
Pintu ruangan Leon terdengar di ketuk dari luar.
''Masuk! '' jawab Leon, tatapannya tertuju pada pintu kaca yang ada di depannya. Pintu di dorong dari luar dan masuklah seorang laki-laki paruh baya dan seorang gadis yang menggendong kotak di depan sambil menunduk.
''Selamat pagi tuan muda. '' sapa pak Indra.
''Pagi. '' jawab Leon tanpa ekspresi. Matanya kembali menatap gadis yang berdiri di samping pak Indra.
''Selamat pagi tuan. '' sapa Sheina dengan senyum di paksanya.
''Hemm. '' jawab Leon singkat.
''Oh ya tuan muda, saya membawa Sheina ke sini seperti perintah anda. Apakah ada hal lain yang bisa saya kerjakan?'' tanya Pak Indra.
''Tidak, silahkan kembali ke pekerjaanmu sendiri. ''
''Baik, tuan muda. Permisi. '' pak Indra meninggalkan ruangan Leon, dengan menepuk punggung Sheina, seperti memberi isyarat agar dia bisa kuat dan sabar. Mungkin seperti itu.
Leon meraih telepon yang ada di mejanya dengam sekali tekan telponnya sudah terhubung ke tempat yang di tuju.
''Ke ruangan ku sekarang. '' ucap Leon lalu menutup kembali telponnya.
''Apa kamu akan berdiri di situ terus?! Tunggulah di sofa itu, sebentar lagi akan ada yang menjelaskan tugas-tugas mu disini. '' ucap Leon masih tanpa ekspresi.
''Iya tuan. '' Sheina berjalan ke arah sofa yang di tunjuk Leon dan meletakkan kotak barangnya di atas meja. Sesekali dia mengusap kedua lengannya.
''Kenapa di sini dingin sekali? Apakah memang seperti ini ruangan big bos. Ya ampun, mau sampai kapan aku bekerja dengannya. " batin Sheina bergidik ngeri.
Tanpa Sheina tau Leon meliriknya dan terlihat lengkungan di ujung bibirnya. Dengan gerakkan cepatnya Leon menurunkan suhu Ac-nya.
''Tok,,,tok,,, tok,,,!! '' pintu di ketuk dari luar. Tanpa menunggu jawaban, pintu di dorong dari luar dan terbuka. Nampak pria tampan masuk dan tersenyum ke arah Sheina yang duduk di sofa dalam ruangan itu.
''Sekertaris Willy. '' sapa Sheina berdiri dan sedikit membungkukkan tubuhnya.
''Halo Sheina. '' balas Willy tersenyum melambaikan tangan ke arah Sheina.
''Eheem. '' Leon berdehem, melihat pemandangan di depannya.
''Apa aku memanggilmu hanya untuk berbasa basi! '' ucapnya dengan pandangan membunuh.
''Ppff! Maaf tuan muda. Ada apa tuan muda mencari saya. '' Willy mengulum senyum melihat sikap Leon.
''Jelaskan pekerjaannya, mulai besok. Dan sediakan meja untuknya bekerja. '' titah Leon.
''Jadi tuan muda benar-benar ingin mencarikan teman untuk membantuku bekerja? '' kata Willy.
''Pekerjaanmu tetap pekerjaanmu tidak akan ada yang membantumu. Dia akan di sini bekerja dengan ku. '' ucap Leon.
''Jadi tuan muda ingin menduakan aku? '' jawab Willy tersenyum melirik ke arah Sheina yang nampak bingung dengan pembicaraan mereka.
Sesekali mengusap tengkuknya dan bergidik ngeri. Entah apa yang ada di pikirannya.
'' Omong kosong apa itu! Menduakan mu. '' Leon kembali melirik Sheina. Diam saja.
''Hahaha... ? Baiklah tuan muda aku akan menjelaskan apa saja tugas-tugasnya besok. '' Willy berjalan mendekati Sheina yang masih terlihat bingung.
''Nona Sheina? ''. Willy tersenyum.
''Panggil Sheina saja sekertaris Willy. '' balas Sheina.
''Em,,, ? Baikl'' Sheina, jadi mulai besok kamu adalah sekertaris kedua dari tuan muda Leon. Jadi apapun yang di suruh oleh tuan muda Leon, kamu harus bisa handle. Paham? ''
''Eeh,,, iya. Tapi kalau saya mulai besok kerja, kenapa hari ini saya sudah pindah ke sini?''tanya Sheina.
''Itu,,,, ? Karena tuan muda Leon ingin mengenalmu lebih dekat. '' Willy tersenyum jail.
''Plaaakk,,, !!! '' sebuah buku melayang mengenai kepala Willy.
''Aaaww,,, ?!! '' pekik Willy. Menatap Leon yang sedang memelototinya.
''Apakah ada yang salah dengan ucapan ku tuan muda? '' Willy bertanya tanpa rasa bersalah.
Leon mendekat ke arah Willy dan Sheina dan menarik tangannya agar menjauh dari Sheina. Terlihat jelas bahwa apa yang memang di rencanakannya, begitu saja di katakan Willy dengan gamblang.
''Apa maksud ucapanmu tadi, sekertaris Willy! '' tanya Leon dengan suara beratnya.
'' Kau bilang agar aku mengenalnya lebih dekat, aku hanya butuh sekertaris bukan calon istri. ''
''Pppff,, !! Oh maaf Leon kalau kata-kata ku terlalu jujur. Baiklah akan aku ulangi lagi, tugas-tugasnya apa saja. '' Willy kembali pada Sheina.
''Sheina, mulai besok kamu bekerja di sini sebagai sekertaris kedua bos. Tugasmu, mendampingi bos rapat atau kunjungan ke cabang juga memberitahu apa saja jadwalnya, mulai dari masuk kantor sampai jam kerja berakhir. Apakah sudah di mengerti? '' Willy menyudahi penjelasannya dengan tersenyum.
