
'' Apa ucapan ku tadi masih belum jelas? Atau kamu memang sudah punya seseorang yang kamu pilih?''
''Tidak! " jawab Sheina cepat.
Leon kembali tersenyum. " Lalu apa kamu masih ragu dengan perasaan ku padamu? "
"Aku....?? " Sheina menunduk.
"Aku hanya berpikir ini hanya mimpi dan jika aku bangun dari mimpi ini,aku takut kecewa. " Sheina menatap wajah Leon,meraba kedua pipi Leon yang terlihat bingung dengan sikap Sheina.
Sheina memperhatikan mata Leon menatapnya dengan wajah polosnya,lalu dia mencubit kedua pipi Leon dengan keras. Sontak saja Leon menjerit,karena sakit.
"Aaaaww...!!! " teriak Leon melepaskan tangan Sheina dari pipinya.
"Apakah itu sakit?? " tanya Sheina tanpa dosa.
"Ya sakit lah. Kamu kenapa mencubit ku?! " seru Leon,mengusap kedua pipinya.
"Beneran sakit? " ulang Sheina,masih dengan ekspresi polosnya.
"Hem! " jawab Leon mulai kesal.
"Hihihi...?? Berarti ini bukan mimpi?! " seru Sheina senang.
"Ternyata bukan hanya aku yang menyukaimu tapi kamu juga menyukaiku?! "
Leon berhenti mengelus pipinya yang memerah lalu menatap Sheina yang tengah tersenyum senang. Leon duduk di brankar Sheina meraih wajahnya seperti yang Sheina lakukan pada Leon tadi.
"Apa kamu bilang tadi? Kamu juga menyukaiku? Benarkah? " tanya Leon,meyakinkan.
Sheina kembali bungkam,matanya menghindari tatapan Leon. Melepaskan wajahnya dari tangan Leon yang memegangnya. Lalu perlahan menganggukkan kepalanya malu-malu.
Melihat jawaban Sheina,Leon merasa sangat senang. Entah dia harus bagaimana meluapkan rasa senangnya. Dia jadi salah tingkah sendiri. Suasana pun jadi semakin canggung.
"Sejak kapan kamu merasakan perasaan itu? " Leon mencoba berbicara kembali.
"Aku juga tidak tahu. Tapi aku merasa sedih saat tahu kalau ternyata kamu sudah punya tunangan. "
"Hem? Tunangan? Maksud kamu? Vallery? "
Sheina kembali menganggukkan kepala. Leon kembali mendekat dan meraih tangan Sheina. Menghembuskan napas perlahan.
"Sekarang aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi? Bisakah kamu menerimaku? "
Sheina masih terdiam. Terlihat berpikir dan meyakinkan dirinya sendiri. Memberanikan diri menatap wajah seseorang yang ada di depannya yang tengah menggenggam tangannya dan mungkin saja sedang menunggu jawaban dari mulutnya. Leon!
" Iya. " jawab Sheina singkat.
"Jadi kamu mau menerimaku? " Leon kembali bertanya untuk meyakinkan bahwa jawaban Sheina tadi iya benar dia mau jadi pasangannya.
Sheina dengan mantap kembali menganggukkan kepalanya.
Terlihat senyum lebar mengembang di bibir Leon,merasa senang lantas mencium punggung tangan Sheina berkali-kali.
"Terima kasih. Aku berjanji aku tidak akan pernah membuatmu sedih atau pun kecewa. "
Sheina hanya menanggapi apa yang di katakan Leon dengan senyuman. Ini adalah awal dari hari barunya kelak. Untuk sementara dia tak ingin menanggapi apa yang hari ini terjadi dengan berlebihan,meski senang perasaannya kini terbalas,Sheina tak ingin terlalu merayakannya.
...****************...
" Pras? Aku kembali mengunjungimu. Maafkan aku yang sudah beberapa tahun ini tak pernah ke sini. Kau tahu? Aku sekarang sudah bisa mewujudkan apa yang kita inginkan dulu. Hasil kerja keras kita kini telah mendunia. " ucap Adinata yang duduk bersimpuh di samping sebuah makam.
Monic pun mendekati Adinata dan mengusap bahunya. Menatap ke gundukan tanah yang ada di depannya. Lalu berdiri berjalan ke arah makam lain yang ada di sampingnya.
