
...**** FLASHBACK ON ****...
'' Saya senang tuan besar memanggil saya lagi untuk di beri tugas. '' ucap seorang wanita paruh baya dengan ramah.
'' Ana?! Apa kabar? Senang bisa bertemu dengan mu kembali. '' jawab Monic.
Ya wanita paruh baya itu adalah bik Ana yang sekarang bekerja atas perintah Adinata di rumah Sheina. Ana adalah ketua pelayan wanita keluarga besar Adinata. Dulu dia pernah berhenti bekerja karena ingin menyelesaikan masalah dengan kelurganya hingga akhirnya di gantikan oleh pak Kim.
Wanita tangguh kepercayaan Adinata ini sudah ikut dengan keluarga besar Adinata sejak Leon masih bayi. Bisa di bilang dia dulu adalah baby sister Leon.
'' Bagaimana dengan keluargamu Ana?'' tanya Adinata.
'' Baik tuan besar. Semua atas bantuan anda. Terima kasih. '' jawab Ana.
'' Bagus. Sekarang aku ingin kamu kembali bekerja untukku. Aku ingin kamu menjaga seseorang dengan baik sebelum dia masuk menjadi anggota baru Adinata. '' ucap Adinata.
Ana mengernyitkan keningnya tidak mengerti dengan arah pembicaraan tuan besarnya. Tapi sepertinya Adinata tau kebingungan Ana yang terlihat jelas olehnya.
'' Dia calon menantu ku. Calon istri dari Leon. '' ucap Adinata tegas.
'' Benarkah? Tuan muda sudah mempunyai calon istri? Ah,,,? Tidak terasa bayi mungil yang ku asuh dulu kini sudah menjadi pria dewasa. ''
'' Hahaha...? Dia tumbuh begitu cepat Ana,dan juga tampan. '' sahut Monic memuji putra kesayangannya.
'' Iya nyonya. Saya juga sudah lama tidak bertemu dengannya. Apakah tuan muda masih mengingat
saya? ''
'' Mana mungkin dia melupakan mu. Tapi dia sempat menjadi pria dingin dan acuh. '' jawab Adinata.
Mata Adinata menerawang mengingat bagaimana sikap putranya dulu. Begitu pendiam dan gampang emosi.
'' Dia pernah salah mencintai seorang gadis. Dia begitu kecewa dengan penghianatan cinta pertamanya. '' Monic menerangkan.
'' Oh,tuan muda. '' Ana mengiba.
'' Tapi sekarang dia sedang bahagia. Dan pilihannya saat ini aku yakin tak akan pernah salah. Gadis ini akan menjadi menantu pertama keluarga Adinata. Dia benar - benar cantik dan lemah lembut. ''
'' Selamat tuan besar , nyonya. Lalu kapan saya akan mulai bekerja? '' tanya Ana.
'' Kapan kamu siap,kamu bisa langsung bekerja. Oh ya,bukankah kamu mempunyai seorang keponakan? Ajak juga dia bersamamu,karena aku rasa dia bisa menjadi teman buatnya karena usianya hampir sama. ''
'' Mei? Benarkah tuan besar? Wah berarti masih sangat muda sekali. '' Ana tersenyum senang.
...**** FLASHBACK OFF ****...
'' Hana? Apa kau mau membantu ku? '' tanya Sheina saat menemui Hana di ruangannya.
'' Ya? Tentu. Kalau aku bisa membantu pasti akan ku bantu. Ada apa? ''
'' Tuan besar mengirimkan orang kepercayaannya untuk menjagaku. Mereka semua ada di rumahku. Aku sungguh tidak terbiasa dengan semua ini. '' ucap Sheina yang memanyunkan bibirnya,persis seperti anak kecil yang sedang merajuk.
'' Heh...?! Kalau begitu aku tidak bisa membantu. ''
'' Katanya tadi bisa membantuku? ''
'' Shei? Aku bisa membantumu kalau aku bisa membantumu. Tapi kalau sudah menyangkut keluarga besar Adinata,aku bisa apa? Apakah Leon tahu ini semua? ''
'' Iya? Dia tahu,bahkan dia juga setuju? ''
''Shei? Tuan besar adalah orang yang sangat baik. Kalau dia sendiri yang menyuruh orang-orangnya menjagamu,beliau pasti sudah memikirkannya dengan matang. Jika ini untuk keselamatanmu,pasti tuan besar juga sudah tahu akan ada sesuatu yang bisa membahayakan mu sewaktu - waktu. Kau tahu? Mereka orang besar dengan kesuksesan yang membanggakan. Bahkan bisa sangat membuat iri orang-orang yang tidak menyukainya. ''
Sheina menatap Hana dengan mata berkaca - kaca. Butiran bening yang sedari tadi di tahannya hampir saja jatuh. Sheina benar - benar belum bisa berpikir dewasa seperti Hana.
