
"Lepaskan dia nak, semua sudah baik baik saja sekarang," ucap peri Gee begitu tak tega melihat penderitaan Raja Zio saat itu.
Takdir memang tak pernah memandang kedudukan seseorang, itulah yang kini ada di benak semua peri saat melihat kondisi Raja Zio mereka hari itu.
"Shenna?," ucap bapa Shein begitu penasaran akan reaksi ibu Shenna selanjutnya.
"Masih ada tempat di sana jika kau mau," ucap ibu Shenna sembari memalingkan muka nya dari Raja Zio.
Ucapan nya seketika membuat semua yang mendengar nya begitu tak kuasa menahan tangis.
Terutama bagi Raja Zio sendiri.
Pasal nya sang istri yang begitu ia cintai nyata nya memiliki keberuntungan besar karna bisa menyatu dengan pohon suci di akhir hayat nya.
"Tentu aku mau ibu!, terima kasih," seru Raja Zio sembari dengan cepat menggendong jasad sang istri untuk mendekat ke akar pohon suci.
Beristirahatlah Ratu, tidak akan ada lagi aku yang akan membentak dan memarahi mu kini, batin Raja Zio terus menatap jasad sang Ratu yang perlahan mulai terkubur di inti pohon suci.
Bersamaan dengan itu, tatapan mata Raja Zio perlahan mulai memudar dan gelap seketika itu juga.
Namun Raja Zio bahkan tetap bersikap tenang di tempat nya berdiri tanpa risau sedikit pun walaupun mata nya sudah kehilangan fungsi penting nya tepat di saat itu.
Perlahan ia mulai berjalan mundur dari hadapan pohon suci dengan bantuan sebuah tongkat kayu di samping nya.
Sesekali ia bahkan hampir terjatuh karna belum terbiasa dengan kondisi nya yang baru.
Sementara yang lain nya begitu syok dan terkejut saat melihat kejadian itu.
"Apa lagi ini?," ucap peri Priya begitu heran di buat nya.
"Mulai detik ini Raja Zio akan hidup tanpa kedua mata nya ibu," seru bapa Shein membuat peri Hill begitu tak percaya saat mendengar nya.
"Saat dia bisa melihat, dia telah menjadi Raja yang sombong dan semena mena, jadi dewa telah mencabut kemampuan mata nya untuk melihat, mungkin dengan itu dia akan menjadi Raja yang lebih baik lagi," ucap ibu Shenna tanpa bersimpati sedikitpun pada karma yang telah di dapatkan Raja Zio saat itu.
"Aku tidak ingin menjadi Raja lagi, tahta itu begitu membuat hidup ku berantakan hari ini," keluh Raja Zio berusaha dengan keras hanya untuk berjalan menuju tandu sang putra.
"Tidak bisa Raja!, itu sudah menjadi hukuman mu yang kedua. Kau harus menjadi Raja sampai nanti ada penerus yang layak untuk menggantikan mu," seru ibu Shenna dengan tegas nya.
"Ta, tapi, siapa?, keadaan putra ku satu satu nya bahkan begitu menyedihkan," keluh Raja Zio meratapi nasib nya sendiri.
"A- ayah," ucap lirih sebuah suara membuat Raja Zio begitu tercengang di buat nya.
Perlahan ia mencoba mengenali siapa pemilik suara yang baru saja ia dengar.
"Kau dengar itu Raja?," ucap bapa Shein seketika membuat Raja Zio menangis saat itu juga.
Bahkan semua nya pun ikut meneteskan air mata saat melihat mukjizat itu datang.
"Putra ku?, pangeran, kau kah itu?," seru Raja Zio terus berusaha meraih tandu sang putra meskipun ia harus berulang kali terjatuh tersungkur ke tanah.
Tubuh nya begitu berbeda dengan terakhir kali ia mengingat nya.
Seakan hari itu dia telah terbangun dari tidur panjang nya selama ini.