" Hai Widia? Maaf baru bisa mengunjungi mu lagi. Apa kabar? Hehehe...? Maafkan aku Wid? Kau pernah memberikan amanah padaku untuk menjaga putrimu,tapi adikmu membawanya pergi dan aku tidak pernah bertemu dengan mereka lagi. Aku benar-benar minta maaf padamu. Tapi aku yakin putrimu akan menjadi wanita hebat sepertimu. "
Lama mereka berdua mengunjungi para sahabatnya. Entah apa saja yang mereka bicarakan,karena mereka berdua tampak begitu antusias bercerita di samping kedua pusara itu.
Langit terang kini berwarna kuning keemasan karena sang surya sudah mulai turun menuju tempat peraduan. Angin semilir nan sejuk mulai berubah dingin.
"Maaf tuan besar,nyonya? Ini sudah sore. Apa tidak sebaiknya kita pulang. " ucap pak Kim yang ikut serta menemani Adinata.
"Mari nyonya kita pulang. " ajak pak Kim yang mendorong kursi roda tuan besarnya.
Mereka bersama-sama meninggalkan makam itu menuju mobil yang terparkir di tepi jalanan makam.
Pak Kim dengan hati-hati membantu Adinata masuk ke dalam mobil,menyusul Monic yang masuk dari pintu sebelah. Setelah tuan besarnya sudah masuk ke dalam mobil,pak Kim melipat kursi rodanya dan menaruhnya di dalam bagasi mobil,lalu masuk dan duduk di depan sebelah sopir.
Perjalanan dari makam dan rumah cukuplah jauh. Mereka menghabiskan waktu hampir 4 jam di perjalanan.
"Pak Kim? Selama kami berada di Amerika,apakah tuan muda pernah membawa gadis ke mansion? " tanya Monic.
"Hemm? Seorang gadis? " pak Kim mencoba mengingat.
"Iya nyonya,pernah sekali tuan muda membawa nona Sheina pulang ke mansion. "
"Siapa? Sheina? " ulang Monic.
"Iya nyonya. Gadis cantik itu bernama Sheina. "
"Hem...? Apakah dia benar-benar gadis yang cantik? Lalu apa yang mereka lakukan di mansion? "
"Tuan muda juga tuan Willy hanya mengobrol saja, nyonya. Tapi nona Sheina berinisiatif membuatkan pudding coklat buat tuan muda. "
"Apa?! Leon kan tidak suka coklat pak Kim?! " seru Adinata.
" Tapi tuan muda sangat senang dan memakan pudingnya sampai habis. Saya sendiri juga heran, tuan. " jawab pak Kim,jujur.
"Kelakuannya sama sepertimu dulu pa. Hahahaha....?!" tawa Monic pecah saat mengingat masa lalunya.
"Itulah ma,cinta itu bisa merubah segalanya. " jawab Adinata santai.
Monic kembali tertawa,sedangkan pak Kim dan pak sopir hanya tersenyum mendengar canda tawa majikannya.
Tanpa terasa mereka pun telah sampai di mansion.
Pak Kim kembali membantu Adinata turun dari mobil dan duduk di kursi rodanya.
"Pa,ma? Darimana kalian? " tanya Leon yang menunggu mereka di depan pintu.
"Halo,sayang. Mama dan papa habis mengunjungi makam teman mama dan papa. " jawab Monic.
"Leon? Kenapa hari ini kantor di liburkan? " tanya Adinata yang di dorong pak Kim ke arah Leon dan mamanya duduk.
"Maaf ya pa? Leon memang sengaja meliburkan kantor hari ini,karena Leon dan Willy harus jagain Sheina di rumah sakit. " jawab Leon lirih.
"Gadis itu sakit apa Leon? " tanya Monic kaget.
"Demam sampai pingsan ma,makanya Leon sama Willy bantu bawa dia ke rumah sakit. "
"Astaga. Boleh besok mama dan papa menjenguknya di rumah sakit? '' Monic merasa khawatir.
''Tidak perlu ma,dia bilang dia nggak suka rumah sakit,makanya dia minta izin dokter untuk istirahat di rumah saja. Ada temannya kok yang jagain. '' jawab Leon.
''Kalau gitu antar kita ke rumahnya besok. '' sahut Adinata.
''Iya pa. '' jawab Leon singkat.
Karena hari sudah hampir malam,Monic membawa Adinata ke kamar untuk membersihkan diri.
Leon menyalakan tv dan mulai menikmati acara yang tengah di lihatnya.
Pak Kim kembali ke dapur mengatur makan malam untuk keluarga tuan besarnya.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
HAPPY READING......
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA, VOTE , LIKE , KOMEN....
TERIMA KASIH.