
"Kamar pangeran lewat sini," ucap peri Max sembari menunjukkan seluk beluk istana Kerajaan peri.
"Sungguh megah, berbeda dengan istana peri Raja Fozt," ucap pangeran Rot kagum.
"Kita sudah sampai pangeran," seru peri Max berhenti tepat di depan pintu kamar sang pangeran.
Namun ia di buat bingung saat pangeran Rot terus berjalan menuju ke aula singgasana Raja.
"Pangeran?," seru peri Max heran.
"Ikutlah jika kau mau, tapi jangan banyak bertanya tentang semua yang aku lakukan," sahut pangeran Rot kembali berjalan mengikuti langkah kaki sang pangeran.
"Apa itu ayah ku?," tanya sang pangeran.
"Benar, dialah Raja Zio, Raja peri di generasi ini," sahut peri Max.
Dia nampak lebih bodoh dari Raja Fozt, batin pangeran Rot kembali berjalan mendekati singgasana.
Hingga Raja dan peri Bin menyadari akan kedatangan pangeran Rot ke arah mereka.
"Putra ku!," seru Raja Zio spontan, hingga dengan cepat ia berjalan turun dari singgasana nya dan segera menggendong sang pangeran.
"Salam ayahanda," ucap pangeran Rot membuat pandangan peri Bin langsung tertuju pada sahabat nya.
"Kenapa kau menatap ku begitu?," lirih peri Max.
"Tidak Max, aku hanya lega kau membawa pulang pangeran dengan selamat, tapi..," sahut peri Bin merasa ada yang mengganjal di hati nya.
"Tapi apa?, kau lihat kan, pangeran pulang dengan selamat, jadi jangan risaukan hal yang tidak berdasar!," keluh peri Max menutup pembicaraan mereka.
"Wah!, seperti nya waktu sehari saja dengan paman Max membuat mu terlihat jauh berbeda pangeran!," seru Raja Zio.
"Pasti ayah!, paman mengajari ku banyak hal, dan salah satu nya ialah harus turun dari gendongan ayah karna aku bukan bayi lagi," seru pangeran Rot membuat Raja Zio tercengang bercampur senang.
"Baiklah, pangeran ku yang tampan!, kau memang tidak seharusnya diperlakukan seperti bayi lagi, seperti yang di lakukan ibu mu pada mu," sahut Raja Zio segera menurunkan sang pangeran dari gendongan nya.
"Aku harap itu tidak mengartikan sesuatu yang buruk Max," ucap peri Bin saat mendengar kata demi kata dari mulut sang pangeran, namun peri Max hanya membalas nya dengan sebuah senyuman kecil.
"Berbicara tentang ibu mu, tumben sekali pangeran tampan ku ini mencari ayahanda nya terlebih dulu?," tanya Raja Zio.
"Tak bolehkan aku bersama ayah sesekali?," seru pangeran Rot semakin membuat hati Raja Zio begitu senang.
"Kau tahu anak ku, itulah yang ayah idam idam kan sejak lama, lebih lama menghabiskan waktu dengan mu" seru Raja Zio memegang kedua pundak sang anak dengan bangga.
"Aku juga bosan ayah, tidak ada lagi yang menarik saat bersama ibu," keluh pangeran Rot membuat peri Bin terbelalak tak percaya mendengar nya.
Sementara keluhan itu membuat Raja Zio tertawa dengan lepas nya.
"Sekarang kau menyadari hal itu bukan!," seru Raja Zio kembali melanjutkan tawa nya.
"Itulah hal kedua yang di ajarkan paman Max pada ku ayah, aku adalah seorang pangeran, dan aku harus banyak belajar serta menghabiskan banyak waktu ku dengan ayah untuk menjadi pemimpin kerajaan peri nanti nya," ucap pangeran Rot membuat Raja Zio menatap bangga ke arah peri Max.
"Wah Max!, semua orang harus belajar cara mendidik dari mu," puji Raja Zio.
"Katakan pangeran!, apa lagi yang di ajarkan paman Max pada mu?," tanya Raja Zio penasaran.
