
Sheina masuk ke ruang rapat dan duduk di sebelah kursi Leon. Mereka semua pun memulai rapat pagi itu. Leon memperhatikan layar monitor yang menunjukkan banyaknya investor yang bergabung dengan perusahaannya yang sudah hampir 1 tahun ini dia pegang.
Willy pun juga membantu menjelaskan asal investor itu semua dari luar dan dalam negeri.
'' Dan ada lagi yang membuat kita bisa bangga,ini adalah perkembangan yang begitu pesat untuk perusahaan kita,selama beberapa bulan ini berada di bawah pimpinan tuan Leon. '' ucap Willy yang di sambut tepuk tangan oleh semua yang ada di ruang rapat itu.
''Terima kasih,ini semua juga karena kerjasama dari kalian semua. Saya harap kalian bisa meningkatkan pendapatan yang lebih dari rata-rata agar di akhir tahun ini kalian bisa mendapatkan bonus dari perusahaan. Saya rasa cukup sampai di sini rapat hari ini,kalian bisa kembali bekerja. '' ucap Leon mengakhiri rapat tepat di jam 12 siang.
'' Willy ikut aku ke ruangan ku. '' ucap Leon melangkah keluar di ikuti Sheina dan Willy.
Sesampainya di ruangan,Leon tak juga bicara. Willy yang sedang duduk di sofa memainkan ponselnya merasa aneh dengan tuan mudanya itu.
''Permisi tuan? Saya permisi makan siang terlebih dahulu. '' ucap Sheina yang melihat kecanggungan diantara keduanya.
''Pergilah. '' jawab Leon,melirik Willy yang tak bergeming.
''Terima kasih. Permisi sekretaris Willy. '' pamit Sheina yang di balas senyum dan lambaian tangan Willy.
''Kenapa lagi sih dengan mereka berdua? Aneh sekali. '' bisik Sheina sesaat setelah keluar dari ruangan Leon.
Sheina berjalan menuju lift dan menekan angka 10 turun. Dia ingin mengajak teman kerjanya dulu Via dan Zein untuk makan,lalu menghubungi ponsel Hana juga. Rasanya sangat merindukan mereka,karena sejak dia menjadi sekretaris big bos. Tak pernah sekalipun Sheina makan bareng teman-temannya lagi.
''Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan padaku? Apakah begitu penting sampai harus menunggu dia pergi dahulu. '' ucap Willy menunjuk meja Sheina.
''Bukan. '' jawab Leon berpikir.
''Lalu,,,?? '' Willy mengerutkan alisnya.
''Aku ingin kau mencarikan ku seseorang yang bisa di percaya,untuk memantau Vallery. '' kata Leon datar.
''Hei,,,? Ada apa dengan pujaan hatimu itu? Apa kau sudah tak mempercayainya lagi? Hem? Bukankah kau sangat mencintainya? '' cerca Willy.
''Jika kau tak mau memberitahuku,aku akan mencari tahunya sendiri. Aku sudah tahu kalau kamu selama ini diam-diam memata-matai ku,menyuruh orang untuk memantau semua kegiatan ku di luar jam kerja. Benar bukan?! '' seru Leon.
''Aku memang menyuruh orang untuk mengawasi mu,itu karena om Adinata tak ingin terjadi apa-apa padamu. Kau tahu kan bagaimana sengitnya persaingan di dunia bisnis? '' jawab Willy.
''Tapi aku bukan anak kecil yang harus setiap saat di pantau. '' geram Leon.
''Kalau masalah ini kau bisa bicarakan dengan papamu,karena aku hanya melaksanakan perintahnya. '' Willy kembali ke sofa.
''Ah,sudahlah! Lalu bagaimana dengan permintaan ku tadi?! '' tanya Leon beranjak dari duduknya.
''Mau berapa orang pun akan aku panggilkan untukmu. '' Willy merogoh ponsel di saku jasnya.
''Aku cuma butuh 2 orang saja. '' jawab Leon.
Willy kemudian melakukan panggilan dengan ajudan kepercayaannya yang akan di perintah olehnya untuk membantu tuan mudanya ini.
''Sheina,,?! '' teriak Via saat berpapasan tepat di depan lift.
''Via,,,?! '' seru Sheina memeluk teman baiknya itu.
''Kirain udah lupa sama yang di bawah. '' canda Via.
''Maaf ya aku sibuk banget soalnya. Eh,big bos yang sibuk aku cuma ngikut aja,padahal jenuh banget di atas nggak ada teman yang di ajak ngobrol. '' Sheina memanyunkan bibirnya.
