'' Kamu belum memahami dia sepenuhnya,Leon. Dia bukan gadis yang lemah seperti yang kamu lihat. Itu karena dia sudah terbiasa hidup sendiri jauh dari orang terdekatnya. Dia sudah bisa membentuk karakternya yang jika dia tersakiti atau jika dia di hina bahkan di rendahkan orang lain,dia akan tetap terlihat baik-baik saja dan tetap tersenyum menutup luka dan sakit hatinya. ''
Leon terduduk tak percaya dengan ucapan Hana.
'' Berapa lama kamu mengenal dia Hana? Bisakah kamu membantu ku agar aku juga bisa lebih memahaminya? '' ucap Leon.
'' Tenang saja. Dia juga pribadi yang tidak tegaan. Jika kamu tetap berusaha minta maaf dengan sungguh-sungguh,pasti dia bisa memaafkan mu. ''
'' Iya. Terima kasih,Han. ''
'' Sama-sama. Oh ya satu lagi yang perlu kamu ingat, Leon. Jangan pernah lagi membentaknya apalagi berkata keras di hadapannya. Jika dia sudah memutuskan untuk diam dan tak mau lagi peduli padamu. Seberapa banyak dan dengan cara apapun kamu meminta maaf padanya akan sia-sia.''
'' Apa kamu menakuti ku? '' tanya Leon tidak percaya.
'' Tidak. Aku akan terus membuat dia berada di sisiku. Selamanya. '' ucap Leon tegas.
'' Baguslah kalau begitu. Jadi? Apa yang akan kamu lakukan untuk mendapatkan maaf darinya. ''
'' Biar ku pikirkan nanti. Kembalilah ke ruangan mu sebelum dia kembali ke sini dari makan siang. Dan...? Terima kasih sudah memberi ku saran. ''
'' Hem. Ok. Bye Leon,aku akan kembali ke ruangan ku. '' Hana melangkah pergi meninggalkan ruangan Leon sesaat setelah Leon menganggukkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian Sheina kembali dari makan siangnya. Saat memasuki ruangan Leon Sheina melihat Leon masih berkutat dengan komputernya. Terlihat sesekali Leon memegangi kepalanya.
Tanpa sedikitpun menghiraukan kedatangan Sheina dan tanpa sedikitpun meliriknya seperti biasa dia lakukan saat menggoda gadisnya itu.
Sheina mengambil sekotak makanan yang di bawanya tadi saat kembali dari makan siang dan sebotol air mineral yang selalu ia sediakan di nakas kecil di belakang kursi kerjanya.
Sheina berjalan kearah Leon dan menaruh kotak makanan serta air mineral di depan Leon.
'' Makanlah dahulu,agar bisa melanjutkan pekerjaanmu. '' ucap Sheina.
'' Aku belum lapar. '' jawab Leon tanpa menoleh ke arah Sheina yang berdiri di sampingnya.
''Tapi kamu belum makan siang. '' tegas Sheina.
Leon berkeringat,tangannya kembali memegangi kepalanya. Sheina yang melihat itu semakin iba.
'' Leon? Apa kamu sedang tidak enak badan? '' tanya nya lagi.
'' Aku hanya sedikit masuk angin. Tidak apa nanti juga sembuh. '' jawab Leon tetap fokus dengan layar komputernya.
'' Tapi kamu bisa sakit. Meskipun hanya sedikit,makanlah? Ini masih hangat,tadi aku membungkusnya karena aku memesan lebih. '' jawab Sheina.
'' Memangnya kenapa kalau aku sakit? Nggak ada yang peduli juga. Aku tidak bisa makan kalau aku masih punya salah dan salah ku belum termaafkan.'' ucap Leon menyindir.
'' Tapi kamu sedang tidak enak badan,Leon. ''
Leon tak menjawab matanya kembali fokus ke layar komputernya. Tiba-tiba dia memegangi perutnya,tapi tetap pura-pura biasa saja. Melihat itu Sheina dengan cekatan membuka kotak makanan yang ada di depannya. Menyendok nasi dan lauk lalu mengarahkannya pada mulut Leon.
'' Buka mulut mu?! '' seru Sheina.
Leon tak bergeming. Terlihat mengacuhkan kata-kata Sheina.
'' Buka mulut mu atau aku tidak akan pernah memaafkan mu jika kamu sampai sakit! '' gertak Sheina.
Leon menghentikan aktifitasnya. Menatap dua bola mata Sheina yang nampak serius dengan kata-katanya.
'' Jika aku memakan makanan ini,apa kamu memaafkan salah ku? '' balik tanya Leon.
'' Heem! '' jawab Sheina,menganggukkan kepalanya.
Leon tersenyum dan membuka mulutnya. Kembali menatap raut wajah lembut gadis yang sedang menyuapinya.
Tak butuh waktu lama,sekotak nasi itupun telah habis di lahapnya.
'' Terima kasih. Jadi? Apakah kamu sudah memaafkan ku? Shei? Aku benar-benar minta maaf karena emosi ku. '' ucap Leon serius.
'' Iya. Tapi aku tidak akan memberimu kesempatan untuk yang kedua kalinya. Ingat itu ya? ''
'' Baik. Terima kasih. '' Leon memeluk Sheina dan mengecup bibir merah tanpa gincu Sheina.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
**HAPPY READING.....
JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE,VOTE DAN KOMENNYA YACH....
TERIMA KASIH 😊😊😊**