"Memanah dan bermain gada ayah," sahut sang pangeran membuat Raja Zio mengeryitkan kening.
"Gada?, sejak kapan kau bisa bermain gada Max?," tanya Raja Zio heran.
"Benar Max, bahkan setahu ku kau belum pernah memegang sebuah gada," tanya peri Bin mencoba meluruskan kecurigaan dalam hati nya.
"A- aku hanya memperkenal kan pangeran kepada banyak alat perang, itu saja!, aku tidak perlu menguasai nya lebih dulu untuk sekedar memperkenal kan nya pada pangeran bukan?," sahut peri Max berusaha mencari sebuah alasan.
"Jika begitu ada nya, bisa kah kau mengajari pangeran sesering mungkin?," ucap Raja Zio berharap lebih.
"Tentu ayah!, benar kan paman Max?," seru pangeran Rot.
"Tentu pangeran, sesuai keinginan Raja," sahut peri Max begitu bangga telah sekali lagi mendapat kepercayaan lebih dari sang Raja.
"Luar biasa!, bagaimana cara mu melakukan ini Max?, aku begitu salut pada mu. Putra ku yang dulu tak suka berlatih dengan mu, namun dalam sehari kau bisa menjadi kawan dekat nya, bahkan dia yang jarang sekali bicara pada ku kini malah begitu dekat pada ku," seru Raja Zio begitu sumringah saat itu.
"Kita anggap saja ini sebagai awal yang baik Raja," ucap peri Max menatap dengan senyum ke arah pangeran Rot.
Terima kasih Troll Rot, batin peri Max bahagia.
"Apakah prajurit Max juga sudah mengajari pangeran cara menggunakan pedang?," seru sebuah suara dari arah pintu masuk aula singgasana.
"Kalian!," sentak Raja Zio tak suka saat menatap pemilik suara yang berani menyela pembicaraan mereka.
"Aku Shein, dan ini Shenna. Salam dari kami untuk Raja," seru Shein mendapat tatapan tak suka dari semua orang, terlebih dari pangeran Rot.
Jangan, jangan mereka...,?, ah!, aku harus mencari tahu terlebih dulu, mungkin hanya nama mereka saja yang sama, batin pangeran Rot menepis firasat buruk nya.
"Aku tidak peduli siapa nama kalian!, bahkan jika nama kalian sama dengan dewa di langit itu pun tak berpengaruh pada ku!. Yang ingin ku tahu, kenapa kalian berani masuk ke sini!, apa Ratu kalian tak memberitahukan bahwa tempat ku ini terlarang bagi kalian!," sentak Raja Zio naik pitan.
"Maaf kan kami Raja, saat di luar, kami belum sempat memperkenalkan diri kepada pangeran Rot, dan kami akan sangat sedih jika pulang tanpa berkenalan dengan nya," seru Shenna dengan berani.
"Oh ya, kalian mau berkenalan dengan ku?," seru pangeran Rot merasa di tantang.
"Bagaimana jika kita berkenalan sembari bermain pedang, pedang mainan!, pangeran suka?," ajak Shein.
"Lancang!, siapa kalian yang menawarkan diri bermain dengan pangeran ku!," sentak Raja Zio kembali.
"Kami adalah anak asuh peri Priya, apakah Raja tak tahu?," ucap Shenna semakin membuat Raja kesal.
"Tutup mulut kalian!," sentak peri Max berjalan mendekati Shein dan Shenna, namun seketika di hadang oleh peri Bin.
"Mereka hanya anak anak, sudahlah. Biar aku antar mereka keluar," ucap peri Bin.
"Sebaik nya kau buang jauh jauh mereka Bin!, anak anak rendahan!," seru Raja Zio dengan angkuh nya.
"Kami bukan anak rendahan!," sahut Shein dengan wajah kesal.
"Cukup!, baiklah jika kalian ingin berkenalan dengan ku. Dayang!, ambilkan aku tiga pedang mainan," seru pangeran Rot membuat Raja Zio menatap bangga kepada sang putra tuk pertama kali nya.
Tuk kali ini, aku begitu bangga memiliki seorang putra pemberani, batin Raja Zio.