
"Raja!, Raja ku!," seru peri Bin tergesa gesa memasuki istana pagi itu.
Dengan raut wajah yang begitu risau ia terus berlari memasuki istana kediaman Raja Zio.
Namun seperti nya kediaman Raja begitu sepi pagi itu.
Ia pun memutuskan untuk bergegas ke kediaman sang Ratu.
"Mungkin Raja ada di sana, sekalian aku mengabarkan hal ini pada Ratu," ucap peri Bin kembali berlari menuju ke kediaman Ratu Faya.
Saat ia melewati lorong istana.
Tak ia sadari sang pangeran sudah berada di sana duduk bersantai menatap peri Bin yang nampak gelisah dari kejauhan.
"Mungkin dia sudah di temukan," ucap pangeran Rot sembari tersenyum licik sembari secara diam diam mengikuti kemana arah peri Bin pergi.
Ia tak mau melewatkan adegan berikut nya yang akan terjadi.
"Dayang, apa Raja dan Ratu ada?," tanya peri Bin membuat para dayang menatap aneh ke arah peri Bin.
"Ini masih pagi, meskipun Raja dan Ratu ada apakah kau pikir aku akan mengantar mu ke hadapan mereka?," sahut sang dayang membuat peri Bin terdiam malu.
Ia menyadari apa maksud dari perkataan sang dayang pada nya.
Memang ia salah bertamu di waktu sepagi ini, bahkan ia tetap saja mencari Raja dan Ratu di saat ia sendiri sudah tahu Raja sedang menghabiskan waktu bersama sang Ratu semalam.
"B- baiklah, aku akan menunggu Raja keluar," ucap peri Bin memilih menunggu di pintu masuk sembari mondar mandir tak karuan tiada henti.
"Salam Raja," seru peri Bin segera saat melihat sang Raja keluar dari kamar sang Ratu.
"Bin?, sedang apa kau di sini?," tanya Raja Zio penasaran, sedangkan saat ia menatap langit, matahari masih belum menampakkan sinar nya.
"Kami menemukan dayang Ratu yang kemarin di laporkan hilang Raja" sahut peri Bin langsung ke inti nya.
"Dimana dia?, beri dia hukuman!, agar tidak menyepelekan tugas nya lagi di istana," ucap Raja Zio kesal.
Ia begitu cepat memberikan sebuah hukuman tanpa mempertimbangkan dulu kesalahan yang di perbuat kaum nya.
Sementara Ratu yang mendengar nya pun ikut penasaran, ia begitu ingin tahu kenapa dayang nya bisa bersikap seperti itu.
Ia tak mau dayang nya mendapat perlakuan semena mena dari suami nya.
Menurut Ratu Faya, dayang nya bukan pelayan baru di kediaman nya.
Mustahil dia menyepelekan tugas nya seperti itu.
"Masalah nya dia sudah meninggal," ucap peri Bin membuat semua yang ada di sana begitu terkejut mendengar nya.
Terutama para dayang yang sudah berbagi suka duka mereka antar sesama dayang istana.
Mereka langsung menangis tersedu sedu meratapi nasib saudara mereka.
"Kau menemukan jasad nya?," tanya Raja Zio penasaran.
"Kami menemukan jasad itu di gerbang masuk pohon suci Raja," ucap peri Bin membuat Ratu Faya semakin terkejut.
"Pohon suci?, sedang apa dia di sekitar sana?," tanya Ratu Faya heran.
Pasal nya, ia tak pernah memerintahkan untuk sang dayang pergi sampai se jauh itu.
"Antar aku ke sana!," titah Raja Zio segera bergegas mengambil pedang dan jubah kebesaran nya.
"Boleh hamba ikut?," seru Ratu Faya memohon.
"Cepatlah bersiap!," sahut Raja Zio bergegas lebih dulu bersama peri Bin menuju halaman depan istana.
"Ibunda ikut?, apa dia tidak pingsan melihat nasib sang dayang kesayangan nya nanti?, ucap pangeran Rot segera pergi mencari paman Max.
"Paman!," teriak pangeran Rot setelah semakin dekat menuju tempat di mana peri Max sering berada.
"Hamba pangeran," sahut peri Max seketika bangkit dari duduk nya.
"Apa kau sudah dengar tentang dayang yang sudah di temukan?," tanya pangeran Rot sembari melepas tali pengikat kuda kesayangan peri Max.
"Dayang Ratu yang hilang kemarin?," seru peri Max seperti nya belum mengetahui kabar pagi itu.
"Dia ada di pohon suci, antar aku kesana tapi jangan sampai ibunda dan ayahanda tahu aku mengikuti mereka," seru pangeran Rot bergegas menaiki kuda milik peri Max.
"Sesuai perintah pangeran," sahut peri Max masih tak mengerti tentang apa yang telah terjadi.
Ia hanya bisa menuruti setiap permintaan pangeran Rot tanpa membantah sedikitpun.