''Baiklah sekertaris Willy, saya mengerti. Lalu apa yang harus saya kerjakan sekarang? '' tanya Sheina.
''Karena hari ini, tuan muda tidak ada rapat maka kamu akan menemaninya kunjungan ke cabang yang ada di luar kota. Aku akan mengajarimu,hari ini saja. Nanti jam 2,setelah makan siang kita akan berangkat ke Surabaya. Persiapkan dirimu Sheina. ''
''Baiklah sekertaris Willy, saya mengerti. '' Sheina tersenyum, orang-orang ini tidaklah seseram yang dia bayangkan.
''Baiklah tuan muda, apa yang ingin kamu makan untuk siang ini? ''. tanya Willy. Leon kembali memandang Willy dan menghembuskan napas panjang.
''Terserah, asal jangan makanan sampah yang kau berikan padaku. ''
''Makanan sampah yang rasanya lezat itu kah? '' Willy bersiap siap kabur kalau saja ada barang melayang menghampiri kepalanya. Dan benar saja belumlah sempat menghindar, Leon sudah melemparkan kamus ke arahnya. Untung saja tidak kena.
''Braakk,,, !!!''
''Cepat pergi atau mati!! ''. gertak Leon.
Willy pun segera kabur sambil tertawa melihat tuan mudanya geram.
Melihat adegan itu Sheina hanya tersenyum. Betapa akrabnya hubungan mereka,begitulah pikirnya. Yang tanpa sadar senyum itu yang mampu membuat seseorang jadi semakin terpesona.
''Apa yang kau senyumi? Jangan pernah terpedaya dengan sikap konyolnya. Karena bila bertemu dengan orang yang tidak cocok dengannya, dia akan berubah menjadi iblis yang sangat kejam. '' ucap Leon kembali menanda tangani map map yang bertumpuk di depannya.
''Tapi sepertinya sekertaris Willy orang yang baik tuan. Mana mungkin dia sangat kejam. '' ucap Sheina dengan sopan.
Leon sejenak menghentikan coretannya, lalu tersenyum sinis, tapi tetap tenang.
''Suatu saat kamu akan tahu seberapa kejam orang ini. '' batin Leon.
''Apakah tuan sudah lama mengenal sekertaris Willy? Sepertinya tuan begitu akrab dengannya, dan sekertaris Willy juga begitu mengerti anda, tuan. ''
''Apa yang di pikirkan gadis bodoh ini. Sepertinya kamu cukup mengenal dia?Hem! Daripada kamu hanya berdiam di situ lebih baik, kamu bantu aku merapikan berkas berkas yang ada di meja depan itu. '' Leon menunjuk meja yang berada tidak jauh di samping meja kerjanya.
Sheina pun melakukannya dengan cekatan, menyusun dari huruf dan angka yang tertulis di masing-masing map.
Lalu merapikan buku yang ada di rak belakang kursi kerja Leon,banyak buku tebal tentang berbagai bisnis dan yang lainnya. Saat membersihkan nakas yang ada di ujung ruangan,Sheina melihat foto terpajang di sana. Dia meraih dan melihatnya.
''Apakah ini foto tuan Leon dan pacarnya? Cantik sekali, begitu sempurna. Pasti tuan Leon sangat mencintainya. Beruntung sekali wanita ini mendapatkan tuan Leon. " batin Sheina, dia merasa iri dengan model yang kini menjadi kekasih big bosnya itu.
''Apa yang kau lihat!? Kau cukup membersihkannya tak perlu melihatnya! '' bentak Leon tiba-tiba. Membuat Sheina kaget dan hampir menjatuhkan pigura foto itu. Leon dengan kasar merebut foto itu dari tangan Sheina.
''Maaf tuan. '' ucap Sheina ketakutan, matanya buram dan hampir saja dia menangis di depan Leon, tapi dengan kuat dia menahannya. Kepalanya menunduk tak berani menatap Leon.
''Keluar dari sini! Keluar dari ruanganku sekarang juga! '' ucap Leon begitu keras.
Sheina kemudian berlari keluar ruangan Leon. Air mata yang tadi sempat di tahannya leleh begitu saja membasahi pipinya.
''Bruuukkk,,,,,!! ''
''Oops,, ada apa ini. '' ucap Willy saat Sheina menabraknya, dan hampir menjatuhkan berkas yang di bawanya.
''Maaf sekertaris Willy? Ma,, maaf? '' ucap Sheina bergetar.
''Hei, Sheina? Ada apa? Kenapa kamu menangis? '' Willy mencoba menenangkan Sheina.
''Ada apa? Hem? ''
Sheina mencoba untuk tenang dan menghapus air matanya. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
''Tadi saya di suruh merapikan buku di rak ruangan, tuan Leon. Dan saya tidak sengaja melihat foto tuan Leon dan kekasihnya di atas nakas saat saya sedang membersihkannya. Tuan Leon tau dan membentak saya lalu menyuruh saya keluar. Maafkan saya karena lancang. Saya hanya membersihkannya saja tidak ada maksud apa-apa, sekertaris Willy. '' ucap Sheina dengan nada masih menahan tangis.
''Hanya karena itu? Leon marah dan mengusirmu? ''
Sheina menganggukan kepala. Bukan maksudnya mengadu tapi dia hanya memberitahu Willy apa yang sebenarnya terjadi. Willy nampak begitu marah tapi bisa dia redam. Leon yang di kenal dulu tidaklah seperti ini. Willy menyuruh Sheina untuk menunggu di ruangannya, sedangkan dia bergegas ke ruangan tuan mudanya itu.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🌹