''Iya,,iya. Aku ngerti kok. Oh ya Zein dari kemarin nggak masuk kerja,katanya lagi sakit dan sekarang di rawat di rumah sakit. Nanti pulang kerja antarin aku jenguk dia ya Shei?! '' kata Via.
''Hah? Zein sakit? Sakit apa? '' tanya Sheina terkejut.
'' Katanya sih mendadak demam tinggi,terus ibunya membawa dia ke rumah sakit. '' jawab Via.
''Aku belum bisa jawab,iya Vi. Nanti aku kirim pesan deh kalau aku bisa. '' jawab Sheina sedih.
''Kita ke kantin makan yuk?! Aku juga sudah kasih tahu Hana. '' ajak Sheina.
''Ok. '' jawab Via.
Dua orang ajudan Willy sudah berada di ruangan Leon,mereka sudah siap menjalankan tugas yang sudah di perintahkan oleh tuannya.
''Kalian bisa memulainya hari ini juga. Dan aku ingin kalian mendapatkan informasi yang akurat. '' ucap Leon tanpa ekspresi.
'' Baik tuan?! '' seru kedua ajudan itu.
''Kami permisi dulu. '' mereka pun pergi meninggalkan ruangan Leon.
Willy kembali duduk di sofa,memijat pelipisnya. Ingin rasanya dia membeberkan semua apa yang sudah dia selidiki setahun belakangan ini. Tapi kata-kata papa Leon selalu terlintas di pikirannya,yang agar membiarkan Leon mengetahuinya sendiri.
''Baiklah sebaiknya kita makan siang terlebih dahulu. Karena kita masih akan menghadiri rapat setelah ini. '' ucap Leon,memakai kembali jasnya.
''Baiklah. '' jawab Willy malas. Lalu berjalan mendahului Leon membukakan pintu.
...****************...
'' Kalau bukan karena aku membutuhkannya,sudah aku tinggalkan kamu dari dulu,Leon. '' umpat Vallery memasuki apartemen mewah yang ia sewa saat kembali ke Indonesia.
Ponsel yang sedari tadi membisu,tiba-tiba bergetar dan berbunyi nyaring memanggil sang pemilik untuk mengangkatnya.
''Siapa ini?! '' gumamnya,karena hanya terlihat deretan nomor tanpa nama.
Vallery tak menghiraukannya. Dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat menatap wajahnya di cermin dia melihat bekas ****** di lehernya yang sangat terlihat jelas. Lagi-lagi dia mengumpat kesal,lalu mengisi bak mandi dengan air hangat untuk berendam.
Saat memejamkan matanya Vallery teringat dengan adegan di ranjangnya dengan Rey tadi malam. Vallery menggigit bibirnya. Selama menjadi kekasih Leon,belum pernah dia melakukan hubungan yang lebih seperti dengan laki-laki lainnya. Itulah yang membuat Vallery merasa sangat kesepian. Karena saat bersama Leon dia hanya bisa berciuman saja tidak lebih. Karena Leon tak pernah mau melakukan hubungan di luar batas.
Satu jam sudah dia berendam di bak mandi. Vallery memakai handuk kimono dan menggulung rambutnya dengan handuk. Dia meraih ponsel yang di tinggalkannya di nakas. Matanya membelalak melihat panggilan tak terjawab dengan nomor yang sama hampir mencapai 100X panggilan.
Vallery mencoba menghubunginya. Baru beberapa deringan langsung di angkat.
''Halo! Siapa ini?! '' ucap Vallery geram.
''Halo sayang? Apakah kamu secepat itu melupakan aku.Hem. " jawab seseorang di seberang.
''Kamu? Rey? '' tebak Vallery.
''Benar sekali,aku Rey. Oh ya sayang,bagaimana bisa kau meninggalkanku begitu saja di hotel tadi pagi? " tanya Rey.
'' Oh maaf. Kulihat kamu terlalu lelah,jadi aku tidak tega membangunkanmu dan juga aku buru-buru karena ada urusan. '' jawab Vallery.
Merekapun larut dengan obrolan mereka. Itulah Vallery yang akan sangat mudah akrab dengan orang yang baru di kenalnya. Apalagi dia berpikir jika Rey bisa dia manfaatkan kelak.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Happy Reading teman-teman,,,,😊😊
Jangan lupa bantu :
👉VOTE
👉LIKE
👉KOMEN yah,,,,,
Terima kasih😚😚😚😚