
Vallery mengepalkan tangannya marah. Dia sudah berusaha merendahkan dirinya di hadapan Leon namun ternyata Leon malah menyuruhnya pergi.
''Nggak! Aku nggak mau ke Perancis,sebelum kamu benar-benar jadi milik ku Leon. Aku tidak percaya kamu tidak lagi mencintaiku! Aku akan tetap mendapatkanmu Leon!! Huhuhu,,,,?!! "teriak Vallery dalam tangisnya,saat berada di kamar apartementnya.
Kamar yang tadinya rapi kini menjadi berantakan bak kapal pecah. Vallery melempar apa saja yang ada di dekatnya ke tembok. Rasa marah,kesal dan sakit hati membuatnya menjadi seperti orang kesurupan. Dengan tangis yang pilu dia melemparkan tubuhnya ke ranjang dan terus terisak hingga dia capek dan tertidur,melupakan sejenak rasa sakit yang baru saja menghantam hatinya.
...****************...
Sheina merenggangkan otot2nya,matanya mulai terbuka perlahan. Rasanya nyaman karena bisa tidur tetapi dia belum sadar dimana dia sedang berbaring.
" Eh?! Dimana ini? " Sheina terperanjat kaget saat menemui dirinya tidak berada di dalam mobil melainkan di dalam kamar.
Sheina memperhatikan tubuhnya. Pakaiannya masih lengkap,dia semakin kebingungan. Sheina mengira dirinya jadi korban penculikan.
Sheina mengatur napasnya,menenangkan dirinya sendiri,lalu turun dari ranjang melihat jam tangannya.
"Sudah jam tujuh malam?! Dimana Willy? Willy,,,!! Will?? Willy,,,?! " teriaknya,butiran bening itu mulai memenuhi kelopak matanya.Takut.
"Ceklek! "
Pintu terbuka dan sosok pria masuk dengan muka terkejut,napasnya tak beraturan seperti habis lari.
"Leon,,,?!! " seru Sheina memeluk tubuh pria itu.
"Ada apa? Kamu nggak apa-apa kan? " balas peluk Leon.
''Aku takut. Ini dimana? Willy mana? Kenapa dia tidak ada di sini? '' rengek Sheina.
''Huh?! Tenang Shei. Kamu masih di dalam kantor. Ini di dalam kamar istirahat aku. '' jawab Leon melepas pelukannya.
''Hah? Kamar kamu? Kantor? Maksudnya apa? ''
'' Ya sudah kita keluar dulu. '' ajak Leon,menggandeng tangan Sheina keluar. Dan benar saja ini adalah ruang kerjanya Leon. Sheina kembali menoleh ke belakang tapi hanya melihat rak-rak buku di belakangnya.
''Kamu lihat? Ini masih di kantor. Kamu tadi ketiduran di mobil,makanya aku membawamu dan menidurkan mu di kamar istirahat ku. '' terang Leon.
''Tapi kenapa tidak membangunkanku saja? Terus kamar tadi,,,? '' Sheina celingukan mencari kamar yang di tempatinya tadi.
Leon tersenyum,tau apa yang di pikiran Sheina. Dia lalu maju mendekati rak buku itu dan mendorongnya perlahan. Seperti pintu yang di dorong masuk maka terbukalah dan nampak ruanga kamar tadi.
Sheina menganga melihat itu. Dia tidak tahu kalau masih ada ruangan lain di dalam ruangan kerja tempatnya bekerja dan itu adalah kamar yang lumayan mewah.
''Bagaimana? Sudah lihat ? Hanya aku dan Willy yang tahu ruangan ini. Semua ini sudah di desain khusus,aku juga menempatinya kalau pas kerja lembur saja atau kalau malas pulang ke rumah. '' Leon kembali menutup rak buku itu.
'' Wah,keren. Tapi kenapa Willy tidak membangunkan ku? Aku sudah bilang untuk membangunkan ku kalau sudah sampai di kantor. ''
''Aku yang menyuruhnya untuk tidak membangunkanmu karena kamu terlihat lelah. ''
''Terima kasih sudah membiarkanku tidur di tempat tidur yang nyaman. '' ucap Sheina senang.
''Apa kamu menyukai tempat tidurku? '' Leon berjalan mendekat ke arah Sheina. Lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Sheina.
''Leon ini terlalu dekat,kamu jangan begini. '' Sheina menghindar.
''Heh?! Ayo pulang sudah malam. '' Leon menjauhkan kembali mukanya dari Sheina.
"Menyenangkan sekali menggoda gadis ini. " batin Leon lalu mengenakan jasnya,bersiap untuk pulang.
Jantung Sheina berdetak lebih kencang. Perasaan itu muncul lagi,perasaan bahagia kala bersama Leon. Bibirnya tersenyum senang,meski mungkin hanya dia yang merasakan perasaan ini,hatinya benar-benar bahagia hari ini.