'' Baiklah. Akan aku coba untuk menerima ini semua. Terima kasih Hana,kamu bisa membuatku tenang sekarang. '' Sheina memeluk Hana.
'' Iya sama - sama. Sudah balik sana nanti di cariin cintamu. '' goda Hana.
'' Ih? Apaan sih. Ya sudah aku balik ke atas dulu yah? Bye Hana. ''
'' Oke. Bye? '' balas Hana melambaikan tangan ke arah Sheina yang menghilang di balik pintu.
Hari ini pekerjaan tak terlalu banyak seperti biasa. Bisa di bilang lumayan santai. Karyawan yang biasanya kejar deadline tampak begitu santai mengerjakan tugas-tugasnya.
'' Selamat siang nona. '' sapa karyawan,saat Sheina melewati ruangan mereka menuju ruangan atas.
'' Iya. Selamat siang. '' jawab Sheina sopan tapi sedikit heran dengan sikap karyawan kantor akhir - akhir ini yang tiba - tiba sangat menghormatinya.
'' Ada apa dengan mereka semua? " batin Sheina.
Tok...
Tok...
Tok..
Sheina mendorong pintu kaca dan masuk. '' Hai ? ''
Leon yang sedang serius dengan ponselnya mengangkat kepalanya dan menyandarkan badannya di sandaran kursi.
'' Darimana saja? Hem? Aku menunggu mu sedari tadi. Kemari lah ? '' ucap Leon.
Sheina berjalan mendekati meja kerja Leon dan menarik kursi duduk tepat di hadapannya.
Leon mengernyitkan dahinya. Menatap tajam ke arah Sheina.
'' Ada apa? Apa ada yang salah? '' tanya Sheina merasa aneh di tatap seperti itu sama Leon.
'' Aku menyuruhmu kemari,kenapa kamu duduk di situ? Kamu pikir aku sedang menemui tamu ku? ''
Sheina memutar mata malas. '' Oh? Ku pikir ada apa? Baiklah. '' berjalan mendekat ke arah Leon.
Leon meraih pinggang Sheina dan mendudukkannya di pangkuannya. '' Kenapa kau begitu menghindar dari ku? Apakah aku begitu menakutkan? ''
'' Ayolah tuan muda jangan mulai lagi. "
" Baiklah. Ini lihatlah gaun pengantin ini,apakah ada yang kamu suka. " tunjuk Leon pada ponselnya.
" Hem,,,? Semua terlihat bagus. Aku suka warna putih. Terlihat bersih. " Sheina menggeser layar ponsel Leon.
" Kalau begitu pilihlah mana yang kamu suka. Nanti kita akan mencobanya. "
" Apa ini tidak terlalu cepat? " tanya Sheina lirih.
" Kenapa? Kamu tidak mau? "
" Bukan?! Aku hanya ingin menemui seseorang terlebih dahulu,sebelum menikah. "
Leon mengerutkan keningnya. Senyum yang mengembang sedari tadi tiba - tiba menghilang.
"Siapa? Apakah dia kekasihmu? "
" Bukan. "
" Lalu siapa? Bukankah kamu tidak punya siapa-siapa disini. " ucap Leon curiga.
" Eem?? Bolehkah aku ke Bandung mengunjungi ayah dan ibu ku sekalian aku ingin menjenguknya. Sudah lama aku tidak ke sana. " jawab Sheina tersenyum lembut.
Deg...!!
Seakan jantung Leon berhenti berdetak. Kenapa dirinya begitu tidak pengertian dengan gadis yang ada di hadapannya ini. Terbesit perasaan kecewa pada dirinya sendiri.
" Maaf? " ucapnya pelan.
"Maaf? Maaf untuk apa? " tanya Sheina heran.
" Aku sudah berpikir yang tidak - tidak padamu,bahkan aku berpikir kamu punya kekasih lain. " Leon mengusap wajahnya kasar.
Sheina hanya tersenyum melihat Leon. " Bukan kah itu wajar? Kamu belum sepenuhnya tahu tentang aku. Bukankah curiga itu juga salah satu kalau kamu juga takut kehilangan aku? "
" Aku benar - benar ingin memilikimu seutuhnya. Aku tidak ingin kamu pergi dari ku. "
" Terima kasih sudah menyayangiku sepenuh hati. Jadi? Bolehkah aku pergi ? "
" Tidak...!! " jawab Leon cepat.
"Kenapa...? " Sheina mulai sedih.
" Tidak boleh pergi sendiri jika tanpa aku. " Leon tersenyum jail.
" Leon...!! " seru Sheina kesal.
" Hehehe... ?? Iya,,Iya kita nanti mengunjungi calon mertua. "
Dengan jailnya Leon terus menggoda Sheina sampai hampir membuatnya menangis.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
**HAPPY READING....
JANGAN LUPA VOTE, LIKE dan KOMEN....
MOHON DUKUNGANNYA....,,☺️☺️☺️☺️**