
Sheina berlari menuju kamarnya dan mengganti gaun tidurnya dengan kaos dan celana jeans selutut.
''Ya ampun Shei!! Kenapa kamu bodoh sekali sih! Malu-maluin aja deh. '' geramnya pada diri sendiri yang ceroboh.
Mukanya merah karena malu. Setelah selesai berganti pakaian,dia pun kembali ke depan. Menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Ceklek,,,!!
Pintu terbuka sosok pria itu masih setia berdiri di depan pintu memasang muka kesalnya.
''Maaf tuan,tadi tidak ingat kalau saya masih memakai pakaian itu. '' ucap Sheina pelan menunduk.
Tanpa menjawab,Leon masuk ke dalam rumah begitu saja tanpa izin Sheina. Lalu melemparkan tubuhnya ke sofa ruang tamu Sheina begitu saja.
Sheina yang kaget melihat big bosnya yang masuk rumahnya begitu saja hanya bengong tak beranjak dari tempatnya berdiri.
''Sampai kapan kamu mau berdiri di situ? '' tanya Leon mengerutkan keningnya.
''Tapi tuan ini sudah malam,saya mau istirahat. '' ucapnya takut-takut.
''Apa kamu mengusirku?! '' Leon menatap Sheina tajam.
''Bu,,bukan begitu tuan. '' jawab Sheina.
''Apa kau punya makanan? Aku lapar. '' ucap Leon dengan wajah tanpa dosa.
''Kenapa kesini kalau lapar. Kenapa nggak beli di restauran saja. Ck . " gumam Sheina kesal.
''Apa kamu tuli. '' Leon menatap Sheina yang melamun.
''Saya tidak punya makanan tuan. Tapi saya bisa memasak walaupun cuma makanan rumahan. '' jawab Sheina menutup pintu.
''Kalau begitu masak buatku. '' titah Leon.
''Hah! Memang siapa dia?! Seenaknya saja menyuruhku di rumahku sendiri? Dia yang lapar kenapa jadi aku yang repot! Kalau lapar pulang sana ,suruh masakin ibumu. ''umpat Sheina kesal.
''Kamu lagi mengumpat ku?! " tanya Leon yang sedari tadi menatap Sheina.
"Ti,,tidak tuan! " seru Sheina,lalu pergi ke dapur.
Seingatnya hari ini dia belum belanja apa-apa untuk makanannya sehari-hari karena belum sempat.
Sheina membuka lemari pendinginnya dan hanya mendapati nasi sisa makannya tadi yang masak kebanyakkan. Masih ada beberapa sayur dan telur.
"Masak apa ya? Aku kan nggak tahu kesukaanya apa. Arrgh,,,! Menyebalkan sekali,kalau bukan bos udah aku panggilin satpam usir dia. '' umpatnya kesal.
Dengan bahan seadanya Sheina memutar otaknya untuk menebak menu yang di sukai big bosnya. Dan dia mantap dengan idenya sendiri yaitu nasi goreng spesial dengan telur.
''Bodoh amat deh,kalau dia tidak suka ya biar entar aku makan sendiri. Hehehe,,?! '' Sheina terkekeh sendiri.
Lima belas menit kemudian nasi goreng pun jadi. Sheina menatanya di atas meja makan ukuran mini itu,lengkap dengan sendok garpu dan segelas air putih.Lalu berjalan ke arah ruang tamu untuk memanggil big bosnya.
''Tuan makanannya sudah siap. '' Sheina hendak berbalik tapi tidak jadi karena Leon tak menjawabnya.
Sheina mendekati Leon,ternyata Leon sedang tertidur terdengar dari dengkurannya yang halus. Sheina mencoba mendekatinya memandangnya dari dekat. Betapa tampannya big bosnya ini,wajah yang putih bersih tanpa noda,sangat beda jauh dengan mukanya yang kadang masih timbul jerawat dan akan menghilang meninggalkan bekas.
Tersenyum bahagia bisa memandangi wajah dingin itu,terlihat tenang dan damai. Dia yang jika matanya terbuka adalah orang yang paling menyebalkan bagi Sheina,ternyata bisa tenang dan selembut ini saat matanya tertutup,tidur.
''Apakah aku terlalu tampan sampai kau sangat senang memandangi wajahku. '' ucap Leon tiba-tiba dengan mata masih terpejam namun perlahan terbuka.
'' Aakk!! '' pekik Sheina kaget.
''Tuan apa kau pura-pura tidur?! '' tanyanya gelagapan.