"Putra ku telah pulih!, terima kasih dewa!, terima kasih. Ratu!, apakah kau bisa melihat semua ini dari sana?," seru Raja Zio membuat sang pangeran begitu penasaran saat mendengar nya.
"Di mana ibunda?, kenapa dia tidak ada di sini?," seru sang pangeran perlahan mulai merasa ada yang tidak beres dari ucapan sang ayah saat itu.
Dengan kepala yang tertunduk, Raja Zio begitu tak kuasa untuk mengungkapkan kebenaran pahit itu pada putra semata wayang nya.
"Tenanglah pangeran, ibunda mu sudah tenang di alam sana, dia bahkan telah menyatu dengan abadi di pohon suci leluhur kita," ucap ibu Shenna sedikit membuat sang pangeran begitu ketakutan saat melihat wujud nya.
Namun rasa sedih saat mendengar kenyataan itu lebih besar dari rasa ketakutan nya saat melihat wujud ibu Shenna dan bapa Shein.
Hati nya begitu hancur saat mengetahui bahwa sang ibunda telah tiada.
"Ta- tapi kenapa?, baru kemarin aku tidur di pangkuan nya," keluh sang pangeran tersedu sedu.
"Percayalah, ibunda mu telah melakukan hal yang luar biasa di penghujung hidup nya," ucap bapa Shein mencoba menenangkan sang pangeran yang begitu terpukul saat itu.
...***...
"Aku mohon pamit ibu," ucap ibu Shenna perlahan mengusap lembut pipi peri Priya walaupun ia tak bisa menyentuh nya lagi seperti dulu.
"Kami akan merindukan kalian," ucap peri Gee begitu tak kuasa melepas sang putra.
"Kami akan selalu di sini sampai kapan pun juga, kunjungilah pohon suci jika kalian merindukan kami," ucap bapa Shein sembari perlahan mulai berjalan menuju ke inti pohon suci.
"Lalu bagaimana dengan ku?, tolong beri aku petunjuk, aku sudah tak ingin lagi ada di istana," ucap sang pangeran seketika.
"Bagaimana Raja?, apa kau tak keberatan dengan permintaan pangeran?," tanya ibu Shenna kepada sang Raja yang hanya diam saja saat mendengar permintaan besar dari sang putra.
"Itu sudah keputusan nya, biarkan dia menentukan yang terbaik untuk hidup nya," sahut Raja Zio begitu menghargai keputusan sang putra tanpa bersikap arogan lagi seperti dulu.
"Jika kau bersedia, hiduplah bersama ibu asuh Priya di pondok, belajarlah rukun dengan Shein dan Shenna, kelak aku berharap kalian akan menjadi pondasi kuat yang tak terkalahkan di hutan Maxim ini, saat kau telah siap dan pantas menjadi penerus ayah mu, kau bisa kembali ke istana kapan pun kau siap," ucap bapa Shein membuat raut wajah sang pangeran langsung berubah tenang dan damai.
Seakan ia begitu senang dengan arahan dari kedua leluhur nya itu.
"Maafkan aku ayah," ucap sang pangeran sembari memeluk ayah nya sekali lagi.
"Kau akan kuat dan baik hati seperti ibunda mu, doa ku akan selalu bersama mu," seru Raja Zio perlahan mulai melepas pelukan nya dan mulai berjalan kembali ke kerajaan nya hanya dengan bantuan sebuah tongkat kayu milik nya dan beberapa pengawal nya yang tersisa.
"Lalu bagaimana dengan dia?," ucap peri Hill seketika menunjukkan keberadaan peri Max yang begitu lemas tak sadarkan diri terikat di sebuah tandu.
"Dia peri serakah, dia tidak ada beda nya dengan Troll Rot," keluh ibu Shenna menatap tak suka ke arah peri Max.
"Lalu kita apakan dia?," tanya bapa Shein begitu penasaran dengan nasib selanjut nya dari peri Max.