''Apa Willy sudah pulang,Leon? Dimana dia? '' tanya Sheina saat berada di dalam mobil.
''Dia sedang mengejar mainan barunya. '' jawab Leon tersenyum nakal.
''Sudah jangan di pikirkan,aku antar kamu pulang. Atau kamu ingin pergi ke tempat lain dulu? '' tanya Leon.
''Oh iya,aku mau belanja sayur buat keperluanku sehari-hari. Antarin ke supermarket sebentar bisa nggak?Hihihi. '' Sheina menunjukkan deretan gigi putihnya.
''Ok. '' jawab Leon singkat.
''Hah.'' Sheina tercegang mendengar jawaban Leon,padahal dia hanya bercanda.
Lima belas menit mengendari mobil dari kantor sudah sampai di sebuah supermarket yang di maksud Sheina. Leon memarkirkan mobilnya di antara mobil-mobil pengunjung lainnya.
''Kamu mau ikut aku belanja? '' tanya Sheina saat melihat Leon ikut turun dari mobilnya.
''Iya. Kenapa? Nggak boleh,aku temenin kamu belanja? '' balik tanya Leon.
''Oh? Ya udah kalau gitu. '' jawab Sheina berjalan di depan. Sedangkan Leon mengikutinya dari belakang.
Masuk ke sebuah supermarket memang baru pertama kali di lakukan Leon selama hidupnya. Bahkan dia juga tidak tau apa saja yang ada di dalam sebuah supermarket.
Sheina mengambil troli dan mendorongnya ke arah sayuran dan deretan rak buah yang tentu saja dengan Leon yang ada di belakangnya,terlihat heran melihat banyak jenis sayur dan buah yang memang belum pernah ia temui apalagi membeli langsung dimana tempatnya dijual.
''Leon? Bisa tolong dorong trolinya? Aku ingin memilih sayur dan daging di sana. '' Sheina menyerahkan troli pada Leon.
''Oh. Emm. '' jawabnya simple.
Sheina sedang asyik memilih sayur dan buah,Leon mengikutinya dari belakang,seperti suami yang menemaninya belanja.
''Wah jeng,lihat ada cowok ganteng sedang belanja. Ya ampun bener-bener sempurna tampangnya seperti seorang pangeran. '' ucap ibu-ibu yang berpapasan dengan Leon.
Leon hanya menanggapi dengan senyuman canggung. Saat Sheina terlihat sedang asyik memilih sayur dan daging,Leon malah di goda ibu-ibu yang mengagumi ketampananya.
''Tuan? Mau belanja apa? Biar saya bantu,sepertinya tuan bingung mau belanja apa. '' tanya ibu-ibu yang bertubuh gendut tapi masih terlihat muda.
''Tuan? Kok belanja sendiri? Istrinya kemana? Kok mau sih di suruh belanja,inikan tugas istri. Iya kan jeng. ''
''Huk uh,iya. Kalau tuan ini suami saya, pasti tuan ini saya layani dengan sepenuh hati. ''
''Maaf bu,permisi saya mau ke sana. '' tunjuk Leon ke arah Sheina yang memilih daging. Namun si ibu-ibu itu tidak menghiraukan ucapannya.
Leon bingung ingin memanggil Sheina pasti tidak bisa mendengarnya karena di situ terlalu rame. Saat sedang sibuk membuat alasan untuk menghindar dari ibu-ibu yang terus saja tak membiarkannya pergi dengan celoteh-celotehannya yang tak Leon mengerti tiba- tiba terdengar suara yang membuatnya bernapas lega.
'' Maaf ibu-ibu? Apakah ada perlu dengan suami saya?'' ucap Sheina dengan halus dan sopan.
Sontak kedua ibu-ibu itu langsung berhenti berceloteh dan menatap ke arah Sheina kaget.
''Suami? Nona istri tuan ini,ya? '' tanya ibu-ibu yang berbadan kurus pendek.
''Iya ibu,ini suami saya. Tadi saya sedang memilih sayur dan daging di sana. Saya sudah selesai belanja dan kembali ke sini tapi saya lihat dia sedang bicara dengan ibu-ibu. '' ucap Sheina masih dengan senyum ramahnya memeluk lengan Leon mesra.
'' Maaf ya nona,tadi kami hanya mengobrol saja. Kami lihat tuan ini seperti bingung ingin belanja apa? Jadi kami berniat membantunya. Ternyata tuan sama istrinya kenapa tidak bilang. '' seru si ibu gendut sewot melihat Sheina menggandeng Leon yang nampak tersenyum mengikuti akting Sheina.
''Oh,terima kasih sudah mau membantu suami saya,kami permisi dulu ya ibu? Ayo sayang. '' Sheina menarik Leon menuju ke arah kasir. Sedangkan dua orang ibu-ibu tadi tengah berbisik dengan muka jengkelnya.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
Haloo,,,teman?? Terima kasih atas dukungannya ya.
Terima kasih juga untuk like dan komennya.
😊😊😊