Shein & Shenna

Shein & Shenna
Bab 18. Rasa takut Shein.



Shenna kembali membangkitkan keberanian nya.


Ia terus mencoba meyakinkan Shein bahwa mereka akan bersama sama berjuang jika ia mau.


"Aku tahu sebenar nya kau mencintai ku", seru Shenna masih tetap gagal mendapatkan perhatian Shein.


Shein terus berjalan tanpa berucap apapun meskipun Shenna terus mencoba mencari perhatian nya.


"Shein, apa kau mendengar ku !", sentak Shenna cemberut.


Namun lagi lagi Shein terus berjalan dengan sikap membisu, dengan terus mencari tempat persembunyian mereka yang baru.


Ya !, aku mencintai mu, tapi lupakan semua nya, itu tak penting !, sentak Shein dalam hati.


Ingin rasa nya dia menjelaskan pada Shenna agar berhenti memikirkan akan cinta dan perasaan nya itu.


Namun Shenna bukan peri yang mudah putus asa.


Shenna kembali mencari ide agar membuat Shein mau mengakui perasaan nya.


"Aku lapar !", keluh Shenna sembari duduk di tepi sungai, ia berharap itu bisa memancing perhatian Shein lagi pada nya.


"Ayolah putri Shenna !, kita akan beristirahat nanti", seru Shein masih tak mau menatap Shenna.


"Tapi aku lapar !, langkah kaki mu yang jauh itu sulit aku imbangi Shein !, hingga aku banyak menggunakan kekuatan peri ku !", sentak Shenna kesal.


Ucapan Shenna seketika membuat langkah Shein terhenti.


Membuat Shenna tersenyum dan mengira ia akan mendapat perhatian dari Shein lagi, setidak nya Shein akan sibuk memberi nya makan dan duduk di samping nya.


Namun ternyata, Shein dengan sigap memanggul Shenna dan meletakkan nya di atas bahu nya dan kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Ku kira , keluh Shenna merasa terabaikan.


"Lupakan semua nya putri, usaha mu hanya akan sia sia !, tujuan ku hanya satu, melindungi mu dan membawa mu pulang ke hutan Maxim dengan selamat", seru Shein tegas.


Seruan Shein malah membuat Shenna berfikir untuk membawa Shein kembali ke ras peri dan memperbaiki semua kesalahpahaman yang ada.


Ia harus berani berterus terang kepada ayah nya dan kaum nya tentang perasaan nya pada Shein yang mungkin merupakan hal terlarang di dunia ini.


Ia juga harus membersihkan nama Shein dan mengatakan bahwa dalang penculikan nya bukan lah Shein, melainkan Troll lain.


Mungkin jika aku menjelaskan niat baik Shein pada ayah, mereka akan mengerti, gumam Shenna dalam hati.


"Kalau begitu, antar aku pulang sekarang !", seru Shenna seketika turun dari bahu Shein.


"Tapi mereka nanti bisa menculik mu lagi", timpal Shein masih belum menemukan cara membuat Rot menyerah, jika untuk menghadapi nya langsung itu tak mungkin, Shein terlalu takut untuk melakukan nya.


"Seluruh kaum ku akan melindungi ku Shein, terlebih ada kau juga, benarkan ?", seru Shenna sangat berharap banyak pada Shein.


Namun Shein nampak gelisah dan bimbang.


Aku tak akan boleh mendekati mu saat kita tiba di wilayah peri Maxim, dan mungkin kaum mu akan memburu ku karna mereka pikir aku yang menculik mu putri, bagaimana aku bisa melindungi mu lagi ?, gumam Shein dalam hati.


Ada rasa bimbang dalam hati nya, ketakutan terbesar dalam hati sebenarnya ialah berpisah dengan Shenna saat Shenna nanti kembali ke kaum peri nya.


"Apa kau sudah bosan melindungi ku ?", tanya Shenna memastikan keraguan nya.


"Tidak !, jangan berfikir begitu", seru Shein bingung menjawab semua pertanyaan Shenna.


"Lalu ?, antar aku pulang Shein !", seru Shenna bersikeras.


"Itu berbahaya bagi kita putri, mengertilah !", sentak Shein mencoba meyakinkan Shenna akan bahaya dari rencana nya itu.


"Pikirkan baik baik Shein, kita tak akan pernah menyelesaikan apapun dengan bersembunyi dan terus bersembunyi", seru Shenna membuat Shein seketika menunduk lesu.


"Kau benar ", ucap Shein singkat.


"Ya !, aku benar !", seru Shenna merasa ada harapan Shein akan mengabulkan keinginan nya.


"Kamu benar putri, aku memang pengecut dan penakut, aku hanya bisa melindungi mu dalam persembunyian dan pelarian, tanpa berani menghadapi semua yang menjadi ancaman bagi kita", keluh Shein terduduk di tepi sungai dan memandang pantulan wajah nya di sana.


Semua itu sontak membuat Shenna terdiam dan merasa bersalah.


"Bukan itu , bukan itu maksud ku", ucap Shenna ikut terduduk lesu di tepi sungai.


Mereka sama sama terdiam untuk waktu yang cukup lama.


Mengenai Rot dan Ken yang mungkin sudah dekat di belakang mereka, sejenak terlupakan dari pikiran Shein dan Shenna.


Mereka hanya memikirkan satu sama lain dan bagaimana takdir mengakhiri cerita mereka nanti nya.


Aku sudah berusaha, tapi jika hanya aku sendiri yang berusaha itu tak akan ada artinya, keluh Shenna dalam hati sembari menatap aliran sungai yang tenang di hadapan nya.


Sementara Shein terus terdiam memikirkan semua ucapan dan perkataan Shenna.


Mereka mau tak mau harus menyelesaikan masalah ini secepat nya.


Ada seorang ayah di sana yang cemas menunggu kepulangan anak nya, bagaimana aku bisa melupakan satu kenyataan itu ?, gumam Shein dalam hati menatap ke arah Shenna yang nampak lelah dengan keadaan nya sekarang.