Sorry, I Love You...

Sorry, I Love You...
BAB. 36



Bahkan dalam gendongan Leon pun Sheina begitu pulas. Leon tersenyum melihat wajah Sheina yang begitu tenang.


Karyawan yang di lobi,terkejut melihat Leon menggendong Sheina yang tertidur mereka saling berbisik entah apa yang mereka bicarakan.


Willy melirik ke arah mereka yang sedang berkasak kusuk dengan sesama karyawan lain. Saat lift terbuka,Leon segera masuk sedangkan Willy berhenti sebentar.


''Ehemm,,!! Jika besok ada isu yang bukan-bukan di kantor ini. Lebih baik kalian semua tidak usah kembali bekerja di sini! " gertak Willy kepada karyawan lobi,lalu masuk ke dalam Lift menuju ruangannya.


"Kerja bagus Will. " ucap Leon memuji.


"Aku hanya tidak mau gadis manisku jadi bahan omongan. " jawab Willy.


"Siapa gadismu?! " tanya Leon heran.


"Di sini cuma ada satu gadis manis,tuan muda. " jawab Willy mlengos.


Leon menatap Sheina. Pasti yang di bicarakan Willy adalah Sheina,matanya melirik ke arah Willy yang berdiri di sampingnya. Tapi yang di lirik hanya pura-pura cuek.


"Tiingg...!!"


Pintu lift terbuka,Willy mempersilahkan Leon keluar duluan.


"Jangan coba-coba bilang wanitaku ini adalah gadismu. " seru Leon lalu berjalan membelakangi Willy.


Willy yang kaget dengan ucapan Leon pun tertawa menyeringai. " Hehehe..!! Wanitamu ya?! "


Leon menidurkan Sheina di ruang istirahatnya. Ya,di ruangan Leon itu memang ada ruangan istirahatnya berupa kamar kecil lengkap dengan lemari pakaian ganti dan kamar mandi. Mungkin Sheina tak akan mengira jika di situ ada ruangan itu,karena hanya Leon dan Willy saja yang tahu,ruangan itu mirip ruangan rahasia karena pintu doronganya berupa rak buku.


"Istirahatlah,kamu pasti kecapekan hari ini. " bisik Leon pada Sheina. Lalu membiarkannya tidur dan kembali ke ruang kerjanya.


Willy sudah ambruk di sofa,matanya terpejam tangannya memijat dahinya sendiri. Leon yang melihat temannya itu hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu kembali dengan komputernya.


"Jadi kamu sudah mengakuinya sebagai wanitamu? Secepat itu? " ucap Willy tanpa sedikitpun menoleh ke arah Leon.


"Aku sudah benar-benar melepaskan dia. Dan aku harus menata kembali hidupku lebih baik lagi. "


"Apa kau yakin dia mau denganmu? Kapan kamu akan mengatakan padanya,kalau kau menyukainya."


"Apa dia akan menolakku?! " Leon menatap Willy yang tak bergeming dengan posisinya.


''Bukankah kamu juga menyukainya..?? '' Leon kembali dengan keyboard nya.


Willy bangkit dari tidurannya. Menatap serius ke arah Leon yang sekarang mulai serius dengan komputernya kembali,menyekrol data-data dan menelitinya sekali lagi.


''Sudah berapa kali aku bilang? Aku hanya menganggapnya adik saja. '' jawab Willy.


''Siapa yang tahu kalau dalamnya hatimu. '' ucap Leon acuh.


''Aku ingin mendekati seseorang dan aku sama sekali tidak punya rasa apa-apa selain sebagai kakak yang menyayangi adik perempuannya. '' seru Willy meyakinkan.


Leon menghentikan ketikannya. Menatap Willy dengan serius,memicingkan matanya. Lalu memutar duduknya menghadap ke arah Willy.


''Kamu menyukai seseorang? Siapa? Apakah dia juga menyukaimu? '' introgasi Leon.


Willy menyatukan alisnya,heran. Entah mengapa tuan mudanya itu memberondong pertanyaan itu padanya. ''Memangnya kenapa? Salah ?? ''


''Siapa dia? '' tanya Leon lagi.


''Yang pasti seorang perempuan. '' jawab Willy mulai kesal.


''Apa dia menyukaimu juga? Hem ? '' Leon masih saja bertanya.


''Hei,tuan muda? Apakah kamu mendadak idiot? Atau jadi bodoh. Hem. ''


''Apa maksud mu!! " Leon geram.


"Kamu bertanya padaku. Apakah perempuan itu menyukaiku. Mana aku tahu kalau dia suka atau tidak. Aku kan belum bertanya padanya. Isshh..!!"


"Sudahlah! Kembali bekerja sana. " usir Leon.


" Kenapa? Marah? Hahaha...?! " seru Willy.


Leon melempar buku catalog ke arah Willy yang hendak melangkah menuju pintu. Namun dengan sigap dia menghindarinya dengan tawa meledeknya.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️