''Aku tadi memang benar-benar tertidur. Sampai aku merasa ada seseorang sedang memandangi wajah tampanku ini. '' goda Leon.
''Pede sekali. Iissh,,?!! '' gumam Sheina berjalan kembali ke dapur.
Leon berjalan menuju meja makan mini yang ada di depan pintu dapur. Matanya melongo melihat apa yang di hidangkan Sheina untuknya.
''Apakah ini makanan. '' tanya Leon tanpa ekspresi.
Seketika Sheina menghentikan gerakannya yang sedang mencuci wajan bekas goreng nasi tadi. Dengan celemek yang masih menempel di badan,dia keluar dari dapur dengan berkacak pinggang.
''Kalau tuan tidak suka tidak usah di makan. Silahkan tuan makan di restoran mahal yang makanannya jauh lebih berkelas,dari pada masakan saya ini. '' serunya kesal.
Tanpa menghiraukan kata-kata Sheina,Leon menarik kursi dan duduk dengan santainya. Mengambil sendok dan garpu yang ada di depannya. Satu sendok telah dia masukkan ke mulutnya dan mengunyahnya pelan. Mengecap rasa nasi goreng buatan sekretarisnya itu.
''Lumayan,masih bisa di bilang makanan. '' ucapnya lagi dengan santainya,tanpa menghiraukan Sheina yang kesal yang hampir mengeluarkan tanduknya.
Dengan pelan tapi pasti ,Leon terus memakan nasi goreng itu sesuap demi sesuap hingga habis,menyisakan piring kosong. Menenggak habis air putih yang ada di depannya.
Sheina melongo kaget melihat nasi gorengnya di makan habis tak bersisa sama big bosnya yang menyebalkan itu. Sekilas nampak tersenyum puas tapi hanya sebentar karena takut ketahuan Leon.
''Bagaimana tuan? '' tanya Sheina.
'' Lumayan. '' jawab Leon datar kembali ke sofa.
Sheina membereskan piring dan mencucinya di dapur.
Leon meraih ponselnya yang ada di saku celananya.Sejak tadi siang setelah bertemu Vallery tak juga menghubunginya,bahkan panggilan Leon tak kunjung di balas.
'' Masih ada yang bisa saya bantu tuan? '' tanya Sheina dari arah belakang.
Leon menatap Sheina dalam. Sheina jadi salah tingkah karena tatapan Leon,sadar tatapannya membuat Sheina tidak nyaman Leon lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Matanya menyapu tiap sudut ruangan rumah Sheina,lalu tatapannya berhenti di sebuah figura foto yang tertempel di dinding. Sebuah foto keluarga. Sosok laki-laki paruh baya,mungkin seusia ayahnya sedang memangku seorang gadis kecil yang sangat cantik dan lucu. Sedangkan seorang wanita paruh baya yang juga seumuran ibunya duduk berdampingan dengan laki-laki itu. Senyum bahagia terlihat jelas di raut wajah mereka.
''Maaf tuan,sudah malam. Saya mau istirahat,besok kan harus kerja. '' ucap Sheina membuyarkan lamunan Leon.
''Hem.'' jawab Leon singkat. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
''Selamat malam tuan. '' ucap Sheina sopan,mengantar Leon sampai depan rumah.
'' Bolehkah nanti aku datang kemari lagi? '' tanya Leon lirih.
''Tentu saja. '' jawab Sheina masih dengan senyum ramahnya.
'' Terima kasih nasi gorengnya. '' Leon membuka pintu mobilnya dan pergi melesat di gelapnya malam.
Sejenak Sheina terpaku menatap mobil Leon yang menghilang di balik gelapnya malam.
''Apa? Terima kasih?Apakah itu tadi benar-benar tuan Leon yang dingin itu? '' Sheina bertanya pada dirinya sendiri.
Sheina kembali ke dalam rumah dan mengunci pintu. Saat hendak melangkah ke kamar dia melihat benda kotak berwarna hitam berada di atas meja ruang tamunya. Di raihnya benda itu. Ponsel.
''Astaga?! Ini ponsel tuan Leon tertinggal?! '' pekik Sheina. Dia bingung harus bagaimana karena dia tidak tahu nomor orang yang bisa di hubungi.
'' Sebaiknya aku kembalikan besok saja di kantor. '' gumam Sheina. Lalu menonaktifkan ponsel itu dan membawanya ke dalam kamar.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
Dukung terus Author ya teman,,,,,
Dengan cara :
👉VOTE
👉LIKE
👉KOMEN
Terima kasih😉😉😉😊😊